Trust (2)


Prolog

“Boleh saya minta tolong?”.

“Tentu saja, kamu bukan hanya sahabatku, kamu lebih dari sekedar saudara”.

“Tolong jaga dia. Jaga jangan sampai dia putus asa karena saya”.

“Aku akan menjaganya dengan segenap jiwa raga. Kamu tidak perlu khawatir”.

“Saya tetap kawatir, dia wanita pertama yang membuat warna dalam hidup saya dan saya juga pria pertama yang diterima hatinya, tapi saya terpaksa menghapus warna itu. Ini jalan yang harus saya ambil. Kamu paham bukan?”

“Sangat paham dan sangat mengerti. Itu adalah jalan terbaik, meski sangat sulit tapi itu adalah keputusan yang tepat menurutku. Memang aku tidak tahu persis pada posisi kamu, tapi aku bisa merasakan betapa berat keputusan itu dan kamu sudah bijak dengan menentukan pilihan. Aku juga tidak sanggup memberi nasehat, karena biasanya kamulah yang menasehatiku. Tapi percayalah, itu takdir Tuhan dan jalan yang memang harus ditempuh”.

“Terimakasih sahabatku. Saya tidak tahu harus mengadu sama siapa jika tidak ada kamu di sini. Hanya kamu yang paham keadaanku”.

“Sudahlah, bulatkan tekad, kamu selalu yakin dengan jalan hidup yang kamu ambil. Kamu selalu yakin ada campur tangan Tuhan di tiap hembusan nafas makhluk-Nya, apalagi dengan hal sehebat ini. Teguhkan hati. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga dan melindunginya. Dan kulakukan itu semua untukmu. Bahkan kalo memang dia jodohmu suatu saat nanti, maka aku akan menjaganya sampai takdir itu berlaku di antara kalian”.

===============***==============

===============***==============

hati yang teguh menggenggam ikhlas, mendekap keyakinan dan kepercayaan diri kan mengiring langkah dan keputusan yang diambil.

===============***==============

===============***==============

fragile hearth

Seorang gadis berperawakan sedang dengan rambut panjang hitam tergerai sebahu melangkah menyusuri koridor kampus Universitas Indonesia. Celana jeans belel dipadu kaos oblong putih berbalut jaket almamater kuning dengan goodie bag di tangan, terlihat gontai melangkah melewati mahasiswa yang berkerumun dibeberapa sudut koridor itu. Dari perawakan dan dandanan serta gayanya melangkah, gadis itu terlihat tomboy. Dia terus melangkah hingga sampai ke kantin.

Kantin Fakultas Ekonomi dan Bisnis, di sanalah gadis tomboy itu hampir tiap pagi sebelum memulai kuliah S2. Dia Steafany Anggraeni Prawira, baru memasuki semester kedua jenjang pasca sarjana. Lebih 6 bulan silam dia menyelesaikan kuliah S1 Akuntansi di tanah kelahirannya, kota yang jauh di timur pulau Jawa, kota dengan julukan Kota Pelajar. Ya, dia lulusan fakultas akuntansi Unmar, Malang Jawa Timur.

Kularut luruh dalam keheningan hatimu
Jatuh bersama derasnya tetes air mata
Kau benamkan wajahmu yang berteduhkan duka
Melagukan kepedihan di dalam jiwamuDan tak pernah terpikirkan olehku
Untuk tinggalkan engkau seperti ini
Tak terbayangkan jika kuberanjak pergi
Betapa hancur dan harunya hidupmu

“Mbak, pesan minum biasa ya”. Kata Fany pada pelayan kantin. Terdengar lagu penghangat suasana dari band Padi menambah nyaman pagi itu bagi mahasiswa yang sedang menikmati sarapan, sebelum bersiap menimba ilmu.

“Teh jahe panas dengan madu? Tunggu sebentar ya Non”, jawab pelayan seolah hafal dengan pesanan Fany. “Mau makan apa Non?”, kata pelayan sebelum berlalu.

“Nasi goreng kampung aja”, jawab Fany. Nasi goreng kampung adalah nasi goreng yang dimasak tanpa kecap manis, jadi warnanya putih seperti nasi biasa. Pelayan mengangguk paham.

Hampir tiap pagi Fany memesan menu minum yang sama, minuman yang awalanya terasa aneh dan tidak enak ditelan, tapi kemudian menjadi candu yang menyegarkan badan sekaligus menghadirkan kenangan lalu. Kenangan yang sulit dihapus bahkan mungkin tidak akan bisa dilupakan. Kenangan yang memaksanya pergi jauh meninggalkan papa mamanya, meski mereka melarang. Sebagai anak gadis satu-satunya di keluarga Prawira, keluarganya sangat menyayangi dan melindunginnya. Setangguh-tangguhnya, tetap saja Fany seorang perempuan ditambah dalam kondisi hati yang dilanda luka, dikhawatrikan bisa membuat Fany mudah rapuh dan terpuruk.

“Yasir tidak salah nduk. Kamu pun tidak salah. Kalian hanya menjalani takdir dari Yang Maha Kuasa. Apalah daya kita sebagai hambaNya. Dia juga sudah jujur padamu, bahkan di depan papa meski tidak langsung. Menjelaskan situasi dan kondisi yang tidak bisa dia hindari, tidak bisa ia elakan. Kuatkan hati dan jiwamu nak. Sakit memang, meski papa tidak bisa merasakan persis yang kamu rasakan, tapi papa bisa memahami kondisimu. Yakinlah, bahwa ada garis takdir yang sudah menantimu di depan. Garis takdir yang terbaik pasti sudah disiapkan Tuhan untuk hambaNya. Dia tidak pernah jauh, selama hambaNya tidak menjauh. Maka mendekatlah padaNya. Hanya itu yang bisa kita lakukan, hanya itu yang bisa papa ucapkan, karena penghiburmu hanya pada hatimu sendiri, jika hatimu terus menolak dan menganggap ini adalah suatu ketidak adilan, maka selamanya kamu akan terpuruk dan merutuki diri, bahkan mungkin tumbuh benci. Jangan kamu turuti hawa nafsu itu, cegahlah. Dia menyayangimu, sangat, sebagai sesama lelaki papa tahu persis, dia tulus tapi dia harus memilih dan papa tahu pilihannya sangat berat. Kamu juga tahu nduk, Yasir menyayangi Meli lebih dari sekedar adik, meski dia terlambat menyadarinya. Ikhlaskan nduk”. Prawira membelai kepala anak gadisnya, dipeluk dan dicium keningnya. Dihapus air mata yang masih mengalir tanpa henti dari kedua mata lentik itu.

Fany terpekur kemudian, menyelami nasehat papanya. Semua bayangan Yasir berputar di kepalanya seperti tayangan sebuah film, dari gerbong Matarmaja, perkelahian di taman kampus, kemesraan di warung jagung bakar Pulosari, kebersamaan di kios pasar hingga teh jahe madu di Prawira Bromo. Sulit sekali dihapus memori itu, sangat sulit dan fany tidak berniat menghapusnya, kenangan itu membantunya menempa dan menata hati. Dia hela nafas dalam, menghembuskan keras. Dia usap kasar mukanya, menahan agar air matanya tidak tumpah.

Sebenarnya ‘ku tak ingin berada di sini
Di tempat jauh yang sepi memisahkan kita
Kuberharap semuanya pasti akan berbeda
Meski tak mungkin menumbuhkan jiwa itu lagi

“Silahkan dinikmati Non”, pelayan kantin membuyarkan lamunan Fany.

“Terimaksih Mba”, Jawab Fany cepat dan langsung mengambil gelas minum agar tidak perlu bertatap muka dengan si pelayan yang akan melihat matanya yang berair. Diendusnya teh jahe itu, dicercap sedikit karena masih terlalu panas. Diletakannya kembali gelas itu, diangin-anginkan biar cepet mereda panasnya, jangan ditiup, uap yang keluar saat udara ditiupkan dari mulut mengandung bakteri atau microorganisme yang dapat menkontaminasi makanan atau minuman yang ditiup, kontaminasi ini bisa menyebabkan penyakit. Nasehat dari pemuda yang dikenal anak bawang selalu terngiang tiap Fany memegang minuman taupun makanan panas. Fany tersenyum, karena memang benar, penjelasan ilmiah dari hal itu adalah, tiupan mulut itu mengeluarkan karbondioksida dan karbonmonoksida secara bersamaan. Karbondioksida yang bertemu partikel air akan membentuk asam, dan karena selanjutnya minuman atau makanan itu masuk dalam tubuh, tubuh akan mengalami kelebihan asam karbonat, sedang karbon monoksida sendiri sudah berbahaya papalgi ditambah over asam dalam tubuh.

“Bapak dan Mas Sanjaya melamar saya Fay”

“Melamar? maksudnya?”.

“Saya diminta menjadi bagian dari keluarga Atmaja”.

“Maksudnya bagaimana Yes? Bukankah sekarang kamu sudah jadi bagian dari mereka?”.

“Meli sakit Fay. Meli sakit karena saya. Dan Mas Sanjaya tidak ingin melihat adiknya lebih sakit lagi kalo masih membiarkan saya bebas. Jadi dia berniat mengikatku”.

“Katakan yang terang Yes, aku masih belum paham”.

“Mas Sanjaya melamarku untuk menjadi menantu Atmaja Fay. Menjadi suami Meli. Ternyata mereka sudah lama tahu kalo Meli menyayangiku lebih dari sekedar kakak ataupun teman. Dan saat ini Meli sakit karena melihatku mengantar Vera kemarin. Dia cemburu dan merajuk tidak mau makan dari kemarin. Tadi dia belum sadar di rumah sakit. Mas Sanjaya berniat menunggu saya lulus kuliah, tapi dia sudah tidak tega melihat Meli, dia ingin memastikan Meli mendapatkan apa yang bisa membuatnya bahagia sebelum keduluan orang lain. Mereka juga tahu kalo saya dekat sama kamu. Bahkan mereka mengira saya dekat dengan Vera anak Pak Waluyo”. Yasir menghela nafas dalam, diminumnya air putih hangat yang tersaji dan habis dalam sekali minum. “Saya tidak berharap maafmu Fay, tapi saya hanya ingin jujur, inilah rasa perih yang muncul bersama bahagia saat saya bersamamu. Inilah perih yang saya nantikan, perih yang selama ini saya anggap misteri. Saya harus memilih dan saya yakin kamu tahu pasti pilihanku kemana. Ini bukan sekedar balas budi tapi saya memang sangat menyayangi Meli meski sebagai adik, tapi saya tidak mau dia semakin sakit karena saya terus menganggapnya adik”, Yasir kembali menghela nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, terasa berat di dadanya. “Kamu adalah gadis yang tangguh Fay, saya yakin tahu persis kamu tangguh, teguhkan hatimu, turuti nuranimu untuk jalan hidup selanjutnya tanpa saya di sampingmu”

Sementara Fany hanya ternganga mendengar penjelasan Yasir. Dia masih belum percaya apa yang didengarnya. Dia memang tadi sempat mampir ke kamar Meli dirawat saat dia berniat menengok Yuda bareng Vera. Tapi dia tidak tahu kalo Meli sakit karena memendam cemburu, Dari sikapnya selama ini memang dia terlihat posesif, tiap Fany datang ke kios maupun rumah dimana ada Yasir, meli selalu bermanja dengan pegawai bapaknya itu, seolah menunjukan kepemilikan. Tapi sama sekali tidak tahu kalo Meli bisa begitu sakit hati melihat Yasir mengantar Vera. Fany menarik nafas mengisi rongga dadanya yang sesak serasa kekurangan oksigen, pengap sekaligus hampa. Menghembuskan perlahan. Diam tanpa bisa berpikir jauh. Apakah ini nyata? Baru sekali ini diam menambatkan hatinya dan tambatan itu harus lepas dan terhempas.

“Pulanglah Sir, sudah malam”, Suara Prawira memecah kebekuan. Pria dengan muka bersahaja yang dari tadi duduk di sisi lain teras menghampiri mereka. Mengelus kepala anaknya dan merangkul pundak Fany seolah menguatkan anak gadisnya.

Yasir menatap mata Prawira, ada kebijakan dalam sorot mata pria berumur setengah abad lebih yang masih menampakan kegagahanya itu. “Enggih pak”, Yasir menyalami Prawira, mencium lama punggung tangan pria itu penuh takzim seolah memohon maaf karena menyakiti putrinya, ada bulir air mata yang tak terasa jatuh mengenai kulit yang sedikit keriput itu. Yasir mengangkat kepalanya saat merasakan elusan di kepalanya. Dia sekali lagi memandang penuh penyesalan ke arah muka Prawira. “Assalamu’alaikum”, yasir undur diri dan berlalu bersama motor butut infentaris Atmaja.

Satu teguk teh jahe madu itu melemparkan Fany ke masa lalu, beberapa waktu silam, saat pertemuan terakhirnya dengan si anak bawang, Yasir. Karena di kesempatan lain Fany selalu menghindarinya. Kejujuran, ketegasan sekaligus kesedihan jelas tersirat dari tiap kalimat yang terucap darinya malam itu. Terdengar alunan lagu dari band Padi, syair yang mendayu dari lagu berjudul rapuh itu seolah menghujam relung hati.

Dan tak pernah terpikirkan olehku
Untuk tinggalkan engkau seperti ini
Tak terbayangkan jika kuberanjak pergi
Betapa hancur dan harunya hidupmu

Aku tak mengerti
Apa yang mungkin terjadi?
Sepenuh hatiku
Aku tak mengerti

“Takdir itu tidak seperti dalam khayalan, tidak seindah angan bahkan mungkin terasa kejam dan tidak adil. Tapi Sang Pemilik Ketetapan adalah Sang Maha Adil, jadi inilah keadilan yang memang harus dijalani dan bukan suatu kekejaman, tapi hanya sebuah kelokan menuju jalan takdir berikutnya. Yakinlah nduk, kamu akan temukan jalan terbaikmu kelak”

Nasehat papanya kembali mengiang menentramkan. Fany menghela nafas dalam dan menghembuskannya seiring nasi goreng kampung terhidang. Disuapnya perlahan. Dirogohnya ponsel disaku celana, ada getar panggilan. Dari Yuda, seolah mengabsen, sehari minimal 3 x artis itu menelpon Fany, belum chat whatsapp. Entah kenapa Yuda begitu perhatian dengannya semenjak Fany jauh dari Yasir, padahal dia tahu, Yuda sangat dekat dengan Vera, bintang akuntansi Unmar.

“Halo Yud”.

“Hai Fan. Kamu udah makan pagi?”

“Baru satu suap, kamu nelpon”.

“Oh baiklah, maaf kalo ganggu ya Fan. Kalo gitu lanjutkan makannya. Nanti aku jemput ya”. Ya, Yuda memang pindah ke jakarta setelah lulus kuliah di Unmar, bahkan mengambil pasca sarjana di UI juga, fakultas Manajemen tentu saja. Dia juga meneruskan karir sebagai artis dan semakin terkenal.

“Baik Yud”, Fany tidak bisa menolak, Cuma Yuda yang paham kondisi Fany di Jakarta. Fany tidak sekedar menempuh pendidikan pascasarjana, tapi dia mencoba lari dari kenangan yang terus mendera kalo tetap tinggal di Malang. Fany menutup pembicaraan telepon dari Yuda. Dia melanjutkan makan pagi sebelum kelas dimulai.

===============***==============

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Novel dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Trust (2)

  1. Ping balik: About Trust | Triyanto Banyumasan Blog's

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s