Gatot, Gathot dan Gothot


“Gatot mangan gathot, gothot pisan”.

image

Gathot

Kalimat diatas adalah dialek Banyumasan yang berarti, “Gatot makan gathot dengan lahap”.
Kata ‘Gatot’ merupakan nama seseorang. Nama Gatot merupakan simbol atau melambangkan, harapan akan seorang lelaki yang gagah, gigih dan pantang menyerah. Nama Gatot sangat jarang saya temui memakai tambahan ‘H’ menjadi ‘Gathot’, terutama dalam dialek Banyumas (Banyumasan). Misal nama ‘Gatot Subroto’. Berbeda dengan penyebutan nama ‘GATUTKACA ATAU GATOTKACA’, di Banyumas penyebutan nama jagoan Pringgondani dalam dunia pewayangan menjadi ‘GATHOTKACA’ atau ‘GATHOTKOCO’ sang dalang menyebut dalam pagelaran wayang kulit.

Selanjutnya kata ‘Gathot’, ada tambahan huruf ‘H’, sehingga ejaan menjadi ‘TH’ layaknya orang bali menyebut ‘PATUNG’ menjadi ‘PATHUNG’.

Gathot dalam kalimat di atas adalah nama makanan tradisional Banyumas yang berasal dari ubi kayu atau singkong. Proses pembuatan gathot mulai dari singkong mentah yang dikupas secara asal (tidak bersih), lebih bagus jika singkongnya merupakan jenis singkong wuluh atau wulung. Ciri utama singkong wulung adalah batang muda dan daun singkong wulung ini berwarna ungu. Singkong wulung memiliki rasa pait dan tidak enak (bahkan bisa beracun, bikin pusing) jika dimasak apa adanya layaknya singkong pada umumnya.
Setelah singkong wulung (bisa juga singkong pada umumnya) dikupas ala kadarnya, selanjutnya dijemur sampai kering. Biasanya berjamur dan menghitam. Warna dan tampang terkesan jorok, menjijikan. Bahkan dalam menjemur, kerap asal taruh di atas tanah, dipinggir jalan, yang penting kena sinar matahari, bahkan kadang kehujanan juga dibiarkan saja jika singkong belum kering benar. Esoknya dilanjutkan kena panas matahari sampai kering total. Singkong kering, menghitam, buruk rupa ini di kampung saya disebut ‘KREKEL’ (ejaan seperti menyebut unggas bebek), pada umunya disebut gaplek.
Nah singkong kering alias krekel ini siap diproses menjdi ‘GATHOT’. Kerap tidak langsung diproses, tapi disimpan untuk antisipasi masa paceklik.
Proses selanjutnya adalah menumbuk krekel menjadi pecahan kasar (kalo halus jadi thiwul) lalu dikukus sampai matang, empuk dan kenyal (kenyil-kenyil dalam dialek Banyumas). Siapkan kelapa parut (ampas kelapa layaknya buat urap) campurkan garam secukupnya. Dan gathot matang diurap dengan kelapa parut tersebut. Siap dihidangkan dan dinikmati.

Kata selanjutnya, ‘GOTHOT’. Berarti lahap jika terkait dengan makanan. Lahap tapi kurang sopan, jadi gothot terkait makan lebih dekat kepada sifat rakus. Sedang kata gothot terkait pekerjaan atau aktifitas lain bisa berarti cepat dan terkesan buru-buru.

Apakah pembaca pernah makan gathot di masa paceklik?(tri)

*gambar gathot dari indonesiacultureheritage

—————————-
Posted from WordPress for Android Wonder Roti Jahe

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di banyumasan dan tag , , , , , . Tandai permalink.

10 Balasan ke Gatot, Gathot dan Gothot

  1. ardiantoyugo berkata:

    aku seneng iki… karo tiwul…

  2. kusnanto berkata:

    makanan khas tradisional mana ya? jawa dwipa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s