Trust


KETULUSAN

Siang itu Yasir sedang berjalan di koridor yang memisahkan gedung kampus, Ya, semester baru sudah masuk pekan kedua. Saat sedang berjalan dengan sesekali membaca catatan yang dia pegang, dilihatnya seorang gadis terseok dengan banyak barang bawaaan di tangannya. Menggedong tas, menenteng beberapa map dan2 kardus bertali ditenteng tangan satunya yang entah apa isinya. “Boleh saya bantu?”, sapa Yasir.

“Nggak usah, masih bisa kok”. Jawab gadis itu polos.

“Serius, saya hanya ingin membantu, kamu nampak sangat kerepotan”. Yasir masih menawarkan jasanya.

“”Baiklah, tolong bawakan dus ini”, kata gadis itu sambil menyodorkan kardus. “Bawain ke depan, Papi saya sudah menjemput”.

“Ayo”, Yasir meraih kardus dan mendului gadis itu, melangkah menuju parkir mobil yang memang berjarak sekira 100 meter. Mereka berjalan beriringan tanpa bicara. Bahkan Yasir masih saja menyambi bacaannya sesekali.

“Itu mobil papi”, Kata si Gadis di belakang Yasir sesampai di parkir mobil, dilihatnya mobil mewah yang sepertinya pernah dia jumpai. Tak lama berselang, keluar seorang lelaki setengah baya dengan mata agak sipit.

“Pak Waluyo”, Yasir menyapa lelaki itu, yang ternyata adalah orang yang pernah dia antar dari Sukun beberapa bulan silam, karena mobilnya mogok.

Lelaki itu diam sejenak, seolah sedang mengingat sesuatu, “Hai, Yasir kan”, katanya kemudian. “Kamu kuliah di sini?”.

“Iya Pak. Nyambi, biar pinter dan bisa sukses kaya Bapak”, Jawab Yasir sambil tertawa kecil.

“Kamu satu kampus dengan Vera?”, tanya Pak Waluyo kemudian.

Yasir menengok gadis yang ternyata bernama Vera, dia sedang memasukan barang ke bagasi mobil. “Oh iya, tapi beda jurusan. Saya manajemen Pak, kalo Vera kurang tahu malah”.

“Saya akuntansi, bareng sama Fany”, gadis itu menyahut cepat.

“Loh apa kalian tidak saling kenal?”, Pak Waluyo nampak bingung, dia pikir Yasir akrab sama ankanya karena membantu membawakan barang barusan.

“Enggak pi, tadi Yasir spontan membantu, karena kasihan sama Vera”, Vera menjelasakan ke bapaknya.

Berbarengan terdengar suara khas knalpot sepeda motor dua silinder mendekat, Yasir menengok dan mengenali siapa penunggang motor merah itu, meski dengan helm full face, jelas itu adalah Fany. Dia melambaikan tangan meminta Fany datang. Fany memarkirkan motornya di pinggir parkir mobil itu dan melangkah mendekat.

“Hai Fan”, Vera menyapa.

“Hai Ve, kamu nampak habis ikut UKM, banyak sekali bawaanya”.

“Iya, yang lain pada malas bawa alat praktek, terpaksa ngalah deh, biar cepet selesai dan mudah menjelasakan kegiatan yang mau dijalankan. Pi, ini Fany temen Vera, dia anaknya Pak Prawira, Papai pasti kenal kan?”.

“Tentu saja, nasi di semua Prawira resto saya yang menyuplai”, Kata lelaki itu sambil menyodorkan tangan ke Fany, mereka bersalaman. “Salam buat Papa Kamu ya nak, sehat sehat saja dia kan”.

“Alhamdulilah Pak, Papa sehat”.

“Oh iya pak Waluyo, apakah tawaran dari Bapak waktu itu masih berlaku?”, Yasir menyela.

“Tawaran yang mana Sir, aya agak lupa, maklum udah beruban ini kepala hahaha”.

“Tentang bantuan, kalo saya membutuhkan bisa menghubungi bapak, begitu”, Yasir menjelasakan singkat.

“Oh itu, tetu saja. Bantuan apa yang kamu butuhkan?”.

“Kalo bos saya setuju, saya berencana membuka kios beras di Kasin, disamping kios bawang. Kebetulan ada kios kosong yang bersebelahan persis dengan kios bawang di sana. Kios itu bisa disewa atau mungkin dibeli. Jadi mungkin nati saya akan menghubungi bapak untuk minta arahan dan juga suplai beras. Belum pasti memang”.

“Tentu saja, hubungi saja. Saya akan selalu siap membantu Sir”.

“Baik pak, terimakasih sebelumnya”.

“Baiklah, kalo gitu bapak pamit dulu, atau kamu mau bareng pulang?”.

“Oh enggak pak, saya ambil kelas sore, kan pagi saya di pasar jualan”.

“Oh gitu, luar biasa. Semangat Sir. Hubungi nanti kalo sudah ada titik terang dari bosmu ya”.

“Baik pak”.

“Fan, aku duluan ya. Sir makasih bantuannya”, Vera ikut pamit dan masuk mobil. Mobil mewah itupun berlalu meninggalkan Yasir dan Fany.

“Kamu kenal bapaknya Vera Sir?”, Fany menyelidik.

“Iya, tidak sengaja pernah mengantar dia dulu, karena mobilnya mogok”.

“Hebat, mendekati bapaknya dan bisa dapat bonus anaknya”, Fany berseloroh, tapi ada nada cemburu di sana.

“Apaan si Fay. Bahkan saya baru kenal Vera setelah ketemu Pak Waluyo. Dan baru tahu dia anaknya Pak Waluyo. Saya lebih ingin dekat dengan Pak Waluyo, karena seperti yang kamu dengar barusan, saya ingin mengembangkan bisnis Pak Atmaja, biar tidak berkutat pada satu barang, bawang, tapi juga komoditas lain, yaitu beras. Dan nampaknya Pak Waluyo bisa membantu”. Yasir menjelaskan maksud dan tujuannya, meredam tanda tanya pada Fany yang berprasangka.

“Hebat kamu Yes”.

“Hebat apaan, baru rencana. Bapak dan Mas Sanjaya masih menimbang ide saya, maklum bidang baru perlu pemikiran mendalam. Apalagi beras merupakan komoditas pokok yang sudah banyak pemain. Tapi bagi saya hal itu justeru membuka peluang yang lebar, akrena tiap hari manusia makan nasi, jadi pasti beras ada yang membutuhkan tiap saat”.

“Baiklah, cukup masuk akal, semoga rencana kamu berjalan lancar Yes, saya hanya bisa ikut mendukung. Saya pulang dulu, buruan sana ke kampus kelas sudah mau mulai”.

“Aamiin, makasih Fay. Ati-ati, ingat…”

“Jangan ngebut hehehe”, Fany menyambar cepat, selalu itu yang dipesankan Yasir tiap dia mau naik sepeda motor.

“Iya hehe, dan salam ya.”

“Buat siapa, buat papa?”

“Enggak, buat kamu aja salamku”. Yasir tersenyum

“Dih, iyadeh makasih. Tapi salam apa nih?”.

“Semua salam yang kamu mau, buatmu Fay. Tanpa terkecuali”, Yasir menjawab mantap.

“Bisa aja kamu Yes, dah ya. Aku balik”, Fany menepuk punggung Yasir dan berlalu menuju motornya.

Yasir bergegas menuju kampus, kelas Ekonomi Makro akan segera dimulai.

Sementara dalam mobil mewah, Pak Waluyo sedang menimbang obrolannya dengan Yasir, anak muda yang hanya dikenal sekilas itu, apakah benar dia serius dengan ucapannya, membuka kios beras, yang pasti sebuah agen, batinnya. “Apa kamu dan Yasir sudah kenal lama Ver?”, tanya kemudian pada anaknya.

“Enggak Pi, baru saja tadi kenal, Saya tahu dia tapi dia tidak tahu saya, sepertinya seperti itu”.

“Kamu tahu dia?”.

“Ya, Yuda kerap cerita tentang Yasir”.

“Yuda, temanmu yang artis itu? Dia juga kenal Yasir?”.

“Yuda bukan cuma kenal, bahkan sangat akrab. Selain berasal dari kabupaten yang sama, mereka juga satu kelas dan ada ikatan yang kuat antara keduanya, mungkin ada kisah masa lalu yang membuat keduanya sangat dekat. Kata Yuda, Yasir sekarang dipercaya majikannya memegang salah satu cabang kios agen bawang di Pasar kasin, bahkan cabang itu adalah ide dari Yasir”.

“Wow, bukan pemuda biasa berarti. Papi pikir tadinya cuma pekerja pasar biasa, tukang antar dagangan semacam ojek barang gitu, ternyata merupakan orang kepercayaan. Oh iya, siapa nama majikannya?”.

“Pak Atmaja, katanya dia sahabat dekat Pak Prawira”.

“Oh iya ya, Papi sepertinya pernah dengar nama itu dari Prawira. Apakah hal itu yang membuat Yasir juga akrab dengan Fany, mereka nampak sangat dekat malah”.

“Bukan, mereka akrab karena beberapa kejadian, salah satunya, Yasir menyelamatkan Fany dari pelecehan lelaki hidung belang, 4 orang dihajarnya di taman kampus. Begitu kata Yuda. Oh iya, apakah Papi serius akan membantunya?”.

“Akan papi pertimbangkan, sepertinya dia tidak main-main”.

“Yasir tidak pernah main-main Pi”.

“Sepertinya kamu sangat mengenal dia Ver”.

“Vera makin percaya Yasir setelah apa yang terjadi barusan, dia membantu Vera tanpa sedikitpun punya niat lain. Angkat barang, bawa dan jalan duluan, bahkan masih sambil membaca catatan mata kuliah di tangannya. Dan Vera yakin, dia tidak tahu bahwa Vera adalah anak Papi Waluyo. Jadi jelas, dia menolong tanpa pamrih. Dia hanya melakukan apa yang perlu, itu yang Vera lihat dan menguatkan cerita Yuda selama ini. Dia nampak tulus menolong, mungkin Yuda dan Fany juga melihat hal itu sehingga mereka bisa begitu dekat dengan orang yang awalnya hanya seorang kuli panggul di Pasar Mergan”.

“Baiklah, Papi akan membantunya”.

===============***==============

ARTI SAHABAT

Yasir baru keluar dari kampusnya. Dia sudah masuk semester 6 kelas reguler sore. Hari beranjak malam. Berjalan tergesa dengan roman muka yang menampakan kekhawatiran, sepanjang pelajaran tadi dia sudah gelisah. Ini adalah hari kedua Yuda tidak masuk kuliah, Yasir sudah berulang kali menghubungi ponselnya, tapi selalu tidak aktif. Tadi siang manajer artis itu menelpon Yasir, mungkin Yuda memberika nomornya jika sewaktu-waktu dibutuhkan, Sang Manajer bilang Yuda sudah 2 hari tidak datang ke tempat shooting dan ponselnya tidak bisa dihubungi.

Yasir bergegas menuju parkir sepeda motor, kontrakakn Yuda menjadi tujuan. Tidak perlu lama, karena Yasir sudah beberapa kali bertandang ke kontrakan yang masuk kategori mewah itu. Tidak jauh dari kosan yasir, sebrang selatan Pasar Mergan hanya beda gang, lebih lebar yang memungkinkan mobil saling bersisihan.

Honda Jass merah nampak di parkiran kontrakan, yasir segera menuju pintu kontrakan setelah memarkir sepeda motornya. Diketuknya dan dipanggil nama Yuda, berulang kali tidak ada jawaban. Yasir mengerling ke arah pot bunga yang tergantung di tulang atap teras, dirogohnya pot itu dan ditemukan sebuah kunci. Yuda memang selalu menaruh cadangan kunci di sana, agar sewaktu-waktu yasir datang tidak perlu repot apabila Yuda sedang tidak ada atau ada hal lain.

Dimasukan anak kunci ke lobang kunci di pintu kontrakan itu, diputar dan terbuka. Ruang tamu nampak berantakan, Yasir bergegas menuju kamar dan dia jumpai Yuda yang tergeletak di atas kasur dengan keringat di sekujur tubuhnya. Nampak lemah, terkulai dan diam.

Dipegangnya nadi tangan Yuda, detak pelan dirasakan. Yasir segera mengangkat tubuh sahabatnya setelah meraih kunci dengan gantungan berlogo H besar, digendongnya tubuh lunglai itu beserta selimutnya dalam dekapan menuju mobil, dibaringkan di kursi penumpang, dan diselimuti. yasir kembali ke kontrakan, mencari ponsel Yuda, setelah ketemu di kantongi ponsel beserta chrgernya, mengunci pintu dan menaruh kunci di pot yang tergantung seperti semula. Bergegas menuju mobil dan menghidupkan mesin.

Yasir sudah cukup mahir menyopir setelah beberapa kali belajar dengan pak Hasan. Dijalankan mobil dengan agak tergesa keluar dari gang, sesampai jalan besar, Yasir manambah kecepatan laju mobil agar segera sampai rumah sakit terdekat. Selang 15 menit, Yasir sudah keluar dari mobil di loby ruang UGD Rumah Sakit Doctor Supraun. Meminta bantuan perawat jaga agar segera membawa brangkar dorong untuk membawa Yuda.

5 menit kemudian Yuda sudah mendapat penanganan, infus sudah tergantung dengan selang menempel di tangan kirinya. Yasir minta ijin mengecharge ponsel Yuda pada perawat jaga. Pantas tidak bisa dihubungi ternyata lowbatt, batinnya.

“Anda saudaranya?”, seorang perawat wanita bertanya sekembalinya yasir dari parkir mobil, memindahkan mobil Yuda dari lobi UGD ke parkiran keluarga pasien.

“Iya. Bagaimana kondisinya sus?”, jawab Yuda

“Dia harus menjalani rawat inap, silahkan Mas tentukan ruangan, mau pakai BPJS atau umum? Dan mau ruang yang kelas apa?”.

“Umum Sus, pakai ruang Yang paling bagus, yang buat sendiri, jangan gabung dengan pasien lain”.

“Baik, silahkan ke administrasi dulu, saudara Yuda akan kami pindahkan ke Anggrek 1”.

“Baik”, yasir bergegas menuju administrasi, beruntung dompet Yuda ada di saku belakang artis malang itu, sehingga tidak perlu repot mencari KTP yang dibutuhkan guna administrasi.

Setelah selesai menyelesaikan administrasi, Yasir kembali ke UGD, ternyata Yuda sudah dipindahkan ke ruang inap, dia ambil ponsel yang muali mengisi dan menyusul menuju kamar inap, Anggrek 1.

“Gimana kondisinya Dok?”, tanya Yasir sesampai kamar inap yang nampak mewah dengan AC split menyejukan ruangan, kulkas berukuran sedang, tv flat 32inc menempel dinding, lemari baju, dispenser air panas – dingin dengan papaer cup tertumpuk di atasnya dan kamar mandi di pojok. Dokter jaga sedang mengecek kondisi Yuda.

“Saudara Yuda terkena mag yang cukup parah, mag kronis tipe A, kemungkinan dia kerap telat makan, kurang konsumsia air putih dan kondisi kekabalan badan menurun, dan saat mag itu menyerang mengakibatkan sakit kepala yang hebat dan demam tinggi sehingga dia pingsan, tapi beruntung masih tertolong. Tunggulah, dia akan baik-baik saja, asupan bergisi dan obat yang dibutuhkan sebagai pertolongan pertama sudah dimasukan lewat infus”. Dokter menjelaskan. “Sabarlah, kami permisi dulu, jika ada yang dibutuhkan, pencet tombol bel saja, petugas kami akan segera datang”, lanjut sang doktor sebelum berlalu diikuti 2 perawat wanita. Mereka tersenyum hormat. Tentu saja, pasien VVIP pasti dapat pelayanan prima.

Yasir menghidupkan ponsel Yuda, dicarinya nomor kontak keluarga Yuda, tapi dia tidak menemukan identitas yang mengarah pada keluarganya di Malang, Ada nama papi dan mami, tapi itu pasti orang tuanya di Purwokerto sana, kasihan kalo dikabarkan kondisi Yuda, bisa panik dan merepotkan, karena jarak yang harus ditempuh kalo mereka hendak datang. akhirnya ia menemukan nama Vera, mungkin Vera anak pak Waluyo, Bis Beras Matahari, Yasir tahu, Yuda dan Vera cukup akrab, bahkan disiukan pacaran di kampus, keduanya memang serasi, sama-sama cakep dengan ciri khas darah tionghoa.

Halo Yud, apa kabar?“, Suara perempuan terdengar dari seberang sana.

“Hai Vera, maaf, ini Yasir. Yuda sekarang lagi di rumah sakit Supraun”.

Oh, Yuda sakit kenapa Sir?” Nada khawatir jelas terdengaar dari suara vera.

“Dia tidak sadar karena terserang mag, tapi sekarang sudah mendapat perawatan dan mulai membaik”.

Aku akan ke sana, di ruang apa dia di rawat Sir?“.

“Anggrek 1. Tidak usah, sudah malam Ve, besok pagi aja kalo kamu mau menjenguk, mampir sebelum ke kampus. Oh iya Ve, apa kamu kenal keluarga Yuda di Malang? Di phonebooknya tidak saya temukan identitas saudaranya, cuma nama-nama aja”

Dia pernah bilang nama Tante Wati. Coba cari nama itu“.

“Bai Ve, makasih ya. Maaf mengganggu”.

Sama-sama Sir, sama sekali tidak mengganggu kok“.

“Baiklah, sudah dulu ya, saya mau coba hubungi keluarga Yuda. Salam buat Papi kamu”.

Baik Sir, nanti aku sampaikan“.

Yasir mematikan komunikasi dengan Vera, dia membuka phoonbook ponsel Yuda, dicarinya nama Wati. Ketemu. Saat dia akan memencet call tanda panggilan, diurungkan. Sudah terlalu malam, batin Yasir. Jam dinding di ruangan itu menunjuk angka 11.30. Besok saja, Yasir kembali bermonolog.

Tidak lama berselang, perawat jaga masuk ruangan, dia minta ijin mengecek kondisi Yuda, mengganti botol infus yang sudah menipis dan menyuntikan cairan ke ujung selang infus yang bisa dibuka tutup guna memasukan obat cair.

Sepeninggal suster, Yasir menuju kamar mandi. masuk kamar mandi, nampak perlengkapan tersedia lengkap, handuk ada dua. Yasir mandi karena badannya terasa lengket.

Selepas mandi, Yasir mengirim SMS ke Feri dan Toto, mengabarkan besok pagi dia tidak bisa datang ke Pasar Pagi, dia ceritakan sekilas kondisi saat ini di rumah sakit.

Ya sekarang Toto tidak lagi membantu di Mergan, tapi membantu Yasir di Kasin, karena kios beras sudah buka hampir setahun. Ide Yasir akhirnya disetujui Pak Atmaja dan Mas Sanjaya, tentu atas inisiasi Pak Prawira dan Pak Waluyo. Pak Prawira mengabarkan ke sahabatnya itu, bahwa dia kenal baik pak Waluyo yang akan menyokong bisnis beras Yasir.

Oleh karenanya, Muri merelakan Toto pindah ke Kasin memabntu Yasir di kios bawang dan Feri menunggu di kios Beras, Keduanya sudah cakap dalam melayani pelanggan. Selain mereka ada beberapa orang baru yang direkrut guna mengangkut barang ke pelanggan termasuk mengantar ke tujuan jika pelanggan hanya order via telepon, ada Sandi dan Windu yang masih sauadara Cak No. Bahkan Feri sekarang sekolah kejar paket C di siang hari, dalam sepekan ada 3 kali tatap muka, Yasir yang meminta Feri sekolah lagi, selain untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik dengan bersekolah diharapkan bisa bermasyarakat, memiliki teman yang tidak hanya dari orang pasar dan pelanggan, tapi teman yang setara dan mempunyai dunia yang berbeda.

Yasir membaringkan badan di matras tebal yang diperuntukan bagi keluarga pasien yang menunggu. Dia setel alarm ponsel untuk 2 jam kedepan. Penat tubuh membuat dia lekas tertidur.

2 jam berikutnya Yasir terbangun karena suara alarm yang cukup nyaring. Dia sengaja meletakan ponsel dekat kepalanya, agar mudah terbangun jika ponsel berdering. Meski kantuk masih menyerang, dia memaksakan bangun, dia tengok Yuda yang terbaring dengan tenang, anak itu tidak lagi pingsan, tapi tertidur, wajahnya sudah memerah tidak pucat seperti sebelum dapat perawatan.

Tiba-tiba Yuda menggerakan badan, memicingkan matanya perlahan. “Yas, ini dimana?”. Tanyanya saat melihat Yasir duduk di pinggir pembaringannya.

“Di rumah sakit. Kamu pingsan di kontrakan. Kamu terlalu sibuk shooting dan lupa makan pasti. Magmu kambuh”.

“Iya, Saya cuma ingat sakit kepala yang sangat parah, sampai aku benturkan kepala ke dinding dan terus tidak ingat apa-apa, Makasih Yas, kalo kamu nggak segera datang, mungkin aku sudah mati di kontrakan”.

“Yudah, sekarang istirahat lagi aja, biar cepet sembuh”.

“Saya mau kencing dulu”.

“Kencing di pispot aja, itu udah disiapin”.

“Nggak mau, aku bisa jalan ke kamar mandi kok”.

“Yaudah ayo, saya anterin”.

“Janganlah, malu”.

“Malu apaan si, nanti kamu pingsan di dalam kamar mandi malah berabe, ayok”. Yasir memabntu Yuda bangun, memapahnya dan menyeret standar infus beroda menuju kamar mandi.

“Udah Yas, saya kuat berdiri kok”. Yuda melepaskan kaitan tangan Yasir dan terhuyung, beruntung Yasir tanggap dan menangkap tubuh sahabatnya sehingga tidak sampai ambruk ke lantai kamar mandi.

“Sok kuat kamu, udah ayok kencing saya pegangin. Tenang saya masih normal Yud”. Yasir menahan pundak Yuda dari belakang, saat Yuda mulai kencing dengan tangan berpedangan pada dinding kamar. “Udah? Ayo tidur lagi”.

“Aku mau nelpon Tante Wati, memberi kabar”.

“Entar pagi aja, ini baru jam 3 pagi, keluargamu sedang nyenyal tidur. Kasihan”.

“Tapi kamu kan nanti harus ke pasar Yas”.

“Enggak, sudah saya kasih mandat ke Feri dan Toto untuk menghandle pasar, tenang aja. Sudah istirahat ayok, biar lekas pulih”.

“Makasih banyak Yas”. Alhirnya Yuda mengalah, kembali membaringkan badan di brangkar, dan tidak lama terdengar dengkur halusnya pertanda lelap.

Tak lama berselang, perawat jaga masuk kamar, memeriksa nadi Yuda dan mengganti botol infus yang mulai kempes karena cairang di dalamnya sudah hampir habis. Menyuntikan cairna lewat saluran yang tersedia. Sepeninggal Perawat, Yasir duduk di matras, melihat 2 pesan masuk di ponselnya, dari Toto dan Feri, mengabarkan bahwa keduanya sudah di pasar.

Kumadang Azan Subuh terdengar, yasir bangkit keluar kamar, menuju perawat jaga dan menitipkan Yuda, dia ijin mau ke masjid rumah sakit untuk shalat. Selepas shalat dia mencari makanan buat sarapan. Banyak pedagang di sisi luar rumah sakit. Dia menuju warung nasi, tak perlu waktu lama, sebungkus nasi beserta lauk sudah di tangannya, dia juga membeli teh celup scachet dan gula pasir di kios kecil dan kembali ke kamar. Dia kawatir kalo meninggalkan Yuda terlalu lama, makan di kamar saja, batinnya.

Saat memasuki kamar yasir terkejut, nampak Vera tengah duduk di sisi pembaringan Yuda dengan muka yang memancarkan kekhawatiran. Sorot matanya tidak lepas dari memandang wajah Yuda. “Ve, pagi sekali kamu datang, sama siapa?”.

“Hai Sir. Diantar sopir papi. Gimana kondisi Yuda kata dokter?”

“Dokter besuk belum datang lagi, tapi Yuda sudah mulai membaik. Tadi dia sudah bangun, bisa ke kamar mandi meski masih harus dibimbing”.

“Syukur kalo gitu, untung dia punya sahabat kaya kamu Sir, yang perhatian. Dia memang agak keras kepala, merasa mampu hidup sendiri, padahal udah sering aku ingetin soal makan dan istirahat karena memang beberapa kali dia mengeluh sakit mag”. Vera bicara sambil terus memandang ke arah Yuda. “Oh iya aku bawakan roti panggang, ayo dimakan mumpung masih anget Sir”. lanjut Vera sambil mengeluarkan bungkusan dari dalam goodie bag yang ia tenteng dari tadi.

“Saya juga baru beli sarapan Ve. Ini, di luar tadi, habis Subuh. Ayo makan saja, kamu juga belum sarapan kan? Sebentar saya buatkan teh dulu”. Yasir menuju dispeser, 2 paper cup disinya air panas dan mengisinya dengan teh celup. “Pakai gula atau tidak Ve?”, tanya Yasir setelah memasukan setengah sendok gula pasir ke salah satu paper cup.

“Tidak usah Sir, tawar aja”, Vera menjawab cepat.

Keduanya duduk di matras, Yasir sudah membuka hidangan nasi bungkus dan Vera membuka roti bakar bekal dari rumah, teh mengepul menebarkan aromanya. Yasir mencecap sedikit teh guna membasahi tenggorokannya, “Kamu mau makan nasi Ve? Maaf saya cuma beli sebungkus, tidak tahu kalo kamu bakal datang pagi sekali”

“Nanti kamu tidak kenyang Sir kalo aku ikut makan”.

“Ini sarapan Ve, gak perlu kenyang”. Yasir membagi nasi dan lauk itu menjadi dua bagian, menggesernya agar sedikit terpisah.

“Baiklah, tapi nanti kamu habiskan roti bakarnya ya”. Vera tidak lagi menolak, dia tahu yasir tidak pernah basa-basi.

“Baik Ve”.

Dan keduanya mulai menyantap nasi, sebungkus berdua. Tak perlu waktu lama nasipun kandas berpindah mengisi ruang kosong di lambung keduanya. Vera kadang mencuri pandang ke arah Yasir, pantas Fany merasa terlihat begitu nyaman dekat dengan Yasir, begitu perhatian dan tulus, tanpa pandang bulu, batin Vera bermonolog. Sesekali keduanya bertemu pandang, Vera bisa melihat keteduhan terpancar dari sorot mata dengan manik hitam itu, jika sekilas mungkin hanya bisa melihat ketegasan dari wajah yang mencerminkan pribadi penuh tempaan hidup, penuh perjuangan meraih asa. Seorang petarung kehidupan yang nyata.

“Ini rotinya Sir”, Vera mengangsurkan roti bakar yang masih di dalam tropikal tup.

Yasir menerimanya, membuka tup dan memotong setengah dari roti bakar yang ternyata berisi dua tangkup. Menikmatinya meski dia sudah cukup kenyang dengan setengah nasi bungkus dan teh manis hangat, tapi dia tidak mau mengecewakan Vera. “Buat Yuda, siapa tahu bentar lagi dia bangun”, kata Yasir menutup wadah roti dan memandang ke Vera. Vera mengangguk tanda setuju.

Lima menit kemudian terdengar ketukan pintu disusul dokter masuk diringi perawat jaga, tersenyum dan menyapa, menyebut nama Yuda, memegang pergelangan Yuda, menempelkan stetoskop ke dada dan sekitar perut Yuda. Hal itu membuat Yuda terbangun.

“Selamat pagi Mas Yuda, bagaimana istirahatnya?”, dokter menyapa dengan ramah.

“Baik dok. Apa saya sudah boleh pulang dok?”, Yuda menjawab sambil mengucek mata dan memandang sekeliling. “Hai Ver, kapan datang?”.

“Hari ini Mas Yuda masih perlu perawatan dokter, jadi masih harus menginap, biar lekas pulih. Tidak lama lagi juga pulang, jangan buru-buru, demi kesembuhan Mas Yuda sendiri”. Dokter memberi penjelasan sambil melihat rekam diagnosa kesehatan Yuda yang disodorkan perawat. “Kita ambil darahnya lagi ya, buat cek di lab”.

“Silahkan Dok”, Yuda menjawab dan mengangsurkan pergelangan tangannya. Perawat bertindak sigap, membebat lengan atas dan menusukan jarum suntik ke nadi, menyedot darah ke dalam tabung suntik sampai penuh dan berganti tabung suntik kedua. Selesai, dokter dan perawat pamit. “Apa Yasir mengabariku Ver?”, Yuda kembali memandang ke arah Vera, penasaran kenapa sepagi itu Vera sudah ada di kamar inapnya.

“Semalam saya mau nelpon keluarga kamu yang di Malang Yud, tapi di phoonbook ponselmu tidak ada nama keluarga yang dicantumin kecuali papi mami di Purwokerto. jadi saya coba tanya Vera, barangkali tahu”. Yasir yang menjawab. “Oh iya, ini Vera bawain roti panggang, kunyah yang halus sebelum ditelan ya, biar lambungmu tidak kaget”, Yasir membuka tup berisi roti panggang, diambilnya satu tangkup yang utuh dan menyodorkan ke Yuda.

“Makasih banyak Ver”, Yuda menerima roti bakar dan mulai mengunyah. Yasir menuju dispenser, membuat satu cup teh dengan sedikit gula buat Yuda. Tidak lama berselang, masuk layanan kamar mengantar sarapan pagi berupa bubur halus, telor ceplok, puding dan buah semangka.

Yasir duduk di sisi pembaringan Yuda, membantu pemuda itu bangun dan duduk. “Kamu harus makan dan habiskan Yud, biar lekas pulih, Dan ingat, lambungmu untuk beberapa pekan ke depan hanya boleh diberi asupan makanan yang lembut. Suka tidak suka, harus!”, yasir memberi nasehat dengan penuh penekanan.

“Enggih Mbah hehehe”. Yuda menjawab dengan candaan, dia mulai menyuap bubur sumsum, memaksakan masuk meski terasa pait di tenggorokan. “Tolong henponku Sir, mau nelon tante Wati”. Selesi makan, Yuda menelpon keluarganya itu, mengabarkan kondisinya. Dan nanti mereka akan segera datang. Selanjutnya dia menelpon manajer keartisannya, mengabarkan hal sama dan minta diundur semua jadwalnya hingga 2 pekan mendatang. “Ver, kamu kuliah hari ini?”, tanya Yuda menatap Vera yang dari tadi memperhatikan saat pemuda itu sedang menelpon.

“Kuliah. Atau saya perlu bolos buat njagain kamu di sini Yud?”.

“Tidak perlu Ver, sebentar lagi Tante Wati datang kok”.

“Tapi kamu harus lekas pulih ya, patuhi nasehat dokter”.

“Tentu, siapa juga yang mau tidur di ruangan bau obat ini lama-lama. Oh iya nanti berangkat bareng Yasir aja, sekalian dia ke pasar. Bisa kan Yas?”

“Saya kan pakai mobilmu semalam Yud, ga enak kalo saya bawa-bawa ke pasar. Lagian saya perlu mengambil motorku di kosanmu”. Yasir menolak halus.

“Enggak apa-apa, pakai aja. Motor kamu tinggal suruh Cak No buat antar ke kosanmu. Lagian mobilku juga nanti nganggur, karena sudah ada mobil tante Wati”.

“Baiklah kalo gitu. Mudah-mudahan tidak ada yang menyangka saya artis hehehe”. Yasir berseloroh. “Oh iya Ve, kamu tidak keberatan kalo saya antar ke kampus?”, Yasir mengalihkan pandang ke gadis cantik berwajah oriental itu.

“Nggak papa Sir, justeru aku takut ngerepotin kamu”. Vera menjawab diplomatis.

“Sama sekali tidak Ve, lagian ini amanah dari anak muda yng sedang sakit, nanti dia tambah sakit kalo mikirin kamu naik ojek ke kampus hehehe”.

“Bisa aja kamu Yas”. Yuda menyahut cepat. Yuda dan Vera memang dekat, bahkan di kampus keduanya diisukan pacaran, padahal kedekatan keduanya juga karena dijodoh-jodohkan oleh rekan-rekannya, dianggap serasi, tapi sampai saat ini, keduanya tidak memiliki janji maupun komitmen yang terucap, sekedar sering jalan bareng dan akrab saja. “Kalo kamu menolak mengantar Vera, saya tinggal bilang Om Waluyo, biar investasinya dicabut di Kasin hahahah”, Yuda balas menggoda Yasir.

“Wah udah main ancam nih, baiklah-baiklah, akan saya turuti kemauanmu anak muda”, Yasir menjawab dengan aksen tua, membuat ketiganya terbahak dan menghangatkan suasan pagi di ruang rawat mewah yang berbau obat itu.

Tak lama berselang, Tante Wati dan suaminya datang. Setalah berbasa-basi, menceritakan kronologi Yuda yang tiba-tiba masuk rumaha sakit, Yasir dan Vera pamit. Tante Wati mengucapkan banyak terimakasih dan berniat mengganti uang Yasir yang sudah terpakai untuk perawatan Yuda, tapi Yasir menolak. “Suatu saat bisa jadi Yuda yang akan membalas langsung ke saya Tan, kami selalu bareng kok, tidak perlu merasa sungkan sedikitpun, saya dan Yuda sudah biasa berbagi”. Ucapan Yasir tak terbantahkan, Tante Wati pun tidak mau memaksa karena mendengar ketulusan dari ucapan Yasir. “Saya dan Vera pamit dulu Tan, dia mau kuliah dan saya mau ke pasar”.

“Baik Sir, hati-hati di jalan. Nanti kapan-kapan main ke rumah tante ya, biar tahu dan kalo ada apa-apa dengan Yuda, atau kamu butuh bantuan, jangan sungkan langsung hubungi Tante atau Om”, Tante Vera masih merasa berhutang pada Yasir.

“Baik Tan. Yud tinggal dulu ya, ingat jaga lambungmu. Nanti malam saya kesini lagi”. Yasir

“Vera ke kampus dulu Tan, Om. Yud, lekas sembuh ya”. Vera mengiringi keperdian Yasir.

“Kok Vera sudah ada di sini Yud?”, Tante Wati menyeledik selepas pintu kamar tertutup.

“Yasir yang menelpon, maksudnya mau nanya nomor tante, mau mengabarkan kondisiku semalam. Tapi tidak jadi nelepon karena sudah terlalu malam katanya”. Yuda menejelaskan.

“Kamu harus lebih menyayangi Yasir daripada Vera Yud”. Kalimat tante ambigu.

“Maksud tante?”, Yuda bingung.

“Andaikan Yasir suka sama Vera, kamu harus ikhlaskan”.

“Hahaha tante bisa aja, Yasir sudah punya tambatan hati, namanya Fany, anaknya Pak Prawira, pemilik Prawira group. Keduanya nampak saling menyinta, meski belum ada ikatan apapun. Tapi kalo memang Yasir akhirnya memilih Vera, Yuda akan mendukungnya Tan. Apalagi Yasir juga dekat dengan papinya Vera”. Yuda menjelaskan panjang lebar siapa Yasir, bagaimana dia merintis bisnis meski bukan atas nama pribadi, sampai dukungan Pak Waluyo pada kios berasnya di Kasin.

“Luar biasa. Pekerja keras dan pantang menyerah. Setia kawan pula”. Tante Wati bergumam memuji Yasir.

“Tapi Yuda merasa Yasir dipersiapkan untuk meneruskan bisnis Pak Atmaja”.

“Kenapa bisa begitu, kan dia cuma pegawainya dan pak Atmaja juag punya anak kan?”.

“Punya, tapi belum ada yang cakap menggantikan Pak Atmaja. Dan selama ini, Yasir begitu dipercaya oleh keluarga majikannya itu. Yasir juga sangat dekat dengan Meli, anak gadis Pak Atmaja. Anak paling bungsu. Keluarga itu seolah membiarkan keakraban diantara keduanya. Dan tante tahu, Kedua kios yang dipegang Yasir, kalo digabung, omsetnya sehari bisa puluhan juta bahkan mungkin menyentuh angka ratusan juta saat ramai. Pegawai biasa tidak mungkin dibiarkan mengelola keuangan sigitu besarnya”.

“Oh jadi kamu menduga Yasir akan dijadikan mantu sama pak Atmaja?”.

“Iya”.

“Masuk akal”.

Mereka masih asik dengan obrolan yang bermuara pada Yasir, Yuda seolah lupa dengan sakitnya karena memikirkan Yasir. Dia merasa hutang nyawa pada sahabat karibnya itu.

Sementara Yasir yang mengantar Vera baru sampai parkiran kampus. Sepanjang perjalanan tadi keduanya hanya sedikit bicara basa-basi, maklum baru penah berdua dalam satu mobil.

“Ve, nanti kamu pulang dijemput supir atau papi?”, Yasir menyelidik.

“Mungkin supir, papi jarang pulang siang”.

“Apa perlu saya jemput?”, Yasir menawarkan, tak lebih karena merasa punya utang budi pada Pak Waluyo.

“Enggak perlu Sir, kan kamu nanti juga harus kuliah, bisa terlambat”.

“Baiklah, saya pamit dulu ya. Makasih sudah datang ke rumah sakit”.

“Sama-sama Sir. Ati-ati”.

Saat hendak menutup pintu mobil dan menyalakan mesin, yasir melihat Meli di kejauhan yang memandang ke arahnya. Meli memang sudah lulus SMA dan masuk kuliah semester satu. Yasir segera keluar lagi dari mobil dan memanggil anak gadis majikannya itu. Tapi Meli justeru membuang muka dan berjalan menjauh menuju kampusnya. Yasir mengambil ponsel dan menekan nomor Meli, tidak dijawab, diulang beberapa kali tetap tidak dijawab, bahkan kemudian tidak aktif. Yasir kembali masuk mobil, menarik nafas dalam menghembuskannya perlahan. “Anak itu apa akan bertingkah konyol lagi”, batin Yasir bermonolog.

“Tadi itu Meli anak Pak Atmaja kan Sir?”, Vera melongok dari pintu mobil. Ternyata dia masih disitu dan menyaksikan kejadian barusan.

“Iya”.

“Sepertinya dia marah. Hah…. apa mungkin”. Vera seolah bicara pada dirinya sendiri.

“Ve, saya jalan dulu ya. Salam buat papi”. Yasir menjalankan mobil

Semoga Meli tidak tantrum lagi, batin Yasir, Dia mulai memahami tingkah aneh Meli tiap melihat yasir dekat dengan perempuan. Yasir menuju kontrakan Yuda. Mobil Yuda lebih baik ditaruh di kontrakan sekalian ambil motornya dan kembali ke kosan untuk berganti baju, baru ke pasar.

===============***==============

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Novel dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Trust

  1. ndesoedisi berkata:

    Absen lik 😁

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s