Trust (3)


Fakta, Pertemuan dan Pilihan

“Apa yang Cak No dan Mas Sanjaya sembunyikan dari saya?”, kata Yasir saat sudah berbasa-basi di rumah Cak No. Hari sudah sore, jadi Cak No sudah pulang dari gudang pasar. Sementara Ana sedang bermain dengan anak-anak Cak No di taman belakang.

“Ada apa Sir? aku ga nyembunyiin apa-apa?”, jawab Cak No diplomatis.

“Mengapa Cak No tidak bilang mengenai kondisi kaki Vera, mengapa Vera belum bisa berjalan juga? Mengapa saya tidak tahu sama sekali. Cak No bilang Vera baik-baik saja, tapi nyatanya, sampai sekarang dia masih pakai kursi roda”.

“Vera baik-baik saja Sir, memang begitu adanya. Mengenai kakinya, ya mungkin belum diijinin dokter untuk serjalan, dia masih perlu terapi lagi”.

“Tapi yang saya lihat tidak seperti itu, bukan sekedar kata ‘baik-baik saja’ versi Cak No. Seharusnya kalo baik-baik saja, dia tidak perlu bepergian menggunakan kursi roda, itu namanya memaksakan diri”.

“Kamu tahu dari mana SIr?” Cak No masih mencoba berkelit.

“Tadi saya melihatnya di supermarket kota, dia masih di dorong maminya, dia masih menggunakan kursi roda. Tidak masuk akal kalo itu baik-baik saja. Kalo memang untuk terapi seharusnya cukup belajar jalan di sekitar taman rumahnya, bukan ke supermarket dan justeru menggunakan kursi roda”.

“Kamu bertemu Vera di kota Sir?”

“Tidak, saya menghindarinya, saya ingin tahu permasalahannya dulu, dan pasti Cak No juga Mas Sanjaya tahu fakta yang sebenarnya. Katakan Cak, apakah kaki Vera mengalami cedera parah? Apakah Vera ….?”, Yasir tidak melanjutkan kata-katanya, dia mengusap kasar wajahnya, menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Terasa ada batu yang mengganjal di dadanya. “Ini semua salahku”, lanjutnya.

“Tidak Sir, itu bukan salahmu, itu kecelakaan. Dan memang, kaki Vera mengalami cedera dan belum bisa berjalan, tapi dia masih menjalani terapi. Kami memang tidak menceritakan semua ke kamu, itu semua demi kebaikan bersama, agar kamu tidak kepikiran dan segera sembuh. Jangan bebani pikiran lagi Sir, sudah cukup. Ini semua takdir dan itu kecelakaan, bukan kesengajaan”.

“Itu bukan kecelakaan biasa kan Cak? Mobil itu habis menjalani servis rutin dan hasil cek di bengkel, tidak ada kendala apapun, tapi mengapa bisa rem blong dan aior bag tidak berfungsi? Apa Cak No juga merahasiakan sesuatu terkait kecelakaan itu? Siapa yang mencoba mencelakakan kami? Apa motif semua itu? Saya sudah menduga-duga beberapa kemungkinan, tapi belum menemukan titiuk terang, mengapa mobil itu mengalami masalah saat pulang, padahal saat berangkat sama sekali tidak ada kendala”.

“Kamu tanyakan ke Sanjaya saja Sir. Biar dia jelasakan secara gamblang. Aku ra patek mudeng juga. Dan biarlah Masmu itu yang bertindaka. Masalah Vera, ojo mbok pikir jero, Vera begitu tabah menjalani kondisinya saat ini. Tidak ada penyesalan maupun ketakutan mengenai kondisi kakinya”.

“Saya mau ke rumah Vera”.

“Udah Sore Sir, besok aja”

“Belum malam”, Yasir bergegas menjempu Ana di taman belakang dan melangkah keluar rumah Cak No.

“Nteni delungkas Sir, ta terke. Kon nteni kene, aku ta njikuk mobil neng ngumah bapak”. Cak No bergegas menuju garasi, menghidupkan motor menuju rumah Pak Atmaja. Terpaksa Yasir kembali duduk menunggu dan membiarkan Ana kembali berlari ke halaman belakang untuk bermain dengan anak Cak No.

Tidak sampai limabelas menit, Cak No sudah kembali mengendari mobil, Yasir segera masuk mobil itu. Dia tidak ingin menunda lebih lama lagi. Dia harus bertemu Vera, meski dia sendiri belum tahu, untuk apa dia menemui gadis cantik yang malang itu. Tapi dari apa yang disampaikan Cak No bahwa Vera merasa baik-baik saja, tidak terbebani dengan kondisi kakinya, Yasir merasa ada kaitannya dengan apa yang disampaikan Vera saat di tepian Telaga Sadeng, dia menginginkan kehidupan yang berwarna, dan baginya mungkin kondisi kakinya dianggap sebagai jawaban akan apa yang dia inginkan saat ini. Hidupnya tidak lagi datar, memiliki kekurangan. Cah edan, batin Yasir

Jelang Asar mobil yang mereka tumpangi sudah masuk halaman rumah keluarga Waluyo di seputaran Sukun. Rumah besar dengan halaman luas. Taman dengan aneka tanaman yang tertata rapi mengelilingi rumah dengan arsitektur modern ala Eropa.

Yasir segea turun sambil membopong Ana yang tertidur diikuti Cak No.

“Loh Sir, kok moro ra ngabari sik”, sambutan mami Vera nampak terkejut. “Cak No yok opo kabare?”

“Sengaja Bu, tiba-tiba saya pengin ketemu, ngobrol sama Vera. Apa saya bisa ketemu?”, Yasir tidak mau basa-basi lagi. Cak No hanya mengangguk ke ibu tuan rumah.

“Oh boleh, dia ada di halaman belakang, kebetulan lagi ada tamu juga. Sekalian saja kamu ketemu mereka”.

“Tamu? Mereka siapa Bu?”

“Kamu temui saja. Ibu mau nyiapin minum. Mau minum apa Cak No?”.

“Aku kopi ireng ae”, jawab Cak No singkat dan memilih duduk di teras depan. “Aku ngenteni kene yo Sir”.

“Iyo Cak”, Yasir pun berlalu menuju halaman belakang. Taman di halaman belakang lebih luas dan indah, bisa buat kongkow keluarga besar. Ada kolam ikan dengan air terjun buatan yang airnya mengalir tanpa henti. Nampak dua perempuan sedang mengobrol. Dari jauh Yasir sudah bisa mengenali Vera yang duduk di atas kursi roda, tapi siapa perempuan satunya? Yasir mencoba menebak sambil mendekat.

“Apa kabar Ve?”, Yasir menyapa. Dua gadis itu memalingkan wajah berbarengan ke arah Yasir. Dan betapa terkejutnya Yasir. “Fay”. Dia Fany. Lidah Yasir kelu sesaat karena tidak menyangka akan ketemu dengan gadis yang kerap mengisi hari-harinya dulu kala, sebelum akhirnya dia memilih Meli dan mengikhlaskan anak gadis Prawira itu. “Apa kabar Fay?”.

“Baik Yes”, Fany hanya menjawab sekilas

“Hai Yas. Tumben kemari tanpa berkabar dulu”, Vera menyela menghalau kecanggungan di antara mereka.

“Iya Ve, ada yang pengin saya omongin sekalian lihat kabar kamu”, Yasir menyahut kaku, sambil sekilas melirik Fany yang nampak menunduk. Sama-sama kaget karena tidak menyangka berjumpa Yasir di rumah Vera, padahla niatnya pulang sekalian menjenguk Vera tidak ada niatan ketemu Yasir.

“Aku baik Sir. Oh iya, Fany juga baru datang dari Jakarta. Kalian ngobrol aja dulu Ya. Aku tinggal ambil minum sebentar”, tanpa menunggu jawaban Vera mengayuh kursi rodanya meninggalkan Yasir dan Fany yang nampak canggung dan kaku.

“Kapan datang dari Jakarta Fay?”, Yasir membuka kebisuan dengan pertanyaan basa-basi.

“Tadi pagi Yes. Kamu apa kabar? Ana tidak kamu ajak?”.

“Alhamdulillah baik Fay. Ana saya tinggal di rumah Cak No. Tadi masih main sama anak-anaknya jadi biarin aja di sana. Kamu nggak pulang bareng Yuda Fay?”.

“Enggak Yes. Dia masih sibuk shooting. Oh iya, sepertinya ada yang penting mau kamu obrolin sama Vera. Aku pamit ya”.

“Penting bagi saya Fay, mungkin bagi Vera bukan apa-apa. Hal tersebut adalah soal kondisi kaki Vera. Saya baru tahu kalo Vera belum bisa jalan. Mereka semua menutupi kondisi Vera yang sebenarnya dari saya. Entah apa maksudnya”.

“Oh itu. Mereka mungkin tidak mau kamu merasa bersalah Yes dan Vera nampaknya memang sengaja menutupi itu dari kamu”.

“Kamu tahu mengenai itu Fay?”

“Tadi Vera sedikit bercerita dan sisanya saya menebak. Mereka semua tidak mau kamu menyalahkan diri sendiri …”.

“Dan melakukan kekonyolan yang kekanakan. Begitu Fay?”. Yasir memotong ucapan Fany.

“Mungkin begitu. Mereka semua menyayangimu Yes. Tiada maksud lain, aku yakin itu. Aku mengenal semua keluargamu, termasuk mas Sanjaya”. Fany diam sesaat, “Mereka pasti ingin yang terbaik buat kamu dan salah satunya kembali kepada kepercayaan diri yang dulu selalu melekat denganmu melalui ide-ide yang kamu kembangkan. Berhentilah menengok ke belakang, jadikan itu sebagai pembelajaran saja bukan sbuah hukuman, sama sekali bukan Yes. Kamu paham itu, tapi entah mengapa yang kudengar kamu kerap mengabaikannya dan mengikuti emosimu. Maaf kalo aku banyak bicara. Kamu tahu mengapa aku bicara begini bahkan setelah bertahun kita tidak berjumpa. Kamu tahu Yes. Aku yakin itu”. Fany kembali mdiam, menghela nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, pun Yasir hanya membuang pandangan ke arah langit sore. “Maaf kalo selama ini aku tidak pernah berkabar, aku perlu belajar ikhlas, belajar merelakan. Terimakasih atas semua pembelajaran yang kamu berikan Yes”.

“Seharusnya saya yang minta maaf Fay. Sayalah yang memilih menyakitimu meski saya tidak ada niat sama sekali untuk melakukannya tapi kamu tahu, saya tidak punya pilihan”.

“Aku paham Yes, bahkan untuk saat ini aku juga akan mengerti akan pilihanmu”.

“Pilihan? Apa maksudmu Fay. Kita baru saja ketemu dan kamu bilang pilihan. Pilihan apa?”

“Vera”. Fany mengitarkan pandangan sejenak ke arah pintu rumah, nampaknya tuan rumah sengaja membiarkan dia berdua Yasir mengobrol lama. “Pilihlah Vera Yes. Pilih Vera bukan aku. Abaikan ego hatimu”. Fany bukan tanpa alasan mengatakannya, dia bisa melihat sorot mata penuh cinta rterpancar dari binar wajah Yasir dari semenjak berjumpa tadi. Dia sendiri juga sama, dia tidak bisa membohongi hatinya, tapi dia kenal Yasir dan Fany sudah belajar banyak tentang sebuah kata ikhlas dan merelakan untuk sesuatu atau seseorang yang dianggap paling membutuhkan. Dan baginya, Vera saat ini benar-benar membutuhkan dukungan Yasir secara dekat. Meski Vera nampak tegar dengan musibah yang menimpanya, tapi manusia tidaklah sempurna, suatu waktu Vera akan merasa terpuruk dengan kondisinya dan Fany tidak yakin akankah Vera akan sekuat dirinya. Fany juga bisa melihat sorot mata mendamba dari Vera. Mendamba akan sosok Yasir yang kemungkinan bisa memberi rasa nyaman selama mereka bersama disaat Fany berada di Jakarta. Fany yakin Vera mengharapan Yasir bukan Yuda. Sama sekali bukan, bahkan Yuda hampir tidak pernah membicarakan Vera dengan Fany.

“Vera. Apa maksudmu Fay?”

“Kamu tidak buta Yes. Kamu tahu, Vera lebih membutuhkanmu daripada aku”.

“Tapi Vera baik-baik saja dan mengapa aku harus memilih dia, sedang sekarang aku bisa memilih sesuai keinginanku dan aku belum bicara apapun sama kamu tentang kita”.

“Tentang kita? Apa masih perlu dibicarakan lagi Yes? Apa kamu ingin berbpohong padaku?”, Fany menatap lurus ke arah mata Yasir yang sedang memandangnya penuh tanya. “Apa mata kamu sekarang bisa berbohong Yes? Dan apa kamu tidak bisa melihat aku. Kita tahu itu Yes, kita tidak pernah bisa lepas dari rasa ini tapi bukan berarti kita harus menurutinya kan. Seperti dulu, saat kamu harus memilih Meli. Kita tahu alasan yang kamu pilih. Kamu akan memilih mana yang paling penting dan paling membutuhkan. Dan saat ini, kita tahu siapa yang lebih membutuhkan dukunganmu antara aku dan Vera”. Fany kembali diam sejenak, “Aku langsung tahu saat tadi berjumpa Vera dan bercerita tentang kamu. Dari sorot matanya nampak jelas binar mendamba akan sosok kamu Yes. Dia nyaman bersamamu. Dia merasa memiliki sandaran dan teman ngobrol tanpa batasan yang selama ini dia jaga. Dia yang pendiam bisa bicara begitu terbuka. Mungkin aku tidak terlalu mengenalnya secara langsung tapi aku kerap menanyakan pribadi Vera pada Yuda. Dan tenryata saat berjumpa tadi, dia berubah. Dia lebih ceria dan percaya diri bahkan dengan kondisi kaki yang tidak sempurna. Dan aku tidak bisa. Akau tidak akan sanggup merebut kebahagiaan yang sudah menjadikannya begitu hidup. Dia berhak bahagia dengan ketidaksempurnaan yang ada saat ini. Aku akan mengikhlaskanmu. Lagi”.

“Tapi dulu kan memang saya tidak punya pilihan Fay. Mas Sanjaya dan Bapak melamarku langsung degan pertimbangan kondisi Meli yang sakit. Tentu aku akan memilihnya. Kamu tahu itu. Dan mengapa kamu bicara seperti ini di perjumpaan kita yang sudah sekian lama berpisah. Saya sungguh tidak mengerti”.

“Aku tidak ingin menunda Yes. Aku ingin memupus kembali rasa dalam hatimu untuku. Akupun demikian, agar sakitnya juga tidak terlalu terasa. Tidak seperti dulu, begitu perih. Aku percaya kamu dan aku bisa mengulangi itu. Dan kamu pasti bisa mencintai dan menyayangi orang yang memnag lebih membutuhkan itu semua. Aku memang menginginkannya, membutuhkannya. Tapi Vera jelas lebih dari aku Yes. Kamu pasti paham. Apa kamu ingin aku melamar kamu untuk Vera?”, Fany tersenyum. “Kan tidak lucu”.

“Saya yang memutuskan Fay. Kamu jangan memaksakan kehendak”.

“Tapi aku juga tidak bisa masuk dalam pilihan Yes. Aku sudah keluar dari itu semenjak berjumpa Vera tadi. Apakah kamu ada pilihan setelah aku?”.

“Kamu curang Fay. Mengapa justeru kamu yang memposisikan diri sebagai orang yang selalu mengalah, saya merasa menjadi laki-laki yang payah”.

“Tidak Yes. Kita impas. Kamu juga mengalah dengan egomu. Mengalah untuk tidak memilihku. Aku tahu itu berat karena akupun merasakan hal sama. Tapi sekali lagi, ini adalah pelajaran yang kamu berikan padaku dan aku hanya mengaplikasikannya saja. erelakan ego untuk suatu hal yang lebih penting, lebih membutuhkan”, Fany diam, nampak Vera keluar diringi Maminya yang memabawa nampan berisi minuman. “Sudah Yes. Pilih Vera, yakinkan hatimu. Lihatlah dia. Kamu harus menyempurnakannya. Pilihlah dia, bukan sekedar untukmu. Lakukan itu untuku”. Fany memandang ke arah Yasir dan menatap manik hitam pemuda yang senantiasa mengisi hatinya itu, “Lakukan untuku Yes. Tunggulah sesaat lagi, kamu akan lihat kami berdua di depanmu dan kamu akan tahu siapa yang akan kamu pilih”.

“Baiklah Fay. Itu maumu. Saya akan berusaha. Terimakasih Fay dan maaf sekali lagi karena menempatkanmu di posisi ini”, Yasir diam karena Vera dan maminya semakin dekat.

“Sir, maaf agak lama ya”, Kata mami Vera sambil menaruh gellas minuman berisi jus jeruk hangat. “Jeruknya harus metik dulu di kebun tetangga hahaha”, Mami Vera berkelakar, padahal dia bisa menyuguhkan minuman itu dari tadi tapi dia ditahan oleh Vera dengan alasan agar Yasir bersama Fany dan bisa ngobrol berdua. Vera berharap, Fany bisa menjadi pengobat Yasir akan kepergian isterinya. Yuda juga pernah menyampaikan hal itu.

“Iya ibu, ga papa”, Yasir agak kikuk menjawabnya, karena seperti dibilang oleh Fany, sekarang ada Vera di depannya dengan kursi roda, bersebelahan dengan Fany. Dan dia tahu harus menentukan pilihan. Dia harus memilih dan dia sekarang paham apa yang disampaikan Fany. Ya, dia masih Yasir yang dulu, yang memilih bukan berdasar ego semata tapi berdasar kepercayaan dan keyakinan, bahwa pilihan itu bukan sekedar untuk memenuhi hasrat hatinya, tapi juga manfaat kepada orang lain, mana dan apa yang lebih bermanfaat, lebih membutuhkan pilihannya, dan itulah yang akan dia pilih tapi dia juga tidak perlu terburu-buru untuk melakukannya.

================***===============

================END==============

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Novel dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s