Denting Tiang PJU dan Awan Merah di Tambun Bungai


“Teng…..trengteng.,teng..teng…!!”
Tiang jala-jala listrik yang berupa pipa besi berdiameter 8 inci, sekaligus penambat lampu PJU di jalur Kereng Bengkirai yang menghubungkan Ibukota Kalimantan Tengah dengan Banjarmasin, Kalimantan Selatan, berdentang dipukul seseorang dengan irama yang menandakan kewaspadaan tinggi. Bersahut dari ujung Pelabuhan Kereng hingga mendekati jantung Ibukota Propunsi.
Saya terbangun, karena kaget yang teramat sangat membuat mata langsung nanar, telinga seolah berdenging oleh buntut suara dentingan tiang lampu PJU tersebut. Tiang di tengah jalur perboden depan pondokan atau bedeng tempatku nguli, ya sekira 10 meter. Kutengok jam dinding, menunjuk jam 02.12 dinihari.
Ada apa gerangan? Otaku berusaha mencerna dengan cepat, dentingan tiang PJU masih bertalu di kejauhan, bersahut, bersambung. Reflek saya lari keluar bedeng, menengadah mencari sumber pertama dentingan tiang PJU. Nampak awan memerah di atas pelabuhan Kereng, jelas bukan fajar yang menyingsing, karena itu adalah arah selatan dan jam masih teramat pagi bagi sang fajar untuk menampakan diri. “Kebakaran, pelabuhan Kereng kebakaran pasti nih!!” teriak kawanku.
“Krriiiinggggg….kriiiinggggg…kriiiiinggng” tergagap mendengar dering telepon, dengan sigap kawanku masuk pondokan, menyambar gagang telepon, penuh ketegangan, jam dua pagi, takan berdering telepon kecuali ada hal yang sangat penting.
“Halo, iya… Udu… Hah… Lha.. Ngendi berarti?” (halo,… Iya… Bukan.. Hah.. Lha.. Mana berarti? ) . Beberapa saat kemudian telepon ditutup, penelpon ternyata saudara (saudara karena satu rumpun di perantauan) yang tinggal di perumahan dekat pelabuhan Kereng. Akrab disapa Kang Dio. Menurut Kang Dio, kebakaran nampak di utara dari kediamannya, Kang Dio menduga dan khawatir bahwa pondok kamilah yang kebakaran. Dari dugaan kedua pihak (kami dan Kang Dio) disimpulkan, bahwa kebakaran terjadi antara tempat tinggal Kang Dio dan pondokan kami. Lantas di mana?
Hingga pagi kami terjaga, mengantisipasi segala kemungkinan. Penduduk di sekitar kediaman kami melakukan hal sama.
24 Februari, awal tahun 2001 adalah cerita kelam bagi bumi Tambun Bungai, Palangkaraya. Berawal dari bibir Mentaya, sungai yang airnya selalu keruh oleh gambut, cerita itu berawal. Ot Danum, Sampit, kota pelabuhan tempat bersandar Tilong Kabila, kapal Pelni yang kami tumpangi dari Tanjung Mas, Semarang, lima minggu yang lalu. Ya, belum genap satu setengah bulan saya menginjakan kaki di bumi Borneo, dan cerita tak terlupakan itu menerpa. Petaka nasional yang cukup fenomenal. Perseteruan antar etnis dengan bumbu penyedap yang mampu meluluh lantakan dua kota di Kalimantan Tengah. Palangkaraya dengan pembangunan ekonomi sekelas kota kecamatan di Jawa Tengah itu meradang, mati untuk beberapa minggu. Exodus besar-besaran dilakukan oleh warga yang terbuang, terkalahkan, tersudut dan disalahkan.
Paginya tersiar kabar, bahwa sebuah rumah karoke, yang diduga milik warga pendatang dibakar, itulah sumber awan merah malam tadi. Palangkaraya dinyatakan siaga satu. Warga pendatang yang berseteru diberi tempo untuk meninggalkan bumi Isen Mulang hingga 2 x 24 jam. Jika masih bertahan akan dipaksa dan mungkin dengan kekerasan.
Aroma mistis menyelimuti ibukota propinsi tersebut. Warga pribumi menyandang mandau dan tombak, ikat kepala berhias bulu burung rajawali. Konvoi sweping beraura ghoib, dari satu wilayah ke wilayah lain yang diduga dihuni warga musuh, kebakaran di mana-mana, bak jamur cendawan di musim hujan, asap putih membubung dari berbagai sudut langit Pahandhut, Kahayan berurai makin deras bak menangisi tingkah manusia di sekitarnya, mencekam.
image

Burung elang beberapa kali berputar di atas langit Palangkaraya. Burung yang dikeramatkan, burung yang turun ke bumi sebagai sang panglima di medan perang. Penyemangat dan pemimpin “uluh itah”. Mempertahankan Borneo dengan kemistisannya. Isen Mulang harus melanjutkan tekad, membangun, menunjukan jati diri anak negeri, dibimbing Mahatala Langit.
Bumi Tambun Bungai, pemberi warna dalam kisah hidup anak manusia, bagaimanapun kau selalu di hati. Setia menempati salah satu relungnya. Damailah Borneo. Apakah ada pembaca yang tinggal di Tambun Bungai? Salam buat Panglima Burung(tri)

————————————–
Posted from WordPress for Android P6200

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di adventure dan tag , , , , , . Tandai permalink.

8 Balasan ke Denting Tiang PJU dan Awan Merah di Tambun Bungai

  1. Sigit berkata:

    ngeri mbayangin tragedi ky gitu…
    la trus mase langsung ngungsi?

  2. Ping balik: Jelajah Borneo, Menembus Hutan Klakeh | Triyanto Banyumasan Blogs

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s