Trust


PROLOG

“Hai, Cina. Njaluk duite!”

5 anak berseragam SMA menghadang seorang anak lain yang bermata agak sipit dengan seragam serupa hanya lebih bersih dan nampak masih baru, sepert siswa baru yang masuk jenjang lanjutan atas. Suatu siang lewat tengah hari di terminal Purwokerto. Di salah satu sudutnya yang kurang rapi dan sepi. Karena diabaikan, salah satu dari lima anak itu menghampiri si sipit dan memegang kerah bajunya lalu menghentaknya, “Kowe budek apa su?”

“Kowe njaluk apa malak?”, si sipit nampak tak gentar.

“Cina kemlithak ya” si pemalak naik pitam dan menyerang dengan tinjunya, tapi si sipit berhasil berkelit, membuat 4 anak lainnya berang dan berbarengan mereka mengurung si sipit, membuat sipit terpojok dan “Bugh!” sebuah pukulan telak mengenai perut membuatnya sedikit terhuyung.

Lanjutkan membaca Trust

Kaos Kaki dan Hari Indra Kustiwa


“Tri, nyilih striwelmu, nyong rep njiot kartu ebtanas”

Sebuah sapa dari Sito, teman sekampung beda kelas di hari Senin pagi sesaat sebelum bel masuk jam pertama berbunyi. Hari yang dipenuhi otak dengan segudang pengetahuan guna menhadapi hari pertama ujian akhir sekolah lanjutan pertama. Evaluasi Belajara Tahap Akhir Nasional atau biasa disingkat Ebtanas, merupakan penentu kelayakan sesorang untuk melanjutkan ke jenjang sekolah selanjutnya. Nilai murni yang akan menjadi kebanggaan tersendiri.

Lanjutkan membaca Kaos Kaki dan Hari Indra Kustiwa

Lirikan Tenong 1 Syuro


1 Muharram. 1 Syuro. Hari yang membawaku kembali ke sebuah kampung, penuh kearifan lokal. Hari adat yang akan menghadirkan lirik senyummu.

image
Tenong, photo : seruu.com

Siang itu, matahari bersinar cerah. Teriknya tak menggoyahkan langkahku, gontai menuju rumah nenek. Mewakili beliau menghadiri syukuran desa, sedekah bumi. Suran. Dusun sebelah, bukan dusunku. Lanjutkan membaca Lirikan Tenong 1 Syuro

8210 Second


“Thut thit thut thit!”. Si mungil 8210 berdering. Belum sempat kuangkat, dering itu berhenti. Berulang dan selalu mati. Iseng nih. Akhirnya kurelakan pulsaku karena penasaran.

“Halo”, sapaku.
“Halo, ini siapa?”, jawaban dari seberang yang membingungkan. Suaranya agak centil, perempuan.

“Lho kok, kan situ yang nelpon tadi, emang situ mau nelpon sapa tadi”, jawabku dongkol. Lanjutkan membaca 8210 Second

Kelakar Purwojaya Malam


Bergegas kupacu sepeda motor bebek. Adik yang kubonceng berpegang erat. Stasiun kereta Purwokerto tujuan pasti. Jadwal keberangkatan Purwojaya malam makin dekat. Aku yang diantar.

Tak kupedulikan jari-jari roda yang patah 2 batang karena menahan benturan dengan aspal Banyumas yang bergelombang. Sebagian jalan di Jawa Tengan terkenal Buruk. Entahlah

Sampai stasiun, tergopoh kutebus selembar tiket bisnis dan masuk peron, Purwojaya Malam sudah menunggu.

Gerbong 3, kursi 12C. Tidak dekat dinding gerbong berarti.

Benar saja, nampak gadis berkerudung abu-abu di 12D. Lanjutkan membaca Kelakar Purwojaya Malam

Dering 3310


“Thing-thung-thing-thung-thing”

HP monochrome itu bergetar.
“Halo, De, Mba disuruh pulang sama simbok”
Suara serak kakak perempuanku diseberang sana terdengar pasrah.
“Oh, ya Mbak. Itu lebih baik, biar ada yang urus, Mba, bisa istirahat di kampung”
Jawabku, meyakinkan.

20 tahun lebih berjibaku di metropolitan. Lelah jiwa raga itu pasti. Tanpa teman hidup yang berarti, teman adalah sekedar teman. Sesejati apapun teman, mereka hanya teman. Bukan saudara, apalagi belahan jiwa.

Hari, bulan berlalu. Saya beranggapan, mba, betah di kampung. Bersama simbok dan handai tolan.

Sakitnya tak kunjung baik. Angin malam seolah berbisik,
“De, mba duluan ya”.
Tak ada tangis, bahkan isak sekalipun. Bahkan saya lupa kapan kabar itu beredar. Bahakan pemakamannya saya juga lupa.

Hanya si monochrome Nokia 3310 warisan yang masih kerap berdering, nomor 08151623661, juga kuwarisi.
“Halo, Maba Rus ada?”
Tanya akrab dari seberang, Saat saya menjawab akan segera disambung, innalilahi…
Berulang, dan akhirnya dering itu berhenti, seiring rusaknya kartu atas namamu. Ingin kuhidupkan, demi kenangan, tapi KTPmu…

“De, kalo naik motor lewat pinggir kiri aja”.
Nasihatmu saat aku antar kau ke bilangan Taman Anggrek.

“De, pakai kawat gigi ya, biar rapi itu gigimu”.
Tentu saja aku tertawa tanda menolak, apa kata orang kampung ngeliat cah ndeso ini pakai kawat gigi.

Seiring gesekan roda besi Commuter Line Jatinegara – Bekasi kuberdoa. Semoga kau bahagia di sana. Diapit bidadara-bidadara surga. Amin

Tahun demi tahun berlalu. Umurku saat ini adalah umurmu saat engkau pergi tanpa pamit. Apakah nanti aku sempat pamit?(tri)

**************
Posted from WordPress for Android Wonder Roti Jahe

Blog Otomotif Membludak


image
Sebagian blog sudah lumutan 😀

Berita otomotif di blogsphere nampaknya seimbang dengan berita politik di layar kaca sekarang ini. Setiap menit selalu ada bahan berita yang bisa di posting. Jumlah pewarta wargapun semakin banyak, bisa dibilang membludak. Sulit menghitung.
Lanjutkan membaca Blog Otomotif Membludak

Tarik dikala Hujan


Si Bocah membereskan hasil repek (repek : mencari dan mengumpulkan kayu bakar) nya, dirasa cukup kayu bakar diikat menggunakan ba-as (ba-as : lapisan kulit pelepah kelapa bagian atas, dikletek sebagai tali), mendung menggantung di langit makin pekat. Butiran kristal bening mulai berjatuhan, beberapa butir mendarat di muka si Bocah, reflek dielapnya dengan punggung tangan yang penuh peluh berdebu. Dia tidak perduli dengan mukanya yang sekarang cemong, kotor oleh tangannya sendiri.
image

Diangkatnya kayu bakar ke pundak kiri dengan sedikit sempoyongan, pundak kirinya lebih kuat dari yang kanan meskipun dia tidak kidal. Bergegas ia melangkah meninggalkan alas (alas : Lanjutkan membaca Tarik dikala Hujan

Lewat Tengah Malam


Rodrek termenung di kursi dekat pintu utama sebuah kantor. Hari itu Kamis, jelang tengah malam ia masih menunggu seorang staf kantor menyelesaikan tugas. Lembur karena tuntutan waktu. “Laporan ini harus di setor besok” kata si staf menjelaskan, saat Rodrek menanyakan.
Harusnya dia sudah nongkrong di pos sambil menikmati kopi hitam diiringi musik kesukaan. Biasanya dia menunggu kantor maksimal jam 21.00. Ya Rodrek hanyalah seorang satpam, dan hari itu ia bertugas di kantor, menjaga dan mendata tamu yang datang. Membukakan pintu jika ada tamu atu staf yang keluar masuk kantor.
image

Setelah staf yang lembur selesai, berbenah dan meninggalkan kantor, Rodrekpun membenahi berkasnya, mendata ulang barang-barang yang trrcatat dalam daftar buku harian. Lanjutkan membaca Lewat Tengah Malam

Denting Tiang PJU dan Awan Merah di Tambun Bungai


“Teng…..trengteng.,teng..teng…!!”
Tiang jala-jala listrik yang berupa pipa besi berdiameter 8 inci, sekaligus penambat lampu PJU di jalur Kereng Bengkirai, yang menghubungkan Ibukota Kalimantan Tengah dengan Banjarmasin, Kalimantan Selatan, berdentang dipukul seseorang dengan irama yang menandakan kewaspadaan tinggi. Bersahut dari ujung Pelabuhan Kereng hingga mendekati jantung Ibukota Propinsi.
Saya terbangun, karena kaget yang teramat sangat Lanjutkan membaca Denting Tiang PJU dan Awan Merah di Tambun Bungai