Trust


KURSI TAMAN

Ya, dari tukang becak alias Cak No juga akhirnya Yasir mendapat pekerjaan di pasar Mergan sebagai tukang angkut dan merapikan bédak sekaligus gudang bawang Pak Atmaja. Cukup besar, bahkan terbesar di Pasar Mergan. Karena merupakan agen tangan pertama dari importir maupun dari tengkulak Bawang lokal yang berasal dari Temanggung sebagai penghasil bawang putih terbesar di Indonesia. Berton-ton kiriman yang harus siap Yasir rapikan setiap saat dan kadang pengiriman sebelum subuh. Karena perjalanan malam bagi expedisi lebih mudah dan longgar kondisi lalu lintasnya, juga menghindari beberapa jalan yang memberlakukan pelarangan kendaraan besar pada jam sibuk dan hanya boleh dilalui pada malam hari bagi kendaraan besar.

Dengan inisiasi Cak No juga, Yasir diijinkan kerja sambil kuliah oleh majikannya, Pak Atmaja, kompensasinya, Yasir harus bekerja di luar jam kuliah tanpa memperhitungkan waktu. Selama tidak kuliah, Yasir akan selalu berada di bédak Pak Atmaja, kecuali sudah tutup. Cukup menyita tenaga, tapi Yasir tetap menekuni pekerjaan tersebut. Bagi dia, Pak Atmaja sudah baik dengan mengijinkan Yasir bekerja sambil kuliah. Tidak pernah menaruh curiga sedikitpun, kepercayaan ini tidak boleh disia-siakan apalagi diselewengkan.

“Sir, iki ogesmu”, Cak No melambaikan tangan kanannya yang memegang kantong palstik berisi nasi bungkus. Ogesmu maksudnya segomu alias nasi. Sego dibalik oges, Yasir juga mulai terbiasa dengan logat atau dialek Malang. Cak No memang kerap membelikan atau memabawakan makanan dari rumah buat Yasir, awalanya Yasir penah menolak, tapi justeru Cak No marah, dan dari rekan-rekannya, yasir tahu, Cak No tidak suka basa-basi. Semenjak itu, Yasir selalu menerima pemberian Cak No. Bahkan seolah menjadi rutinitas. Cak No tahu, Yasir pasti tidak sempat sarapan, karena harus segera menuju kampus. Cak No memang memahami kondisi Yasir yang perantauan tanpa sanak family di kota Malang ini. Belas kasih Cak No dan keluarganya tidak akan Yasir lupakan sampai kapanpun.

Teori Maslow : Manusia berusaha memenuhi kebutuhan tingkat rendahnya terlebih dahulu sebelum memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi. Konsumen yang telah bisa memenuhi kebutuhan yang dasarnya maka kebutuhan yang lebih tinggi akan muncul dan seterusnya

Mungkin seperti Teori Maslow dari mata kuliah MODEL PERILAKU KONSUMEN apa yang dilakukan Yasir, setelah kebutuhan dasar terpenuhi, Yasir membutuhkan kebutuhan yang lebih tinggi, yaitu melanjutkan menuntut ilmu formal. Meski harus mengencangkan ikat pinggang makin ketat laias berhemat demi biaya kuliahnya.

“Suwun Cak”, Yasir meraih bungkusan nasi tersebut dan melanjutkan langkahnya menuju kampus yang tidak terlalu jauh, cukup jalan kaki sekira 20 menit menyisir Jalan Raya Langsep. Yasir baru 3 bulan menjadi mahasiswa di kampus ini, dia mengambil jurusan manajemen.

Sesampai kampus, Yasir segera menuju taman,taman ini sebenarnya tidak luas, malah bisa dibilang kecil tapi cukup nyaman bagi Yasir. Terdapat beberapa pohon besar dengan ranting menyebar dan daunnya memayungi hampir keseluruhan taman, tidak terlalu rapat tentu, jadi sinar matahari tetap mampu memberikan pencahayaan dan membantu proses fotosintesis tanaman kecil dan bunga yang tertanam rapi di taman tersebut. Berada di taman merupakan rutinitas yang sering dia lakukan, makan bekal dari Cak No sambil membaca buku pelajaran, botol tumbler murahan berisi air putih dari kos-kosan adalah bekal yang selalu Yasir bawa serta menemani kulihanya, tas punggung lama yang juga menemaninya dari Bandung dulu masih menjadi andalannya untuk menampung semua buku dan barang bawaan yang diperlukan di kampus. Buku yang dibacanya kali ini adalah PEMAHAMAN DAN KONSEP STUDI KONSUMEN, buku bekas yang dia dapat dari Pak Atmaja. Katanya bekas punya anaknya. Anak kedua Pak Atmaja memang dulu sekolah manajemen dan masih menyimpan buku-bukunya, meski agak lusuh, tapi masih cukup jelas untuk dibaca.

Pak Atmaja memiliki 4 anak. 3 laki-laki dan satu perempuan. Anak pertama bernama Sanjaya Karna Atmaja, berumur 32 tahun dan sekarang bekerja di kepolisian, Yasir tahu karena kadang Mas Sanjaya mampir ke Pasar Mergan masih mengenakan baju seragam. Anak kedua bernama Kiandra Sukma Atmaja, berumur 28 tahun, bekerja di perusahaan export-import di Jakarta. Anak ketiga bernama Rama Jaya Atmaja, berumur 24 tahun, masih kuliah S2 di Uniiversitas Brawijaya, Surabaya. Anak terakhir dan merupakan satu-satunya anak perempuan pak Atmaja bernama Melia Putri Atmaja, masih berumur 16 tahun, duduk di bangku SMA kelas 2. dari keempat anakanya, Meli, begitulah sapaan akrab bagi Melia, merupakan anak yang paling dimanja, bukan sekedar karena anak bungsu ataupun karena perempuan satu-satunya, tetapi karena Meli lahir prematur, bahkan saat itu, ibu Atmaja tidak menyangka bisa hamil lagi setelah 8 tahun dari anak ketiganya. Karena lahir prematur, fisik Meli sensitif dan lekas lelah jika melakukan kegiatan yang agak berat. Yasir memanggil semua Putera Pak Atmaja dengan sebutan mas, dan memanggil Meli dengan sebutan dek atau adek, karena 5 tahun lebih muda darinya. Sebenarnya agak jarang bertemu anak-anak Pak Atmaja selain Meli, paling sesekali dengan Sanjaya saat dia ke Pasar, atau jika Yasir disuruh ke rumah Pak Atmaja mengantar atau mengambil barang dan kebetulan anak-anaknya sedang mudik. Kalo Sanjaya sudah menikah dan memiliki anak berusia 7 tahun, namanya Dewanto. Katanya sudah berusaha untuk memiliki anak lagi tapi belum dikarunia anak kedua.

Kadang Meli ke pasar menemui Yasir minta diajari mengerjakan PR sekolah, itu juga atas anjuran Pak Atmaja, karena di rumah tidak ada yang paham pelajaran SMA apalagi kurikulum saat ini. Ibu Atmaja bahkan cuma lulusan SMP. Karena cukup sering berjumpa dan bersama, membuat Meli akrab bahkan kerap manja ke Yasir, merasa punya kakak laki-laki yang dekat. Maklum, kakaknya persis, Rama jarang pulang, karena indekost di Surabaya.

Pak Atmaja paling akrab dengan Sanjaya, anak tertua, terlihat saat mengambil keputusan yang dianggap cukup penting, Pak Atmaja selalu melibatkan dia sekedar minta masukan atau saran. Mungkin karena anak pertama jadi dianggap lebih bertanggung jawab dalam mengambil keputusan, tapi dari sekian kebijakan berdasar saran dari anak pertamanaya ini, Pak Atmaja mendapat keputusan yang tepat, termasuk langkah yang diambil dalam memajukan bisnisnya.

Sudah 15 menit Yasir di Taman kampus, nasi bungkus sudah tandas. Dia makan langsung menggunakan tangan, selesai dia menuju kran air di pinggir taman untuk cuci tangan. Kembali duduk sebentar membereskan sampah dan merapikan buku. Karena terlalu fokus pada makanan dan buku pelajaran, Yasir tidak menyadari ada seorang mahasiswi yang lewat dan berhenti tidak jauh darinya, memperhatikan sejenak sambil matanya mengerling buku bacaan Yasir. Sebenarnya bukan kali ini saja, sehari sebelumnya, perempuan tersebut tidak sengaja melihat Yasir yang makan nasi bungkus sendirian di Taman, terasa janggal, karena umumnya mahasiswa makan di kantin kampus. Dan satu hal menarik perempuan tersebut adalah, seolah pernah melihat atau bertemu Yasir, tapi entah kapan.

Setelah membereskan sampah dan bukunya, Yasir mengangkat tasnya dan berbalik. Sudah waktunya masuk kelas, batin Yasir jalan buru-buru, melewati belokan jalan taman yang terhalang pohon bougenvil.

“Aduh, maaf”, spontan Yasir terkejut karena menabrak orang yang ternyata menuju arah berlawanan, keluar dari belokan bougenvile tersebut. Si perempuan agak terhuyung, reflek Yasir menyambar tangan si perempuan menahan sehingga tidak sampai jatuh. Nampak wajah si gadis meremang merah, Yasir segera melepas pegangan tangannya.

“Iya, ga papa”. Jawab si gadis, mereka berpandangan sejenak, dan berlalu melanjutkan ke arah kampus masing-masing.

===============***==============

SEBUAH NAMA

Di kelas berbeda, Fany, mahasiswi yang mengambil jurusan Akutansi baru memasuki kelas. Mata kuliah PENGANTAR AKUNTANSI sedang dibawakan oleh dosen Hesti Prihatin. Tapi pikiran Fany tidak fokus pada slide yang ditampilkan melalui proyektor di ruang kelas tersebut, dia sedang mengingat-ingat laki-laki yang tadi menabarak dirinya di taman, bukan karena kesal, tapi karena dia merasa pernah berjumpa dengan pria tersebut.

“Akh, Dia”, pekiknya mengagetkan seisi kelas.

“Ada Apa?”, Hesti Prihatin menatap Fany membuat gadis itu salah tingkah.

Ehmm, maaf Bu”, Fanny menundukan kepala pura-pura membaca buka pengantar akuntansi. Beruntung Bu Dosen tidak bertanya lebih jauh, batinnya. Nanti pulang kuliah harus segera ke rumah Eyang, batin Fany bermonolog.

Gadis itu adalah Stefany Anggraeni Prawira. Setelah keluar dari parkir kampus dan mencapai jalan raya, dia melajukan motor sport 250cc yang menjadi tunggangannya dengan kecepatan cukup tinggi. Gaya dan tampilan Fany memang terkesan cuek dan tomboy. Tujuannya bukan ke Perumahan Greenland Sukun dimana rumahnya berada, tapi dia menyusuri Jalan langsep Raya ke arah Pasar Mergan, berbelok kanan menuju Jalan Bandulan Raya. Rambutnya yang lurus sebahu melambai keluar dari helm full face yang dia kenakan. Tujuan Fany adalah Sumberejo, rumah Eyang.

Setelah 15 menit, Fany sudah memarkirkan sepeda motornya di halaman rumah Eyang dan segera mengetuk pintu sambil mengucap salam sekaligus mendorong daun pintu tanpa menunggu jawaban dari tuan rumah. Sudah kebiasaan dan memang menjadi cucu kesayangan yang kerap diajak bepergian sama Eyangnya, membuat Fany manja dan kurang menerapkan adab tata krama yang berlaku pada umumnya di masyarakat. Eyang dan seisi rumah tersebut sudah paham dan maklum.

“Eyang, tas yang dari Jakarta dulu di mana? Yang kita pulang naik kereta dari rumah Om Ilham”. Celetuk Fany tatkala seorang perempuan tua keluar dari dapur sambil menjawab salamnya.

“Wah lali nduk, lapo?”, jawab eyang. “coba cari di kamar Eyang”. Eyang melanjutkan sambil mendekati.

Setelah menyambar tangan Eyang, dan mencium punggung tangan keriput itu sekedarnya, Fany langsung menghambur ke kamar dan mengedarkan pandangan mencari tas jinjing cokelat tua. Setelah beberapa saat akhirnya dia menemukan tas tersebut, dalam lemari baju paling atas bercampur dengan tas lain yang hanya digunakan sesekali. Diambil dan dibuka resleting tas cokelat tersebut dan menyibak isinya.

Eyang yang menyusul masuk kamar hanya memperhatikan tingkah cucu kesayangannya itu. “Golek opo si kon nduk?’, tanya orang tua itu karena penasaran.

“Nah, ketemu juga”, teriak Fany girang sambil mengangkat lembaran kertas dari dalam tas eyangnya itu. “Tiket kereta Eyang, yang dulu Eyang tukeran tempat duduk, ingat ga?”. Fany menatap Eyangnya berbinar. “Orangnya satu kampus sama Fany, tapi beda jurusan”.

Eyangnya masih bengong dan berpikir sejenak, “Oh iya iya, anak lelaki itu, yang tukeran tempat duduk. Eyang jadi ingat, lupa tidak ngucap makasih waktu itu, gara-gara kelamaan nunggu si Sudirja”, muka perempuan tua itu berkerut mengingat kejadian 9 bulan lalu, saat pulang dari rumah anaknya yang kedua, karena terlambat pesan tiket kereta sehingga mendapat tempat duduk yang terpisah gerbong dengan cucunya.

“Terus, mau buat apa tiket itu?”, tanya Eyang putri

“Pengin tahu namanya, dulu kan Eyang ga nanyain namanya, bahkan gak lihat tiketnya sekalipun, di tiket ini tertulis nama Yasir, nama yang unik”, Fany menjelaskan maksudnya. “Tapi kayanya si dia sudah lupa sama Fany, soalnya tadi pagi ketemu juga sikapnya biasa saja, tidak menyapa apapun”.

“Kamu naksir dia ya? Emang anaknya gagah apa? Eyang udah lupa tampangnya”. Tebak Eyang yang membuat wajah Fany meremang dan merah.

“Apaan si Eyang, Fany cuma penasaran namanya”, Jawab Fany mengelak.

“Kenapa tadi di kampus ga kamu ajak kenalan aja nduk? Biasnya kamu kan gak ada jaim-jaimnya, Eyang jadi curiga kalo kamu ada rasa sama dia”

“Belum sempet Eyang”. Fany menjawab sekenanya. “Ada makanan ga Eyang? Fany lapar”, Fany mengalihkan perhatian agar Eyangnya tidak makin curiga dan menyelidik lebih jauh. Akhirnya obrolan justeru berlanjut saat Fany mulai menyantap hidangan di meja makan hasil masak Mbok Inah, pembantu Eyang. Eyang hanya tinggal berdua dengan pembantunya itu, penampakan Eyang lebih mudah dari umurunya yang hampir menyentuh angka 70 tahun , dia kerap dikira masih usia 55 tahun oleh orang yang tidak mengenalnya. Setelah ank-anaknya mapan dan memiliki rumah masing-amasing, eyang tetap bertahan meski anak-anaknya ingin memboyong ke rumah mereka dengan maksud agar bisa menjaga ibunya.

“Siapa namnaya tadi nduk?”, tanya Eyang membuat Fany hampir tersedak, tidak menyangka eyang masih melanjutkan obrolan tentang lelaki yang bertukar temapat duduk di kereta dulu itu.

“Yasir Mbah”, Fanny menjawab singkat.

“Bilangin ke dia, Eyang minta maaf dan sampaikan makasih karena sudah membantu angkat barang dulu itu”. Eyang melanjutkan dengan nada dan roman muka bersungguh-sungguh.

“Iya nanti, kenal aja belum”, jawab fanny lagi.

Selesai makan, fany mohon pamit sama Eyangnya, meski ditahan agar menginap dan ingin menyetujui usul Eyangnya itu, tapi Fany harus pulang karena belum menyiapkan baju ganti dan juga buku pelajaran. Sepeda motor 250cc warna merah itupun kembali melesat dengan knalpot free flow yang memecah kelengangan Bandulan Raya.

===============***==============

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Novel dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Trust

  1. ndesoedisi berkata:

    Absen lik 😁

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s