Di’JAGUR’ Palang Pintu Rel Kereta


Jagur, adalah salah satu kata dari logat atau dialek Banyumasan. Jagur adalah memukul kepala bagian atas (ubun-ubun) dengan kepalan tangan bagian bawah (bawah kelingking sampai pangkal telapak tangan saat mengepal) seperti gambar berikut

pemukulan balita

Dipukul kepalan seperti ini tidak terlalu sakit, berbeda dengan ditonjok, tapi bisa mengakibatkan kepala pening dan kliyengan. Lantas apa hubungannya denga pintu palang rel kereta? Padahal jagur hanya bisa dilakukan oleh kepalan tangan. Lanjutkan membaca Di’JAGUR’ Palang Pintu Rel Kereta

Gatot, Gathot dan Gothot


“Gatot mangan gathot, gothot pisan”.

image
Gathot

Kalimat diatas adalah dialek Banyumasan yang berarti, “Gatot makan gathot dengan lahap”.
Kata ‘Gatot’ merupakan nama seseorang. Nama Gatot merupakan simbol atau melambangkan, harapan akan seorang lelaki yang gagah, gigih dan pantang menyerah. Nama Gatot sangat jarang saya temui memakai tambahan ‘H’ menjadi ‘Gathot’, terutama dalam dialek Banyumas (Banyumasan). Misal nama ‘Gatot Subroto’. Berbeda dengan penyebutan nama ‘GATUTKACA ATAU GATOTKACA’, di Banyumas penyebutan nama jagoan Pringgondani dalam dunia pewayangan menjadi ‘GATHOTKACA’ atau ‘GATHOTKOCO’ sang dalang menyebut dalam pagelaran wayang kulit.

Selanjutnya kata ‘Gathot’, ada tambahan huruf ‘H’, sehingga ejaan menjadi ‘TH’ layaknya orang bali menyebut ‘PATUNG’ menjadi ‘PATHUNG’.
Lanjutkan membaca Gatot, Gathot dan Gothot

Front Right, Brother


Angkot pagi cukup rapi dan sepi. Beberapa penumpang masih setia menjejali si orange yang agak gemlondhang.
Lajunya agak tertatih, sengaja, berharap ada tamu istimewa, penumpang. Biar tak terlewat.

image

“Depan kiri Bang!”,
kata salah satu penumpang. Seorang ibu dengan tentengan kantong plastik merah, berisi sayur bayem. Dari pasar dia naik tadi. Lanjutkan membaca Front Right, Brother

Kopi Wantonan


Cangkir bekas kopi atau cangkir kopi bekas?
Tepatnya kopi sisa, tanpa menyebut cangkir, barangkali begitu.
Perdebatan sepele. Mungkin tanpa hal sepele yang diperdebatkan, hidup kurang berwarna.

Kopi habis.
“Kopi sisa diwantoni saja”, kata seorang teman.
Lanjutkan membaca Kopi Wantonan

Lirikan Tenong 1 Syuro


1 Muharram. 1 Syuro. Hari yang membawaku kembali ke sebuah kampung, penuh kearifan lokal. Hari adat yang akan menghadirkan lirik senyummu.

image
Tenong, photo : seruu.com

Siang itu, matahari bersinar cerah. Teriknya tak menggoyahkan langkahku, gontai menuju rumah nenek. Mewakili beliau menghadiri syukuran desa, sedekah bumi. Suran. Dusun sebelah, bukan dusunku. Lanjutkan membaca Lirikan Tenong 1 Syuro

Nylekamin dan Nylekamid


Dua kata yang hanya saya kenal di desa kelahiran saya. #banyumasan
Nylekamin adalah ucapan untuk mengungkapkan rasa makanan yang enak. Sedang nylekamid adalah plesetan dari kata nylekamin dan biasanya untuk mengungkapkan makanan yang lebih dari enak, nikmat, bisa karena memang nikmat, bisa juga karena lapar.
Makanan layak, apapun, kalo lapar akan terasa enak. Nylekamin pokoken.(tri) Lanjutkan membaca Nylekamin dan Nylekamid

Nyreweneh


Jorok banget, kumuh dan pastinya menjijikan dalam bahasa #banyumasan padanan kata-kata tersebut adalah nyreweneh.
Nyreweneh digunakan untuk mengungkapakan suatu keadaan yang selayaknya bersih dan rapi. Misal kuku panjang dan hitam. Lanjutkan membaca Nyreweneh

Manja, bukan karena Kolokan


Sikap manja identik dengan anak kecil, balita atau anak umur TK sampai SD. Anak kecil manja karena pada umur tersebut biasanya anak masih kolokan. Tapi banyak juga udah SMA bahkan kuliah masih kolokan. Bahkan pasangan suami isteri juga syah untuk bermanja-manja. Tentu sesuai situasi dan kondisi. Tidak sembarang tempat.
Nah kalo manja tapi bukan karena kolokan dan bukan manusia.
Manja dalam bahasa banyumas adalah Lanjutkan membaca Manja, bukan karena Kolokan

Ngajog, Ngungun dan Getun


3 kata dalam judul di atas, ngajog, ngungun dan  getun memiliki arti yang sama, yaitu menyesal. Hanya berbeda pada penggabungan dalam satu kalimat, meski tidak bersifat paten/mengikat.
Ngajog berarti menyesali apa yang telah dilakukan, tapi tingkat penyesalan rendah. Misal dalam kalimat, “Nyong mau tes nyolong krékél Lanjutkan membaca Ngajog, Ngungun dan Getun

Juging dan Teman-Temannya


Pembaca pernah membuat lubang di tanah? Untuk menanam pohon, tempat sampah organik atau mengubur binatang mati barangkali. Atau menggali umbi-umbian dan sebagainya. Alat apa yang anda gunakan? Cangkul, linggis atau sekop pasir?
Di Banyumas, lubang yang dibuat di tanah untuk tempat sampah  atau hal lain disebut jugangan. Kalo lubang kecil tidak perlu alat khusus, cukup menggunakan juging.
Juging adalah kayu/ranting/bambu yang ditajamkan salah satu  ujungnya dan berfungsi Lanjutkan membaca Juging dan Teman-Temannya