Trust


MANJA

Esok harinya, sepulang dari kampus dan sampai di pasar, Yasir langsung disambut Majikannya.

“Sir, suruh ke rumah sama ibu, ada PR, Meli”.

“Kok, tumben Meli tida ke sini Pak?” Yasir agak ragu, apapalgi kalimat Pak Atmaja yang ambigu. Kemarin dia lebih banyak waktu menemani Meli daripada bekerja membantu tugas di pasar, jika hari ini dia harus ke rumah majikannya, berarti dia harus meninggalkan tugasnya lagi sebagai pegawai Atmaja.

“Kurang tahu, udah sana samperin aja, sekalian kamu makan di sana, katanya mbak nani maak jengkol balado”, pak Atmaja mengelak menjelasakan, sebenarnya tadi isterinya nelpon ke toko, memberi kabar kalo Meli kemabli merajuk, dari pagi tidak mau sarapan, pulang sekolah juga tidak makan dan langsung mengurung diri di kamar. Bu Atmaja menebak ini ada kaitannya dengan Yasir yang kemarin sore pergi berboncengan dengan Fany. makanya dia menyarankan Yasir datang agar membujuk Fany biar berhenti merajuk.

Yasir mengalihkan pandangan ke Muri, bermaksud minta pendapat, cuma Mas Muri yang punya kemungkinan bisa mempengaruhi bosnya, tapi Muri hanya mengangguk seolah mengiyakan agar Yasir bergegas menemui Meli. “Ada Toto Sir, tenang aja”. kata lelaki yang sudah dianggap penasehat bagi yasir.

Terpaksa Yasir memutar balik sepeda motornya dan melaju menuju perumahan Panorama. Sepanjang jalan Yasir bertanya-tanya, ada apa lagi dengan Meli, si manja itu, batinnya.

Begitu sampai rumah bosnya, Yasir sudah ditunggu ibu bos, Ibu Atmaja. Setelah salam dan salim, Yasir disuruh makan.

“Meli mana Bu?”, tanyanya mengabaikan perintah makan dari majikannya.

“Di kamar, ngambek gak mau makan dari pagi”, Ibu Atmaja mulai menceritakan perubahan sikap Meli yang merajuk dan mengurumg diri di kamar. “Coba kamu bujuk lé, ibu kawatri dia demam lagi dan magnya kambuh”, lanjutnya, nampak jelas kekawatiran dalam getar suara dan raut mukanya.

Jadi ini PR Meli. bisik Yasir dalam Hati.

Yasir segera menuju kamar meli, diketuknya kamar itu, “Dek, ini Mas Yasir, makan yok dek, temenin mas mau makan, udah lapar nih. Ada sayur bening isi bayem sama ati goreng loh”, bujuk Yasir yang paham makanan kesukaan anak bontot majikannya itu.

Setelah ketukan dan rayuan tidak menghasilakn, akhirnya Yasir berpura-pura pamit, “Yaudah, kalo gak mau makan, mas Yasir pulang aja”, Yasir masih menunggu sesaat di depan pintu. kemudian dia melangkah ke lemari mainan yang tidak jauh dari situ, dia ambil mainan yang bisa mengeluarkan suara layalnya tembakan. “Bukan Yasir yang salah Mas, ampun mas”, tiba-tiba Yasir berteriak. “Mas Sanjaya tanya aja sama Meli, bukan Yasir yang nakal, ampun mas”, Suara Yasir sengaja dikeraskan agar terdengar dari kamar Meli yang terkunci.

Yasir masih melanjutkan aksinya, berlari kecil dengan suara tapak kai yang dihentakan lebih kuat ke lantai, menuju depan pintu kamar Meli, “Bener Mas, bukan saya, tanya Meli saja Mas kalo tidak percaya, ampun Mas….Agkhh..!”

Yasir berteriak melengking seiring suara letupan seperti suara pistol yang ditembakan. Sejurus kemudian pintu kamar Meli dibuka, “Mas Yasir..”, teriak Meli panik sambil melompat keluar kamar untuk menolong Yasir, tapi yang ditemuinya justeru Yasir langsung menagkap dan memeluknya.

“Kena juga penjahatnya, ayok waktunya diadili”, Kata yasir sambil menggendong meli ala bidral dan membawanya ke meja makan.

“Lepasin, Mas Yasir jahat, mas bohong…”, Meli berontak tapi tidak bisa melepaskan diri dari gendongan karena Yasir memgangnya dengan kuat dan baru menurunkan setelah smpai kursi makan.

“Ayok makan dek, kalo kamu gak makan, nanti adek gak cantik lagi, gak imut-imut lagi. Jelek deh jadinya. Kalo jelek Mas gak mau ngajarin PR lagi loh”, bujuk Yasir kemudian.

“Gak mau”, sergah Meli cepat

“Ayo, mas Yasir suapin ya”.

“Enggak”

“Aaaa.”, kata Yasir sambil mengangsurkan sendok makan berisi nasi dan sayur bayam serta potongan ati ayam goreng menuju mulut Meli yang masih cemberut. “Aaaa…”, Tapi mulut Meli masih mingkem.

“Yaudah”, Yasir justeru menyuapkan nasi ke mulutnya sendiri saat Meli seolah akan membuka mulutnya.

“Maaasss. Meli sebel”

“Iya..iya… Aaaa”, mulut Meli yang sedang mengomel terhenti karena sendok nasi beserta isinya menyeruak dari tangan Yasir. “Nah pinter, ayok aaa lagi”.

Akhirnya Meli yang memang lapar mau makan disuapi oleh Yasir hingga nambah, karena berdua makan memakai satu piring dan sendok yang sama. Kejadian demi kejadian tidak lepas dari pengawasan Ibu Atmaja yang hanya bisa menghela nafas, lega akhirnya anak gadis kesayangannya mau berhenti merajuk.

Begitulah, Yasir selalu punya cara untuk membujuk Meli, membuat keluarga Atmaja seperti ketergantungan dengan Yasir manakala Meli merajuk dan sulit ditundukkan.

“Bu, besok Meli minta diantar sekolah Mas Yasir”

“Dek, kan Mas harus bekerja di pasar kalo pagi”, Yasir cepat menyambar ucapan Meli

“Buuu!”, Meli mulai cemberut.

“Iya, besok Mas Yasir yang anterin”, Yasir segera menyahut manakala melihat ibu majikannya mengangguk pasti, menandakan dia tidak bisa menolak.

Setelah acara makan bersama itu selesai, Meli diantar Ibunya dan Yasir ke kamar, membuka buku pelajaran dan memeriksa sebentar barangkali ada PR.

Sebenarnya Meli hanya manja berlebihan di rumah, di sekolah dia bergaul sebagaimana umunya anak sekolah seumurannya. Kalopun ada sesuatu yang membuatnya kecewa atau marah, dia masih bisa menahan dan sadar diri untuk tidak berbuat berlebihan layaknya di rumah. Hanya saja memang dia lebih cengeng dari anaka seumurannya, sampai semua teman sekelasnya menjulukinya sebagai anak mama.

Semenjak kejadian itu, tiap setengah tujuh pagi saat Yasir sedang asik dengan kesibukannya di pasar, Pak Atmaja selalu mengingatkan untuk segera ke rumah mengantar Meli ke sekolah, kadang Muri yang mengingatkan. Dan sekali lagi Yasir mendapat kompensasi lebih dibanding pekerja yang lain.

Sepulang mengantar meli Yasir tidak kembali ke pasar tapi ke rumah majikannya untuk belajar aplikasi komputer. Hal itu terus berlanjut hingga Ujian Ahir Semester atau UAS selesai. Yasir mendapat nilai cukup baik, meski jauh dari sempurna, paling tidak dia tidak perlu mengulang mata kuliah. Nilai paling jelek adalah C- dari mata kuliah Aplikasi komputer. UAS cukup menyita perhatian untuk lebih giat belajar. Yasir yang tetap sibuk di pasar pada pagi dan siang hari masih harus ditambah mengantar Meli dan menemani dia belajar selama UAS, membuat yasir lebih sering di rumah majikannya daripada di pasar. Selesi UAS dan lubur semester, barulah Yasir bisa leluasa menyibukan diri dengan tugas dan tanggung jawab di pasar, Meli juga sudah naik kelas 3 SMA dan sedang liburan jadi tidak ada alasan untuk mengganggu Yasir dengan PR sekolah.

“Sir, nanti malam ke rumah ya, Mas Sanjaya mau ketemu”. Kata pak Atmaja pada suatu hari.

“Enggih Pak”, Yasir menjawab tegas, dia yakin ada yang penting dan sangat serius kalo sudah melibatkan anak pertama dari majikannya.

===============***==============

RENCANA

“Sir, apa kabar”, kata Sanjaya saat Yasir bertandang ke majikannya pada malam hari. Bertiga dengan Pak Atmaja duduk di kursi teras rumah. Rumah Sanjaya memang masih satu komplek di Panorama.

“Baik mas”

“Gini Sir, kata Bapak, kamu pernah ngusulin untuk membuka cabang baru?”, lanjut Sanjaya sambil memandang Bapaknya, pak Atmaja mengangguk mengiyakan.

“Iya, dulu saya bilang sama Mas Muri, karena pelanggan bapak makin banyak dan pelayanan agak tersendat karena toko di pasar tidak bisa menampung semua pelanggan yang datang kerap hampir bersamaan”. Yasir mengingat ide Pengembangan Bisnis yang pernah ia utarakan ke Muri beberapa bulan silam. “Maksud saya, dengan adanya cabang baru di lokasi yang berbeda, misal di pasar Kasin, bisa memecah konsentrasi pelanggan dengan mengarahkan agar pelanggan yang lebih dekat ke lokasi baru, bisa berbelanja ke cabang baru tersebut, sekaligus berupaya menjaring pelanggan baru di lokasi tersebut Mas”. Yasir menjelasakan lebih lanjut.

“Nah, Mas paham sekarang, sama seperti yang dibilang Diandra itu pak”, jawab Sanjaya kembali memandang bapaknya yang menyimak penjelasan Yasir, “Diandra juga bilang seperti itu. Terkait cabang baru yang Bapak dan saya bicarakan, coba besok lusa atau kalo ada luang kamu cari tempat di Pasar Kasin atau sekitar pasar itu, jadi tiak terlalu jauh juga dari Mergan. Ajak Cak No aja buat menemani. Kalo ada yang bisa dibeli sekalian, jangan sewa, tapi kamu pastikan dulu, pertimbangankan dari berbagai aspek, kamu bisa minta pendapat Cak No juga, dia lebih paham lokasi di berbagai pasar, karena leboih sering keluar masuk pasar-pasar itu”.

“Baik mas, saya akan survey dulu, mudah-mudahan ada beberapa toko jadi bisa dibuat perbandingan”.

“Satu lagi Sir, nanti kamu yang akan diserahin tanggung jawab untuk mengelola cabang baru itu”, Pak Atmaja ikut bicara, “Kan Bapak ndak punya orang lain selain Muri, ya tinggal kamu. Muri harus bertanggung jawab di Mergan, karena saya tidak bisa setiap saat menunggu toko”.

“Bapak yaqin”, Yasir agak tergagap, meski Muri pernah mengatakan kemungkinan tersebut, tapi yasir tidak berharap jadi orang kepercayaan Atmaja untuk memegang cabang baru.

“Yakin Sir, tentu saja”, Sanjaya yang menjawab. “Tapi, kamu harus bisa mempertimbangkan dan menyesuaikan dengan jam kuliah kamu, jika kamu yakin cabang baru tidak mengganggu kuliah, silahkan lanjutkan, jika tidak, maka cabang baru hanya melayani di jam saat kamu tidak sedang kuliah”.

“Jam sibuk pasar di pagi hari, jam yang memiliki kesempatan untuk meraih pelanggan baru. Di siang sampai malam, kebanyakan toko tutup, hanya beberap toko yang melayani jasa antar atau jahit dan semacamnya. Saya akan coba mengikuti mata kuliah siang, saya akan bicara ke TU dan rektor kalo diperlukan, akan sangat disayangkan kalo tempat baru itu hanya jadi persinggahan barang”. yasir menjawab mantap.

“Baik, kamu pikirkan dan pertimbangkan saja dulu, baik buruknya, nanti kabarkan ke bapak atau ke saya, termasuk tempat baru itu, nanti saya usahakan cek terlebih dulu sebelum deal ambil yang mana”, Sanjaya memberi pengarahan.

Di dalam rumah tidak jauh dari pintu masuk, Meli ikut mendengarkan pembicaraan itu. Dia yang awalanya hendak mengganggu Yasir diurungkan, karena menyadari ada Sanjaya yang menandakan sedang ada pembicaraan serius. Semenjak libur semester, Meli memang belum ketemu dengan Yasir, jadi saat tahu Yasr ke rumah, dia mencoba caper, kas anak mama yang manja. Tapi kali ini sepertinya dia harus kecewa.

“Meli, tolong bawakan minum lagi ke depan”, sekonyong-konyong terdengar teriakan bapaknya dari depan.

Meli segera berlari menuju dapur, menyampaikan pesanan Bapak ke Mbak Nani dan tidak perlu lama, Meli sudah keluar membawa nampan berisi 3 cangkir kopi hitam. Meletakan satu-satu di depan anggota rapat keluarga itu. Saat itulah iseng Meli muncul, saat hendak menaruh cangkir terakhir di depan Yasir, dia seolah oleng membuat cangkir miring sesaat dan isinya tumpah sepertiga ke baju Yasir. “Maaf Mas, ga sengaja”, pekik Meli sambil meraih tisu dan mengelap baju yasir yang basah, tapi senyuman tersungging di bibirnya, meski sekilas, Yasir mengenali arti jahilnya.

“Aduh Meli, kamu yo opo to nduk”. Sela bapaknya

“Adus ae sisan kono Sir, kamu belum mandi dari pasar kan. Mel ambilin baju mas Rama buat ganti”, Sanjaya menyambung.

Yasir bangkit masuk rumah diiringi Meli membawa nampan kosong.

“Jahil banget kamu si Dek”, katanya saat mereka berdua sudah dalam rumah.

“Kan Meli tidak sengaja Mas”.

“Tidak sengaja?”, Yasir berbalik dan menundukan badan, mengarahkan mukanya ke arah muka Meli. Meli yang tidak menyangka Yasir berhenti dan berbalik badan, tidak mampu menahan langkahnya, alhasil mukanya bertabrakan dengan muka Yasir. “Tambah lagi kan isengnya”, Yasir kemabli mengomel.

“Lagian pakai berhenti mendadak”.

“Kamu sengaja numpahin kopi kan dek?”, Yasir kembali lekat melihat mata Meli.

“Enggak”.

“Bohong”.

“Enggak”.

“Maca ci?, ciyus?”. Yasir terus menatap mata Meli membuat Meli kikuk dengan pipi yang memerah.

“Iya”, Meli menjawab lirih sambil menunduk. “Habis Mas Yasir sombong”.

“Sombong apaan si”.

“Gak pernah main ke rumah Meli”.

“Ini sekarang Mas ada di sini”.

“Tapi kan karena dipanggil Bapa dan Mas Sanjaya. Meli sebel sama Mas Yasir”.

“Mulai deh. Dek, kan emang ga ada alasan Mas buat main kemari, emang libur-libur gini kamu ada PR? Kan enggak.”

“Pokoknya Meli sebel sama Mas”, kata Meli lagi sambil memukulkan nampan ke dada Yasir.

“Yaudah, besok-besok Mas main deh”, Dicubitnya pipi dan mengelus puncak kepala Meli. Yasir tidak mau berdebat lagi, Yasir juga tidak menanyakan kenapa Meli bersikap seperti itu. Dia bergegas ke kamar mandi.

Sebenarnya Meli sendiri belum memahami, mengapa dia merasa sebel dengan tidak hadirnya Yasir selama beberapa hari, dia merasakan kehilangan sekaligus kehampaan menerpa dadanya. Ingin ke pasar, tapi dia tidak punya alasan.

Pembicaraan dan tingkah dua anak manusia itu tidak lepas dari pengamatan Bu Atmaja yang melihat dari pintu dapur. “Apa anaku wedok jatuh cinta”, batinnya bermonolog.

===============***==============

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Novel dan tag , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Trust

  1. ndesoedisi berkata:

    Absen lik 😁

    Disukai oleh 1 orang

  2. Ping balik: About Trust | Triyanto Banyumasan Blog's

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s