Trust


FIRST SIGHT

“Sir siapakan sekarung bawang buat pak Prawira, pilihin yang paling bagus ya”, kata Pak Atmaja saat Yasir datang dari kampus dan langsung masuk gudang setelah menitipkan amplop coklat bertuliskan ‘Jejak Belut Berkaki’ kepada majikannya, untuk diserahkan ke anak sulungnya, Sanjaya yang seorang polisi. Yasir juga sudah menelpon Sanjaya menjelaskan apa yang dimaksud dan menulis singkat dalam amplop tersebut.

“Bukannya tadi pagi Pak Prawira sudah belanja 5 karung Pak?”, jawab Yasir, karena tadi pagi jelang subuh Yasir ingat mengantarkan 5 karung bawang ke mobil loss bak milik restoran pak Prawira, tentu bukan Pak Prawira yang datang tapi pegawainya yaitu Pak Herman.

“Ada tambahan pesanan Catering, mendadak katanya”, Pak Atmaja menjelasakan

“Baik pak”, Yasir segera menuju gudang, tas punggung masih menempel di pundaknya sambil membolaak balik beberapa karung bawang dan akhirnya memilih karung yang dia rasa memiliki bawang yang lebih baik dibanding karung lainnya. Karena kebiasaan dan rutinitasnya, membuat Yasir dianggap lebih paham oleh Pak Atmaja. Pegawai Pak Atmaja memang lebih banyak berkumpul pada pagi hari, karena cenderung pelanggan berbelanja pada pagi hari, sedang siang sampai sore, pelanggan tidak seramai seperti pagi, jadi kadang cukup Yasir dan Mas Muri seskali toto dan Feri juga ada sampai siang ikut melayani, dan siang itu hanya Yasir, tentu saja soal angkat junjung menjadi tanggung jawabnya, karena mas Muri lebih dipercaya memegang pembukuan dan keuangan oleh Pak Atmaja. Tapi saat Mas Muri tidak ada, Pak Atmaja kerap menyuruh Yasir menggantikan posisinya. Yasir merasa terlul cepat dipercaya, tapi Yasir juga tidak mau berpikiran lebih.

“Sir, udah datang yang mau ambil nih”, Teriakan Pak Atmaja dari depan membuyarkan lamuannya.

Yasir segera memanggul karung melewati Pak Atmaja yang sedang berhadapan dengan perempuan yang tidak terlalu dipedulikan oleh yasir, apalagi posisi karung bawang membatasi pandangannya, dia langsung menuju depan toko dan mencari Pak Herman yang biasanya sudah menunggu di samping mobil los bak yang sudah dia hafal, tapi tidak nampak mobil losbak bertuliskan Prawira resto itu, tapi yang nampak justeru sepeda motor merah yang beberapa hari lalu hampir menyerempetnya.

“Kok mirip motore cah gemblung wingi kae”, batin Yasir sambil menurunkan bawaannya dan berbalik ke toko bermaksud menanyakan kendaraan Pak Prawira ke majikannya. Saat itulah Yasir melihat gadis muda yang tadi di depan Pak Atmaja.

“Eh kamu”, Yasir berpikir sejenak. “Kuliah di Unmar kan ya?” Yasir melanjutkan karena teringat dengan wajah perempuan yang kemarin membuat dia berkelahi dan menyebabkan terlambat mengikuti inisisasi matematika.

“Oh Mas yasir kerja di sini”, Fany langsung memanggil nama membuat Yasir berpikir, apakah Pak Atmaja memberi tahu nama lengkapnya kepada pelanggan mudanya ini. Ucapan Pak Atmaja berikutnya menjawab pertanyaan Yasir.

“Loh nak Fany udah kenal Yasir? Kok tahu namanya”.

“Oh kita satu kampus Om”, jawab Fany singkat. “Mas ikat aja di jok belakang motor merah itu ya, yang kuat ya”, Fany menambahkan sambil beranjak dan pamit ke Pak Atmaja menuju sepeda motornya yang terparkir depan toko, mengikuti Yasir yang sudah meraih tali rafia.

“Mas Yasir lupa sama saya ya?”, tanya Fany saat Yasir sedang mengikat karung bawang didi sisi jok bagian belakang.

“Enggak, yang di taman waktu itu kan”, jawab Yasir yakin

“Iya, tapi maksudku yang dulu di kereta, yang tukeran kursi sama Eyang”. Fany menjelaskan, entah mengapa kali ini fany merasa begitu mudah menyapa dan mengobrol dengan orang yang baru dikenalanya itu. Dia cukup kaget tadi saat tahu Yasir ternyata merupakan salah satu pegawai Pak Atmaja, tentu saja Fany yakin dan tidak akan berpikir bahwa Yasir adalah anak pak Atmaja, karena Fany kenal dengan semua anak Pak Atmaja, meski tidak akrab. Orang tuanya merupakan teman lama dan selalu saling mendukung dalam merintis usaha dari kecil, begitulah yang dikisahkan papanya.

“Oh iya ya”, Yasir menjawab setelah berpikir sejenak. “Yang bareng Eyang putri itu kan?”, Yasir melanjutkan.

“Iya bener, sekalian Eyang juga minta maaf karena lupa tidak berterima kasih waktu itu”, Fany melanjutkan. “Oh iya namaku Fany, Stefany Anggraeni”, Fany mengulurkan tangan dan menjabat dengan mantap tangan Yasir yang terulur ragu, karena agak jengah dengan tangannya yang kotor seusai mengangkat dan mengikat karung bawang di jok motor. Fany juga heran dengan dirinya, kenapa dia tidak ragu sedikitpun dengan ‘kuli panggul’ Om Atmaja itu. Tapi Fany melihat bahwa Yasir bukan pemuda biasa, seorang pekerja keras jelas nampak dari raut wajah dan perawakannya yang berotot. Kuli panggul tapi juga mahasiswa, sangat jarang. Dan meski begitu, Yasir tidak nampak canggung ataupun rendah diri saa tahu bahwa dia adalah anak Prawira. “Mas yasir boleh panggil fany atau senyaman mas aja”, Fany melanjutkan.

“Stefany Anggraeni Prawira, saya panggil Fay aja, biar singkat, oh iya jangan panggil mas ke saya, saya cuma mahasiswa baru kok, meski saya memang lebih tua dibanding kamu, panggil aja nama saya. Ngomong-ngomong, kok tahu nama saya, bukan dari Pak Atmaja kan?” Yasir menyelidik

“Kan ada di tiket kereta, nama Mas Yasir tertera di situ, oh Yasir eh panggil Yes aja ya, biar makin unik namanya”, Fany menjawab sambil sedikit menahan tawa.

“Oh iya ya, saya ga kepikiran sampai situ. Yes, boleh deh”, Yasir melanjutkan

“Yes Ser”, jawab Fany sambil tersenyum. “Besok pagi ketemu di taman ya, Sekali lagi makasih”, Fany melanjutkan ucapannya sambil memakai helm dan naik ke jok motornya dan menstarter motor andalanya itu.

Yasir hanya mengangguk mengiyakan.

“Om, Fany pamit”, teriak Fany ke arah toko mengagetkan Pa Atmaja yang memperhatikan keakraban anak buahnya ngobrol dengan anak teman akarabnya. Sekali lagi Pak Atmaja melihat kelebihan anak itu, dia tidak minder atau rendah diri meski menghadapi perempuan cantik yang jelas memiliki status soisla jauh lebih tinggi dibanding dirinya yang cuma kuli pasar.

“Iya, ati-ati nduk”, jawab Pak Atmaja mengiringi deru kanlpot motor sport Fany yang menderu dan menghilang berbelok ke arah Raya Langsep.

“Ayu yo Sir”, sergah pak Atmaja sambil tersenyum saat Yasir memasuki toko untuk kembali ke gudang belakang.

“Eh enggih pak”, jawab Yasir tergugu dan menahan langkahnya. Memang Yasir baru memperhatikan bahwa sosok gadis muda anak bungsu Pak Prawira itu cantik, rambut hitam pekat lurus sebahu dibiarkan terurai, tinggi badan sekira 165 cm sepadan dengan perawakan yang terawat, meski berdandan ala kadarnya dengan penampilan tomboy yang terkesan cuek, tidak mengurangi pesona yang terpancar dari mata dengan bentuk mirip kacang almond. Keceriaan jelas terpancar dari bola hitam dengan pinggiran putih bersih itu. Muka sedikit lonjong dengan hidung mungil yang cukup mancung untuk ukuran perempuan Asia. Oriental.

“Kamu sudah kenal lama Sir, kok nampak akrab bener sama Fany?”, selidik Pak Atmaja.

“Enggak juga si pak, cuma memang satu kampus dan ternyata dulu pernah satu kereta, cuma saya sudah lupa, tadi Fany yang mengingatkan, karena dulu tukeran kursi sama Eyangnya, cuma waktu itu memang saya tidak memperhatikan Fany”, jawab yasir menceritakan kejadian 9 bulan silam di kereta Matarmaja.

“Tenang Pak, saya memang tidak rendah diri, tapi saya Tahu diri kok”, Yasir menambahkan sambil tersenyum seolah memabaca kekhawatiran dalam raut wajah majikannya. Selanjutnya Yasir berlalu dan menyibukan diri di gudang merapikan karung-karung bawang yang berserakan. Mas Muri nampak menghitung jumlah stok yang tersedia. Dan berpikir sejenak.

“Kenapa mas?” Yasir merasa penasaran.

“Stok ini tidak akan cukup untuk 3 hari ke depan Sir, sedang pengiriman baru akan datang 4 hari lagi”.

Pelanggan Pak Atmaja memang makin bertambah, sedang gudang yang ada tidak mampu menampung stok yang memadai dan pengiriman barang tidak bisa sewaktu-waktu dipesan, karena keterbatasan tempat menjadi salah satu faktor. Ada minimum pemesanan agar tengkulak atau importir tidak rugi dengan biaya pengiriman.

“Mengapa tidak buka cabang aja Mas?”, Yasir menyela. “Jadi stok bisa lebih banyak dan memecah konsentrasi pelanggan tidak hanya di satu tempat”, Yasi melanjutkan usulannya.

Yasir ingat pelajaran yang ada korelasinya dengan kasus yang sedang dihadapi toko Pak Atmaja saat ini, yaitu mengenai ketersediaan produk, meski hal tersebut lebih cenderung kepada proses produksi pada sebuah pabrik, tapi bisa saja diasumsikan kepada ketersediaan produk di toko saat ini.

Tingkat ketersediaan produk dapat diukur dengan menggunakan cycle service level atau dengan fill rate, yang berupa metriks dari jumlah kepuasan permintaan pelanggan terhadap ketersediaan produk. Suatu rantai pasok dapat menggunakan ketersediaan produk pada tingkat yang tinggi untuk meningkatkan responsiveness-nya serta untuk menarik konsumen. Namun demikian, ketersediaan produk yang tinggi memerlukan persediaan yang cukup besar dan persediaan yang besar cenderung meningkatkan biaya untuk rantai pasok. Oleh karena itu, suatu rantai pasok perlu untuk mencapai keseimbangan antara tingkat ketersediaan produk dengan biaya persediaan. Tingkat ketersediaan produk yang optimal ini merupakan salah satu cara untuk memaksimalkan keuntungan.

“Sewa tempat sebagai gudang saja atau bisa sekalian jual di situ mas, jadi biaya juga tidak terlalu tinggi daripada beli, langkah selanjutnya lihat pasar nanti di tempat baru tersebut”, tambah Yasir menimbang pelajaran yang ia ingat, karena penambahan stok barang dengan penambahan tempat otomatis memerlukan biaya yang tidak sedikit.

“Masuk akal, nanti saya coba sampaikan ke Bapak”, jawab Mas Muri. Bapak yang dimaksud adalah Pak Atmaja, mereka sudah akrab menyebut begitu dibanding menyebut nama Pak Atmaja apalagi Bos, tidak pernah.

===============***==============

ROTI BAKAR

Yasir sedang menikmati sarapan nasi bungkus dari Cak No di taman kampus sambil membaca buku, ketika muncul gadis muda dengan penampilan tomboy, kaos putih oblong dipadu celana jean biru dan jaket kulit cokelat tersampir dipundaknya. Tas ransel kecil justeru ditenteng.

“Hai Yes”, Sapa Fany sambil duduk di samping Yasir dan mengeluarkan bungkusan berisi roti bakar yang sengaja dibawa dari rumah.

Yasir agak kaget karena sedang konsen membaca inisiasi Pengembangan Bisnis, terkait dengan usulannya agar Pak Atmaja membuka cabang baru atau sekedar menyewa tempat untuk stok gudang. Ide tersebut juga masih memiliki korelasi dengan mata kuliah PENGEMBANGAN PRODUK meski beda kasus, tapi tahapan dan langkah yang diambil bisa diambil dari sana. Mulai dari ide, seleksi ide, pengembangan dan pengujian ide hingga pemasaran alias pansa pasar yang mungkin bisa diraih atau menambah pelanggan baru.

“Eh, Hai Fay, bawa bekel juga?”, jawab Yasir sedikit gagap karena kaget muncul makhluk berambut panjang yang tidak disangkanya, meski kemarin memang Fany bilang mau ketemu di taman, tidak disangka beneran dia datang pada pagi sebelum jam pertama kuliah dimulai.

“Iya, sengaja emang niat nemenin kamu makan di sini, aku kan sering lihat kamu makan di sini tiap pagi”, jawab Fany menjelaskan.

“Sering lihat saya?”, Yasir agak kaget. “Kok kayaknya saya baru lihat kamu sekali, yang pas kita tabrakan itu”. Tambah Yasir

“Aku tadinya mau nyapa, setelah memastikan bahwa itu kamu, orang yang dulu di kereta, tapi agak ragu, kawatir salah, baru kemarin saya memastikan pas ambil bawang di Om Atmaja”, Fany menjelaskan. “Emang kamu beneran lupa sama kejadian di kereta itu Yes? Kok kamu kaya ga ingat sama aku”, imbuh Fany.

“Kalo kejadian si langsung ingat pas kemarin kamu menyinggung pertukaran tempat duduk, tapi saya beneran lupa sama gadis pendiam yang duduk manis di samping Eyangnya”, kilah Yasir sambil tersenyum, karena ternyata sikap dan sifat Fany berbanding terbalik dengan sikapnya waktu di kereta, sikap supel, lugas dan tanpa ragu kini yang nampak dari gadis cantik di sampingnya. “Kalo sama Eyang kemungkinan saya akan langsung kenal kalo ketemu”, imbuhnya

“Lugu? Emang dulu aku kelihatan lugu ya?”, Fany terkiki dengan sedikit penegasan.

“Iya, diem ga ada komentar”, Yasir menyambar

“Itu karena kikuk, habis Eyang main tuker tempat duduk aja kan aku jadi rikuh sama kamu”, Fany membayangkan tingkahnya waktu di kereta pertama melihat Yasir yang memang tidak terlalu peduli dengan keberadaannya waktu itu. “Eh kamu anak Manajemen ya?”, tanyanya kemudian.

“Iya, kamu sendiri ambil jurusan apa?”, Yasir menjawab dengan pertanyaan, yakin beda jurusan sama Fany, karena tidak pernah melihat anak itu di kelas manajemen.

“Aku ambil Akuntansi, soalnya kata kakaku, itu jurusan dengan lulusan yang memiliki prospek bagus untuk mendapatkan pekerjaan”. Jawab Fany sambil menyuapakan roti bakar ke mulut dengan bibir mungil tanpa lipstik itu. “Ini masih ada satu roti bakar lagi, kamu mau nggak?”, Lanjutnya menyodorkan roti bakar ke Yasir.

“Sayang banget, saya udah kenyang. Nasi porsi saya kan porsi kuli jadi buwanyak, Simpan aja buat nanti pas istirahat”, Yasir menolak sambil memegang perutnya.

“Yas, ayok”, Muncul Yuda dari kelokan jalan taman yang tertutup bougenvile putih. “Sudah mau mulai jam pertama nih”, lanjut sahabat karib Yasir yang memiliki tubuh atletis dengan umur 2 tahun lebih muda darinya. Wajahnya yang putih dan merupakan masih keturunan Cina membuat dia lebih mudah berdandan ala artis korea. Bahkan Yasir Yakin, Yuda bisa jadi artis terkenal, dan memang anak muda itu seding meniti karir mulai dari pemotretan untuk majalah remaja. Tampilannya yang kekinian mudah diterima di kalangan anak muda saat ini.

“Hai Yud, kamu udah sarapan belum? Nih ada roti bakar tolong habisin ya”. Jawab Yasir sambil mengambil roti bakar di tangan Fany tanpa ragu dan menyerahkan ke Yuda yang baru sampai di depannya. Yasir Yakin Yuda belum makan, karena biasanya dia udah duluan masuk kelas.

Fany agak kaget dan mau protes, tapi urung dilakukan.

“Serius? Pas bener, saya memang belum sarapan, kesiangan tadi bangunnya”, jawab Yuda sambil menerima uluran tangan Yasir. “Makasih ya”, lanjutnya sambil memandang Fany.

“Oh iya, kenalin Yud, ini Fani, calon Akuntan terkenal keluarga Prawira. Aduh!”, Yasir memekik karena Fany reflek memukul lengannya karena mengenalkannya sebagai keluarga Prawira. Yasir hanya terkekeh, “Fay, ini Yuda, biar ngapak, tapi dia artis loh” lanjut Yasir

Keduanya bersalaman, Yasir dan Fany bangkit dari duduk, Merapikan sampah dan bukunya, Kemudian mereka berjalan menuju arah yang berbeda, Yasir dan Yuda menuju Gedung Manajemen, sambil berjalan Yuda mengunyah suapan terakhir roti bakar yang berusaha dihabiskan dengan cepat, dia raih botol air mineral di saku samping tas Yasir dan meneguknya tiga kali. Meski anak orang kaya dengan tampilan selayaknya artis korea, tapi Yuda tidak pernah malu dan ragu untuk berbagi minum dengan Yasir dalam satu botol yang sama. Dia juga tahu persis bahwa Yasir adalah pegawai atau layak disebut kuli angkut pak Atmaja di Pasar Mergan.

Sementara Fany yang berjalan menuju kelas Akuntansi masih memikirkan kejadian barusan, dengan entengnya Yasir memberikan roti bakar itu ke Yuda, mereka baru bertemu beberapa kali, tapi Yasir nampak begitu akrab dengan fany tanpa merasa minder. Fany juga sebenarnya sudah tahu siapa Yuda, siapa yang tidak kenal Yuda, banyak rekannya yang membicarakan karena penampilan Yuda yang selalu ‘eye catcing’ bak artis korea. Ditambah Yuda yang memang tidak membuat batasan, mudah tegur sapa tanpa melihat tampilan orang yang manyapanya. Bahkan sebagian mahasiswi Unmar dari berbagai tingkat dan jurusan merupakan pemuja rahasia Yuda atau secert admirer, Tidak berani jujur karena sadar diri atau mungkin minder.

Pertemuan demi pertemuan dan gurauan pagi di Taman antara Yasir dan Fany berlangsung hampir rutin, kadang hanya berdua, terkadang ada Yuda yang menemani.

Fany yang awalanya enggan memiliki kawan akrab karena akan menyita waktu dan membuang energi saja, berkawan secukupnya saja. Tapi dengan Yasir, Fany berubah pemikiran. Pemuda sederhana dengan pemikiran yang cukup maju kalo dilihat backgroundnya yang cuma kuli. Meski kadang ada mahasiswa yang tahu keberadaan Yasir di pasar mergan meledek “Fan tidak takut bau bawang kamu?”, Fany tidak perduli lagi, karena Yasir sendiri yang disinggung tidak keberatan dengan istilah bau bawang. Bahkan muncul sebuatan ‘Anak Bawang’. Mahasiwa lain banyak yang mengenal Fany, selain cantik dengan gaya tomboi, juga karena pengaruh keluarga Prawira yang cukup dikenal di masyarakat.

===============***==============

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Novel dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Trust

  1. ndesoedisi berkata:

    Absen lik 😁

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s