Trust (2)


waiting

Pemakaman Meli sudah usai. Semua pelayat telah kembali ke rumah masing-masing. Yasir masih terpaku, berjongkok menghadap gundukan tanah merah. Dia remas segenggam tanah untuk melampiaskan pedihnya. Air matanya terus mengalir membasahi pipi, wajah tegas itu menampakan duka mendalam. Ketegaran yang nampak selama ini seolah runtuh.

“Masss..”, terdengar Meli dari dapur suatu pagi tiga bulan setelah menikah.

“Kenapa Dek?”, Yasir tergopoh menuju dapur, dia tinggalkan motor yang sedang dicucinya. Sebuah motor India yang ia beli second. Kata yang punya sebelumnya, sudah bore up hingga 240cc. Knalpot yang diadopsi menggunakan model brong atau free flow, menyajikan suara yang cukup keras jika digeber dalam kecepatan atau RPM tinggi.

“Mata Meli perih mas”, nampak Meli sedang mengucek matanya. Ternyata dia sedang mengiris bawang untuk memasak nasi goreng, bermaksud membuat sarapan. Selama ini memang dia tidak pernah memasak, apalagi berurusan dengan bawang merah, ibunya selalu melarang, kawatir terkena pisau. Ibunya bahkan selalu menyuruh Mba Nani, pembantu rumah tangganya untuk ke rumah Meli menjadi pembantu sementara di sana. Tapi hari itu sedang libur karena ada urusan keluarga.

“Jangan dikucek Dek, malah makin perih jadinya. Ayo cuci muka dengan air berulang biar lekas hilang uap bawangnya”, Yasir menggandeng Meli menuju kamar mandi. “Lain kali, kalo mengiris bawang, pakai kacamata renang aja Dek, jadi aman”, kata Yasir bercanda.

“Masa di dapur pakai kaca mata renang Mas, yang ada Meli jadi kaya kodok”, rajuk Meli sambil memukul dada Yasir.

“Bukan kaya Kodok Dek, tapi kaya….”, Yasir tidak melanjutkan gurauannya.

“Kaya apa Mas?”.

“Kaya apa ya?”.

“Apa?”.

“Kaya kecebong”, selanjutnya Yasir lari karena pasti Meli akan memukulinya tanpa henti.

“Masss..”, Meli mengejar Yasir ke ruang keluarga. Mereka kejar-kejaran hingga Meli terengah dan membuat Yasir tidak tega. Dia berhenti dan menunggu Meli menghampiri. Direntangkan tangannya, membuka dada bersiap menerima pukulan. Tapi Meli tidak memukulnya, melainkan menubruk dan memeluk, menyandarkan badannya yang kelelahan ke dada bidang Yasir. Yasir memeluk tubuh mungil isterinya. “Mas mencintaimu Dek. Meli tidak perlu membuktikan bisa masak ataupun tidak. Mas tetap menyayangimu”, bisik Yasir di telinga Meli dan mengecup puncak kepalanya.

Meli semakin merapatkan pelukannya. Dia merasa bahagia tiada tara setiap Yasir membisikan kata-kata mesra itu. Dia pasrah saat Yasir mengangkatnya ala bridal. Membopongnya menuju kamar. Memanjakannya penuh kasih dan sayang selepas doa-doa dipanjatkan demi keberkahan. Dan pagi itu bukan hanya bawang merah yang terbengkalai tak berdosa, selang air yang masih mengucurkan air juga pasrah di bawah sepeda motor yang berdebu.

“Sir, ayo pulang. Ana menunggu ayahnya di rumah”, Sanjaya meraih pundak adik iparnya yang bergetar menahan tangis, terpekur memandang gundukan tanah merah.

Yasir tersadar dari kenangan indah bersama Meli. Kebahagiaan itu terasa begitu singkat. Yasir menghapus air matanya dan bangkit. “Maafkan Yasir mas, Saya tidak becus menjaga Meli”, dia sudah tak sanggup menahan rasa perih itu, dia peluk tubuh tegap kakak ipar terutanya. Orang yang paling dihormati setelah Pak Atmaja. Menangis yang dulu tabu, kini begitu mudah ia lakukan tanpa komando.

“Kamu tidak salah Sir, ini takdir. Siapa yang bisa menolak, tidak ada. Saya juga sangat terpukul, amat sangat, tapi bisa apa kita, kalo sudah waktunya, kitapun akan dipanggilNya. Kita semua menunggu panggilanNya untuk kembali”, Sanjaya menepuk-nepuk punggung Yasir. “Menangislah agar bebanmu berkurang”. Sanjaya membiarkan Yasir menuntaskan tangisnya. Setelah beberapa menit, pelukan Yasir mengendur, Sanjaya merangkul dan mengajaknya menuju pinggir pemakaman. Nampak Vera yang hanya bisa menatap sendu ke arah Yasir, dia tidak berani mengucapkan kata-kata apapun, kawatir salah dan justeru menambah kesedihan partner kerja papinya itu.

“Ve, makasih sudah datang”, Yasir menyapa.

“Iya Sir, maaf, Papi tidak bisa datang, dia sedang di Jakarta. Hanya menyampaikan bela sungkawa sedalam-dalamnya”, Vera menghela nafas sesaat. “Kuatkan dirimu Sir”, lanjutnya kemudian, mengiringi menuju parkir mobil di pemakaman umum itu.

Saat hendak memasuki mobil Sanjaya, datang sebuah sedan BMW 320i. Berhenti dan pengendaranya langsung keluar menghambur ke Yasir. Memeluknya. “Maaf Yas, aku baru bisa datang”, Yuda diringi tante Wati yang sudah berdiri menepuk pundak Yasir.

“Tabahkan hatimu Sir, kamu pasti kuat, karena kamu adalah pemuda yang tangguh. Kamu pasti sanggup menghadapi ujian ini”. Tante Wati menyampakan kalimat yang dirasa bisa mengurangi kesedihan Yasir yang masih jelas terpancara dari dua mata sembab dengan air mata masih menggenang.

“Makasih Yud, Tante”, Yasir menjawab terbata.

“Ayo kita rumah saya saja, kita ngobrol di sana”, Sanjaya memecah suasana sendu itu. “Ana juga sudah menunggumu Sir”, lanjutnya mengingatkan kemabali, bahwa Yasir sudah memeiliki anak.

“Ayo, aku juga pengin ketemu ponakanku”, Yuda menyahut cepat. “Ve, jadi kapan mau punya anak?”, Yuda menyapa Vera dengan gurauan agar suasana mencair.

“Itu tergantung Yud, kapan kamu melamar Vera”, kali ini Sanjaya yang menjawab. Dia tahu betul kedekatan keduanya, meski sekarang terpisah jauh, tapi Sanjaya yakin keduanya masih saling berkomunikasi.

“Hahaha… Mas Sanjaya bisa aja. Tunggu tanggal main mas”, Jawab Yuda sekenanya. Sementara Vera hanya tersipu dengan muka yang memerah.

“Kalo saya si bisa menunggu Yud, tapi Vera belum tentu loh”, Sanjaya masih menggoda kedua sejoli itu. “Udah ayo, keburu malam makin larut”, Sanjaya melanjutkan. Pemakaman memang dilaksanakan jelang Maghrib karena menunggu kedatangan Andra dan Rama. Kedua kaka Meli itu udah sedari tadi pulang guna menenangkan ibunya yang masih terus menangis.

Suasana pemakaman sunyi, senandung senja usai sudah berganti gema syair malam yang menyapa pohon kamboja dengan bunga kuning yang mekar mewangi untuk kemudian berguguran mewarnai tanah di bawahnya. Ada keindahan, ada kekecewaan, ada kegembiraan ada kesedihan, semua melengkapi. Pungguk terguguk memandang rembulan yang bersinar setengah di antara awan kelabu yang mengawang. “Mas Yasir pulang dulu Dek, semoga kamu bahagia di sana, tunggulah, kita kan bertemu lagi kelak”, batin Yasir sebelum Mas Sanjaya menginjak pedal gas mobil yang ditumpanginya. Dikerlingkan mata sekali lagi menatap gundukan tanah merah yang mulai samar tertutup rona malam.

Kesunyian ini lirihku bernyanyi
Lagu indah untukmu
Aku bernyanyi

Engkaulah cintaku
Cinta dalam hidupku
Bersama rembulan aku menangis

Mengenangmu
Sgala tentangmu ooh
Ku memanggilmu dalam hati lirih

Engkaulah hidupku
Hidup dan matiku
Tanpa dirimu

Aku menangis mengenangmu
Sgala tentangmu ooh
Ku memanggilmu dalam hatiku

Aku bernyanyi
Mengenangmu
Sgala tentangmu ooh

Ku memanggilmu dalam hati lirih
Ku memanggilmu dalam hati lirih
Ku kenang dirimu

===============***==============

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Novel dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s