Trust (2)


“Dia telah menghancurkan karir anaku, penerusku”, lelaki itu menggebrak meja. Amarah jelas terpancar dari sorot matanya. Dia menggeram, gigi gerahamnya gemeletuk saling beradu menahan emosi. “Kamu harus melakukannya, kamu harus membalas budi baiku padamu. Mengerti?! Atau kamu ingin keluargamu sengsara?”, dia menatap tajam ke arah sosok lelaki di depannya yang bersimpuh.

“Jangan ganggu keluarga saya. Saya mohon. Saya akan melakukannya”. Lawan bicaranya nampak menunduk penuh ketakuatan.

“Bagus. Lakukan sebersih mungkin, ingat! Nasibmu dan keluargamu ada di tangan saya”.

===============***==============

Another Fate?

Pabrik baru beras Matahari di Lamongan sudah tahap pembangunan, sudah mendekati 50 persen. Ya akhirnya Lamongan menjadi pilihan pertama dan terakhir menimbang berbagai aspek menyangkut pendirian pabrik baru, mulai bahan baku yang memadai, lahan yang tersedia dan aspek lain termasuk jarak terdekat dengan Malang sebagai induk perusahaan dibanding beberapa tempat lain yang menjadi opsi sebelumnya.

Tentu tidak semua proses berjalan mulus, selalu ada aral yang melintang untuk sebuah kesuksesan, mulai proses pembebasan lahan, perijinan hingga menentukan kontraktor yang menangani pembangunan. Penentuan lahan cukup memakan waktu, karena terbentur dengan beberapa pemilik tanah yang bukan atas nama satu orang, sehingga membutuhkan mufakat yang alot, ditambah keterlibatan LSM dan organisasi berbasis kemasyarakatan yang minta ‘santunan’. Bahkan ada yang minta syarat agar melibatkan penduduk setempat dalam perekrutan tenaga kerja. Alasan utama agar bisa mengurangi pengangguran di wilayah penyangga, hal itu tidak memberatkan, bisa dianggap program CSR dari perusahaan dimulai sejak dini. Meski Yasir dan Vera tidak bisa menetukan pasti, apakah para pekerja itu benar-benar adalah penduduk sekitar atau bukan, karena seleksi dilakukan oleh pihak LSM dan kontraktor. Paling tidak niat mereka mengurangi angka pengangguran sesuai kesepakatan dan pekerja bisa melakukan tugasnya dengan baik dan menjadi tanggung jawab kontraktor.

Hari itu untuk kesekian kalinya Yasir dan Vera mengecek pembangunan Pabrik. Seharusnya ada Rendi, adik sepupu Vera yang sudah beberapa kali menemani juga. Atas permintaan yasir ke Pak Waluyo agar ada orang kepercayaan bos beras itu yang ikut menjadi teman diskusi dalam mengambil keputusan sekaligus rekan yang akan bertanggung jawab di pabrik baru nantinya, tentu selain Yasir dan vera. Yasir juga tidak mau selalu berduaan saja dengan Vera di dalam mobil, dia khawatir timbul fitnah, tapi alasan kedua ini tidak dia sampaikan kepada Pak Waluyo. Kali ini Rendi tidak ikut karena ada urusan keluarga yang tidak bisa ditinggal. Rendi cukup berpengalaman dan lebih dewasa dibanding Vera karena memang sudah ikut membesarkan pabrik utama di Arjosari. Perjalanan kali ini Yasir yang menyetir karena mengendarai Honda jas merah milik Yuda yang masih tetap ditinggalkan di rumah Yasir. Dan seperti biasa, ada mobil lain yang dikendarai orang kepercayaan Sanjaya beserta Cak No mengawal di belakang. Ya, Sanjaya tetap mengawasi yasir meski luka tembak di dada adik iparnya itu sudah sembuh total. Sanjaya seolah menjadi kakak ipar yang protektif.

Mesin giling dan aneka kebutuhan produksi sudah dipesan, jadi sekalian menentukan kapan alat-alat itu bisa masuk banguanan meski belum selesai sepenuhnya, agar proses instalasi power listrik dan kebutuhan lain bisa berjalan beriringan dan tidak perlu membuang waktu lama untuk bergantian prosesnya.

“Ve, gimana kabar Yuda?”, kata yasir disela obrolan seputar pabrik.

“Aku pikir dia lebih sering berkabar sama kamu dari pada ke aku Sir,,hehehe”, jawab Vera sambil tertawa, “Jadi kamu pasti lebih tahu dari aku dong”, lanjutnya.

“Mas si, saya pikir dia tiap hari nelpon kamu. Memang sejauh mana hubunganmu sama dia Ve?”.

“Kaya kamu gak tahu saja Sir, kita deket kan karena dipaksa, dijodoh-jodohin di kampus dulu, begitu jauh ya sudah, begitu saja”.

“Saya pikir Yuda udah mau serius loh Ve, kalian terlihat cocok, serasi”.

“Yuda itu artis Sir, mungkin dia belum mau terikat, masih mementingkan karir”.

“Oh, bisa jadi. Artis emang bawaannya gitu”, Yasir diam sejenak, “tapi dia tidak menyakitimu kan Ve?”.

“Tidak lah, emang kenapa harus sakit? Dia artis yang lurus dan seperti tadi aku bilang, kami deket karena terpaksa, dan ya, aku bersyukur jadi tidak ada lelaki yang berani mendekatiku karena dianggap deket sama Yuda, bahkan banyak yang mengira pacaran. Padahal cuma deket aja, lelaki paling akrab setelah papi dan saudara-saudaraku”.

“Apa ada kemungkinan Yuda melamarmu, suatu hari nanati ve? Setahu saya tidak ada lelaki yang dekat dengamu selain dia soalnya”

“Tidak tahu Sir, aku tidak tahu,” Vera menghela nafas dalam, “Bahkan aku tidak tahu, apakah kami saling mencintai, atau sekedar akrab saja”. Vera diam lagi, “karena aku merasa biasa saja, meski sekarang kami berjauhan”.

“Karena kamu terbiasa sendiri Ve, kamu anak papi hehehe, cukuplah papimu sebagai penjagamu, mungkin begitu. Jadi kamu merasa biasa saja”.

“Mungkin Sir. Oh iya, boleh aku tanya hal sensitif sama kamu Sir?”.

“Apa Ve?”

“Tapi janji jangan marah ya?”.

“kamu belum nanya, masa saya harus marah”.

“Ya setelah aku tanaya, maksudku gitu, soalnya ini agak sensitif”

“Tanya saja Ve, mana mungkin saya marah sama gadis secantik kamu, anakanya papi Waluyo pula hahaha..”, kali ini Yasir tergelak.

“Baiklah Sir, apa kamu masih mencintai Fay, mencitai Fany maksudku?”.

Deg!

Yasir seolah berhenti bernafas mendengar kata Fay. Hanya Yasir yang menggunakan panggilan itu. Dia menghirup nafas untuk menetralkan gemuruh di dadanya. Sekilas kenangan terakhir dengan gadis cantik anak Pak Prawira itu terbersit di ingatan, air mata pedih karena keputusan yang harus dipilih menyebabkan rasa kehilangan dan kekalahan bagi gadis itu.

“Entahlah Ve. Jujur, semenjak menikah dengan Meli, saya sudah mengikhlaskannya bahkan sebisa mungkin melupakannya. Saya sudah ketemu jodohku dan itu Meli, meski saya baru sadar sangat mencintainya setelah menikahinya, tak ada yang lain”.

“Maaf Sir, tapi untuk sekarang, apakah ada kesempatan untuk Fany? Maaf kalo aku bertanya ini”, Vera masih menyelidik.

“Apa kamu merencanakan dengan Yuda untuk menjodohkan saya dengan Fany kembali Ve?”

“Tidak Sir, tidak. Aku hanya ingin tahu, aku hanya ingin melihatmu kembali bahagia seperti dulu, maaf, maksudku, sebelum kamu kehilangan Meli, maaf Sir, jika aku menyinggung mendiang isterimu”.

“Apa saya terlihat tidak bahagia Ve?”

“Bahagia, kamu terlihata bahagia, tapi tetap ada yang berbeda”.

“Apa kamu yakin, kalo saya menikah dengan Fany, saya kembali bahagia Ve? Tidak ada yang bisa menggantikan Meli ve, tidak ada yang bisa, sampai kapanpun”, suara Yasir tegas dengan rahang yang menegang.

“Aku percaya itu Sir. Maaf kalo aku menyinggungmu”.

“Tidak apa-apa Ve, maaf, saya terbawa perasaan. Saya hanya sedang belajar kuat, saya tidak akan mengecewakan Mas Sanjaya. Saya pasti kuat. Tapi saya memang masih belajar mengilkhlaskannya”.

“Karena itu Sir, aku ingin ada orang yang makin menguatkanmu, orang yang selalu di sampingmu. Agar kamu berhenti menyalahkan diri sendiri. Takdir kalo sudah berlaku, tidak ada seorangpun yang bisa menolak bukan?”

“Iya Ve, tidak ada yang bisa menolak”, Yasir membenarkan ucapan Vera. “Terimakasih kepedulianmu Ve, terimkasih, Tapi jangan kamu paksa saya ataupun Fany untuk kami kembali dekat, biarlah waktu yang menjawab kelak”.

“Justeru kita sedang mengarungi waktu itu kan Sir. Waktu yang berjalan ini adalah waktu kelak di masa lampau, dan akan menjadi waktu lampau saat kita sudah lama melewatinya. Jadi tidak salah bukan, kalo kita merencanakan sesuatu yang baik menuju waktu yang kita tidak tahu apa yang akan terjadi?” Vera diam sejenak, “Waktu itu akan sisa-sia jika kita biarkan berlalu tanpa aksi nyata yang berarti, kamu lebih tahu dan lebih paham dari aku Sir” Vera kembali diam sejenak. “Apakah pabrik baru akan berdiri dengan sendirinya jika kamu tidak memberi ide ke papi? Apakah pabrik akan berdiri sendiri jika ide itu dibiarkan menggantung tanpa realisasi dari semua pihak, biaya, kerja keras dan semua yang terlibat adalah demi menjawab waktu. Betul bukan?”

Yasir terdiam, tidak menyangka gadis cantik berwajah oriental yang selama ini terlihat pendiam, bisa begitu banyak bicara dan mengena. Yasir kemudian mengangguk, membenarkan semua perkataan Vera. “jadi saya harus mengikuti saran kamu Ve? Agar saya mendekati Fany, begitu?” Tanyanya kemudian.

“Tidak begitu juga Sir, kamu coba renungkan dulu. Aku cuma ingin tahu, kalo di hati kamu masih ada cinta buat Fany atau tidak. kalo masih, tidak ada salahnya kan untuk membangun ulang hubungan lama itu, kata Yuda, fany juga tidak dekat dengan lelaki lain di jakarta, selain Yuda tentunya”.

“Baik Ve, sekali lagi terimakasih atas perhatianmu”.

“Bukan hanya aku Sir, semua yang disekelilingmu itu perhatian dan loyal terhadapmu, Bapa Ibu Atmaja, apalagi Mas Sanjaya. Kami hanya tidak ingin kamu terus menyalahkan diri sendiri, apalagi sampai melakukan tindakan bodoh yang kekanakan”.

“Bodoh? kekanakan? Maksudnya Ve?”

“Kamu mengejar perampok dan menerjang peluru, itu tidak semata-mata ingin menangkap perampok itu bukan? Kamu mencari jalan untuk menyusul Meli”, Vera diam sejenak, dia perhatikan yasir yang nampak kaget, “Harusnya aku tidak bilang ini, tapi aku tidak bisa terus diam membiarkanmu Sir, aku, maksuduku kami semua menyayangimu”. Vera agak tergagap saat meralat ucapan terakhirnya.

“Tidak ve, saya tidak akan mengulangi kebodohan itu. Percayalah. Aku sudah cukup kuat, apalagi banyak orang-orang di sekelilingku yang selalu menguatkanku. Terimakasih sekali lagi Ve”

“Aku akan selalu menguatkanmu Sir”, ucap Vera lirih, hampir tidak terdengar.

Obrolan keduanya berhenti karena tujuan sudah di depan mata. Pabrik baru beras matahari sudah berdiri dan pekerjaan proyek masih berlangsung di beberapa sudut. Setelah memarkir mobil, Yasir menuju kantor proyek yang ditempati pengawas dan pimpinan kontraktor. Beni adalah pimpinan utama kontraktor di proyek ini, dia bukan pimpinan utama dari PT yang menangani pembangunan pabrik tapi orang kepercayaan yang menjadi penanggung jawab utama di situ. Drajat, Banu dan beberapa pengawas dipercaya Beni untuk memantau serta mengarahkan para pekerja.

“Assalamu’alaikum”. Yasir masuk ke ruang kantor proyek yang terbuat dari bebrapa papan sederhana itu, diikuti Vera dari belakang. Sementara Cak No dan orang kepercayaan Sanjaya hanya masuk sesaat dan keluar, memilih berkeliling lokasi pembangunan pabrik.

“Wa’alaikumussalam, silahkan Pa Yasir, Bu Vera”, Beni mempersilahkan keduanya masuk dan duduk. “Bagaimana kabarnya Pak, Bu?”, sapa Beni sambil mengulurkan tangan.

“Alhamdulillah baik, pak Beni sendiri bagaiman?”, Yasir menyambut jabat tangan itu.

“Alhamdulillah baik pak. Apa tadi langsung kemari atau berkeliling dulu?”

“Langsung kemari. Saya mau mengajak Pak Beni berkeliling sekalian, biar bisa ditanyakan langsung ke ahlinya kalo ada yang mengganjal”.

“Baik kalo gitu. Oh iya, silahkan diminum dulu, perjalanan jauh kan. Bu Vera silahkan”, Beni masih berusaha basa-basi, meski hanya air mineral gelas yang disuguhkan, “Maaf tidak menyiapkan camilan khsusu, cuma ini yang ada, makanan kampung hehehe”, lanjutnya sambil membuka kaleng biskuit yang ternyata berisi rengginang dan kaleng lain berisi peyek kedelai.

“Terimakasih pak, sudah minum tadi di mobil, nanti saja”, kali ini Vera yang menjawab. “Saya justeru lebih suka makanan tradisional daripada isi aseli dari kaleng itu”, Vera melanjutkan sambil tersenyum.

Selanjutnya ketiganya keluar menuju pabrik, berkeliling mengecek setiap sudut ara yang sedang dikerjakan oleh para pekerja. Semua nampak berjalan sesua rencana. Setelah puas berkeliling dan menanyakan segala hal terkait perkembangan proyek, Yasir dan Vera pamit sama Beni diikuti 3 ‘bodyguard’ Yasir. Yah bodyguard kalo boleh dibilang begitu, karena Cak No dan 2 orang kepercayaan Sanjaya memang mengawal dan mengawasi segala gerak-gerik Yasir dan sekelilingnya. Meski tidak semuanya terpantau dengan teliti, paling tidak mereka menjaga Yasir dari berbuat nekad seperti saat mengejar perampok dengan sepeda motor dulu.

Dua mobil itu meninggalkan perlataran parkiran proyek, Yasir dengan Honda Jass merah melaju di depan diikuti Pajero Sport yang dikendarai ‘pengawalnya’. Saat sudah beberapa kilometer dari proyek, Yasir merasa ada yang tidak beres dengan rem mobilnya, seolah kurang pakem. Sayang dia menyadari saat jalanan sudah naik turun bukit dan sulit mengendalikan laju kendaraan di turunan itu, dia masukan ke gigi satu agar terbantu oleh engine brake.

“Ve, kencangkan sabuk”, kata Yasir.

“Kenapa mobilnya Sir?”

“Sepertinya ada kerusakan sama rem. Sekarang malah sama sekali tidak berungsi”.

“Maafka saya Ve, tadi harusnya saya menurut sama usulmu untuk pakai mobilmu saja”.

“Sudah Sir, hati-hati ada truk dari depan”. Vera mulai panik

“Ve, saya sama sekali tidak berniat celaka ataupun mencelakakan diri apalagi melibatkanmu”

Vera menengok ke arah Yasir dan menggeleng, dia pegang lengan pemuda itu.

Yasir mencoba mengontrol mobil yang sudah menderu di turunan curam itu, mesinnya meraung karena menahan pada gigi satu, asap mengepul dari area mesin, mungkin kanvas kopeling terlalu bekerja keras menahan putaran mesin.

“Awas Sir!”, Vera berteriak karena sekonyong-konyong ada penyeberang jalan sambii memanggul rumput melintas setelah melewati truk barusan. Yasir reflek membanting setir menghindar tapi saat dia berusaha kembali ke jalur, mobil oleng dan menyerempet pembatas jalan. Mobil kehilangan kendali karena ban depan sempat terangkat, menyebabkan mobil mental ke arah sisi jalan seberang kemudian terguling beberapa kali, sisi depan mobil beberapa kali menghantam tanah mengakibatkan bodi melesak dan baru berhenti karena menabrak pohon besar. Vera histeris sementara Yasir pasrah kepada Sang Pemilik takdir. Mungkin ini saatnya menyusulmu dek, batinnya disela komat-kamit melantunkan kekuasaan Tuhan.

“Ve.. Ve”, Yasir mencoba menggerakan tangan untuk meraih tubuh Vera yang diam tak bergerak, terjepit dasboard dengan tangan masih berpegangan pada lengan Yasir. Ternyata bukan cuma rem yang tidak berfungsi, air bag juga, sehingga tidak mengembang saat mengalami benturan. Yasir masih berusaha menggerakan tangan di tengah kekalutan. Tapi seluruh tubuhnya serasa remuk tanpa daya, bahkan kemudian dia tidak sadarkan diri. Setir mobil itu sekarang begitu menempel ke dadanya, lebih tepatnya mendorong dan menjepit badannya ke sandaran kursi. Darah mengalir di beberapa bagian tubuh keduanya.

========== ====***==============

Bersambung…

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Novel dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s