Trust (3)


bodyguard

Sudah 3 hari Yasir keluar dari rumah sakit dan kembali ke Malang. Sanjaya masih melarang Yasir beraktifitas, sehingga Yasir menghabiskan waktunya bersama Ana, anaknya yang sudah berumur 2 tahun. Kadang diajak keliling komplek dan ke rumah neneknya dan menginap di sana.

Siang ini Yasir mengajak Ana ke makam Meli, isteri Yasir sekaligus Ibu Ana. Sanjaya yang dikabari hal tersebut oleh Rina, isterinya, segera mengirim orang kepercayaannya untuk mengantar Yasir, meski Yasir keberatan tapi dia tidak bisa menolak, Sanjaya semakin protektif. Yasir tidak tahu alasan lain selain kekawatiran dia bertindak bodoh seperti saat mengejar perampok. Sanjaya memang masih merahasiakan perihal kecelakaan Yasir dan Vera di Lamongan, yang tahu baru Cak No, hal tersebut untuk menghindari kekawatiran kedua orang tuanya juga keluarga Waluyo. Selain itu, induk belut berkaki memang belum tertangkap, meski bukti sudah cukup kuat, tapi karena berada di wilayah hukum yang tidak bisa disentuh Sanjaya, dia hanya bisa memasrahkan pada rekan sejawatnya di sana. Cak No bahkan sudah mengancam, jika kasusnya masih berlarut-larut, dia akan bertindak lewat ‘jalur hitam’ untuk menghabisi tersangka.

“Assalamu’alakum ya Ahladdiyar”, ucap Yasir sesampai pemakaman, dia segera menuju makam Meli sambil menggendong Ana. “Assalamu’alaikum Dek”, ucap Yasir pelan. “Mas dateng nih dek, bareng Ana, anak kita” lanjut Yasir berbisik, selanjutnya dia jongkok bermunajat, hatinya masih merasakan kehilangan itu, sulit sekali melepas tanpa harus melupakan. Tidak, Yasir tidak bisa, dia terlalu setia atau mungkin terlalu sayang. Kilasan kenangan bersama Meli melintas di kepalanya, bagaiman Meli tertidur dalam gendongannya saat menanjak tangga Bromo, berboncengan memacu kuda di gurun pasir Bromo, dan semua kenangan indah itu seolah mendera pikiran Yasir. Yasir beristighfar menyadari semuanya. Dia harus merelakan, dia tidak ingin mengecewakan keluarga Atmaja, keluarga isterinya yang sudah merelakan kepergian Meli. Meski perih itu datang lagi, Yasir mencoba melawan sampai ada danau menggenang di pelupuk matanya. Sementara Ana hanya diam, seolah merasakan kepedihan bapaknya. Balita yang biasanya lincah dan ceriwis itu kini seperti terhipnotis dengan suasana pemakaman dan juga raut muka Yasir yang sendu.

“Bappa”, suara Ana pelan.

“Iya Ana”

“Bappa anyis? Bappa atit”, tanya balita itu sambil mengusap air mata yang sudah menetes di pipi Yasir tanpa disadari. Jari mungil itu masih menempel di pipi Yasir. Mengelus penuh sayang.

“Tidak Ana, Bapa tidak apa-apa”, Yasir menyeka sisa air matanya cepat, “Udah, ayok pulang, mas Dewa pasti udah pulang sekolah dan nyariin Ana”. Kemudian mengangkat tubuh mungil Ana, “Dek, Mas Yasir pulang ya”, ucap Yasir pelan sambil memandang gundukan tanah yang tidak lagi rapi dengan batu nisan yang berlumut.

“Pa, Ana mau jajang”, celoteh balita imut itu bergelayut di leher Yasir.

“Tentu Ana, mau jajan apa?”

“Cocis aja cama ogut”, gadis mungil itu diam sejenak seolah sedang berpikir, “Oh iya, cama cokat buta Mas Tewa dan uah Aga buat bunta”. Ya, Ana memang memanggil Rina, isteri Sanjaya dengan Bunda dan memanggil Sanjaya dengan sebutan Ayah.

“Eyang tidak dibeliin An?”

“Ehmmm… Eang kan ompong… ehmmm.. beli tahu…iya tahu buat eyang”, jawab Ana ceria.

Selanjutnya mereka kembali ke mobil, nampak Endi tengah bersiap, ya Endi, orang kepercayaan Sanjaya itu sudah seperti supir pribadi Yasir yang siap mengantar kemanapun Yasir pergi. Mungkin lebih tepat disebut bodyguard atau ajudan, meski Yasir tetap menganggapnya sebagai orang terhormat, Yasir tahu, pasti Endi ini adalah seorang polisi suruhan Sanjaya. “Mas Endi, nanti ke kota sekalian ya, mau ke supermarket, Ana mau jajan katanya”.

“Baik Pak”, jawab Endi pendek.

Endi sebenarnya sudah bukan orang baru, Yasir mengenalnya secara tidak sengaja saat dirinya mengajak Meli ke Pulosari, saat sebelum menikah. Hal itu juga atas ajakan Meli yang memang jarang hengout seperti rekan-rekannya. Yasir masih ingat ketika memasuki warung jagung bakar di pinggiran jalan pulosari itu.

Beberapa pengunjung yang merupakan mahasiswa Unmar menggodanya. Ia ingat, sepertinya masih orang yang sama seperti yang menggodanya ketika datang bersama Fany.

“Weh ganti lagi, apa Fany sudah bosan sama bau bawang?”. Mahasiswa itu meledek dengan menyinggung nama Fany membuat Meli terlihat tidak nyaman. Sementara Yasir bersikap biasa saja, dia sudah terlalu biasa dengan ledekan semacam itu, ia tetap mengajak Meli masuk dan duduk di sana sekaligus memesan makanan dan minuman. “Hebat ya, anak bawang bisa gonta-ganti pasangan”. Sepertinya orang itu memnag sengaja mencari perhatian lebih, bukan sekedar menggoda atau meledek Yasir, karena dia terus saja mengatakan hal-hal terkait Yasir, orang itu tidak sendirian, tiap sindirannya dibalas gelak tawa teman-teman di sekitarnya. Hal itu membuat Meli semakin menundukan kepala di samping Yasir.

“Sudah Dek, abaikan saja”, kata Yasir sambil menggenggam tangan Meli menguatkan. Dia paham Meli yang memang memiliki mental jauh dibanding Fany, tapi Yasir juga tidak mau acara hangout bareng Meli yang pertama kali itu gagal.

“Tapi Meli malu Mas”, ucap Meli pelan sambil tetap menundukan kepala.

“Nggak usah dianggep, kan ada Mas di sini, anggep yang lain ga ada, BIARKAN ANJING MENGGONGGONG, kita enjoy aja”, Yasir sengaaja mengeraskan ucapannya agar si mahasiswa pengganggu itu mendengarnya, menunjukan dirinya tidak gentar.

Tiba-tiba si pengganggu bangkit dari duduknya dan berjalan tergesa ke arah Yasir, “Kamu mengejek saya? Kamu bilang anjing tadi?”, katanya kemudian sambil menggebrak meja. Sepertinya dia memang menunggu momen untuk mengngganggu Yasir lebih jauh dan sindiran Yasir dijadikannya alasan. Sebenarnya beberapa mahasiswa memang jengah dengan Yasir karena bisa dekat dengan Fany bahkan diisukan pacaran. Itulah alasan mereka mencari masalah dengan Yasir. Merasa dikalahkan hanya oleh seorang kuli panggul. Dan karena hal tersbut membuat Yasir terkenal di kampus, bukan semata karena Yasir yang kuli panggul pasar, tapi karena kedekatannya dengan Fany. Siapa yang tidak kenal Fany? Anak dari Prawira Group, tentu saja terkenal.

Yasir mengabaikan gertakan itu, dia tetap tenang tapi waspada, sementara Meli makin erat menggenggam jemari tangan Yasir dan makin menundukan kepala, antara was-was dan malu.

Merasa diabaikan si pengganggu justeru makin naik pitam, tangan kirinya menyambar kerah baju Yasir dan mengangkat tangan kanannya hendak memberikan tinju, tapi saat itu datang lelaki cepak di sampingnya dan menangkap gerakan tangan kanan menggagalkan tinjunya, bahkan selanjutnya tangan itu memelintir ke arah belakang badan dan detik berikutnya tubuh si pengganggu sudah terpelanting.

Si cepak tetap diam tegap melihat si pengganggu mengaduh jatuh menghantam kursi dan meja yang ada, beberap tamu memilih minggir dan keluar dari warung. Rekan-rekan pelaku nampak gusar dan maju mengepung si cepak, tapi dengan cepat si cepak memberikan tinju dan tendangan memutar yang tidak terduga, selanjutnya entah apa yang dilakukan si cepak, pengganggu dan rekan-rekannya tergeletak tak berdaya dan selanjutnya si cepak pergi begitu saja tanpa bicara sedikitpun.

Belakangan Yasir mengenali, si cepak itu adalah Endi, orang kepercayaan Sanjaya. Yasir tahu, karena setelah kejadian itu, setiap bepergian bersama Meli, Endi akan muncul meski tidak terang-terangan. Yasir enggan untuk mencari keterangan lebih jauh mengapa Sanjaya tetap memberikan penjagaan padahal Meli sudah tidak, termasuk saat ini.

Setelah menempuh perjalanan sekira 20 menit, mobil yang mereka tumpangi sudah masuk parkir sebuah supermarket yang cukup besar. Yasir ingin meluangkan waktu hari ini khusus buat Ana, sekaligus merefresing otaknya agar bisa meredakan gundah setelah tadi mengenang Meli yang membuat mentalnya agak down, rasa bersalah yang kembali menyesakan dada itu harus dihindari sebisa mungkin.

“Mas Endi mau ikut masuk atau nunggu di sini?”, tanya Yasir pada Endi. Yasir sudah menebak, meski tidak ditawari, Endi pasti akan mengikutinya dari jauh dan sembunyi-sembunyi, tadi di pemakamanpun polisi itu terus mengawasinya, jadi sekalian saja diajak buat teman ngobrol, meski jawabnya hanya sekedarnya. Terkesan kaku dan tertutup.

“Saya ikut pak”, jawab Endi singkat.

Yasir mendorong kereta belanja yang ada di emper supermarket, Ana langsung girang saat tubuhnya diletakan di keranjang kereta dan didorong Yasir. Mengambil jajanan yang diinginkan sekaligus belanja kebutuhan rumah tangga untuk di rumah Sanjaya dan rumah mertuanya, sudah lama Yasir tidak belanja, biasanya dia berdua Meli mengitari rak-rak di supermarket itu, Yasir mendorong keranjang belanja dan Meli mengambil barang-barang yang mau dibeli. Kenangan itu melintas di kepala Yasir, membuatnya harus menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar, mencoba mengusir sesak di dada yang kerap muncul manakala kenangan bersama mendiang isterinya itu muncul.

Saat mau menuju meja kasir, dari jauh Yasir melihat seseorang yang duduk di kursi roda dengan didorong oleh seorang ibu. Apa itu Vera, batin Yasir. Yasir mencoba meyakinkan dengan sedikit mendekat tanpa bertatap muka dengan keduanya. Iya, itu Vera dan maminya. Kenapa Vera masih pakai kursi roda? Monolog Yasir dalam hati. Dia akhirnya memilih memutar kembali kereta belanja agar tidak bertemu ibu dan anak gadisnya itu, Yasir ingin mencari tahu lebih jauh tanpa mereka tahu. Kecurigaan Yasir saat di rumah sakit dulu kembali menghantui pikirannya. Apakah kaki Vera mengalami cedera parah? Atau bahkan… Yasir kembali menghela nafas . Ini salahku, batinnya sambil kembali menghela nafas panjang mengisi rongga di dadanya yang kembali sesak seolah kurang oksigen.

“Ada yang mau dibeli lagi Pak?”, tanya Endi karena melihat Yasir memutar kereta belanja, hal itu menyadarkan Yasir dari lamunan, sementara Ana tetap asik sambil memainkan barang belanjaan yang ada di sekitar kakinya, karena dia disatukan dengan barang-barang yang diambil Yasir dalam keranjang kereta itu.

“Iya Mas, ada yang kelupaan tadi, mau ambil minuman dingin buat kita, agak haus. Mas Endi mau minum apa? Kopi atau cokelat kaleng?” Yasir menjawab santai agar Endi tidak curiga.

“Air mineral botol saja pak”. Jawab Endi tegas.

Selanjutnya Yasir mengambil beberapa minuman botol dan menambakan beberapa belanjaan, dia berencana mampir rumahnya, ya rumah yang dulu dia tempati dan sekaran dihuni oleh Cak No dan keluarganya, sementara Feri menempati kosan Yasir yang dulu, dengan alasan lebih dekat ke pasar, jadi tidak terburu-buru.

“Mas Endi, nanti antarkan belanjaan ke rumah Bapak dan Mas Sanjaya ya, saya turun di rumah Cak No, mau main dulu bentar”, ucap Yasir saat mereka dalam perjalanan pulang.

“Baik Pak”, jawab Endi singkat.

================***===============

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Novel dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s