Trust


DILEMA

Sepulang kuliah Yasir langsung menuju rumah sakit tempat Yida dirawat. Tante Wati nampak sedang menungguin Yuda yang tertidur, mungkin efex obat membuat Yuda mudah tertidur. “Tante pulang aja, biar malam Yasir yang jaga”, kata Yasir mengobrol bebrerapa saat dengan wanita paruh baya itu. “Besok baru tante kesini lagi, bergantian”.

“Nggak repot kamu Sir”, wanita itu merasa sungkan.

“Enggak Tan, kan saya masih single, nggak ada yang nyariin”.

“Baiklah, tante pulang dulu kalo gitu. Ntar kalo Yuda bangun, bilangin ke dia ya. Makasih banyak Sir sudah bersedia repot”.

“Iya tante, hati-hati. Apa Tante mau diantar Feri, biar saya telepon kemari”.

“Enggak usah Sir, tante naik taxi aja. Tante pamit ya Sir. Ingat, kamu juga harus istirahat”.

“Iya tan”.

Speninggal Tante Wati, Yasir meraih ponselnya, ditekannya nomor Meli, tidak dijawab, berulang dan akhirnya tidak aktif. Yasir akhirnya menelpon nomor rumah majikannya.

Hallo“, suara ibu majikan di seberang.

“Halo Bu, Asslamu’alaikum. Ini Yasir Bu”.

Oh, ada apa Sir?“.

“Apa Meli di kamarnya Bu?”.

Iya, dari pulang kuliah dia nggak keluar kamar sampai sekarang, disuruh makan malah pintunya dikunci. Apa tadi kamu ketemu Meli di kampus Sir?“.

“Iya Bu, saya melihat Meli, saya panggil tapi malah kabur”.

Kenapa bisa begitu? Apa dia juga menolak telponmu Sir? Kok kamu menelpon ke rumah. Apa tadi kamu bareng Fany pas memanggil Meli?

“Enggak Bu, tadi saya bareng Vera, anak Pak Waluyo”, selanjutnya Yasir menceritakan bahwa dia bareng Vera dari rumah sakit, menjenguk Yuda yang sakit.

Oh gitu, baiklah, biar nanti Ibu jelasin ke Meli“.

“Baik Bu, sudah dulu ya Bu, sudah malem, Asslamu’alaikum”.

Iya Sir, Wa’alaikumussalam“, telepon ditutup

Duh Gusti, paringono solusi dateng kawulo. Batin Yasir, dia duduk lunglai di matras, nafasnya terasa berat.

“Apa kamu habis nelon Bu Atmaja Yas?”. Ternyata Yuda sudah bangun dan sempat menyimak obrolan yasir di telepon tadi.

“Iya Yud”

“Meli kenapa Yas?”.

“Dia ngambek lagi”.

“Apa dia memergoki kamu mengantar Vera tadi pagi? Apa itu yang membuat dia ngambek?”.

“Sepertinya begitu Yud”.

“Maaf Yas, karena saya menyuruhmu mengantar Vera, tidak tahu kalo bisa bikin adek manjamu itu ngambek. Saya pikir dia cemburunya sama Fany aja”.

“Sudahlah, besok juga udah baikan biasanya, kalo tidak biar besok saya samperin ke rumah. Bingung saya. Apa kamu ada solusi Yud?”.

“Ini masalah hati Yas, saya tidak bisa memberikan solusi terbaik, kamu sudah lebih paham resikonya. Jika sudah bermain hati maka kadang akan ada hati yang tersakiti. Semua terserah kamu. Kalo saya bisa bantu, pasti akan saya lakukan”.

“Baiklah, saya jalanin aja dulu, akan kemana muara dari semua ini. Saya sedikitpun tidak bermaksud menyakiti hati siapapun. Saya menyayangi Meli, sangat sayang, tapi lebih sebagai aidk yang harus saya lindungi. Saya juga belum yakin, apa dia cemburu sebagai perempuan semata atau sebagai adik yang cari perhatian sama kakaknya”.

Hati memang sulit ditebak. Kidungnya kadang tanpa syair. Nyanyiannya tanpa nada. Meski indah membahana tapi kerap menghujam relung jiwa tanpa kata sapa.

Yasir termenung, merebahkan diri di atas matras, matanya menerawang jauh. Benarkah langkah yang sudah kujalani, batinnya bertanya. Apa yang sebenarnya kuperjuangkan? Tanya itu tak terjawab hingga matanya terpejam dan nafasnya berubah lebih halus dalam dengkur yang teratur. Dia terlelap dalam kegalauan, baru kali ini dia alami kegundahan yang tak berujung. Meski begitu, dia yakin pasti ada jawab yang akan terungkap kemudian. Kepasrahan yang membuatnya bisa lelap menghabiskan malam di kamar rumah sakit dengan bau obat menyengat.

Yuda hanya memperhatikan sahabatnya penuh prihatin. Dia bisa merasakan dilema yang dialami Yasir, tidak mudah memilih diantara dua hati yang tertaut dan tertambat dengan kekutan yang berbeda, kekuatan cinta dan kekuatan ketulusan berpadu kesetiaan. “Takdirmu akan menjemput kawan, semoga yang terbaik menyambut”. Yuda ikut memjamkan mata.

===============***==============

KEPUTUSAN

Alarm ponsel membangunkan Yasir, dia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan menuju masjid rumah sakit setelahnya untuk memenuhi panggilan Sang Pemilik Pagi. Toto dan Feri pasti sudah sibuk di pasar, batinnya. Selepas shalat Yasir menuju warung nasi, memesan sarapan menyambut hari baru. Bergegas kembali ke kamar, membuat 2 paper cup teh dengan sedikit gula. Yuda sudah bangun, karena baru saja ada dokter dan perawat mengecek kondisi kesehatannya.

“Hai Yud, Sir”. Suara perempuan menyapa di pagi yang mulai memendarkan cahaya meski samar di luar jendela kamar, Vera kembali menjenguk pagi itu.

“Hai Ver. kamu tidak berkabar akan kemari?”, Yuda menyapa

“Apa aku mengganggu Yud?”, Vera nampak agak kikuk.

“Enggak sama sekali. Hanya saja aku merasa punya isteri selalu mengkhawatirkan suaminya hehehe”, Yuda menjawab dengan candaan.

“Dihalalkan saja segera Yud”, Yasir menimpali membuat muka Vera bersemu merah.

“Saya nunggu kamu Yas, kan kamu lebih senior”, jawab Yuda.

“Bilang aja lebih tua”. Yasir menyahut

“Iya gitu maksudnya hahaha”. Mereka tertawa menghangatkan pagi yang dingin.

Tidak lama berselang layanan kamar datang mengantar sarapan pagi buat Yuda. Yasir segera menyiapkan makanan, membantu Yuda bangun mempersilahkan sahabatnya itu makan dengan sedikit paksaan. “Ve ayok sarapan, lagi-lagi saya cuma beli sebungkus nasi, nggak tahu kalo kamu datang lagi pagi ini”, Yasir kembali ke matras menyiapkan nasi bungkus yang tadi dia beli. “Ini tehmu Ve, tadinya buat Yuda ternyata sudah ada minuman di menunya”, Yasir mengangsurkan satu paper cup teh ke arah Vera. Dan sekali lagi Vera tidak menolak, makan sebungkus nasi berdua Yasir, padahal dia yang dikenal dekat dengan Yuda belum pernah makan sepiring maupun sebungkus berdua artis itu.

Yuda hanya tersenyum melihat pemandangan itu, “Enak kan Ve jadi sahabat Yasir, kamu akan selalu dapat perhatian kaya aku”, suara Yuda memacahkan lamunan Vera membuat suapan nasinya tertahan.

“Iya kayaknya, pantas Fany betah banget kalo sudah berdua sama Yasir”. Vera mencoba menepis perasaan kaku dengan mengalihkan ke nama Fany.

“Udah ah, ngomongin apa si?”, Yasir mencoba berkilah. Tiba-tiba seolah ada sembilu yang menyayat hatinya saat nama Fany disebut. “Oh iya Yud, mobilmu saya kembalikan ke parkir kontrakan, ini kuncinya. Ve nanti mau saya antar lagi? tapi naik motor butut”.

“Selama kamu tidak merasa direpotkan, ngga papa Sir”. Vera menyahut

“Hmmm.. Yas, apa ..”.

“Tidak apa-apa Yud, santai saja”, Yasir menyela ucapan Yuda, dia tahu Yuda akan memberi pertimbangan, kawatir ketemu Meli lagi.

Setelah Tante Wati datang, Yasir dan Vera pamit. Yasir mengantar Vera ke kampus. Saat memasuki kawasan kampus, motor Yasir disalip sepeda motor model sport warna merah dengan suara knalpot khas dua silider. Fany lebih dulu sampai di parkir motor, dia mengenali sepeda motor yang baru saja ia salip, dia menunggu motor itu mendekat dan berhenti di samping mitornya. “Hai Fay, kenceng banget kamu naik motornya”.

“Bukan kenceng, tapi kamu yang terlalu lambat atau sengaja melambat biar makin lama sampainya”, Jawab Fany sedikit ketus, ada nada cemburu dalam getar suaranya.

“Kami dari rumah sakit Fan, kebetulan bareng, habis menjenguk Yuda, kalo Yasir malah dari semalam menginap menjaga dia”, Vera segera menjelaskan, kawatir praduga salah dari Fany.

“Yuda dirawat di rumah sakit? Sakit apa dia Ve?”.

“Mag akut, dasar artis, kebanyakan melek malam buat shooting lupa makan minum dan kurang istirahat, jadi kacau kesehatannya. Untung saja Yasir segera bertindak, kalo tidak entah gimana nasibnya”, Vera mengisahkan seperti apa yang diceritakan Yasir padanya saat mulai menemukan Yuda tergeletak di kamar kontrakan.

“Maaf Yes, Ve, aku baru tahu. Nanti aku jenguk ke sana sepulang kuliah, kamu mau nemenin Ve?”

“Tentu saja”, Vera menyahut cepat.

Yasir hanya menyimak obrolan dua gadis cantik di depannya, dia mengerling sekeliling, barangkali bisa menemukan Meli diantara mahasiswa yang sedang berjalan menuju kelas. Tapi dia tidak melihat badan mungil Meli. Mungkin dia sudah masuk kelas, batinnya. “Fay, Ve, saya tinggal dulu ya, mau ke pasar”.

“Iya Yes, ati-ati”, Fany memandang syendu, merasa bersalah karena tadi sudah berprasangka.

“Makasih Sir, apa nanti malam kamu nginap di rumah sakit lagi?”, Vera menyelidik.

“Iya Ve, kasihan Tante Wati”, yasir pun berlalu dilepas pandangan dua gadis dengan pikiran masing-masing mengenai si anak bawang.

Sesampai pasar Yasir langsung sibuk mengecek hasil penjualan pagi itu di 2 kios yang jadi tanggung jawabnya, kios bawang yang sudah lama beroperasi dan kios Beras yang belum genap satu tahun berjalan dan sudah memiliki cukup banyak pelanggan.

“Halo, Assalamu’alaikum”, Yasir menerima panggilan telepon dengan nomor rumah majikannya tertera di layar. Waktu mendekati tengah hari. Yasir bersama pegawainya sedang membereskan barang-barang yang kurang tertata.

“Sir, Meli masuk rumah sakit. Bapa sama Mas Sanjaya yang mengantar tadi”, suara ibu Atmaja dari seberang terdengar gemetar, nada khawatir jelas terpancar dari kata-katanya.

“Sakit, Meli sakit apa Bu?”, yasir terkejut.

“Demam, dia tidak mau makan dan minum dari kemarin. Tadi pagi sama Bapak dibangunin, tapi tidak ada jawaban, Akhirnya pintu kamar didobrak, ternyata Meli pingsan dalam kamar”, Terdengar isak Bu Atmaja tertahan. “Kamu diminta ke rumah sakit sekarang sama Mas Sanjaya, Dia di Supraun, kamar Anggrek 4”.

“Baik Bu, saya langsung kesana sekarang. Assalamu’alaikum”, Yasir tidak menunggu jawaban ibu majikannya. Bergegas dia pamit kepada Toto dan Feri, menjelaskan sekilas keadaan yang terjadi. Kalo sudah mengatasnamakan Mas Sanjaya berarti ada hal yang sangat penting atau bahkan gawat. “Maafin Mas Yasir Dek, sudah membuat kamu sakit”, batin Yasir sambil menghidupkan mesin motornya.

Sesampai rumah sakit Yasir langsung masuk ruangan Anggrek 4 dimana Meli dirawat. Dijumpainya majikannya, Pak Atmaja dan Mas Sanjaya sedang duduk menunggui Meli yang terbaring di brangkar. Keduanya nampak lesu. “Assalamu’alaikum”, Yasir masuk dan bersalaman mencium punggung tangan keduanya bergantian dengan penuh takzim. Selang infus menempel di tangan kanan Meli. Yasir mendekat ke kepala Meli. “Dek, ini Mas Yasir”, yasir berbisik ke telinga kakan Meli. “Adek bangun dong”, Yasir tak kuasa menahan kesedihannya, bulir air mata mulai mngalir di pipinya. “Maafin Mas Yasir Dek”. Meli menggeliat pelan dengan mata masih menutup, seolah mendengar suara Yasir, tapi kemudian kembali diam, entah tidur atau masih pingsan.

“Sir, sini”, suara Sanjaya menyadarkan Yasir. Kedua orang yang sangat diseganinya itu sekarang sudah duduk di matras, di pojok ruang rawat itu. “Ayo keluar sebentar”, kata Mas Sanjaya melanjutkan, dia melangkah ke arah teras ruangan. Ruang rawat inap itu memang memilik dua sisi pintu, pintu utama menuju koridor ruang dalam rumah sakit, sedang pintu satu lagi menuju teras dengan taman kecil di luarnya. Sanjaya duduk di atas teras disusul Yasir sambil mengelap pipinya. “Sir, apa kamu menyayangi Meli?” Sanjaya kembali bertanya setelah melihat Yasir mulai tenang.

“Tentu saja mas, Saya sangat menyayangi Meli”. Yasir menjawab dengan yakin.

“Sayang sebagai adik atau sebagai laki-laki?”. Sanjaya bertanya lagi.

“Maksud Mas Sanjaya bagaimana?”, Yasir aga bingung mencerna pertanyaan Sanjaya.

“Apakah kamu menyayangi sekedar sebagai adikmu atau lebih? Menyanginya layaknya lelaki dan perempuan makasud Mas”. Sanjaya menjelasakan.

“Saya tidak tahu mas, saya bingung menjawabnya. Saya hanya merasa sayang sama Meli, selama ini memang Meli saya anggap adik saya yang harus saya lindungi. Apakah itu sekedar sebagai kakak atau lebih, saya masih mencari tahu. Memang kenapa Mas?”.

“Kami tidak mau Meli sakit parah lagi, dia menyayangimu Sir. Dan sayangnya Meli ke kamu bukan sekedar sebagai adik, Mas, Bapak dan Ibu tahu persis dari sikap Meli. Oleh karenanya, saya mewakili bapak dan Ibu, ingin menjadikanmu bagian dari keluarga Atmaja”.

“Maksud Mas Sanjaya apa?”, Yasir masih mencoba mencerna kata-kata anak tertua majikannya.

“Saya melamarmu untuk menjadi suami Meli Sir”, suara Pak Atmaja memecah kebingungan Yasir.

“Pak?”. Yasir tidak bisa berkata-kata, mulutnya ternganga menatap majikannya.

“Iya Sir, seperti yang kamu dengar, kami bersepakat melamarmu. Apakah kamu menerima lamaran kami Sir?”, Sanjaya menguatkan kalimat bapaknya. “Tadi Meli selalu menyebut namamu dalam kondisi tidak sadar Sir. Dia selalu cemburu tiap melihat kamu dekat dengan wanita lain selain Ibu. Sebenarnya kami sudah tahu itu sejak lama. Tadinya ingin menunggu kamu lulus kuliah, untuk menyampaikan lamaran, tapi sepertinya kondisi kesehatan Meli sangat tergantung denganmu, jadi kami sepakat mempercepat lamaran ini”. Sanjaya memberi penjelasan. “Apa kamu menerima lamaran kami Sir?”. Pertanyaan Sanjaya penuh ketegasan.

Yasir terdiam sesaat, “Boleh saya ke masjid dulu Mas? Sebentar”. Yasir mulai bisa menguasai perasaannya, dan dia merasa perlu menenangkan diri sebelum memberi jawaban.

“Baik Sir, kami tidak bermaksud memaksamu, tapi kami tahu kamu juga menyayangi Meli. Pergilah, kami tunggu jawabanmu”.

Yasir undur diri, dia menuju masjid rumah sakit, diambil wudu dan shalat dua rakaat. Mengadu kepada Sang Pemberi Keputusan atas dilema yang dia hadapi. Setelah shalat dia ambil ponsel, dipilihnya kontak Muri, dia butuh pendapat yang memperkuat. Dan Muri selalu jadi labuhan curahan hatinya.

“Halo Sir?”. Suara Muri dari sebrang sana menyapa.

“Apa Mas Muri sudah tahu Meli dirawat di rumah sakit”.

“Sudah, Bapak tidak ke pasar karena mengantar Meli”.

“Mas, saya minta pendapat Mas Muri”.

“Pendapat apa Sir?”

“Anu, bingung saya Mas”.

“Bingung kenapa si Sir? kamu ngomong bertele-tele, dingaren, ada apa si?”

“Bapak dan Mas Sanjaya melamar saya untuk jadi suami Meli mas?”

“Ya kamu tinggal terima aja, gampang kan”.

“Kok Mas Muri enteng banget jawabnya”.

“Kenapa harus berat, memangnya saya masih muda dan layak jadi suami Meli, lagian saya sudah punya isteri dan anak Sir”.

“Maksudnya Mas Muri kok nggak ada kaget-kagetnya gitu”.

“Saya sudah tahu lama Sir, bukan tahu persis, lebih tepatnya menebak, hanya tunggu waktu aja, kamu pasti akan dilamar karena menunggu kamu yang melamar duluan sepertinya tidak mungkin. Sudah kamu terima saja Sir, kamu cocok sama Meli, kalian saling menyayangi, saya tahu itu, saya akan mendukungmu Sir”.

“Tapi Mas”.

“Sudah, ga usah tapi-tapi. Mas lagi repot Sir, ini ada pesanan yang harus disiapkan, sudah dulu ya. Assalamu’alaikum”, Muri mematikan sambungan tanpa menunggu jawaban salam dari Yasir.

“Wa’alaikumussalam”. Yasir termangu. Dia mencoba merenungi kejadian demi kejadian dari awal dia terdampar di kota pelajar ini. Tidak pernah terbayangkan akan menetap di Kota Malang. Sesak di dadanya perlahan berkurang setelah shlalat tadi. Tapi perasaan perih yang selama ini samar menyayat ulu hatinya sekarang terjawab sudah. Dia melangkah sedikit lunglai kembali ke kamar Meli dirawat, Dia sudah menyiapkan jawaban, menata hati dengan segala kemungkinan yang akan dia hadapi kemudian. menarik nafas dalam dan dihembuskannya perlahan seiring memasuki kamar diamana Meli terbaring dengan selang infus di tangan.

*

**

***

Bersambung

===============***==============

MANUSIA MEMANG PENUH RENCANA TAPI ADA SANG PEMBUAT RENCANA, DAN MANUSIA TIDAK PUNYA DAYA UPAYA UNTUK MELAWAN SANG PEMBUAT KEPUTUSAN

===============***==============

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Novel dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Trust

  1. ndesoedisi berkata:

    Absen lik 😁

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s