Trust (3)


Rasa Itu

Hari keempat Yasir belum siuman di ICU. Dua hari yang lalu, Yuda yang sudah menunggu 2 hari 2 malam akhirnya disuruh pulang oleh Sanjaya karena yasir tidak kunjung siuman. Sanjaya kawatir menggagnggu kuliah Yuda juga aktifitas keartisannya. Yuda terpaksa kembali ke ibukota karena memang sudah ada janji dengan salah satu client produk dan dia ditunjuk sebagai brand ambassador. Sementara Vera sudah sadar di hari ketiga dan dipindahkan ke ruang rawat inap, ditungguin oleh maminya karena sang papi harus kembali ke pabrik di Arjosari, sementara pabrik baru di Lamongan, saat ini diserahkan sepenuhnya kepada Rendi sebagai penanggung jawab sampai Yasir dan Vera bisa kembali pulih seperti semula. Semua yakin, Yasir akan bertahan. Begitupun Sanjaya yang selalu menyempatkan datang menjenguk dan menjaga, meski harus berjauhan dengan keluarga, pun untuk ke kantor dia harus menempuh perjalanan hampir 2 jam, siang hari saat dia tugas ada Cak No yang menjaga. Ya tukang becak yang sudah menjadi karyawan Yasir itu tidak sekalipun absen menjaga majikan yang sudah dianggap anaknya itu, karena Yasir juga tidak pernah memperlakukan dia sebagai karyawan, lebih sebagai orang tua yang selalu dijadikan tempat mencari nasehat dan saran dalam mengambil keputusan, khsusunya masalah bisnis.

Sanjaya dan Cak No juga punya alasan lain untuk tetap menjaga Yasir tanpa lepas sedikitpun, bergantian harus ada mata yang mengawasi. Karena setelah penyelidikan yang dilakukan keduanya, kecelakaan mobil yang membuat celaka Yasir dan Vera mengarah pada balas dendam terhadap Yasir. Ya, jejak belut berkaki mulai terungkap tinggal menyeret si dalang ke dalam jeruji besi, Sanjaya sedang berusaha mengumpulkan bukti melalui orang yang melakukan perusakan terhadap mobil Yasir di parkiran pabrik beras Lamongan. Seorang montir yang memiliki hutang banyak kepada rentenir. Sang rentenir merupakan induk dari belut berkaki di kampus Yasir dulu. Dia ingin balas dendam, karena anakanya yang dulu saat kuliah merangkap sebagai bandar sabu-sabu sekarang masih meringkuk di balik penjara. Penyelidikan ini lebih didominasi oleh Cak No dan teman-teman lamanya, karena Sanjaya meski punya koneksi dengan rekannya yang bertugas di Lamongan, tetap saja tidak punya akses penuh ke semua data dan wilayah, karena bukan yuridisnya dan dia juga terikat dengan kode etik yang berlaku di kepolisian. Berbeda dengan Cak No, dia bebas bergerak tanpa terbatasi oleh seragam dan korps, melalui dunia yang sudah lama ditinggalkan. Dengan daftar nama pegawai dan riwayat hidup yang dia foto copy dari Sanjaya, Cak No membagikan informasi itu ke kawan-kawan lama yang cukup terpercaya dan mampu bergerak cepat tanpa terdeteksi pihak berwenang. (Kisah Sanjaya dan Belut Berkaki Insyaa Alloh akan dikisahkan dalam cerita terpisah)

Masih hari keempat Yasir di rumah sakit, sore jelang malam Sanjaya memasuki rumah sakit dan langsung menuju ICU di mana Yasir terbaring dengan aneka selang dan kabel terhubung ke badannya.

“San, nembe tekan kon?” Sapa Cak No kepada Sanjaya.

“Iyo Cak, yok opo Yasir Cak?”

“Alhamdulillah barusan mulai membuka mata, tapi sepertinya kesadarannya belum pulih semua. Masih diam”.

“Alhamdulillah, apa sudah boleh ditengok ke dalam Cak?”

“Nteni delungkas, suster sing ngecek teko”. Cak No mengedarkan pandangan, “Nah kae perawate, jal takok”.

“Keluarga Pak Yasir?”, sapa suster saat sampai di depan Sanjaya dan Cak No.

“Iya Sus”, Sanjaya menyahut cepat, “Apa saya bisa ke dalam ketemu adik saya?”

“Boleh, tapi jangan ditanya-tanya dulu ya, disapa aja pelan-pelan. Pak Yasir masih nampak syok”, Suster menjelaskan.

“Baik Sus, makasih”, Sanjaya bergegas membuka pintu ruang ICU dan mendapati Yasir langsung menatapnya dalam diam. “Sir, Alhamdulillah sudah bangun. Yok opo kabare awakmu?”, sapa Sanjaya sambil mengelus kepala Yasir pelan. Dia sudah menganggap Yasir sebagai adik yang paling dekat dengannya, meski sekedar adik ipar, tapi dari ketiga adik kandungnya, justeru beberapa tahun belakangan, Yasirlah yang paling sering berinteraksi dengannya.

“Mas”, Yasir menjawab pelan, menatap kakak iparnya.

“Udah istirahat lagi aja Sir, biar cepet pulih, biar lekas ketemu Ana. Soalnya balita tidak boleh dibawa kemari, tidak diijinkan pihak rumah sakit.

“Ana..hmm.. Ana.. iya Ana, saya kangen Ana”, Yasir bergumam mengulang kata Ana, anakanya yang tinggal bersama Rina, isteri Sanjaya.

“Iya Sir, tenang aja, kamu lekas pulih. Ana baik-baik saja kok, makin crewet pastinya, meski belum jelas ucapannya, lucu malah, aku gemes tiap ketemu dia. Mbak Rina juga sangat menyanginya, Dewa juga makin seneng sekarang karena Ana sudah bisa diajak lari-lari di taman belakang”, Sanjaya berusaha merangsang rasa bahagia Yasir dengan menceritakan kebahagiaan Ana, anaknya bersama Meli. “Pokoknya kamu tenang aja, Ana udah ada yang jaga dan menemani, Ibu juga kadang nginep di ruma Mas, tidur bareng Ana, maunya tiap hari, tapi kan Bapa kasihan, kalo semua nginep, nanti rumah kosong, kan sayang kalo kelamaan kosong biasanya rumah kotor dan rusak”. Sanjaya masih melanjutkan bercerita, membiarkan Yasir menjadi pendengar.

“Mas”, tiba-tiba Yasir menyela dengan wajah penuh kekhawatiran bahkan nampak ketakutan.

“Vera sudah sadar dari kemarin Sir”, Sanjaya seolah dapat menebak apa yang dikhawatrikan Yasir. “Dia sudah dipindah ke ruang rawat inap, ditungguin maminya, mungkin besok pagi Pak Waluyo juga kemari”.

“Mas”, Yasir kemabli menyela, “Mas, apakah Vera baik-baik saja? Apakah Pak Waluyo marah ke Yasir?”

“Vera baik-baik saja Sir, tapi memang belum boleh pulang, harus menjalani perawatan lagi untuk pemulihan, tidak akan lama. Makanya kamu juga harus cepat pulih dan Pak Waluyo juga tidak marah, lagian kenapa harus marah Sir? Ini kan kecelakaan, tidak bisa dihindari”.

“Tapi kan mas tahu, mobil itu baru servis dan semua tidak ada kendala, saya kawatri Pak Waluyo mengira saya sengaja mencelakakan diri”, Yasir ingat ternyata Vera saja tahu kalo dia dulu sengaja menerjang peluru dari pistol perampok karena mencari jalan menyusul Meli.

“Enggak Sir, Pak Waluyo paham, itu kecelakaan. Dan mengenai mobil yang mengalami malfungsi, nanti mungkin ada penjelasan setelah dilakukan pengecekan”, Sanjaya diam sejenak, “Sudah, kamu tidak usah berpikiran yang aneh-aneh. Istirahat lagi saja, nanti kalo sudah diijinkan dokter, kita ketemu Vera dan keluarganya, biar kamu makin tenang dan yakin. Kamu percayakan saja sama Mas Sanjaya”.

“Baik Mas, makasih. Maaf, saya selalu merepotkan”, Yasir masih merasa bersalah karena menyebabkna orang lain celaka.

“Tidak Sir, tidak. Kamu tidak merepotkan. Sama sekali. Mas bahagia punya adik kaya kamu, meski cuma adik ipar, bahkan Bapak sangat bangga padamu karena sangat loyal dalam bekerja dan mengembangkan bisnis. Kamu sudah jadi keluarga Atmaja jadi kamu tidak penah membuat kami repot, sudah menjadi kewajiban. Kamu itu sorang Atmaja Sir, buang sungkan itu, buang segala perasaan bersalah. Kamu percaya takdir bukan?”

“Iya Mas”

“Takdir sudah berlaku, tidak bisa dibelokan, dimundurkan apalagi dihentikan”. Sanjaya mengingatkan untuk kesekian kalinya.

Di ruang berbeda, tepatnya ruang rawat inap, Vera masih berbaring di brankar ditemani maminya, “Katanya Yasir udah sadar Mi?”, kata anak gadis itu dengan raut kawatir. “Apakah dia baik-baik saja?”.

“Iya nduk, tadi Cak No kemari mengabarkan. Mami yakin dia baik-baik saja, kan kamu bilang dia pemuda yang tangguh”, maminya menjawab menguatkan. Dia tahu, anaknya kawatir mengalami nasib serupa, kaki Vera sampai sekarang belum bisa digerakan, kemungkinan dia akan menggunakan kursi roda meski sduah pulih nantinya. “Nanti kita terapi Ver, mami yakin kakimu akan berfungsi seperti sedia kala. Sekarang lekaslah pulih, jangan banyak pikiran, kamu sudah dengar dokter tadi kan?”.

“Iya Mi, Vera cuma kawatir, kalo Yasir sampai kenapa-kenapa, Vera merasa berdosa, karena Vera yang meminta papi melibatkan dia di proyek ini”.

“Tidak Ver, tidak mungkin, kan kamu sudah kenal jauh siapa Yasir, justeru mami kawatir dia menyalahkan diri sendiri”, wanita itu diam sejenak, mengingat cerita suaminya, bahwa Yasir merasa sangat terpukul dengan kepergian isterinya dan berusaha menyusul dengan tindakan nekat pada si perampok. Ya, Waluyo menceritakan seperti apa yang dikisahkan Sanjaya saat perwira polisi itu minta pendapat agar Yasir lebih sibuk dengan kegiatan bisnis.

“Apa kita bisa menjenguk Yasir Mi?” Vera memcah lamunan maminya.

“Nanti mami tanya Mas Sanjaya dulu Ver, apa diijinkan. Kalo memang diijinkan, kita akan ke sana”.

“Makasih Mi”.

“Sudah, istirahat lagi aja”.

================***===============

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Novel dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s