Tarik dikala Hujan


Si Bocah membereskan hasil repek (repek : mencari dan mengumpulkan kayu bakar) nya, dirasa cukup kayu bakar diikat menggunakan ba-as (ba-as : lapisan kulit pelepah kelapa bagian atas, dikletek sebagai tali), mendung menggantung di langit makin pekat. Butiran kristal bening mulai berjatuhan, beberapa butir mendarat di muka si Bocah, reflek dielapnya dengan punggung tangan yang penuh peluh berdebu. Dia tidak perduli dengan mukanya yang sekarang cemong, kotor oleh tangannya sendiri.
image

Diangkatnya kayu bakar ke pundak kiri dengan sedikit sempoyongan, pundak kirinya lebih kuat dari yang kanan meskipun dia tidak kidal. Bergegas ia melangkah meninggalkan alas (alas :kebun yang jauh dari rumah, kurang terawat dan jarang ditengok oleh empunya) menuju kediamannya.
Titik kristal makin banyak berjatuhan, tangan kanan si bocah meraih kudi (kudi : sejenis golok dengan bagian bawah tajamnya menyerupai perut buncit, sering digunakan sebagai pembuat lobang di pohon kelapa untuk pijakan kaki dan fungsi pembelah kayu atau bambu yang handal) dipotongnya satu pelepah daun pisang yang cukup lebar, tangan kirinya agak kepayahan menahan keseimbangan beban kayu bakar di pundak.
Diselipkan kudi diantara celana dan bokongnya, menunduk, diraihnya pelepah daun pisang dengan sempoyongan, diletakan daun pisang di atas kayu bakar sekaligus kepalanya sebagai tarik (tarik : payung dari dedaunan, umunya pakai daun pisang, kadang pakai daun lumbu/talas), sekarang si Bocah berjalan semakin hati-hati, tangan kanan harus kerja ekstra, selain menyeimbangkan kayu bakar di pundak, dia juga harus mengendalikan tarik daun pisang agar tidak kabur oleh angin kencang yang mengiringi hujan serta jalan setapak yang licin oleh air. Meski sudah tarikan (tarikan : payungan) si Bocah tetap basah kuyup, dengan tarikan paling tidak kayu bakar tidak terlalu basah, agar mudah digunakan untung nggeneni (nggeneni : membuat api ditungku) masakan nanti di rumah.
Semakin dekat ke rumah, si Bocah seolah mendapat tenaga tambahan, terbayang beneman (beneman : singkong atau talas yang di bakar sampai matang/gosong tanpa dikupas lalu kulit luarnya dikerik hingga bersih) hangat menanti, pas disantap kala hujan sebaga jaburan (jaburan : makanan kecil bersifat tradisional) ditemani wedang clubuk (clubuk/clebek : kopi) pahit panas.
Pernahkah pembaca memakai tarik dikala hujan? (Tri)

Posted from WordPress for Android P6200 retak

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di banyumasan dan tag , , , , , . Tandai permalink.

10 Balasan ke Tarik dikala Hujan

  1. andhi_125 berkata:

    mbiyen cilikan-ku tau…
    kayak nulis novel gitu ya kang, postingnya…pengalaman pribadi-kah?? 😉

  2. Maskur berkata:

    basa ngendi kuwe ya, nyong ora ngerti babar pisan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s