Trust (2)


hope

Sudah satu pekan kepergian Meli untuk selamanya. Yasir kini tinggal di rumah Sanjaya. Hal ini karena Ana atau Meliana, anak Yasir dirawat oleh RIna, isteri Sanjaya. Ya, sudah lama Rina ingin punya anak lagi, tapi belum terkabul setelah anak pertamnya berumur 8 tahun. Apalagi bayi perempuan, sungguh diidamkan olehnya, maka dengan senang hati ia menerima usul suaminya Sanjaya. Bahkan Sanjaya menambahkan nama untuk Meliana, yaitu Meliana Putri Yasir Atmaja. Sanjaya bermaksud menekankan, bahwa Yasir memang anak Atmaja, meski sekedar anak mantu. Agar Yasir tetap bebesar hati, tetap percaya diri untuk meneruskan bisnis keluarga Atmaja. Tidak terus murung, meski hal itu belum berhasil sepenuhnya. Yasir hanya bisa tersenyum ceria saat menimang anakanya. Tapi saat sendiri, dia kembali bermuram durja. Rina berinisiatif, kalo malam, Ana ditaruh di kamar Yasir, jadi Yasir tidak pernah dibiarkan sendiri. Bahkan tiap pergi, jika bukan ke kios pasar, Sanjaya akan mengutus orang untuk memantau pergerakan Yasir. Bukan orang sembarangan, salah satu anggota polisi yang sedang bebas tugas, yang dipercayanya. Tujuannya mengantisipasi Yasir melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri. Hal ini karena Sanjaya tahu, Yasir masih terus menyalahkan dirinya atas kematian Meli, dia merasa gagal menjaga anak emas Atmaja. Bahkan tiap ketemu ibu Atmaja, Yasir akan langsung sesenggukan dan bersusjud minta ampun. Membuat ibu tua itu ikut menangis memeluk Yasir. Padahal sang ibu sudah mengikhlaskan kepergian anak gadisnya, tapi tiap melihat Yasir yang begitu terpukul, dia ikut hanyut dalam kesedihan.

“Ada salam dari Fany Mas. Dia berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya”, kata Yuda sepulang dari makam kala itu, dia menunggu waktu agar hanya berdua dengan Sanjaya. Dia tidak berani menyampaikan hal itu di depan Yasir. Saat itu Yasir sedang di kamar Rina, menemui Ana, anaknya, ditemani Vera dan tante Wati.

“Makasih Yud. Apa kamu sering bareng dia Yud?”, tanya Sanjaya.

“Sering Mas, sama-sama ambil S2 di UI, meski beda jurusan, tapi saya kerap menemuinya atau sekedar menelpon menanyakan kabar”, Yuda menjelaskan. “Dia juga bukan tidak bisa pulang saat tadi saya ajak, tapi dia masih belum sanggup ketemu Yasir, apalagi dalam kondisi berduka seperti saat ini”.

“Aku merasa bersalah padanya. Kamu tahu Yud, bukan Meli yang merebut Yasir dari Fany”, Sanjaya menghela nafas dalam, menghembuskannya pelan, matanya menerawang jauh ke arah awan gelap malam itu. “Akulah yang merebutnya. Aku yang merebut Yasir dari Fany untuk Meli”.

“Mas Sanjaya tidak salah, Mas Sanjaya menjalankan tugas seorang kakak, akupun akan melakukan hal sama jika di posisi Mas Sanjaya”, jawab Yuda membela.

“Iya Yud, aku melakukannya karena kawatir keduluan Fany, keduluan Pak Prawira yang saya tahu sama sekali tidak keberatan dengan kedekatan anaknya dengan Yasir, meski dia tahu Yasir hanya pegawai Bapak. Ditambah Meli kerap sakit jika melihat Yasir dekat dengan gadis lain. Sudah lama aku tahu itu baik langsung maupun dari ibu dan bapak, tapi aku menganggap Meli masih terlalu Muda, bahkan kedua kakaknya belum menikah. Bahkan Kiandra terpaksa mengundurkan rencana pernikahannya demi Meli. Dia sama sekali tidak keberatan, pun Rini tunangannya mengiyakan saat aku minta ijin menikahkan Meli lebih cepat. Kami semua menyayangi Meli. Dia bukan saja anak emas Atmaja, dia juga adik emas kami”. Sanjaya kembali menghela nafas berat. “Dan sekarang, aku melihat Yasir terluka terlalu dalam, dan ternyata aku menyayanginya seperti menyayangi Meli. Aku tidak mau kehilangan dia Yud. Andaikan ada obat yang mampu menyembuhkan lukanya, pasti akan kutebus berapapun harganya, apapun konsekuensinya”. Sanjaya menatap ragu ke arah Yuda. “Apakah menurutmu Fany bisa memaafkan Aku maupun Yasir yud?”.

“Dia sudah memaafkan semuanya Mas. Dia sudah ikhlas, dia tahu ini semua takdir yang tidak bisa dilawan maupun dibelokan”. Yuda memang tahu, karena dia sering ngobrol dengan Fany. Gadis itu nampak tabah menjalani hari-harinhya, meski masih ada duka yang menggantung, tapi Yuda yakin, Fany memaklumi dan memaafkan semuanya.

“Apakah masih ada kemungkinan, Fany bisa menyembuhkan luka Yasir Yud?”. Sanjaya kembali bertanya dengan sorot mata keraguan. Dia masih merasa bersalah karena sudah merebut Yasir dari Fany.

“Selalu ada Mas, dan saya akan melakukan apapun agar itu terwujud. Saya tidak akan memaksanya, tapi saya akan mengusahakan agar luka Yasir sembuh dan kembali sebagai pria yang tegas dan berwibawa seperti semula. Kita akan cari jalan keluar itu sama-sama Mas. Saya hutang nyawa dengan Yasir. Dia lebih dari sekedar saudara bagi saya”. Yuda meyakinkan Sanjaya.

“Terimakasih Yud”. Sanjaya menepuk punggung sahabat karib adik iparnya itu penuh hormat. “Oh iya Yud, bagaimana keartisanmu, apa kamu tidak kecapaian? Aku lihat karirmu makin moncer, tentu makin banyak waktu yang dibutuhkan untuk kedua aktifitasmu, kuliah, shooting film, iklan, pemotretan dan entah apalagi”. Sanjaya mengalihkan pembicaraan.

“Alhamdulillah semua bisa diatur. Sekarang justeru lebih mudah mengatur jadwal di dunia artis, karena saya sudah cukup punya nama, mereka yang ingin menendors maupun mengingikan peran saya, bisa menungu saya luang”. Yuda menjelaskan.

“Baguslah kalo kamu bisa mengatur jadwal, jangan sampai lupa istirahat ya, sekarang tidak ada Yasir yang mengawasimu loh, atau kamu sudah punya pengawas baru di Jakarta?”.

“Tidak ada Mas, tidak ada yang bisa menggantikan peran Yasir dalam hidup saya, tapi manajer saya yang sekarang lebih perhatian. Mungkin karena saya sudah mulai dapat nama di mata penggeemar, jadi dia juga tidak mau kehilangan peluang untuk mendapatkan lebih banyak job, dan itu harus selaras dengan kesehatanku”.

“Bagus itu Yud, semoga kamu tetap sehat dan semakin sukses. Jangan sampai abai dengan pendidikan Yud”.

“Tentu Mas, saya atur jadwal sebaik mungkin”.

Obrolan keduanya terhenti saat Vera dan Tante Wati keluar dari dalam rumah. Selanjutnya mereka pamit setelah Yuda masuk menemui Yasir yang sedang menemani Mba Rani menimang Ana. Dia pamit pada sahabat karib yang sedang berduka itu.

Sanjaya mengerjap, obrolannya dengan Yuda masih teringat jelas, aku harap kamu segera sembuh Sir, batinnya.

Sanjaya memang selalu memantau gerak-gerik Yasir, baik melalui Toto dan Feri di Kasin maupun melalui Muri di Mergan. Selain itu, dia selalu mengutus orang kepercayaannya untuk mengawasa

===============***==============

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Novel dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Trust (2)

  1. Ping balik: About Trust | Triyanto Banyumasan Blog's

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s