Trust (2)


New Spirit

Hari berikutnya Yasir masih terbaring di brangkar rumah sakit itu, tapi sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Wajahnya terlihat lebih semangat dari sebelumnya. Sanjaya berhasil menyadarkan dirinya akan arti hidup sebenarnya. Dia juga tidak mau membuat mertuanya semakin dirundung sedih kalo dia terus murung memikirkan Meli. Yasir baru sadar bahwa kedua mertuanya, bahkan Sanjaya sangat menyayanginya.

Hari itu Vera datang menjenguk bersama papinya, Pak Waluyo. Vera memang tidak melanjutkan kuliah ke jenjang pascasarjana. Dia memilih mendampingi papinya memimpin perusahaan beras yang semakin besar. Dia bertekad menggantikan papinya saat orang tua itu semakin renta kelak dan kesulitan bepergian. Vera adalah anak tunggal dan pewaris satu-satunya. Maka papinya sangat bahagia saat Vera dengan tekun belajar mengendalikan pabrik beras.

“Sir, yo opo kabare?”. Pak Waluyo menyapa setelah berbasa-basi dengan Sanjaya di luar ruang rawat inap.

“Eh Pak Waluyo. Alhamdulillah mulai memabaik pak. Maaf saya jadi belum bisa fokus pada pekerjaan”. Yasir menoleh ke arah Vera. “Apa kabar Ve. Makasih sudah datang”. Vera hanya mengangguk dan tersenyum. Gadis cantik yang dijuluki artis akuntansi semasa kuliah itu memang sedikit bicara, cenderung pendiam. Tapi dalam kelompok belajar dialah yang paling aktif. Dia hanya bicara seperlunya, jarang bercanda, bahkan jarang banget hangout layaknya anak-anak muda jaman sekarang. Sama sekali tidak mencerminkan anak konglomerat dengan segudang fasilitas dan materi yang terjamin setiap saat.

“Tenang aja. Feri sepertinya menjiwai tugasnya. Pekerjaannya rapi dan pelayannanya bagus. kamu pandai memilih murid Sir. Saya yakin Feri bisa diandalkan. Cak No juga cekatan di gudang. Dia merekrut beberapa tukang becak untuk membantu mengantar beras. Kamu dikelilingi orang-orang yang loyal dan baik hati Sir”, Jawab Waluyo panjang lebar. Ya, Cak No memang dipercaya Yasir menjaga gudang beras. Gudang yang terpisah dari pasar. Yasir memilihnya agar mampu menampung cukup persediaan seiring semakin tingginya permintaan beras dari kios di pasar.

“Alhamdulillah Pak. Tentu saja termasuk Bapak dan Vera adalah orang yang menyokong keloyalan dan kebaikan itu. Tanpa Bapak saya tidak akan bisa mewujudkannya”. Yasir dia, sejenak, seolah sedang berpikir. “Ngomong-ngomong, bagaimana rencana pabrik baru?”, Yasir teringat ide yang pernah dia sampaikan beberapa bulan silam, dia melihat peluang itu, karena produk beras Matahari dari Pak Waluyo makin diminati masyarkat dan kerap kekurangan stok karena kapasitas produksi pabrik yang ada tidak memnuhi permintaan pasar. Dia juga mengusulkan pendirian pabrik di wilayah lain agar bisa mendapat pasar baru dan mobilisisasi produk ke konsumen baru tersebut tidak terlalu jauh.

“Maka itu, lekaslah sembuh. Kamu akan terlibat di sana. Kamu harus terjun langsung ke lapangan bareng Vera, mensurvey beberapa lokasi yang setrategis”. Jawaban Waluyo mengagetkan Yasir. Sebenarnya Waluyo sudah ngobrol panjang lebar saat perwira polisi itu sengaja datang ke kediamannya kemarin, mengabarkan kondisi Yasir yang terluka jasmani dan rohani. Sanjaya meminta pendapat pebisnis itu cara mengalihkan pikiran Yasir. Dan Waluyo teringat ide pabrik baru yang justeru berasal dari pemuda tekun itu. Dari situlah ide melibatkan Yasir ke dalam proses pendirian pabrik baru. Agar Yasir disibukan dengan kegiatan positif dan bisa mengusir segala pemikiran yang bisa membuatnya kemabli murung.

“Kenapa saya pak. Vera sudah paham kok. Apalagi saya lihat dia sudah banyak belajar dari bapak langsung sebagai ahlinya. Kalo saya kan cuma teori.”, Yasir berkilah sambil menatap Vera yang hanya menunduk.

“Idenya kan dari kamu Sir. Kamu harus tanggung jawab hahahaha. Vera masih perlu teman untuk dimintai pendapat atau sekedar sharing. Dia kan sama saja, belum pernah berpengalaman mendirikan pabrik atau tempat usaha baru, kalo kamu kan sudah. Lihatlah, kios bawang dan beras di Kasin. Itu wujud ide yang masih punya korelasi dengan new place bukan. Dari situ, saya berkesimpulan, kamu bisa diandalkan. Kamu mau bantu saya kan Sir”.

Yasir mengernyitkan dahi, berpikir sejenak, “Baiklah pak. Tentu saja saya akan membantu Bapak. Kalo menolak bisa jadi saya dikutuk jadi batu karena durhaka sam bos, hehee..”, Yasir tertawa tertahan karena dadanya masih sakit jika tergelak terlalu keras.

“Lekaslah sembuh kalo gitu Sir. Biar pabrik baru beras Matahari lekas berdiri dan pasar tercukupi kebutuhan”, Waluyo kemudian pamit diringi puteri semata wayangnya. Dia tersenyum meninggalkan ruang rawat inap itu. Menyalami Sanjaya yang nampak bahagia karena dia menyimak obrolan di sana. Dia melihat semangat hidup Yasir mulai kemabli dari sorot mata yang terpancar.

===============***==============

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Novel dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s