Trust (2)


fate

“Mas perut Meli sakit sekali”. Meli merintih memegang perutnya yang buncit. Dia tenga hamil tua masuk usia 9 bulan. Waktu sudah menunjukan jam 10 malam.

“Kita ke rumah sakit saja ya dek, biar diperiksa dokter kandunganmu”, Kata Yasir sambil mengelus perut isterinya.

“Iya Mas”

Yasir segera menyiapkan keperluan secukupnya, memapah Meli menuju halaman rumah. Dia bergegas mengambil mobil di garasi. Honda Jazz merah berplat nopol R, plat nopol kendaraan Karsidenan Banyumas. Mobil sahabatnya. Ya Yuda meninitipkan mobil itu sebelum kepindahannya ke ibukota, katanya biar kalo ke Malang dan perlu mobilitas dia tidak perlu rental mobil lagi. Yasir diberi kebebasan memakainya, bahkan tanpa sepengetahuan Yasir, Yuda mentransfer uang yang cukup banyak ke rekening Yasir, saat Yasir mengetahuinya, Yuda hanya bilang, itu untuk keperluan merawat mobil bilamana dibutuhkan. Yasir tidak bisa menolak.

Di depan teras rumah Yasir menghentikan mobil, menjemput dan memapah Meli masuk. Rumahnya masih satu komplek dengan rumah majikan sekaligus mertuanya, pak Atmaja. Bosnya seolah sudah mempersiapkan semuanya saat melamar yasir untuk menjadi menantunya. Dia menolak saat yasir akan membeli rumah sesuai kemampuannya, karena cukup jauh, Pak Atmaja membelikan rumah yang cukup besar dan jelas jauh dibawah kemampuan keuangan Yasir, tapi sekali lagi majikannya berkilah bahwa itu akan dipotong dari gaji Yasir, Pak Atmaj tahu Yasir orang mandiri yang tidak mau hidup dari belas kasihan orang tua, meski pada kenyataanya gaji Yasir tidak pernah dipotong dan saat Yasir klarifikasi, Pak Atmaja hanya bilang gaji Yasir naik, dan kenaikan itu yang dipotong untuk membayar rumah.

Sudah hampir dua tahun Yasir dan Meli berumah tangga. Ya Yasir memang menerima lamaran Mas Sanjaya, bahkan sepekan kemudian, setelah Meli diijinkan pulang dari rumah sakit, Yasir menjemput ibunya di Banyumas, mengajak serta kakak tertuanya bertandang ke rumah Atmaja dengan maksud melamar balik Meli, ini atas saran Sanjaya, agar Meli merasa lebih terhormat karena Yasir yang inisiatif melamarnya, bukan sebaliknya. Memang keluarga Atmaja tidak pernah menceritakan lamaran ke Yasir di rumah sakait saat Meli sedang tidak sadar. Jadi Meli hanya tahu kalo Yasir memang memilihnya karena sayang dan cinta bukan sekedar kakak ke adik. Tiga bulan kemudian mereka melangsungkan pernikahan. Keduanya juga tetap melanjutkan kuliah. Yasir sudah wisuda sedang Meli akhirnya mengambil cuti sejak kehamilannya makin tua. Atas anjuran dokter, dia dilarang terlalu capai baik fisik maupun pikiran.

Yasir melajukan pelan kendaraanya menuju rumah sakit. Meli masih merintih sambil memegang perutnya. Memasuki lobi ruang UGD Yasir segera menjelaskan kondisi isterinya, meminta pertolongan perawat jaga untuk meminjam kursi roda atau brangkar sekalian, agar Meli bisa berbaring. Akhirnya sebuah brangkar didorong keluar, Yasir mengangkat Meli dan membaringkannya di atas brangkar, perawat sigap mendorong ke dalam ruang UGD. Melakukan pemeriksaan awal dan diputuskan Meli harus segera masuk ruang bersalin.

Setelah masuk ruang bersalin dan mendapat perawatan serta pengecekan intens oleh dokter jaga, Yasir menelpon mertuanya, mengabarkan kondisi Meli yang mulai kontraksi. Juga Meli yang menolak persalinan cesar dengan alasan ingin sempurna sebagai ibu, dan Meli adalah Meli, tidak bisa ditolak jika sudah punya keinginan.

Tidak lama berselang masuk keluarga Atmaja, ada Bapak dan Ibu juga Mas Sanjaya. Mereka memberikan nasehat-nasehat yang menenagkan dan menguatkan Meli, meski tetap saja Meli mengeluh dan terkadang menjerit menahan rasa sakit yang tiba-tiba datang dan hilang bergantian. Dokter dan perawat sudah bersiap, Meli sudah masuk pembukaan terakhir, pertanda bayi sudah di mulut rahim. AIr ketuban sudah pecah dan membasahi kasur di brangkar pembaringan Meli. Keluarga Atmaja dipersilahkan menunggu di luar ruangan, tersisa Yasir yang memang ingin menemani Meli bersalin.

“Mas, sakit banget”, kata Meli, bahkan air matanya keluar karena menahan rasa sakit yang teramat sangat.

“Sabar dek, bismillah”, Yasir mencoba menenangkan. Meski dia sendiri merasa iba dan bingung harus berbuat apa. DIa hanya memegang tangan kiri Meli yang bebas, karena tangan kanan sudah disuntik selang infus. Digenggamnya tangan lunglai itu, perasaannya kacau.

“Ayo Ibu Meli, ambil nafas dan tekan yang kuat ya. Jangan ditahan kalo memang berasa ingin buang air kecil, itu pertanda bayi hendak keluar. Ayo coba ulangi lagi tekan”. Tidak henti dokter memberikan instruksi, tak henti juga Meli menjerit dan menegang badannya, genggaman tangan pada jemari Yasir menguat tiap kali Meli menjerit.

Setelah 30 menit akhirnya terdengar suara tangis bayi mengisi ruang bersalin itu. Darah mengalir deras dari bawah Meli mengiringinya, selanjutnya Meli terdiam tak bergerak. Yasir kaget dan berterika. “Dok, isteri saya dok!”.

“Tenang Pak Yasir, silahkan bapak tunggu diluar. Isteri bapak akan mendapat perawatan lebih lanjut. “Suster bawa bayi ke ruang perawatan khsusus bayi dan satu orang bantu saya di sini merawat ibu bayi”. Dokter nampak sibuk menyiapakan peralatan dan memberikan berbagai instruksi ke perawat pembantu.

“Pak Yasir, dedek bayi mau dipindahkan ke ruang khsusus, mau diazankan dulu?”, Perawat yang sedang memegang brangkar khsusu bayi menyadarkan Yasir yang masih terpaku melihat Meli pingsan.

“Baik Sus”, dilihatnya bayi mungil itu. Perempuan. Dengan suara pelan dan parau Yasir mengumandangkan Azan di telinga anakanya yang masih merah. Bayi itu terdiam saat mendengar suara Yasir. Selanjutnya bayi dibawa perawat menuju ruang lain dan Yasir mengikuti keluar ruang bersalain. DItatapnya Meli sekilas, “Cepet sadar Dek, anak kita menunggu”.

“Meli gimana Sir?”, Bu Atmaja menyambut dengan pertanyaan saat Yasir keluar ruang bersalain.

“Meli pingsan Bu, pendarahan”, Yasir menjawab pelan, ada linangan air mata yang tertahan. Kekhawatiran menghinggapi keluarga Atmaja. Selanjutnya mereka hanya menunggu. 30 menit berselang, dokter keluar dan meminta Yasir ikut bersamanya, Sanjaya turut serta dari belakang menuju ruang dokter.

“Ibu Meli mengalami pendarahan, kontraksinya kurang sempurna mengakibatkan pembuluh darah tidak tertutup dengan baik”, dokter menjelaskan kepada Yasir dan Sanjaya. “Kami sedang berusaha melakukan tindakan yang terbaik untuk menyelamatkannya, kami mohon pihak keluarga bersabar dan tidak berpikir negatif terhadap kami. Sebenarnya hal ini sudah kami antisipasi dengan menawarkan cesar, tapi ibu Meli menolak”.

Dalam ilmu kedokteran, Meli mengalami pendarahan postpartum primer atau PPH Primer. Ibu melahirkan yang mengalami PPH Primer dapat kehilangan darah lebih dari 500ml dalam kurun kurang dari 24 jam. Penyebabnya karena tonus uterus yang kurang atau atonia uterus, yaitu kondisi rahim yang tidak dapat berkontraksi dengan baik untuk menghentikan perdarahan.

“Apakah bisa dipahami kondisi ini Pak Yasir dan Pak Sanjaya. Sekali lagi kami mohon maaf bilamana hal buruk terjadi dengan ibu Meli. Kami hanya mampu berusaha yang terbaik, tapi penentu keberhasilan sesunguhnya adalah Tuhan”. Dokter kembali meminta pengertian setelah menjelaskan kondisi Meli. Yasir tertunduk lesu, sementara Sanjaya nampak mukanya menegang.

“Usahakan yang terbaik dok”, kata Sanjaya kemudian.

“Pasti Pak, kami usahakan yang terbaik. Jawab dokter berbarengan pintu diketuk. “Masuk”, perintah dokter

“Ibu Meli siuman dok”, perawat yang menjaga Meli mengabarkan. Yasir segera menghambur keluar bahkan bisa disebut berlari.

“Dek”, hanya kata itu yang sanggup Yasir ucapkan saat sampai di ruang perawatan Meli. Menggennggam jemari tangan Meli yang lunglai. Menciumnya dengan penuh perasaan.

“Anak kita mana Mas?”, suara lemah Meli menyapa pelan, membangkitkan semangat Yasir yang sudah pasrah mendengar penjelasan dokter tadi.

“Ada di ruang bayi Dek, apa Meli mau ketemu?”

“Iya Mas”

“Sus, mohon bawa anak kami kemari”, Yasir meminta Suster untuk menjemput anaknya. Suster melangkah keluar ruangan setelah mendapat anggukan dari dokter.

Sesaat kemudian terdengar suara tangis bayi memasuki ruangan. Suster meletakan bayi di dada Meli. Linangan air mata Meli tak terbendung lagi. Dia menangis haru menyaksikan buah hatinya merengek. Dibelainya kepala bayi mungil itu, dia mencoba menundukan kepala untuk mencium kepala si bayi, Yasir membantu memnggeser posisi bayi agar lebih mudah dijangkau, dipegang dengan hati-hati dengan tangan sedikit gemetar.

“Apa Mas Yasir sudah memberi nama sama anak kita?”.

“Menurut kamu, baiknya dikasih nama siapa dek?”.

“Mas Yasir aja yang kasih nama”.

“Meliana saja ya Dek?”.

“Kok namanya sama kaya Meli si Mas?”.

“Beda dikit, kan ibunya Melia, anaknya Meliana”.

“Apa kalo laki-laki akan diberi nama Yasirana Mas?”, meski dalam kondisi lemah Meli masih bisa bercanda. Bahkan sangat lemah, dia sudah banyak kehoilangan darah.

Yasir tersenyum, “Kalo laki-laki bisa juga diberi nama Meliano atau Meliandra”, Yasir menambah hiburan ditengah kekalutan. Keluarga Atmaja tersenyum meski keharuan dan kekhawatiran jelas nampak di raut muka mereka, terutama Sanjaya. Dia tahu persis resiko yang akan dihadapi. Kemungkinan buruk yang bisa menimpa Meli jika operasi penanganan pendarahan gagal.

Bayi Meli diangkat oleh suster untuk kembali diantar ke ruang perawatan khusus bayi setelah Meli kembali memeluk dan menciumnya penuh haru untuk beberap lama. Seolah tidak ingin berpisah.

“Meli sudah lengkap jadi ibu, terimakasih Mas”, Kata Meli kemudian, “Jaga anak kita baik-baik”.

“Tentu Dek. Kita akan menjaga dan mendidiknya”, Yasir tergugu mendengar ucapan Meli. Kalimatnya terdengar ambigu.

“Makasih Mas, Bapak, Ibu”, ucap Meli kemudian setelah dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dan menjumpai keluarganya di situ. Dia tatap satu persatu.

Sanjaya mendekatinya dan mencium kening adik bungsu yang sangat disayangi dan dimanjanya itu. “Lekas sembuh dek, Mas Sanjaya menyayangi Meli”, ucap perwira polisi itu penuh haru sambil mencium kening dan pipi Meli. Selanjutnya kedua orang tuanya bergantian mengecup kening Meli. Buliran air mata tak tertahan dari Ibu Atmaja. bahkan isakan pelan terdengar. Yasir masih terus menggenggam jemari Meli dan menciuminya tanpa henti.

“Meli ngantuk mas”, ucap Meli kemudian sambil mengerjapkan mata. “Meli sayang Mas Yasir”, lanjutnya.

“Mas Yasir lebih menyayangimu Dek. Istirahatlah”. Sahut Yasir cepat sambil masih menempelkan jemari Meli di bibirnya. Detik berikutnya Meli memejamkan mata.

“Mohon keluarga untuk menunggu di luar ruangan”, Dokter memeberi perintah cukup tegas, dia tahu Meli bukan tidur, tapi pingsan. Darah semakin banyak yang keluar, badan ibu muda itu terus melemah. “Kami akan melakukan perawatan intensif kepada ibu Meli”, kata dokter melanjutkan.

Yasir mencium kening Meli cukup lama, “lekas sembuh dek, Ana menunggumu”. Bisiknya sebelum keluar ruangan. Berkumpul kembali dengan keluarga Atmaja, menunggu keajaiban, hanya doa yang dipanjatkan tanpa henti dalam hati tiap insan di lorong ruang tunggu rumah sakit itu. Semua bersiap untuk kemungkinan terburuk. Yasir tertunduk lesu, entah mengapa perih yang teramat sangat melanda dadanya, ada kehampaan yang menyeruak menghantam relung hatinya.

“Kenapa Mas Yasir tiba-tiba melamar Meli?”, tanya Meli saat Yasir mengantar Meli kuliah, beberapa hari setelah lamaran

.”Karena Mas Yasir sayang sama Meli”, jawab Yasir diplomatis.

“Hanya itu?”, Meli masih menyelidik.

“Biar bisa jagain Meli 24 jam, dan Meli ga sakit lagi”.

“Jadi karena Meli sakit-sakitan?”

“Dek, apa sayang mas tidak cukup buat melamar Meli? Atau Meli tidak cinta sama Mas”

“Bukan begitu, hanya saja, Kak Fany sama Kak Vera bagaimana?”.

“Bagaimana apanya Dek?”

“Apa Mas Yasir juga menyayangi mereka berdua?”

“Mas Yasir lebih menyayangi Meli”.

“Berarti mas Yasir juga sayang sama Kak Fany dan Kak Vera?”

.”Mereka kan teman Mas Yasir, apa Mas harus benci mereka menurutmu dek?”.

“Eh iya ya”. Meli kehabisan kata untuk menyelidik. Dia memang bahagia tapi tetap masih merasa janggal dengan lamaran Yasir yang terkesan mendadak. Selugu-lugunya Meli, tetap saja dia perempuan yang memiliki perasaan dan bisa mengerti kedekatan Yasir dengan perempuan lain, termasuk Fani yang cukup intens.

“Kenapa namanya Baturaden Mas?”, tanya Meli beberapa hari setelah menikah, saat Yasir mengajak isterinya itu berkunjung ke rumah ibunya di Banyumas dan menyempatkan piknik ke Baturaden. Lokawisata yang memang menjadi ciri khas kabupaten Banyumas, kota Purwokerto lebih tepatnya. Saat itu Yasir dan Meli sedang berada di pancuran pitu.

Purwokerto memang lebih dikenal daripada kabupaten itu sendiri, padahal Purwokerto adalah ibukota dari kabupaten Banyumas. Sebagai kota administratif, Purwokerto memang lebih maju dan ramai. Pun, Baturaden yang berada di sisi utara Purwokerto, di kaki gunung Slamet yang menjulang.

“Nama Baturaden konon berasal dari sepasang pasutri yang mendiami tempat ini. Batur artinya pelayan dan Raden artinya mulia, jadi Baturaden berati pelayan mulia. Konon sang suami adalah pelayan sang isteri yang merupakan puteri raja, mereka saling jatuh cinta, tapi tidak direstui raja, akhirnya pergi dari kerajaan dan mendiami tempat ini. Itu hanya legenda, entah benar atau tidak. Karena ada arti lain dari kata Batur, yaitu tempat lapang untuk mendirikan rumah sedang raden adalah julukan bagi putera raja. Jadi bisa jadi ini adalah tempat sang putera mahkota bersemayam”.

“Ih, panas sekali”, jerit Meli ketika dia menyentuh aliran air dari pancuran pitu. Aroma belerang menyeruak indra penciuman. Memang, sumber air panas dari bebatuan magma pusat bumi membuat air di pancuran itu panas hingga 70 derajat celcius. Kandungan belerang pada air panas tersebut mampu menyembuhkan beraneka penyakit kulit. Jika dilihat dari kejauhan, kawasan pancuran pitu seperti kawah dengan adanya asap yang mengepul. Susana sangat asri, sisi utara nampak hutan gunung Slamet yang lebat. Jika di sepanjang perjalanan dari kawasan wisata Baturaden dipenuhi pohon pinus dan cemara, maka di sisi utara pancuran sudah merupakan heterogen dengan aneka pohon dan belukar.

“Pak Yasir”, suara dokter keluar ruang perawatan Meli memanggil, membuyarkan lamunan Yasir.

“Iya Dok, bagaimana isteri saya?”, Yasir menyambar cepat.

“Maaf Pak, isteri bapak belum sedar. Kami sudah semaksimal mungkin untuk menghentikan pendarahan, tapi masih belum berhasil 100 persen. Mohon bersabar. Bu Meli akan kami pindahkan ke ruang ICU, agar mendapat perawatan yang lebih intensif”. Dokter memberi penjelasan.

Selanjutnya brangkar pembaringan pasien didorong keluar ruangan menuju ruang ICU. Meli masih nampak tertidur. Bukan, Meli bukan tidur, tapi pingsan karena terlalu banyak darah yang keluar membuat dia lemas. Kantong darah sudah menggantung menggantikan kantong infuse. Sanjaya juga sudah mendonorkan darahnya guna membantu kebutuhan darah sesuai golongan darah Meli. Yasir mengikuti arah brangkar, tapi tidak boleh masuk ke ruang ICU, hanya bisa menatap sedih ke dalam ruangan dengan aneka alat kedokteran. Pendeteksi detak jantung juga sudah dipasang untuk memantau denyut nadi pasien. Keluarga pasien hanya diijinkan melihat dari luar ruangan dengan kaca lebar itu. Selanjutnya mereka dipersilahkan menuju ruang tunggu pasien ICU yang tidak terlalu nyaman, karena banyak keluarga pasien yang menunggu disitu. Ac yang terpasang tidak mampu mendinginkan suhu ruangan, maklum, jumlah penunggu melebihi kapasitas, meski dari rumah sakit hanya mengijinkan satu sampai dua orang keluarga pasien, tetap saja, keluarga adalah keluarga, yang selalu memiliki kekhawatiran akan sakit yang diderita saudara, anak, keluarga di ICU itu. ICU adalah momok antara hidup dan mati bagi pasien yang awam.

“Bapak sama Ibu pulang aja, biar saya yang nunggu Meli”, Yasir memberi usul karena tidak tega melihat ibu mertuanya yang nampak tidak nyaman di ruang tunggu. Jumlah keluarga pasien yang berlebih membuat ruang tunggu sedikit pengap.

“Ibu mau nungguin Meli Sir, nggak apa-apa”. Ibu Atmaja menyahut cepat, dia memang tidak nyaman tapi lebih tidak nyaman jika di rumah tanpa lekas tahu kabar Meli.

Saat kokok ayam pertama berkoar, Yasir tengah tersungkur sujud di masjid rumah sakit. Mengadu pada Yang Maha Pemilik Keputusan, yang memiliki dan memegang hidup dan mati manusia. Hanya itu yang bisa ia lakukan melihat Meli tak kunjung sadar. Saat garis cakrawala mulai nampak, bertalu beduk disusul kumandang panggilan membahana dari menara-menara masjid. Yasir menunaikan kewajibannya sebagai makhluk fana dan kembali memperdalam sujudnya, memasrahkan segenap ketetapan yang sudah jadi garis takdir tiap yang bernyawa. Menyiapkan tekad baja untuk kemungkinan yang tidak ia sukai, kemungkinan yang ia benci seiring rasa perih di dada laksana disayat sembilu. Rasa perih yang sudah lama sirna semenjak memutuskan memilih Meli, ternya kini muncul kembali. Pertanda apa ini ya Robbi , bisik Yasir ditengah munajatnya. Sementara Sanjaya sudah kembali ke ruang tunggu pasien, begitupun kedua orang tuanya. Mereka bergantian shalat, agar tetap ada yang menunggu dan mudah ditemukan jika dokter memerlukan.

Yasir kembali ke ruang tunggu ICU. Sesampai di ruang itu, ia terpana menyaksikan Pak Atmaja yang sedang memeluk isterinya yang sesenggukan. Sanjaya terlihat memukul-mukul tembok bahkan sesekali membenturkan kepalanya. Yasir bergegas menghambur, membuka pintu ruang ICU, dia melihat monitor detak jantung Meli yang menampilkan garis lurus tanpa jeda. Yasir terduduk lunglai. “Kenapa cepat sekali kamu pergi meningglkan Mas Yasir Dek? Bagaimana Mas Yasir melanjutkan hidup ini? Bagaimana Ana, anak kita Dek, dia menunggumu”, Yasir menelungkupkan badan di lantai ruangan yang dingin itu, dia tempelkan kepala ke ubin keramik putih. Perih yang ia rasakan terjawab sudah, sembilu itu bukan saja menggores tapi menghujam dalam ke ulu hati. Perih tak terkira. Air mata sudah tak terbendung, suara isak yang berpuluh tahuin tidak terdengar dari bibirnya, pagi itu mengalun menyayat hati. Inikah takdirMu, batin Yasir seolah tidak percaya.

Takdir kadang dianggap kejam, padahal itu adalah yang terbaik dari Yang Maha Pemilik Takdir. Manusia boleh memiliki beribu rencana, tapi Sang Pemilik Keputusanlah yang bisa menjadikan rencana itu terjadi atau gagal bahkan hilang dan terlupakan. Karena Dialah yang mampu membolak balikan hati, keteguhan dan kegoyahan hati bisa berbalik dalam hitungan kurang dari sedetik tanpa disadari oleh si pemilik hati itu sendiri.

Hanya mereka yang ikhlas yang mampu bertahan dengan keteguhan. Hanya mereka yang mampu jujur pada semua pihak yang bisa bertahan untuk tetap pada pendirian. Berdiri teguh tanpa goyah. Mengambil keputusan dengan nurani dan mengabaikan bisikan naluri. Karena nurani jelas lebih murni, sedang naluri kadang terkontaminasi nafsu duniawi bahkan naluri manusia kadang tidak jauh beda dengan naluri hewan karena pada prinsipnya sama sebagai mahluk yang bernyawa.

Apalagi naluri yang menautkan dua insan berbeda, naluri pada lawan jenis, apa bedanya saat ayam jago melihat ayam betina, kedua mahluk itu sama-sama mengikuti naluri. Maka seyogyanya manusia mengedepankan nurani untuk mengontrol nalurinya agar tidak sama dengan ayam jago maupun ayam betina.

Hati adalah sebongkah daging yang mampu mengontrol seorang manusia menjadi layak untuk disebut makhluk berakhlak, memiliki norma, aturan yang wajib dipatuhi demi kemaslahatan dalam menjalani hidup di muka bumi ini sebagai kalifatullah. Sebagai wakil Sang Pemilik Kehidupan yang diberi mandat untuk mengabdi dengan menjalani kehidupan yang sudah digariskan sebagai makhluk. Ya, hanya mampu menjalani, tak bisa menolak garis yang sudah ditakdirkan, tak jua mampu merubah garis yang sudah ditetapkan Sang Pemilik Ketetapan.

===============***==============

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Novel dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s