Coretan Akhir 2020


Hi, penghujung tahun. Apa yang istimewa di penghujung tahun ini? Bisa dibilang tidak ada. Corona virus, covid-19, itulah yang tertanam dalam benak setiap insan dunia saat ini. Padahal jika ditelaah lebih dalam, bagi saya justeru tahun ini adalah tahun yang istimewa. Mengapa? Coba saya hitung nikmat luar biasa yang Allah limpahkan, yang bisa nampak jelas

  1. WFH, Work From Home. Karena Pandemi, Karyawan diminta WFH dan melakukan pekerjaan yang mungkin dikerjakan dari rumah. Bisa dibilang makan gaji buta secara legal.
  2. Karena Corona, saya tinggal di rumah full time bersama keluarga selama Ramadhan dan merayakan ied . Hal yang belum pernah saya alami sebelumnya. Ini adalah anugerah terindah spanjang sejarah selama saya memiliki keluarga, Allah berikan waktu begitu luang untuk saya mengajar anak-anak saya hafalan surat-surat pendek dalam Juz’amma. Masih banyak lagi hikmah dari berkumpul dengan keluarga dikala pandemi.
  3. Kebiasaan yang diterapkan sebagai wujud protokol kesehatan menjadi hal yang menjadi biasa dan harus dilakukan, rajin mencuci tangan. Sebelumnya saya agak abai dengan hal satu ini
Baca lebih lanjut
Dipublikasi di politik, serba-serbi | Tag , , | Meninggalkan komentar

PCX Sign Genit, Antara Norak dan Tidak Paham


PCX Sign Genit, maksud saya adalah kedua lampu sign di kanan dan kiri menyala berkedip berbarengan, sebutan tepatnya adalah Hazard ataua lampu hazard. Lampu yang bersifat warning, peringatan akan bahaya agar pengguna jalan waspada.

Suatu waktu saya berkendara malam hari di kepadatan lalu lintas kendaraan besar (truk container, pengangkut peti kemas) dengan rintik hujan (Jalan Cilincing – Cakung atau akrab disebut jalan Cacing). Kebetulan saya beriringan dengan Honda PCX yang menyalakan Hazard. Karena silau dan mengganggu pandangan, saya coba menyalip. Tapi tidak berapa lama, si genit kembali berada di depan saya, dan kemilau si sign itu seolah mencibir ke mata saya.

Kembali ke judul, saya menyebut PCX SIGN GENIT. Karena kerap saya menemui pengguna Matic Bongsor 150cc besutan Astra Honda Motor tersebut menyalakan Hazard tidak pada tempatnya.

Baca lebih lanjut
Dipublikasi di motorcycle, Sekitar Kita | Tag , , | 3 Komentar

Ajining Diri Ana ing Lathi


Ajining diri ana ing lathi

Dulu kala saya kerap mendengar ungkapan semacam itu, ya saat masih kecil dan remaja. Saat masih hidup di lingkup dan era yang jauh dibanding saat ini. Belakangan saya mendengar ungkapan tersebut dari sebuah lirik lagu kekinian. Sungguh unik penggabungan 2 bahasa yang berbeda. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di music | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Menonton dan Mendengar Lebih Mudah


Semenjak koneksi internet makin baik dan harganya terjangkau, media online menjadi laris dikunjungi pengguna generasi teknologi industri 4.0. Kecepatan akses internet dan makin terjangkau hampir oleh semua kalangan ini mengubah cara pandang pengguna dan pengakses informasi. Dari konvensional menuju digital. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di sosial | Tag | Meninggalkan komentar

Repot Komentar Saat Blogwalking


Kang Sapto dan Azizyhore di rumah Heru Masped

Hai sobat blogger.

“Emang ada ya blogger yang baca blog ini Kang?”

Barangkali saja masih ada yang berkenan blogwalking. Blogwalking yaitu saling kunjung sesama blogger ke blog yang lain. Meski kadang sekedar Like artikel tanpa membacanya. Tapi lebih baik lagi kalo meninggalkan komentar. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Belajar menulis blog, Ngeblog | Tag , , , , | 13 Komentar

Para Penerjun Tetap Enjoy meski diGaplok


“Ayo, yang mau turun siapkan parasut”

Celetuk salah satu penumpang  di gerbong 1 Walahar Express pagi saat kereta api lokal yang kami tumpangi mendekati stasiun Jatinegara. Ya, beberapa penumpang kereta api lokal memang memilih turun tidak pada tempatnya, karena lebih dekat dengan tempat kerja mereka dibanding turun di stasiun pemberhentian selanjutnya . Salah satu tempat non stasiun yang kerap jadi tempat turun penumpang adalah sebelum stasiun Jatinegara. Pasar Enjo (atau Enjoy?) orang menyebutnya. Kereta api lokal tidak berhenti di Stasiun Jatinegara, stasiun pemberhentian berikutnya adalah Kramat, Senen dan terakhir Tanjung Priok. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di transportasi publik | Tag , , | 3 Komentar

Corona dan Siomay Mangewu


“Tesih mboten?” Sapaku sama penjual siomay di stasiun Priok sore itu. Sore jelang malam, karena bakda Maghrib di Kejaksaan Negeri sisi selatan Terminal. Salah satu terminal yang saya anggap terlambat berbenah ini masih cukup ramai.

Keterangan foto tidak tersedia.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di sosial budaya, transportasi publik | Tag , | 2 Komentar

Walahar Express Pagi, Gerbong 1


Salah satu transportasi umum andalan warga Subang, Purwakarta, Karawang dan Bekasi Kabupaten untuk menuju Jakarta adalah Kereta Api lokal. ada 2 nama Kereta Api Lokal yang akrab dengan saya, yaitu Jatiluhur Express dan Walahar Express.

Kereta Api Lokal, Sahabat Baru Saya | Triyanto Banyumasan Blog's

Khusus untuk Tujuan Purwakarta – Tanjung Priok adalah Walahar Express. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di sosial budaya, transportasi publik | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Ngobrol di Angkutan Umum


Apakah Pembaca naik angkutan umum? Oh iya, selama wabah Corona Covid-19 ini, pemerintah menyarankan orang yang bepergian untuk menggunakan kendaraan pribadi. Tentu untuk jarak pendek, karena kita (yang perantauan) juga dianjurkan tidak mudik ke kampung halaman, kalopun mudik, di kampung akan disuruh self quarantine atau karantina mandiri sama pak RT. ini real loh, bukan sekedar berita di tv. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di sosial budaya | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Mengatasi Kejenuhan Anak Belajar di Rumah


Belajar di rumah bagi siswa sekolah secara online menjadi hal wajib saat ini akibat Pandemi Corona yang melanada dunia. Berbagai teka-teki juga berseliweran di Whatsapp Group menggunak kata suatu tempat, wahana permainan, binatang dan semacamnya dengan menebak huruf yang diacak. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di sosial | Tag , , , , | 2 Komentar