Trust (2)


confuse

“Kok mirip”, bisik Fany yang sedang berselancar di sosial media. Dia menonton video yang sedang viral di Facebook dan twitter. Nampak seorang pengendara motor menabrakan sepeda motornya ke sepeda motor di depannya kemudian salto ke udara, lanjut berlari menerjang ke arah pengendara depan yang nampak mengacungkan senjata api, sampai si pengendara yang mencoba menerjang itu ambruk. Ya, itu vidio Yasir yang ditembak perampok. Entah siapa yang membocorkan potongan vidio dari CCTV lalu lintas itu. Karena 3 hari setelah kejadian, vidio tersebut menyebar secara masif di sosial media, terutama Facebook.

“Apa benar dia”. Monolog Fany dalam harti. Saat itu dia sedang di kantin kampus menikmati teh jahe madu kesukaannya. Wajahnya pias, rasa khawatir terpancar dari sorot matanya. Setelah berpikir sejenak, menimbang sesuatu dalam hatinya, selanjutnya dia menyalin link vidio tersebut dan mengirimkan ke Yuda melalui pesan whatsapp. Menambahkan beberapa pesan. Dia membaca narasi di vidio tersebut, “AKSI KEPAHLAWANAN POLISI MENANGKAP PERAMPOK DI MALANG”. Polisi, tapi sepertinya bukan. Fany kembali bergumam dalam hati. Dia masih mengamati vidio itu, dia putar berulang kali untuk meyakinkan dirinya, bahwa yang dia lihat salah. Tiba-tiba ponsel itu bergetar, kontak yuda memenuhi layar.

“Hai Yud”.

“Hai Fan, Saya sudah menelpon Mas Sanjaya. Iya, itu Yasir. Sekarang dia dirawat di rumah sakit. Sudah sadar dan dalam masa pemulihan. Mungkin 3 hari lagi baru boleh pulang. Sore nanti aku akan ke Malang. Apa kamu mau ikut?” Yuda langsung menjawab dengan penjelasan panjang lebar tentang video yang dikirimkan padanya. “Oh iya, kamu udah sarapan fan?”.

“Ini lagi sarapan Yud. Apa parah Yud?”. Nada khawatir Fany terdengar memelas.

“Sudah tidak parah Fan. Tinggal pemulihan dan tiga hari lagi boleh pulang. Tenanglah, dia baik-baik saja. Dia pemuda tangguh. Kamu tahu persis itu kan?”. Yuda terdiam sesaat. “Ikut saja bareng aku ke Malang nanti sore Fan, buat memastikan. Mas Sanjaya bilang akan menceritakan kisah seru menegangkan sekaligus miris terkait insiden itu”.

Fany diam sejenak, “Aku belum bisa Yud. Aku belum sanggup untuk ketemu Yasir. Aku tidak yakin dengan diriku. Entahlah Yud. Salam saja buat Mas Sanjaya”, Fany menarik nafas berat dan membuangnya dengan pelan. “Kamu saja yang ceritakan nanti padaku setelah kembali ke Jakarta”.

“Kamu tidak menitipkan salam buat Yasir Fan?”.

“Jangan Yud. Biarkan dia dengan kehidupannya saat ini. Aku tidak mau mengusiknya. Bahkan aku tidak tahu, apakah dia masih mengingatku. Aku tidak mau terlalu berharap”. Fany diam sejenak, “Dia sekarang sudah punya buah hati, dia pasti akan mencurahkan perhatiannya ke anakanya”.

“Untuk sekian kalinya, aku bertanya Fan. Maaf, apakah kamu masih mencintainya?”

“Apa itu penting saat ini Yud?”

“Baiklah. Aku hanya ingin yang terbaik buat sahabat-sahabatku. Aku ingin kalian bahagia. Dan jika bersama Yasir bisa membuat kamu bahagia, maka aku akan membantu mewujudkannya Fan. Sebisaku, karena aku juga tidak tahu, bagaimana perasaan Yasir saat ini padamu”. Yuda diam sejenak, “Tapi yang kutahu, kamulah wanita pertama yang mampu membuat warna berbeda dalam hidupnya. Menyentuh relung hatinya yang paling dalam”.

“Terimakasih Yud. Terimakasih karena selalu menguatkanku. Tapi untuk saat ini, biarlah seperti ini. Biarkan aku berjalan mengikuti alur yang aku lalui saat ini. Biarkan waktu yang menjawab kelak”.

“Baik Fan. Kamu jaga kesehatan ya. Hari ini aku tidak menjemputmu, karena selesai kuliah aku langsung terbang ke Malang”.

“Iya Yud, hati-hati di jalan. Salam juga buat Vera ya”. Fany yakin Yuda akan menemui Vera di Malang.

“Oke Fan, bye”.

“Bye”, Fany menyimpan ponselnya. Dia mulai menyuap nasi goreng kampung yang sudah terhidang. Pelan, karena pikirannya mengawang pada ucapan Yuda. Wanita pertama yang menyentuh relung hati Yasir yang paling dalam. Tapi Yasir toh tetap memilih Meli sebagai pendamping hidupnya. Batin Fany. Sisi egois dalam dirinya menolak untuk berdamai. Fany tetap manusia biasa yang memiliki ego bahkan dendam, meski samar dan tidak nampak, tapi sesekali sisi negatif itu akan muncul manakala dia merasa terpuruk dalam kesendirian.

Apakah aku masih mencintainya? Fany bertanya dalam hati. Menanyakan apa yang tadi diucapkan oleh Yuda. Fany mencoba mengorek relung hatinya, dia coba sematkan nama Yasir di sana, tapi rasa perih lebih dulu menjawab. Perih karena luka ditinggalakan. Sudah hampir dua tahun dan Fany masih belum bisa menutup luka itu. Tapi hatinya tidak memungkiri, kekhawatiran akan nasib Yasir yang mengalami insiden membuatnya resah. Fany menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Biarlah waktu yang bicara, monolognya dalam hati.

===============***==============

Friendship

“Bagaimana kabar Yasir Mas”, Tanya Yuda setelah bertemu Sanjaya di ruang tunggu rawat inap temoat Yasir dirawat.

“Alhamdulillah mulai membaik Yud. Dia sedang tidur, biarkan saja, nanti saja kalo bangun kamu masuk menemuinya”.

“Bagiamana ceritanya, kok bisa Yasir melakukan hal gila seperti itu. Sampai ditembak segala”.

“Terjadi perampokan yang menimpa tetangga kami, bertepatan Yasir mau berangkat ke pasar, pagi jelang subuh. Entah mengapa dia berkeras mengejar perampok itu, aku sudah melarangnya, Tapi dia sudah melaju kencang. Dan seperti yang terjadi di vidio viral itu. Dia sengaja menerjang peluru dari perampok”, Sanjaya menghela nafas sejenak, menghembuskan perlahan, seperti ada sesak yang mengganjal dadanya. “Yasir mencari jalan kematian Yud. Dia ingin menyusul Meli”.

“Apa? Senekad itukah Yasir. Aku tidak menyangka”.

“Ya begitulah, Aku juga tidak menyangka Yasir begitu terpukul dengan kepergian Meli. Entah dia mencintainya terlalu dalam atau merasa bersalah karena merasa tidak mampu menjaga Meli. Aku sudah menasehatinya. Alhamdulilah kemarin dia mulai punya semangat hidup setelah dijenguk Pak Waluyo dan Vera”.

“Apa yang dilakukan Om Waluyo dan Vera untuk membangkitkan semangat Yasir Mas?”.

“Aku yang meminta Pak Waluyo untuk melibatkannya dalam bisnis. Yasir harus punya kesibukan yang lebih, kesibukan baru yang menyita waktu dan pikiran agar pikiran tentang Meli teralihkan, meski tidak semua. Alhamduliilah Pak Waluyo bisa mengerti”.

“Om Waluyo akan mendirikan Pabrik baru dan Yasir diminta andil di dalamnya. Iya kan Mas?”. Yuda menyambar dengan berbinar.

“Kamu sudah tahu Yud?”.

“Itu ide Yasir. Vera pernah bilang Yasir menyampaikan ide itu kepada papinya, karena permintaan produk beras Matahari semakin meningkat dan terkendala kapasitas produksi di pabrik yang sekarang tidak memadai, juga jarak tempuh distribusi yang cukup jauh untuk menjangkau calon konsumen baru itu”, Yuda diam sejenak. “Yasir memang selalu bisa membaca peluang yang bisa dimanfaatkan. Berarti Yasir setuju untuk dilibatkan oleh Om Waluyo Mas?”.

“Iya Yud. Pak Waluyo berkilah bahwa itu ide Yasir, jadi Yasir harus ikut tanggung jawab merealisasikannya. Dan sepertinya Pak Waluyo bermaksud menyerahkan pabrik baru ini, baik pemilihan tempat, operasional dan semua yang terkait kepada Vera dan Yasir. Jadi kemunkina Yasir akan sering berinteraksi dengan Vera”, Sanjaya diam sejenak, ditatapnya artis ibukota di depannya itu. “Kamu tidak cemburu kan Yud?”.

“Hahaha. Saya tidak akan pernah cemburu sama Yasir Mas”. Yuda justeru tertawa.

“Tapi tidak menutup kemungkinan Yasir akan menykai Vera, seiring intensitas mereka dalam bergaul. Interaksi yang sering, ditambah Vera lebih cantik dari Fany. Sebagai laki-laki aku bisa menilai itu. Kamu pasti paham”.

“Paham mas. Vera memang bintangnya akuntansi. Tapi dia tidak pernah merasa seperti itu, dia pendiam dan lebih seriing di rumah. Dia anaka papinya”.

“Jadi kamu tidak cemburu kalo Vera nanti dekat dengan Yasir?”.

“Tidak Mas. lagian Vera dan saya tidak punya ikatan apapun. Sekedar dekat saja. Saya satu-satunya lelaki yang akrab dengannya karena Vera terlalu menutup diri. Saya dekat juga karena dijodoh-jodohin sama kawan-kawan di kampus. Tapi saya ragu Yasir bisa menyukai Vera dalam arti lebih sekedar teman atau partner kerja. Yasir tidak mudah ditundukan oleh kecantikan fisik. Bahkan dia bisa dengan cepat memutuskan memilih Meli saat dia merasa mencintai Fany. Karena Meli memang memiliki nilai lebih bagi dia. Sesorang yang harus dilindungi karena kelemahan yang dimiliki. Yasir bisa menentukan pilihan tepat. Pilihan dimana dia lebih bermanfaat daripada sekedar menuruti keinginan pribadi. Dia bukan lelaki mata keranjang yang mudah jatuh hati pada lawan jenis”.

“Menurutmu seperti itu Yud. Aku percaya. Kamu lebih mengenal Yasir daripada aku”.

“Iya Mas. Tapi..” Yuda diam sejenak. “Tidak menutup kemungkinan, Veralah yang akan jatuh hati ke Yasir dan aku tidak tahu, apakah Vera siap kecewa seperti Fany”.

“Kenapa kamu justeru mengkhawatirkan Vera Yud. Dia anak konglomerat yang punya kelas berbeda jauh dibanding Yasir. Apa itu salah satu yang kamu bilang, Vera berbeda dengan gadis pada umumnya Yud?”.

“Iya Mas. Vera berbeda. Dia tidak biasa. Banyak yang tidak mengenal pribadi Vera karena orangnya pendiam dan jarang bergaul akrab dengan sembarangan. Aku sering menceritakan perihal Yasir padanya, sekedar mengisi obrolan sebenarnya, karena tiap kami ketemu selalu Aku yang mendominasi pembicaraan. Dan sepertinya Vera sempat mengenal Yasir secara langsung, perjumpaan yang tidak sengaja, Yasir membantu Vera membawakan barang Vera, bahkan waktu itu Yasir tidak tahu kalo itu adalah Vera. Dia juga tidak tahu Vera itu anakanya Pak Waluyo. Dari situ sepertinya Vera menyimpulkan pribadi Yasir seperti apa. Dan saat menungguku dirawat di rumah sakit, Vera semakin mengenal Yasir. Dan saat berikutnya adalah hal yang membuat Mas Sanjaya melamar Yasir. Aku yang meminta Yasir mengantar Vera menggunakan mobilku ke kampus, tidak disangka Meli melihat kedatangan mereka dan itu membuat Meli cemburu buta hingga sakit parah”.

“Lantas bagaiman dengan Fany, jika yang kamu khawatikna terjadi. Apakah Fany masih menaruh hati sama Yasir?”.

“Fany gadis yang tangguh, sejauh yang saya kenal dia tidak cengeng. Sebenarnya tadi pagi saya ajak kemari, tapi dia bilang belum sanggup ketemu Yasir dan hanya menitipkan salam sama Mas Sanjaya tidak ke Yasir. Dia tidak mau mengusik Yasir dalam waktu dekat, sepertinya dia pasrah menunggu waktu yang menjawab kelanjutan kisah mereka. Saya tidak terlalu khawatir dengan Fany, dia biasa mandiri dan sendiri. Saya lebih bersimpati ke Vera, dia anak rumahan yang baru belajar mandiri, itupun karena Yasir”.

“Karena Yasir. maksudnya Yud?”.

“Mas Sanjaya tahu mengapa Vera tidak melanjutkan kuliah ke jenjang S2? Itu karena dia terinspirasi Yasir. Kalo Yasir yang bukan apa-apa, bukan siapa-siapa bisa dipercaya Pak Atmaja mengembangkan bisnis, maka Vera ingin melakukan hal sama dengan meneruskan bisnis papinya, dan ide pabrik baru itu, saya yakin Veralah yang meminta papinya merealisasikan dengan bantuan Yasir. Karena Vera belum percaya diri benar untuk melangkah sendiri. Dia baru belajar langsung dengan papinya, sementara Yasir sudah mampu mengungguli bisnis induknya secara pendapatan. Betul kan Mas?”.

“Iya Yud. Kios beras Yasir pendapatannya sudah di atas jualan bawang bapak. Dan dia berhasil merekrut orang-orang yang bisa diarahkan, orang yang tidak sekedar dekat dengannya, tapi dekat di hati. Cak No begitu semangat, tidak hanya menjaga gudang, dia bahkan mengusulkan beberapa ruko untuk disewa dan dijadikan gudang tambahan sekaligus melayani penjualan. Dan bapak mengiyakan setiap ide yasir untuk menambah gudang, membelinya, bahkan beberapa ruko atas nama Yasir”. Sanjaya diam sejenak. “Yasir mampu mengikat orang-orang itu untuk loyal padanya, Toto disuruh kuliah dan sudah masuk semester 2, Feri bentar lagi lulus kejar paket C dan pasti disuruh kuliah sama Yasir. Yasir tidak hanya menjadikan orang-orang di dekatnya sebagai pembantu di pasar, tapi juga sebgaia partner sekaligus diarahkan untuk belajar bermasyarakat di luar pasar bahkan seolah dia sedang menyiapkan penerusnya”.

“Permisi pak, Pak Yasir sudah bangun”, Kata Suster yang baru keluar dari ruang perawatan.

“Oh baik Sus, kami akan menjenguknya”, Sanjaya menyahut cepat. “Ayo Yud”.

===============***==============

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Novel dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s