Novel dan Wattpad


Novel. Ngomong novel tentu akan terbayang buku ukuran tanggung dengan ciri sedikit lebih tebal dari buku pada umumnya. Itu dulu. Sekarang novel tidak harus berupa buku fisik tapi cukup jadi PDF dan banyak yang menjualnya di forum jual beli termasuk di Playstore.

Ya, banyak novelis yang menjajakan karya tulisnya di berbagai aplikasi jual beli. Mereka merubah tulisannya menjadi pdf. Di era paperless, PDF dianggap lebih mangkus dan sangkil, tidak repot dan tidak kawatir rusak. Bayangkan jika berupa fisik, kehujanan, sobek dan rusak. Meski sebagian besar penikmat abjad merasa lebih nyaman jika langsung membaca dari buku fisik tapi dengan kondisi saat ini, novel pdf cukup mampu mewakili kegelisaahan akan berbagai sisi kehidupan, mulai dari penularan virus dari barang yang berpindah hingga penghematan bahan kertas, maklum di berbagai lini yang berkaitan dengan kertas mulai ditinggalkan dengan menerapkan sistem paperless.

Mengapa saya mengaitkan novel fisik dan virtual? Karena saya ketemu Wattpad yang ternyata sangat terlambat. Aplikasi tulisan yang berasal dari Kanada ini baru saya kenal setelah 15 tahun berdiri. Itupun karena tidak sengaja saat saya mencari referensi novel di google. Ternyata sbeberapa novel yang saya cari lahir di aplikasi yang dikenal plaform orange. Ya orange karena logo W yang berwarna orange mencolok. Dan akhirnya saya menjadi salah satu penggunanya meski lewat pc bukan aplikasi ponsel, maklum ponselku sudah uzur dan berat untuk ditambahkan aplikasi lagi.

Dari sini saya mulai kerap menemukan beberapa novelis yang besar dari wattpad. Oh iya, wattpad bukan hanya memfasilitasi novelis saja, berbagai tulisan tersedia di platform abjad ini. mulai dari ilmu pengetahuan, pelajaran, syair lagu dan entah apalagi, ya terserah penggunanya mau nulis apa yang dia inginkan, saya pikir mirip blog. Tapi watppad memang lebih dekat dengan novel. Di wattpad penulis tidak harus langsung mempublish karya tulisnya dalam satu waktu, tapi bertahap, per bagian. Dan pembaca yang memiliki akun wattpad bisa memberikan komentar di tiap paragraf dari tulisan yang ada. jadi tidak seperti blog yang hanya bisa komentar di kolom komentar di luar badan blog, kalo di wattpad selain komentar di luar badan tulisan, pembaca bisa nyepam komentar suka-suka di tiap paragraf.

Penulis di wattpad, khususnya novelis, kebanyakan masih muda, tapi saya belum menemukan penulis yang bisa konsisten menulis seperti Tere Liye dengan penggambaran yang nyaman untuk dinimati abjad demi abjad, bukan sekedar alur cerita. Entah saya yang kurang baca di wattpad, tapi yang kerap saya temui, penulis novel di wattpad lebih mengedepankan alur cerita yang menarik dan memainkan emosi pembacanya, sehingga pembaca tertarik dan penasaran serta menunggu lanjutan dari cerita yang disajikan. Dan seriring berjalannya waktu, semakin banyak komentar dan vote pada tulisan tersebut, akan ada penerbit yang tertarik. Penerbit besar macam gramedia kerap mengambil novel dari sana. Banyak juga penulis yang mencetak novelnya secara self publiser setelah meliihat peminat yang cukup banyak, agar membuat penasaran, beberapa bagian novel uang sudah dipublish di wattpad akan dihapus dengan alasan kepentingan penerbitan. Nah bagi pembaca yang terlanjur penasaran dengan alur cerita akan terpaksa memesan dan membeli novel fisik ini. Di sinilah salah satu fungsi wattpad, mencari pembaca. Oh iya, bebrapa novel juga perlu filter yang ketat, karena wattpad tidak memfilter sama sekali, mirip twitter yang tidak membatasi konten, jadi menemui tulisan kejam, jahat, jorok, mesum adalah mudah di sini. Beberapa penulis tetap memberikan warning untuk konten sensitif. Bijaklah dalam membaca.

Wattpad juga seperti aplikasi novel lain, menyediakan koin bagi pembaca, yaitu beberapa bagian dari novel akan dilock, dikonci dan untuk membukanya harus membayar dengan koin virtual tersebut. Saya belum pernah menggunakannya atau membeli koin, jadi tidak paham, kemungkinan seperti pada game-game yang menjual item di dalam game tersebut, dan koin untuk membeli bisa dibeli di dalam shop game dengan menggunakan google play game.

Saya menyebut bahwa beberapa penulis novel atau novelis muda khususnya yang lahir jelang milenium, lahir di wattpad. Tapi jangan berharap novel-novel itu akan sekelas novel Tere Liye apalagi Habiburahman Elsirazy dan Ahmad Tohari, tidak, beda sama sekali. Seperti saya bilang, statistik dan rating layaknya tayangan sinetron sangat mendominasi. Seolah mengedepankan peminat semata, dan penulis memanaatkan ini dengan melock bebrapa bagian tulisan, memaksa pembaca untuk membayar agar bisa menimati kelanjutan ceritanya. Awal saya ingin menulis novel di blog, salah satu penyebabnya adalah ini, agar pemabca tidak terbebani, cukup sediakan kuota data saja. Tapi bukan berarti saya menentang hal tersebut, hak mereka untuk mencari uang. Bisa jadi kalo saya pada posisi mereka akan melakukan hal sama. Saya hanya menyayangkan, beberapa tulisan yang memiliki statistik tinggi bagi saya ‘kurang bernilai’.(tri)

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Ngeblog dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s