Trust


HEARTH

Selepas Isya, setelah menyiapkan keperluan, Yasir bergegas mengendarai motornya menuju Perumahan Panorama untuk mengawal anak majikannya yang akan ke Bromo malam nanti. Ya harus malam atau lewat tengah malam berangkat ke Bromo, biar bisa melihat sunrise atau matahari terbit dari puncak penanjakan. Waktu yang dibutuhkan kurang lebih 3 jam dari kediaman majikannya itu untuk sampai ke Penanjakan Bromo. Sedang waktu terbaik untuk melihat sunrise dari penanjakan Bromo adalah sekitar jam 4 pagi, jadi harus sudah sampai Penanjakan sebelum jam 4 pagi. Lebih cepat lebih baik, emngantisipasi hal yang mungkin terjadi di perjalanan. Oleh karenanya, meski belum pernah ke sana, Yasir sudah bisa mmebayangkan keadaan dan keperluan yang dibutuhkan, dia membawa jaket tebal, tutup kepala, sarung tangan, lampu senter kepala, tumbler tahan suhu guna menyimpan air panas, teh dan gula sacet serta bebrapa gelas kecil juga dia siapkan.

Sesampai di rumah majikannya, Yasir disambut Pak Atmaja dan Andra yang sedang duduk di kursi teras rumah.

“Kalian harus tidur biar cukup tenaga saat di Bromo nanti. Kamu tidur di kamar Rama aja Sir”, Kata Atmaja setelah mereka mengobrol rencana keberangkatan ke Bromo nanti tengah malam.

Yasir melangkah ke dalam rumah, di ruang tamu nampak Meli seolah sedang menunggu, dan saat Yasir lewat hendak berbelok menuju kamar Rama, Meli sekonyong-konyong menonjok perut Yasir, membuat dia kaget, “Apaan sih Dek?”, tapi Meli cuma memandang sekilas ke arah muka Yasir kemudian berbalik ke kamarnya sendiri. “Dek, nanti bangunin Mas ya, kawatir sulit bangun tengah malam”, ucap Yasir mengiringi kepergian Meli. Sepertinya Meli masih marah karena pertanyaan tentang perempuan yang membantu Yasir di pasar belum terjawab. Dia masih penasaran, batin Yasir sambil berlalu menuju kamar Rama. Masuk kamar, menyetel alarm di ponsel dan bersiap istirahat, 3 jam, harus dimanfaatkan sebaik mungkin, batinnya.

Tengah malam nampaknya semua anggota keluarga bangun, Yasir bergegas ke kamar mandi, dia harus mandi biar merasa segar dan tidak mengantuk. Selesai mandi dia kemabli mempersiapkan kebutuhan perjalanan, bergegas mengecek isi tas ransel memastikan tidak ada yang tercecer. Menuju dapur guna mengisi tumbler dengan air panas. “Sir, nanti bawa selimut, musim kemarau biasanya udara sangat dingin di puncak. Udah ibu siapkan tuh di sofa”, Ibu Atmaja yang sedang menyeduh teh memberi arahan.

“Enggih Bu”, Yasir mngiyakan, berlalu ke ruang tengah di mana selimut yang dimaksud Bu Atmaja berada, melipat rapi agar masuk ke dalam ranselnya. Selanjutnya dia menggendong tasnya, menuju teras rumah menunggu Andra dan Meli.

Di teras sudah tersaji teh hangat yang disiapkan oleh Bu Atmaja, sekedar menghangatkan lambung di tengah malam yang dingin itu.

“Meli, ayo bangun”, terdengar teriakan Andra dari dalam rumah. “Sudah mau jalan ini, kamu jadi ikut enggak si?”. Masih terdengar suara Andra disusul ketokan pada daun pintu yang cukup keras.

“Sir tolong bangunkan Meli, saya mau menyiapkan kebutuhan dan manasin mobil” Suara Andra mengagetkan Yasir, ternyata dia gagal membangunkan Meli.

Yasir bergegas masuk rumah menuju pintu kamar Meli, “Dek, ayok bangun, udah mau berangkat”. Tidak ada jawaban. Yasir merogoh ponsel dari saku celananya, dia cari nomor ponsel Meli dan klik tpmbol ‘call’. Suara dering ponsel, nada dering lagu kesukaan Meli, ‘Menjemput Impian’ dari Kla Project. Suaranya yang cukup nyaring mengalun dalam kamar sepi, selanjutnya terdengar langkah kaki dan suara anak kunci diputar. Meli membuka pintu dengan malas, muka bantalnya masih nampak jelas. “Dek, jadi ikut ke Bromo tidak? Mas Andra sudah manasin mobil, sudah mau jalan”.

“Kenapa Meli baru dibangunin?”

“Mas Andra sudah mbangunin kamu dari tadi, Bapak dan Ibu juga sudah mengetuk pintu sebelum mas Andra, tapi kamu nggak bangun-bangun”, Yasir menjawab

“Ayok Nduk, ndang siap-siap, selak kawanen”, suara Ibu Atmaja dari dapur. Dia sedang menyiapkan makan ala kadarnya untuk bekal sarapan di jalan. Meli balik badan, mengambil handuk menuju kamar mandi yang memang tersedia dalam kamarnya.

Yasir kembali ke teras, nampak Pak Atmaja sudah duduk di sana, mencecap teh hangtayang masih mengepul. “Awasi Meli tenan yo Sir, kamu tahu kan, dia tidak sekuat tampangnya. Sebenarnya Bapak juga keberatan dia ikut, tapi anak itu tidak bisa dilarang kalo sudah punya kemauan”, kata pak Atmaja sambil memandang ke arah Yasir sekilas, kemudian menatap ke halaman dengan muka sendu, nampak jelas kekhawatiran di wajahnya.

“Enggih pak”, jawab Yasir mantap.

Selang 15 menit semua telah siap, Mas Andra sudah berada di belakang kemudi Toyota Rush, memarkir mobil itu di halaman depan. Meli juga sudah di teras rumah.

“Ada yang ketinggalan ga Dek?” Yasir mengingatkan Meli, barangkali ada barang yang terlupa.

“Enggak ada, udah semua”, jawab Meli yaqin.

“Kamu udah minum tehnya nduk? Ibu taruh meja makan tadi. Biar perut hangat dan ga mudah keram”, suara Bu Atmaja mengingatkan.

Yasir yang belum menghabiskan tehnya buru-buru mengambil gelas di meja teras itu, saat mendekatkan gelas ke mulutnya, saat itulah Meli menahan tangnnya dan mengarahkan gelas teh ke mulutnya, selanjutnya menenggaknya pelan sampai habis masih sambil memegang tangan Yasir yang menggenggam gelas. Yasir mengelus kepala Meli pelandengan tangan kirinya yang bebas, sementara kedua orang tuanya hanya bisa tersenyum syendu.

Mas Andra keluar mobil dan membiarkan mesin menyala, dia menuju teras, menghabiskan sisa teh yang terhidang dari tadi. Semua persiapan perjalanan telah selesai. Selanjutnya pamit kepada kedua orang tuanya, mereka harus bergegas karena akan mampir Wagir, menjemput Rini, tunangan Mas Andra yang menginap di rumah neneknya.

Sepanjang jalan nampak lengang, tentu saja tengah malam, shingga tidak perlu waktu lama mereka sampai di Wagir, kediaman nenek Rini dimana dia menginap. Di rumah ini juga dulu Rini tinggal waktu masih kuliah, sementara rumah orang tuanya di ibukota. Saat kuliah itulah Andra dan Rini bertemu.

Rini sudah menunggu di teras rumah, gadis itu berperawakan cukup tinggi, bisa dibilang jangkung untuk ukuran wanita Indonesia. Rambut hitam legam lurus memanjang hampir menyerntuh pinggulnya. Dia mengenakan jaket tebal dan tudung kepala untuk menghalau dingin.

Setelah basa-basi sebentar dengan tuan rumah, mereka melanjutkan perjalanan. Yasir yang tadi duduk di depan samping Andra, berpindah ke kursi penumpang tengah bersama Meli. Yasir juga baru kali ini ketemu langsung dengan Rini, calaon isteri dari Andra, anak kedua majikannya. Selama ini dia hanya tahu dari cerita saja.

Perjalanan dilanjutkan diiringi musik dan obrolan ringan. mengenai pekerjaan, kuliah, sekolah Meli dan pasar. Rini nampak kagum mengetahui Yasir bukan sekedar pegawai calon mertuannya, tapi juga nyambi kuliah dan sekarang dipercaya memegang cabang agen bawang di pasar Kasin.

Setelah satu jam perjalanan Meli nampak mengantuk, mulutnya tak henti menguap, mungkin dia belum pernah tidur dalam waktu sangat pendek. Melihat Meli muali terkantuk-kantuk bersandar yang terlihat kurang nyaman,Yasir menggeser badan ke pinggir, mempersilahkan Meli merebahkan badan dan menjadikan paha Yasir sebagai bantal. Tidak perlu waktu lama, Meli sudah terlelap dengan nafas teratur pertanda tidur nyeyak.

“Lho, Meli sudah angler”, Rini yang menyadari pemandangan itu jadi heran tapi tidak berani komentar lebih jauh, hanya menyenggol lengan kekasihnya memberi tanda. Andra hanya mengangguk dan mengangkat bahu sekilas.

Perjalanan selanjutnya mulai didominasi tanjakan, Andra harus lebih konsentrasi ke jalan yang berkelak-kelok. Rini lebih bertindak sebagai navigator, mengingatkan Andra bila ada sesuatu yang terlewat dari pengamatan Andra. Ditambah penerangan jalan yang kurang baik dibanding perjalanan siang. Yasir memilih diam memperhatikan sepasang kekasih di depan yang nampak saling mendukung agar selamat, seskali diedarkan pandangan keluar, meski gelap masih bisa terlihat jalanan berkelok yang menanjak dipayungi pepohonan dan rumah penduduk. Meli masih tertidur pulas berbantal pahanya, meski kaki menekuk tapi posis bebaring dan kondisi mengantuk membuat gadis manja itu tetap pulas dalam dunia mimpi.30 menit kemudian mobil berhenri, minggir berbelok masuk halaman bangunan dengan mobil penjelajah berjejer rapi. Ya perjalanan selanjutnya akan menggunakan monil rental yang lebih mangkus menaklukan tanjakan pegunungan Tengger dan lautan pasir di Bromo nantinya.

Kemarin Andra sudah mengontak pemilik rental mobil double gardan itu, lebih tepatnya komunitas pemilik mobil pendaki Bromo untuk menyewanya pagi ini. Jadi saat memarkir mobil, turun dan memperkenalkan diri pada salah satu penghuni gedung tersebut, Andra langsung diarahkan ke mobil yang akan membawa mereka mendaki Bromo.

Yasir menggoyang kepala Meli, menepuk lembut pipi anak gadis majikannya yang masih telelap, “Dek, bangun, kita pindah mobil”.

Meli menggeliat dan sedikit tergagap mendapati dia bangun tidur dengan kepala di pangkuan Yasir. Segera ddia duduk dan bersandar, masih nampak muka malas terpampang, “Meli masih ngantuk Mas”, ucapnya kemudian.

“Terus kamu mau tidur di sini, ditinggal ke atas?”.

“Ya jangan dong, Meli ikut”

“Yaudah buruan siapkan tasmu, ayok turun. Mas Andra dan Mba rini nungguin tuh”. Yasir membuka pintu dan hendak keluar menyusul Andra.

“Tungguin Meli Mas” Meli segera beringsut, meraih tasnya dan mengikuti Yasir. Mungkin karena masih terserang kantuk, badan Meli sedikit terhuyung, Yasir segera meraih pundaknya, merangkul agar Meli tidak jatuh.

Jam menunjuk angka 2:45, target sampai penjakan jam 3:30 dinihari, sisa waktu yang ada masih cukup luang, perjalanan tidak perlu terburu-buru. Andra sedang menyelesaikan administrasi ditemani Rini. Ternyata gedung ini merupakan penginapan atau hotel sekaligus salah satu tempat mangkal komunitas jeep Bromo. Ada banyak hotel di sekitar pegunungan Tengger tidak jauh dari kawasan wisata Bromo-Tengger dan sebagian besar bekerjasama dengan komunitas jeep Bromo, sehingga memudahkan pengunjung yang hendak berwisata sekaligus menginap. Suasana cukup ramai, mungkin karena akhir pekan jadi banyak pengunjung yang berwisata ke Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TN-BTS). gunubg Bromo merupakan gunung berapi yang masih aktif dan masuk ke dalam 4 kawasan kabupaten, yaitu Lumajang, Malang, Pasuruan dan Probolinggo. Mobil rental komunitas jeep merupakan milik perorangan dari penduduk lokal, jadi dengan adanya kawasan wisata Bromo tengger, perekonomian masyarakat 4 kabupaten ikut terangkat. Lapangan pekerjaan terbuka termasuk dari penginapan yang memadati kawasan menuju Taman Nasional Bromo.

Yasir dan Meli duduk di salah satu teras bangunan menunggu Andra, dia mengeluarkan tumbler air panas, dia tuang air ke 2 gelas kertas, selanjutnya teh celup ia seduh, “Dek, mau pakai gula tidak tehnya?”, tanya Yasir menyadarkan Meli yang mulai terserang kantuk.

“Boleh, tapi dikit aja Mas”.

Setelah menyerahkan gelas teh ke Meli, Yasir kembali membuat 2 gelas teh lagi untuk Andra dan Rini yang sudah selesai menyelesaikan administrasi. “Mas, Mbak, pakai gula nggak nih tehnya?”

“Wow, persiapanmu lengkap banget Sir, bawa air panas segala. Boleh, dikit aja gulanya, kalo Rini tidak usah pakai gula takut kemanisan, dia sudah lebih dari manis soalnya hahaha”, Andra menjawab sambil berkelakar.

“Bener nih Mbak RIni tidak perlu gula?” Yasir meyakinkan.

“Iya, nggak usah Sir”. Rini menjawab sambil tersenyum mendengar candaan kekasihnya. “Kalo teh yang diminum Meli, pakai gula enggak Sir?”, Rini melanjutkan.

“Pakai Mbak, tapi sedikit”. Yasir menjawab lugu.

“Padahal Meli kan sudah manis juga, kenapa dikasih gula, gak takut dirubung semut kamu Mel?”. Rini menjawab lagi dengan kelakar serupa dengan Andra. Sontak hal itu membuat mereka tertawa, Meli tersenyum dan nampak tersipu. Ternyata Rini juga memiliki selera humor serupa dengan kekasihnhya. “Tapi bener kan Sir, Meli memang manis dan cantik?”, Rini melanjutkan dengan nanda serius, sepertinya hendak mengetes Yasir sebagai laki-laki.

“Tentu saja Mbak, Meli kan memang paling cantik dan manis di keluarga Pak Atmaja”, Yasir menjawab dengan nada kelakar.

“Loh, saya serius Sir, menurut kamu gimana?” Rini masih penasaran.

Yasir terdiam, “Eh ayok, mobil dah siap tuh, kita berangkat”, Andra memcah kekakuan suasana.

“Meli memang cantik dan manis mbak”, Yasir memberi penegasan membuat Rini tersenyum puas, menepuk pundak Andra yang hanya mengangkat bahu sekejap. Sedang Meli diam tersipu merasa jadi pusat perhatian. “Ayo Dek, jangan tidur lagi, ntar disemutin kamu”, Yasir menarik kerah jaket Meli agar bangkit dari duduknya. Kelakarnya kembali membuat mereka terbahak menjadikan pagi yang dingin itu lebih hangat. Masing-masing menghabiskan sisa teh dalam gelas kertas buatan Yasir dan bergegas menuju mobil jeep hard top yang akan mengantar ke Bromo.

Ternyata bukan satu dua mobil yang akan naik ke Bromo, ada puluhan yang sudah bersiap, dengan penumpang antara 4 sampai 6 termasuk sopir.

Mobil bergerak beriringan, seperti pawai mobil antik saja, karena hanya mobil jenis penjelajah seperti land cruizer, jeep dan hard top dengan warna yang dominan cerah. Setelah kurang lebih 45 menit menempuh jalanan berkelok dengan kecepatan yang konstan, mobil mulai tertatih dan kadang berhenti mengantri, menunggu mobil terdepan berbelok tajam di beberapa spot penajakan Bromo. Jalur Penanjkan memang bukan main-main, tidak sembarang mobil dan sopir yang mampu menaklukan, harus terlatih dan paham jalan, selain penerangan yang hanya dari lampu mobil, jalur penanjkan juga terjal dengan beberapa belokan tajam, jika mobil biasa tidak akan sanggup melewatinya. Bahkan mobil penjelajah sekalipun, jika sopir yang masih awam akan jalur, bisa dipastikan gagap dan menimbulkan kemacetan, karena memang tidak bisa menyalip maupun bersisihan. Hanya cukup untuk satu mobil saja, itupun untuk ukuran mobil yang tidak terlalu besar.

Seperti rencana, pukul 3.30 iringan jeep sampai di parkir Penanjakan 1, Yasir segera mengedarkan pandang begitu turun dari mobil. Nampak pagar yang membatasi pinggiran dari pegunubgan itu, batas agar pengunjung tidak tergelincir. Nampak juga bangunan yang sepertinya tempat shalat. Hawa dingin begitu menusuk, karena sedang musim panas sehingga udara pegunungan lebih dingin, berbeda jika musim penghujan, udara justeru tidak terlalu menusuk. Kupluk kepala dia tarik lebih dalam agar menutupi hingga telinga, salah satu penyebab dingin adalah udara yang merambat masuk lewat lobang telinga. Jaket tebal yang ia gunakan ternyata tidak sanggup menghalau semua hawa dingin puncak tertinggi dari kawasan Taman Nasional yang berada sekira 2770 meter di atas permukaan laut (mdpl). Tempat favorit untuk menyaksikan The Golden Rise kata orang bule.

Kondisi Meli tidak kalah mengenasakan, nampak tersiksa dengan hawa dingin yang menusuk. Badanya menggigil menahan dingin yang menyerang. Yasir segera mengeluarkan selimut yang tadi dititipkan Bu Atmaja, melipat agar tidak terlalu lebar dan melingkupi Meli dengannya, dari kepala, menyuruhnya memegang sedemikian rupa agar lebih hangat. Andra dan Rini hanya memperhatikan saja, mereka heran, Yasir seolah sudah penuh persiapan untuk ke Bromo, mulai dari teh di parkir hotel tadi hingga selimut buat Meli. Tapi mereka tidak berkomentar. Keduanya juga kedinginan, tapi masih mampu bertahan dengan jaket tebal, kupluk kepala dan sarung tangan. Mereka sudah memilih spot untuk menyaksikan matahari terbit.

Jelang Subuh, Yasir mengajak Meli ke bangunan yang memang disediakan buat shalat, menyuruh Meli tayamum, karena tidak tega dengan Meli yang sudah menggigil, mungkin tidak akan sanggup bersentuhan dengan air yang begitu dingin, sementara Yasir tetap memaksakan diri berwudhu dengan air, dia merasa lebih mantap. Andra dan Rini menunggu barang bawaan di spot yang sudah mereka pilih agar tidak tergeser pengunjung lain. Nantinya bergantian.

“Apa kau yakin Yasir hanya pegawai Bapak?”, rasa penasaran Rini sudah memuncak dan segera ingin penjelasan dari kekasihnya. Sepanjang perjalanan dia bisa melihat sikap Yasir yang begitu tanggap dan dewasa, juga bagaimana dia menjaga Meli dengan penuh perhatian. Dan saat menunggu giliran shalat dia coba mengorek keterangan kepada Andra. “kamu lihat mereka berdua kan?”

“Aku tidak tahu pasti Rin, hanya saja, Bapak, Ibu dan Mas Sanjaya bilang, Meli sekarang berubah, lebih ceria. Dan satu lagi, dia seolah punya kakak angkat, yaitu Yasir, manja dan kerap berlaku aneh jika terkait Yasir”, Andra menjelaskan. “Kalo aku ya kan jauh jadi tidak tahu persis, cuma dari cerita aja. Tapi aku ga perlu kawatir, kalo Bapak dan Mas Sanjaya sudah percaya, aku yakin sudah penuh pertimbangan. Termasuk menyetujuai pembukaan cabang di Pasar Kasin”.

“Maksudmu, cabang baru itu atas ide Yasir?”

“Iya. Mas Sanjaya menelponku, menjelasakan alasan Yasir memberikan ide itu, seklaigus minta pendapatku. Ya, masuk akal dan aku setuju saja”, Andra kembali menceritakan telepon mas Sanjaya tentang ide dan alasan Yasir. “Dan kamu tahu siapa yang bertanggung jawab di cabang baru itu?”

“Pasti Yasir kan?”, Rini menebak dengan yakin.

“Tepat sekali. mas Sanjaya juga minta pendapat ke aku dengan menceritakan seperti apa Yasir selama ini, dan ya saya bukan sekedar yakin dengan apa yang dia jelasakan, tapi insting Mas Sanjaya selalu tepat, dan aku percaya itu. Buktinya, cabang baru mulai kewalahan melayani pelanggan baru di Kasin”.

“Lantas bagaiman dengan Meli? Apa menurutmu dia menganggap Yasir hanya sebagai seorang kakak tidak lebih?”

“Menurutmu sebagai seorang wanita giama Rin?”

“Menurutku…hmmm.. sepertinya tidak”. Rini mengernyit

“Bisa jadi, ibu juga berpendapat begitu. Bahkan Ibu pernah memergoki, seolah Meli cemburu sama Fany”.

“Siapa Fany?”

Belum sempat Andra menjawab, nampak Yasir dan Meli yang bergegas menghampiri untuk bergantian shalat dan mereka menggantikan menjaga barang sekaligus spot menonton sunrise.

“Siapa Fany?”, Rini kembali bertanya dalam perjalanan menuju mushola.

“Adiknya Afandi yang paling kecil. Kamu ingat Afandi?, teman kuliahku dulu”, Andra paham sekali, kekasihnya memang orang yang mudah penasaran dan akan selalu mengejar jawaban sampai dapat.

“Wow, anaknya Prawira resto group. Kok bisa Yasir dekat dengan anak konglomerat itu?” Rini masih belum puas.

“Entahlah, nanti kalo sudah saatnya kamu juga tahu, kita harus segera Shalat”, Andra mengahiri perbincangan dan menuju tempat wudu. “Apa kamu kuat dengan dinginnya air wudu Rin? Atau mau tayamum saja?”

“Aku wudu saja”.

Selepas Subuh, semua mata pengunjung Penanjakan terfokus ke arah timur. Perlahan tapi pasti semburat merah muncul menyapa mayapada. Raja siang menguap dari peraduan, mengabarkan warta lewat gradasi warna yang tercipta. Rupawan dan menawan

Semua kamera mengarah ke ufuk timur, mengabadikan momen indah karya dekorasi alam. sajian Sang maha Pembuat Dekorasi. Pesonanya memukau segenap mata. Misteri di ujung cakrawala tanpa ada tanya, karena tak perlu jua ada jawab.

“Sir, tolong fotoin. Ambil 2 macam ya. fokus ke sunrise dan fokus ke saya”. Andra memberikan ponsel ke Yasir. Berdua Rini membelkangi kamera, memandang semburat mentari. Yasir fokuskan kamera ponsel ke sinar terang, meghasilkan siluet dua insan yang tertaut dalam satu cinta. Andra mengalungkan tangan ke pinggang Rini posesif, seolah mengabarkan ke dunia, Dia miliku. Yasir menjepretkan kamera ponsel beberapa kali. Selanjutnya sepasang kekasih itu berbalik menghadap kamera, fokus kamera berubah ke arah mereka.

Andra menghampiri Yasir, “Wow, boleh juga kamu Sir. Ayo gantian. Dek ayo foto bareng Mas Yasir. keburu Sunrisenya hilang, buruan”.

Meli bergegas menyeret Yasir ke spot yang dituju.

“Sir, Meli rangkul dong”, suara Rini di belakang sambil mengangkat tangan Yasir dan meletakan di punggung Meli mengagetkan keduanya, Yasir mengikuti arahan saja. bahkan Meli semakin merapatkan badannya. Akhirnya pose mereka tidak jauh beda dengan pose Andra dan Rini.

Setelah puas memandang cakrawala pagi, mengabadikan dalam kamera dengan aneka pose. Siring kabut tersibak cahaya pagi, mentari menyapa pelan, perlahan pengunjung Penanjakan mulai undur diri. Begitu pula Keluarga Atmaja, beriringan menuju mobil untuk melanjutkan kunjungan wisata di Bromo Tengger. Tujuan selanjutnya adalah, kawah Bromo. Saat sedang melangkah masuk ke mobil, Andra merogoh saku celananya, meraih ponsel yang bergetar tanda notifikasi pesan masuk. Diusap layar touchscreen itu, dibaca dan diapun tersenyum sambil membalas pesan yang masuk.

Mobil dual purpose itu melaju pelan, menunggu dan ditunggu, beriringan dengan mobil lain menuruni jalan di tebing Penanjakan 1 yang curam. Tujuan parkir kawah bromo, sebenarnya posisi parkiran masih jauh dari penajakan kawah, sekira 2 kilometer. Tapi mobil hanya diijinkan sampai di titik tersebut. Selanjutnya pengunjung diarahkan untuk jalan kaki atau berganti dnegan angkutan kaki empat, kuda. Ya, berbagi rizki dengan penduduk lain yang menawarkan jasa angkutan kuda untuk pengunjung.

Andra dan Rini sudah di atas kuda masing-masing, siap jalan dituntun oleh pemiliknya. Entah pemilik atau sekedar penanggubg jawab di lapangan saja. Memang begitulah aturannya, pengunjung tidak bisa leluasa mengendalikan kuda layaknya berkuda, disamping kawatir lepas kendali, juga kekawatiran lain, misal pengunjung kabur dan lepas dari tanggung jawab meninggalkan tuganggannya, karena kuda tidak bisa diajak naik ke kawah yang curam.

Andra dan Rini masih menunggu Meli yang tidak mau sendirian di atas kuda, takut. Bahkan dia berkeras memilih jalan kaki. Akhirnya Yasir berbicara dengan pemegang kuda, berkonsultasi agar bisa memilih kuda yang paling besar dan kuat untuk berdua. Selang beberapa menit, si pemilik kuda menyetujui dengan biaya sewa tetap untuk 2 ekor kuda. Seekor kuda jantan yang gagah berwarna coklat tua dipilih Yasir. Dielusnya leher kuda tersebut, dibelai dan dirangkulnya. Yasir seolah berbicara dengan si kuda, binatang itu meringkik. Yasir masih terus mengelus leher membelai bulu halus yang tertata apik. Selanjutnya Yasir naik ke pelana dan meminta Meli menyusul membonceng.

Yasir merundukan badan, mencondongkan ke leher si kuda, kembali membelainya dan meraih tali kekang kuda, menggerakan pelan menyuruh si kuda berjalan tanpa dituntun pemiliknya. si Coklat seolah mengerti dan mulai melangkah mantap, mengarungi lautan pasir Bromo dipayungi gunung Batok yang menjulang di sisi kanan. Si Pemilik nampak kaget, karena kudanya begitu menurut sama orang asing yang sekarang berada di atas punggungnya. Yasir mengais tali kekang layanya seorang Hulubalang kerajaan yang memimpin pasukan perang. Sesekali ia hentak tali kekang kuda dan si kuda menambah kecepatan langkahnya membuat si pemilik berlari lari mengejar di belakngnya. Meli hanya berpegangan erat ke tubuh Yasir, takut terpental. Debu pasir mengepul mengiringi langkah-langkah kuda dan beberap pejalan kaki. Ya, banyak pengunjung memilih berjalan kaki dari parkiran mobil hingga ke kawah, karena sewa kuda memang cukup mahal, berkisar 100 ribu bahkan ada yng lebih. Dan dengan berjalan kaki mereka tetap merasa bahagia bahkan jadi lebih lama serta puas memandang dan mengabadikan alam di sekitarnya, hamparan pasir, lereng tangga Bromo, gunung Batok yang tengkuerep sedemikian rupa dan bersenda gurau sepanjang jalan.

Mendekati tanjakan Bromo, mereka menghentikan kuda, tali kekang ditarik pelan. Yasir turun dari pelana, dan membantu Meli kemudian. Selanjutnya mereka harus jalan kaki menanjak meniti tanjakan Bromo hingga undakan tangga yang cukup panjang sekira 250 anak tangga terbentang bersisian, satu sisi untuk menjanjak dan satu sisi untuk menurun. meli mulai terengah menapaki anka tangga dan kahirnya duduk di salah satu anak tangga. Mereka seketika ikut berhenti. Yasir mengangsurkan air minum dr tumbler ke Meli, Meli meraihnya dan meneguk menghhilangkan dahaga.

“Meli sampai sini saja Mas, gak kuat”

“Setengah lagi Dek, tanggung” Andra menyahut

“Nggak papa, mas Andra lanjut saja, biar Meli tunggu di sini”

“Udah ayo”, sekonyong-konyong yasir berjongkok, membalik posisi tas punggungnya ke depan dada dan mempersilahkan Meli naik ke punggungnya untuk digendong. Meli nampak ragu, “Ayo Dek”, sekali lagi Yasir meyakinkan Meli, detik berikutnya Meli sudah nemplok di punggung Yasir yang dengan enteng merengkuh badan mungilnya, bangkit dan mulai mendaki.

Rini mengabadikan momen itu dengan kamera ponselnya, melangkah memukul Andra.

“Apa kamu mau digendong juga Rin?”, tanya Andra berseloroh.

“Boleh, kalo kamu kuat”

“Kuat dong, tapi nanti turunnya bergantian ya, aku yang digendong”.

“Enak aja”

Mereka melanjutkan menapaki anak tangga Bromo hingga bibir kawah. Sebenarnya kawah itu sendiri tidak terlalu istimewa, sekedar cekungan sebagaimana layaknya gunung pada umumnya, tapi pemandangan dari atas Bromo memang bagus. Serasa di atas Gunung Batok. Memandang lepas ke bawah sana di mana lautan pasir terbentang dikelilingi pegunungan seperti perbukitan yang menaungi danau yang kering.

Meli masih dalam kaisan Yasir, nafasnya berhembus teratur menerpa leher, Meli terlelap dalam gendongan Yasir.

“Meli kok nggak diturunin Sir, emang gak berat apah?”, Andra menegor dengan sedikit ketus

“Sepertinya dia tidur Mas, biarin aja”

“Ya ampun Mel, tega banget kamu sama mas Yasir”, Andra bermaksud membangunkan Meli, tapi Yasir menahannya, Andra mengurungkan niatnya, sebenarnya dia jengah dengan kelakuan Meli, tapi dia juga paham kondisi fisik Meli memang tidak seperti umumnya gadis seumuran dia. Hal itu juga yang membuat dia selalu mendapat perlakuan istimewa dalam keluarga Atmaja. Pantes bapak menuyuruh Yasir ikut, memang dia pantas jadi pengawal Meli, begitu melindungi dan memanjakannya, Andra membatin kemudian.

Setelah puas berswafoto, mengabadiakn momen masing-masing, termasuk Yasir yang menggendong Meli dengan background Gunung batok dan arah lainnya, mereka kembali menapaki anak tangga Bromo, menurun, untuk melanjutkan tujuan selanjutnya, yaitu padang Pasir berbisik dan Taman Telletubbies. Andra juga tidak mau terlalu lama, tidak tega melihat yasir yang menggendong Meli. Mentari pun bernjak naik dan pancaran sinarnya mulai menghangatkan raga yang tadi pagi laksana membeku.

Saat menapaki undakan terakhir menuju perbukitan pasir, Yasir agak tergelincir, membuat Meli terguncang, bangun dan tersadar masih dalam gendongan. Menggeser badan memberi kode dia mau turun dari punggung Yasir.

“Kok turun lagi Mas?”, ucap Meli sambil berjalan mengekor yasir, sementara Andra dan Rini sudah duluan sambil bersenda gurau.

“Ya emang udahan, kita mau lanjut ke Pasir Berbisik”.

“Emang tadi ga jadi ke kawah?”

“Sudah Dek, kamu kan bobo, coba cek jam tangan”

“Wah, hampir 1 jam Meli tidur berarti”, ucap Meli sambil melihat jam tangan. “Kok Mas Yasir nggak bangunin Meli, emang Mas Yasir gak cape nggendong Meli gitu”

“Menurut kamu cape gak Dek?”

“Cape”.

“Yaudah gantian, sekarang giliran kamu gendong Mas”.

“Meli mau saja, tapi Meli nggak kuat pasti”.

“Yaudah kalo gitu, ayo jalan saja, ntar ketinggalan Mas Andra”.

“Mas”.

“Apa?”

“Mas Yasir gak nyesel kan, ikut ke Bromo?”

“Enggak, kan Mas juga baru pernah kemari”.

“Bener, gak nyesel?”

“Ya emang enggak, lagian kenapa harus nyesel Dek?”

“Karena cuma kerepotan ngurusin Meli”.

“Dek, kamu adalah tanggung jawabku. Kamu akan selalu Mas lindungi dan Mas tidak pernah merasa direpotkan sedikitpun oleh kelurga Atmaja, termasuk kamu Dek”. Yasir berhenti, menatap ke mata Meli meyakinkan, agar Meli tidak punya pikiran aneh-aneh dan mendadak melakukan tindakan yang tidak terduga.

Meli hanya memandang manik hitam Yasir dengan tatapan sendu. Pipinya meremang memerah. Ada bahagia yang menguar dari dalam dada. Bahagia yang tidak sekedar biasa, ini lebih.

Yasir dapat merasakan perubahan wajah Meli, bayangan Fany tiba-tiba melintas dalam benak, Duh Gusti, tunjukan jalan Hamba, batin Yasir. Dia rengkuh pundak Meli, merangkulnya agar segera melangkah dan memupus rasa kaku itu, mereka berjalan bersisihan tanpa sepatah kata.

Sesampai hamparan pasir, nampak kuda coklat yang tadi pagi mengantar, dia baru saja menurunkkan pengunjung, entah sudah berapa kali balik pagi ini, entah sudah berapa rit dan berapa rupiah dihasilkan kuda gagah yang tak kenal lelah, melayani tanpa keluh kesah, membelah lautan pasir dalam ringkikan yang senyap.

Tiba-tiba si coklat meringkik ke arah Yasir. “Hai Chocho. Apa kau merindukanku?” Yasir menyapa.

“Kamu panggil apa dia Sir?’, tanya Andra

“Chocho Mas, alias coklat. Sepertinya dia suka”, jawab Yasir sambil membelai leher si Chocho, memeluknya menempelkan kepala ke leher jenjang berambut halus itu. Membisikan kata-kata sahabat meski si chocho belum tentu paham, tapi Yasir mebisikan kalimat bersahabat dengan khidmat dari relung hati yang paling dalam. Dan saat dua hati tertaut, maka tak perlu kata terucap untuk dimengerti, karena hati itu akan saling berbisik dalam diam, senyap bukan berarti tak berkawan. Sahabat akan selalu saling mengerti dan paham tanpa banyak kalimat terucap. Bahkan kadang janji cukup dengan kedipan dan anggukan, karena hatilah yang mengikatnya.

Pemilik kuda membiarkan kelakuan Yasir, dari kejadian tadi pagi dia sudah menganggap Yasir sebagai pawang kuda. Andra dan Rini sudah mendapatkan kuda sewaan untuk mengantar kembali ke parkiran mobil, Yasir menyuruh Meli naik ke pelana Chocho, meski ragu akhirnya Meli menurut, dia ambil tali kekang dan menyerahkan ke Meli dengan sedikit arahan, “Dek, jangan sesekali kamu hentakan tali kekang, nanti Chocho kaget”, selanjutnya dia menyusul ke punggung Chocho, tapi kali ini di belakang, posisi membonceng.

Yasir berdecak menyuruh Chocho melangkah, “Dek gerakan tali kekang pelan, coba kamu menunduk dan elus leher Chocho, biar dia kenal sama kamu”.

Meli menurut, meski ragu, tapi sesaat kemudian dia mulai terbiasa setelah melakukan belaian beberapa kali, si Chocho mulai akrab dengan tangan Meli dan menurut saat Meli menarik maupun menahan tali kekang mengikuti instruksi Yasir, sementara si pemilik hanya bisa berjalan mengiringi kadang berlarian saat tali kekang dihentak agak kasar oleh Meli. Rini nampak heboh sendiri, dia tidak menyia-nyiakan momen tersebut, beberapa jepretan kamera ponsel cukup memuaskannya mengabadikan momen langka, Yasir membonceng kuda ke Meli, luar biasa, batin gadis yang sudah matang dan siap berumah tangga itu.

“Kita makan bakwan dulu sebelum ke Pasir berbisik?”, Andra meminta persetujuan sesampai di parkir mobil.

“Boleh banget, Meli udah nahan lapar dari tadi”, Meli langsung menyambar.

Selanjutnya 4 mangkok bakwan terhidang berikut teh hangat tawar, tidak perlu lama, dinginnya udara Bromo mampu dengan cepat mengusir panas hidangan, bahakan harus sesegera mungkin disantap sebelum keburu dingin dan tidak sedap.

Selesai makan mereka menuju mobil sewaan dan mengajak sopir melanjutkan wisata, Pasir Berbisik dan Taman Telletubbies. Pasir berbisik adalah hamparan pasir juga, tapi karena lebih luas dari sisi Bromo yang lain jadi dianggap spesial, ditambah, saat angin menerpa permukaan, pasir berbeser tempat, bergesekan dengan pasir lain secara signifikan, menimbulkan suara layaknya bisikan, hal inilah yang kemudian menjadikan tempat tersebut dinamakan Pasir Berbisik. Disini pengunjung bisa swafoto sambil melompat dan hasilnya seolah mereka melayang di udara. Trik sederhana tapi menjadi ciri khas foto di Pasir Berbisik.

Perjalanan selanjutnya menyambangi syafana hijau dengan perbukitan mengitari. karena padang rumput yang luas dan rapi mirip taman film anak-anak Telletubbies, maka sebutan itupun nempel di syafana tersebut. Mereka berswafoto, menikmati semilir angin sejuk yang menyapa rerumputan. Menimbulkan gemerisik alam yang menenangkan jiwa. Andra merebahkan badan di salah satu sudut hamparan rumput, seolah mengistirahatkan raga yang lelah berjibaku pekerjaan di ibukota. Memasrahkan diri pada alam, memjamkan mata, mengosongkan pikiran dan fokus pada suara alam yang mendayu bagaikan kidung merdu yang terlantun dari peri-peri kecil yang berterbangan di antara kembang ilalang. Rini mengikuti apa yang dilakukan Andra, rebah dan diam di samping sang kekasih.

Yasir hanya menonton dua sejoli yang sudah matang, dewasa dan mapan itu. Mungkin mereka akan lama lagi untuk kembali ke Malang, apalagi pernikahan kabarnya akan dihelat di jakarta, meski keluarga besar Rini ada di Malang, jadi biarkan saja mereka memadu kasih dengan alam yang tidak akan dijumpai di ibukota, apalagi untuk kembali naik ke Bromo, tidak bisa setiap waktu, karena perlu persiapan dan kesiapan.

Jelang tengah hari mereka sudah menuruni lereng Bromo di atas mobil dual purpose penjelajah itu, tujuan pasti, kembali ke temapot sewa mobil jeep. Setealh 1 jam, mereka sudah berganti mobil.

“Mas kita makan lagi kan? Meli laper, bakwan tadi udah ga ngefek di perut”.

“Iya, sebentar lagi kita akan mampir restoran. Sekalian ketemu temen Mas di sana”, Jawab Andra. Dia memang bermaksud menuju resto, dia ingant pesan yang dia terima tadi pagi di Penanjakan, teman kuliahnya menyuruhnya mampir di resto yang dia kelolala, masih di wilayah Bromo Tengger.

15 menit kemudian, mobil yang dikendarai Andra memasuki parkiran sebuah restoran, tertulis “PRAWIRA BROMO, HOTEL & RESTO” di depan area yang berisi tidak hanya restoran, tapi ada beberapa cottage tersebar di sisi belakang resto. Pemandangan perbukitan dengan dominasi pohon pinus menambah exotic resort tersebut. Suasana syahdu dipadu udara yang sejuk sungguh kombinasi yang romantis untuk stay beberapa malam, menikmati gemintang dan kabut dipagi hari yang akan tersibak mentari dari balik bukit. Di sisi luar ruang utama resto tersedia pendopo yang dihubungkan jembatan ke ruang utama, di bawahnya merupakan kolam ikan dengan air mancur mini dan taman air yang menawan. gemericik air dan kecipak ikan berenang menambah suasana alam semakin sempurna.

Setelah memarkir kendaraan, Andra mengajak rombongannya memasuki ruang utama resto. Menuju meja yang sudah dipesankan oleh pengelola yang tak lain adalah temannya. Mereka langsung disambut pelayan resto dan mempersilahkan menempati tempat yang sudah ditandai “RESERVED”, menyodorkan menu untuk memilih makanan yang diinginkan. Beberapa makanan dan minuman dipilih dan buku menu dikembalikan ke pelayan.

“Hai… Andra”, suara akrab seorang lelaki menyapa.

“Hai, fandi, apakabar?” Andra menyambut uluran tangan, keduanya berpelukan pertanda lama tak berjumpa, “Makin sukses saja kamu Fandi. Luar bisa resort ini, Exotic banget,” Andra memuji dengan penuh kekaguman. “Oh iya, perkenalkan, ini Rini, adik tingkat kita dulu waktu kuliah, ini Yasir, pegawai bapak saya dan yang paling cantik ini adalah bintangnya Atmaja, Melia Putri”, Andra memperkenalkan anggota rombongannya, Fandi menyalami semua anggota rombongan.

“Rini, tentu saja saya ingat, dan siapa yang tidak kenal bintangnya akuntansi, sampai kamu lupa kawan demi dia Ndra hahaha”.

“Bisa aja kamu Fan, tapi iya kali ya, saya juga mungkin buta sama cinta kala itu hahaha”, Andra menyahut jujur gurauan Fandi. Rini hanya tersipu. Gadis cantik itu memang dulu cukup tenar di kampus, selain rupawan dengan rambut lurus sebahu, wajah oriental, dia juga mahasiswa yang cerdas dalam mata kuliah serta aktif di berbagaia kegiatan kampus non akademik. Dan yang paling membuat dia disuakai orang lain, baik dari kalangan adam maupun hawa, karena dia supel kepada siapapun. “Oh iya, ngomong-ngomong, kau tahu dari siapa saya naik ke Bromo pagi tadi?”.

“Oh bukan siapa-siap, itu dari kicauan kenari di antara pohon cemara hahaha”, Fandi masih saja bergurau. Bersamaan muncul gadis yang sangat dikenal Yasir menghampiri meja makan. Stefany Anggraeni. Dari gadis itu pula Fandi tahu kabar Andra yang naik ke Bromo, tapi Fany minta dirahasiakan.

“Hai semua”, Fany menyapa ramah, wajahnya nampak sayu seperti bangun tidur, bahkan kalo diperhatikan lebih jauh, nampak agak pucat.

“Fay”, Yasir reflek berdiri melihat kedatangan Fany. Ada kekakuan yang tercipta bersamaan berubahnya roman muka Meli.

“Ini adiku yang bontot Ndra, Stefany”, Fandi mengenalkan Fany

“Hai Mas Andra”, sapa Fany sambil mengulurkan tangan.

“Wow, udah dewasa aja kamu Fany, pangling aku. Untung ada Rini, kalo tidak bisa berpaling aku hahaha”. Andra memang senang bergurau. Semua yang hadir tertawa, Rini hanya tergugu melihat tingkah tunangannya.

Pelayan datang menghidangkan makanan. Fandi mempersilahkan tamunya menikmati hidangan, kemudian dia pamit ke kantornya. Fany masih menemani sesaat tanpa kata, hanya pandangannya sesekali menyapu dan berhenti sekilas saat bertemu pandang dengan Yasir.

“Silahkan dinikamti, Fany ke belakang dulu ya”, pamitnya kemudian.

“Saya bisa numpang ke toilet Fay?”, Yasir tiba-tiba bangkit dan mengikuti langkah Fany. Fany hanya mengangguk.

“Apa tadi pagi kamu ke Kasin Fay?”, tanya Yasir saat mereka melewati dinding pembatas ruang utama resto. Fany mengangguk. “Apa kamu tahu dari Mas Muri tentang kami yang ke Bromo dan kamu mengabarkan ke Mas Fandi?”, lagi-lagi Fany hanya mengangguk. “Kamu pucat Fay, nekat sekali pagi buta kemari, dan pasti kamu naik motor kan? Apa kamu udah makan atau minum minimal?”. Yasir terus bertanya, kekhawatiran jelas terpancar dari tiap kata yang terucap.

Tadi pagi setelah Subuh, Fany memang ke Kasin, bermaksud menemani Yasir berjualan seperti beberapa hari lalu, tapi yang dijumpainya ternyata Muri, dari MUri dia dapat kabar bahwa Yasir menemani Andra ke Bromo. Dia saat itu berpikir cepat, cek google map untuk melihat estimasi waktu perjalanan ke Restoran Prawira di Bromo yang dipegang kakak tertuanya yaitu Afandy, menelponnya agar mengundang Andra mampir ke restoran. Selanjutnya dia menempuh perjalanan 1,5 jam menggunakan motor ke Prawira resto di Bromo itu.

“Belum, tadi aku tertidur dan baru dibangunkan sama mas Fandy begitu kalian datang”.

“Mau aku buatkan teh jahe?”

“Boleh”

“Ayo, tunjukan dapurnya”.

Berdua mereka menuju dapur. Sesampai di dapur Yasir meminta teh celup dan jahe ke pelayan yang ada di situ. Dia menyalakan air guna memasak air, dia tidak mau menggunakan air dari termos, karena kurang maksimal panasnya. Dia bakar jahe di tungku kompor yang lain, diputar perlahan biar matang merata, “ebenarnya lebih bagus kalo dibakar dalam bara, tapi ini sudah cukuplah”, katanya menjelaskan. Selanjutnya jahe yang sudah dibakar dan dicuci digepreknya beralas pisau dapur dan talanan marmer, Lalu dimasukan gelas dan dituangkan air panas yang mendidih, diaduk perlahan agar air jahe keluar dan menyatu dengan air minum, dimasukan teh celup, diangkat junjung beberapa kali lalu teh dibuang ke tempat sampah, ditambahkan sedikit gula sekedar penawar rasa. Setelah dirasa khasiat jahe keluar, Yasir menyodorkan minuman itu ke Fany

Fany dari tadi hanya menonton keuletan Yasir, merasa bahagia karena dilayani dengan penuh perhatian. Saat tangan Yasir tersodor, dia memegang gelas beserta jemari Yasir yang menggemnya, menarik ke arah bibirnya dan menyecap minuman itu. Dia berlama menggenggam jemari kasar tapi mampu menghangatkan jiwa. “Rasanya nggak enak, kurang gula”.

Yasir membiarkan tingkah Fany, “Jangan ditambahkan gula, nanti malah kurang khasiatnya, biar hangat leher kamu kalo rasa jahe dominan. Kecuali ada madu, kamu bisa tambahkan”.

“Ada madu di dalam lemari dapur Fan, ambil di atas kamu itu”, tiba-tiba suara Fandi mengagetkan keduanya. Fany buru-buru melepaskan genggamannya. Yasir sedikit salah tingkah karenanya. Sebenarnya Fandy sudah melihat kelakuan adeknya dengan pemuda yang baru dilihatnya itu, ternyata ini alasan adiku ke Bromo pagi buta, batinnya. Diapun berlalu meninggalkan muda-mudi itu.

“Iya mas”, Fany tergagap dan segera membuka pint lemari dapur yang menggantung di dinding dapur itu. Diraihnya stoples berisi madu dan menyerahkan ke Yasir. Yasir menerimanya dan mengambil sendok makan. 3 sendok makan madu dituangkan ke gelas jahe, diaduk perlahan dan kemabli diserahkan ke Fany. Kali ini Fany hanya meraih gelasnya saja, malu kalo Fandy masih memperhatikan.

“Habiskan Fay, jangan lupa makan. Nanti pulang apa kamu mau bareng saya sekalian?”

“Enggak usah, malah ngrepotin nanti dan sungkan sama Mas Andra”

“Tapi sebaiknya kamu pulang jangan naik motor, kecuali kamu istirahat dulu”.

“Iya, nanti aku istirahat dulu”, Fany meyakinkan Yasir, karena nampak jelas kekhawatiran dari pemuda yang kerap membuatnya rindu itu.

Yaudah, saya tinggal dulu ya, ga enak kelamaan disini”, Yasir mengelus puncak kepala Fany, membuat wajah Fany merona merah dan bulu kuduknya meremang.

“Iya, Maksih Yes”.

“Sama-sama”, Yasir berlalu menuju ruang makan, setelah dia sempatkan ke toilet yang tersedia, paling tidak dia tidak berbohong, pikirnya.

“Lama bener ke toiletnya Sir?” Andra menegor sesampainya di meja makan.

“Iya Mas”, Yasir menjawab singkat. “Dek, kok makananmu masih utuh sepertinya?’, dilihatnya Meli yang hanya mengaduk-aduk makanan yang tersaji.

“Dari kamu pergi itu Sir, udah Mas bilangin suruh makan duluan malah manyun aja”, Andra nampak agak berang dengan tigkah Meli.

“Dek, ayo makan”, Yasir kembali meminta Meli menyantap hidangannya, “Apa mau disuapin?”, Yasir mulai menggoda Meli dengan menyodorkan suwiran ayam dan nasi ke mulut gadis mungil itu, tapi Meli melengos.

“Enggak, Meli bisa makan sendiri”, Meli menjawab ketus.

“Yaudah ayo dimakan, nanti perut sakit, tadi di atas bilangnya lapar cuma makan bakwan”.

Akahirnya Meli menyuap makanannya dengan malas. Melihat hal itu Yasir bangkit menuju etalase menu makanan restoran, menyapu pndang ke berbagai sajian yang ada. “Tolong minta ati ampela goreng dan sayur bayam bening kalo ada”, kata Yasir ke pelayan yang berjaga. Sesaat kemudian pelayan menyerahlan piring dan mangkok berisi pesanan Yasir. Yasir kembali ke meja makan dan meramu sajian khas kesukaan Meli itu. Ati ampela goreng dan sayur bening bayam. Tanpa banyak kata, dia langsung menyorongkan sendok makan berisi nasi dan lauknya ke mulut Meli. Tidak ada lagi penolakan dari gadis mungil yang manja itu. Dan setengah piring nasi hangat beserta lauk kesukaannya, tandas dengan disuapi oleh Yasir.

Andra dan Rini hanya bengong menyaksikan pemandangan itu. Tidak habis pikir dengan kelakuan Meli yang begitu manja pada Yasir. Mengapa tidak bilang kalo dia minta lauk yang berbeda, batin Andra gemes.

“Mas, antarkan Rini ke toilet yuk”, Rini memecah kebisuan meja makan.

“Ayok”, Andra menyahut cepat.

“Itu tadi Fany yang kamu bilang membuat Meli cemburu?”, Rini langsung menodong pertanyaan sesampainya mereka di depan toilet.

“Iya”, kata Ibu si begitu, “Dan nampaknya kali ini itu terjadi lagi”.

“Pantas saja, meski terlihat tomboy Fany memang cantik dan nampak smart. Tapi kok bisa Yasir akrab dengan Fany. Kenal di mana?”

“Mereka satu kampus, meski beda jurusan”.

“Yasir kuliah? Saya pikir dia pegawai biasa di toko Bapak”, Rini nampak terkejut.

“OH apa aku belum cerita? Lupa, kirain kamu sudah paham dari obrolan di mobil tadi pagi. Ya, Yasir minta ijin ke Bapak untuk nyambi kuliah dan kompensasinya, dia bekerja di luar jam kuliah serta tidak pandang waktu. Bapak menyetujuinya karena melihat kesungguhan Yasir, katanya begitu. Sekarang sudah semester 3.”

“Hmm, begitu. Tapi aku masih penasaran, kenapa dia bisa dekat dengan Fany, mereka beda jurusan padahal”.

“Entahlah, lain kali kamu tanya saja sendiri, tapi jangan di depan Meli tentunya”.

===============***==============

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Novel dan tag , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Trust

  1. ndesoedisi berkata:

    Absen lik 😁

    Disukai oleh 1 orang

  2. Ping balik: About Trust | Triyanto Banyumasan Blog's

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s