PCX Sign Genit, Antara Norak dan Tidak Paham


PCX Sign Genit, maksud saya adalah kedua lampu sign di kanan dan kiri menyala berkedip berbarengan, sebutan tepatnya adalah Hazard ataua lampu hazard. Lampu yang bersifat warning, peringatan akan bahaya agar pengguna jalan waspada.

Suatu waktu saya berkendara malam hari di kepadatan lalu lintas kendaraan besar (truk container, pengangkut peti kemas) dengan rintik hujan (Jalan Cilincing – Cakung atau akrab disebut jalan Cacing). Kebetulan saya beriringan dengan Honda PCX yang menyalakan Hazard. Karena silau dan mengganggu pandangan, saya coba menyalip. Tapi tidak berapa lama, si genit kembali berada di depan saya, dan kemilau si sign itu seolah mencibir ke mata saya.

Kembali ke judul, saya menyebut PCX SIGN GENIT. Karena kerap saya menemui pengguna Matic Bongsor 150cc besutan Astra Honda Motor tersebut menyalakan Hazard tidak pada tempatnya.

Lanjutkan membaca PCX Sign Genit, Antara Norak dan Tidak Paham

Bandit 150, V-Ixion yang Ter-Verza


Suzuki Bandit 150 atau GSX-150 Bandit baru saja launcing, kemarin sore, Kamis 02 Agustus 2018, di GIIAS (Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show) BSD City, Tangerang.

Lanjutkan membaca Bandit 150, V-Ixion yang Ter-Verza

Suzuki Nex II dan Bengkok Visual


Suzuki Nex I yang ngeBeat

Saat launcing Suzuki Nex generasi pertama, Desember 2011 silam, saya anggap Nex sebagai rival Honda Beat, dengan bentuk dan harga paling rendah di banding varian lain. Paling mungil, bahkan sekilas ada kemiripan, untuk produk Nex dan Beat di tahun tersebut. Sayang, di pasar, nex tidak semoncer rivalnya tersebut. (sekilas suzuki nex 2011)

Lanjutkan membaca Suzuki Nex II dan Bengkok Visual

Kembali Bersama Hayate


Suzuki Hayate, adalah skutik entri level berkubikasi 125cc dari Suzuki roda dua yang masih menganut pengkabutan manual atau karburator. Kalo tidak salah, ini adalah sepeda motor generasi terakhir yang belum menganut sistem injeksi dari Suzuki roda dua.

Suzuki Hayate ke sawah

Lanjutkan membaca Kembali Bersama Hayate

Catatan Vario Awal Tahun 2018


Mengulas sepeda motor pribadi, yamg dipakai harian, sebagai pengingat atau reminder agar mempermudah perawatan. Misal kapan ganti oli mesin, ban dan sebagainya. Biasanya saya ulas tiap ada penggantian part atau kerusakan tertentu, kali ini saya rangkum saja, karena waktu dan mood menulis yang tidak tentu.

Michelin City Grip Pro

Ban Michelin City Grip Pro, saya aplikasi di ban depan Honda Vario 125, sebagai pengganti ban sebelumnya yaitu Aspira Premio Terreno. Pemasangan sebenarnya masih di tahun 2017, tapi saya lupa persisnya, karena dokumentasi entah di HP yang mana. Kalo tidak salah di bulan November 2017. Ukuran yang dipakai adalah 80/90-14, sesuai ukuran asli ban Vario 125 lawas.

Untuk performa, grip dari City Grip Pro ini cocok untuk jalanan yang saya lalui, model motif yang lurus-lurus saja tentu lebih enak dibanding Aspira Premio Terreno yang menganut motif kotak-kotak layaknya ban Semi Enduro atau Supermoto, motif Terreno saya anggap Pirelli Scorpion versi generik. Sedang Michelin City Grip Pro cenderung bermotif normal, hanya lebih kasar dibanding Michelin Pilot Street.

Michelin City Grip Pro sebagai ban depan Honda Vario 125, sampai saat ini masih aman dan nyaman, meski sudah masuk umur 7 bulan, catatan, Premio Terreno untuk ban depan mampu sampai 9 bulan, sedang untuk ban belakang hanya 7 bulan.

Harga ban Michelin City Grip Pro di Planet Ban, untuk ukuran 80/90-14 dibanderol 242 ribu, sedang untuk ukuran 90/80-14 dibanderol 256 ribu rupiah.

Pirelli Diablo Scooter Berumur Pendek

Pirelli Diablo Scooter saya aplikasi untuk ban belakang Vario 125, menggantikan Aspira Premio Terreno (baca Pirelli Diablo Scooter dipasang di Vario 125). Ukuran yang saya pakai kembali ke ukuran asli Vario 125 lawas, yaitu 90/90-14. Saya bilang berumur pendek, karena hanya berumur 5 bulan, sedang Premio Terreno mampu bertahan sampai 7 bulan. Memang ukuran lebih kecil, Diablo Scooter 90/90, sedang Premio Terreno 100/90.

Sebenarnya motif atau kembangan si Diablo masih agak tebal, saat mengalami kebocoran, saya tambal tapi seolah ban ini tipis. Mudah bocor terkena ranjau paku halus sekalipun. Tambalan tipe tubeless juga tidak sanggup bertahan lama, saya sempat memasang ban dalam, merk kingland, tapi bocor lagi dan lagi, hanya berumur 1 malam saja, akhirnya saya putuskan untuk mengganti saja dengan ban luar baru yang tubeless.

Kembali Ke Aspira Premio Terreno

Aspira Premio Terreno, ban lokal semi Enduro, hasil kerjasama Aspira dan Pirelli, saya sebut Pirelli Scorpion versi generik. Ya, ban ini pernah saya adopsi beberapa waktu silam, sebelum beralih ke Pirelli Diablo Scooter, pemasangan Aspira Premio Terreno bisa di baca di Premio Terreno dan Naga Ngglundung. Kali ini saya kembali memilih si Terreno karena saya anggap cukup baik dengan harga di bawah banderol Pirelli Diablo Scooter yang berumur pendek. Penggantian saya lakukan juga di Planet Ban. Pemasangan ban Aspira Premio Terreno kali kedua ini, dilakukan pada 04 Februari 2018, pada angka odometer Vario 67.857,6km. Berarti sudah 3 bulan lebih.

Ganti Kampas Ganda dan Vanbelt Set

Kampas Ganda Vario 125 sudah lama saya curigai sebagai penyebab menurunya performa ‘pasir putih’ Vario 125 tunggangan saya, selain umur pakai, lobang per antar kampas juga melebar, layaknya kuping yang memakai anting terlalu berat, lobang kuping melebar, melar. Kampas Ganda Vario 125 ada 3 buah, memutar, yang saling terhubung dengan per. Per inilah yang berfungsi mengembang dan menyusut seiring, Vanbelt saat throtle gas dimainkan.

Berikut video pemasangan Kampas Ganda Vario 125

Selain penggantian kampas ganda, saya juga mengganti Vanbelt Set, jadi termasuk roler. Memakai part original Honda. Jadi kembali ke ukuran pabrikan. Sebenarnya Vanbelt masih cukup layak, tapi karena sudah disiapkan, kondisi roller lama sudah jelek, akhirnya ganti sekalian. Penggantian dilakukan pada 23 Februari 2018, dengan odometer Vario menunjuk angka 70.072,4km.

Dengan penggantian kampas ganda dan Vanbelt serta roller ukuran standar, performa Vario meningkat drastis dibanding sebelumnya. Tadinya, top speed anjlok pada kecepatan 90kpj, sekarang mampu meraih 100kpj.

Ganti Oli Mesin Lewat Waktu.

Penggantian oli mesin sepeda motor, termasuk mesin Vario 125, biasanya saya foto dan upload dalam postingan WordPress sebagai pengingat, tapi beberapa kali penggantian, tidak saya lakukan catatan online tersebut. Karenanya, saya kadang lupa untuk mengganti oli. Dan beberapa kali penggantian oli mesin, tidak terekam dengan baik, menyebabkan saya kembali khilaf dan lupa mengganti, hingga penggantian terakhir, sisa oli tinggal kurang dari 200ml. Penggantian oli mesin, terakhir saya lakukan pada 11 Mei 2018, dengan odometer Vario menunjuk angka 79. 083,5km. Alhamdulillah mesin Vario masih aman, tetap ngorok dan ngacir.

Mesin Mati Sendiri dan Setelan Gas Kendor serta ‘mbandang’

Beberapa kali, mesin Vario 125 saya, mati sendiri saat sedang jalan. Kasusnya terulang saat posisi jalan pelan atau berhenti sesaat karena macet, mesin langsam, lalu throtle gas ditarik hendak jalan kembali, mesin mblebek dan mati. Awalnya saya curiga filter udara kotor, karena saya mama ang busa spoon sebagai filter, maka saya cuci, tetapi tidak mengatasi mesin mblebek tersebut. Saya coba setel tali gas, yang ternyata kendor mur penguncinya. Akibat setelan yang berlebih, diperjalanan, rpm Vario jadi nggerung, dan bertambah tinggi dengan sendirinya, alhasil, motor tetap jalan tanpa di gas, saya harus selalu siap untuk mengerem, agar motor tidak menyeruduk kendaraan depannya. Sekali waktu saya cek setelan angin, saya putar menutup, dan ternyata mampu mengatasi trouble mesin mati mendadak. Tapi belakangan penyakit mesin mblebek ini kumat lagi. Tapi tidak terlalu sering. Mungkin perlu ditangani oleh ahlinya. Selama ini, saya lebih mengandalkan DIY, alias mengerjakan semuanya sendiri, paling dibantu teman kerja saja.

Sepedamotor dan Saya


Sepedamotor, Antara Hobi dan Nasib

Apakah pembaca naik sepedamotor untuk mobilitas harian? Kalo ia, berarti hobi eh nasib kita mirip.

Sampai saat ini, sebagian masyarakat Indonesia, khususnya kaum urban, menganggap bahwa sepedamotor masih menjadi sarana transportasi yang mangkus dan sangkil. Artinya praktis, efektif dan evisien, mampu menghantar kemana kita pergi.

Lanjutkan membaca Sepedamotor dan Saya

Pirelli Diablo Scooter, untuk Vario 125


Pirelli Diablo Scooter, adalah ban yang memang diperuntukkan buat scooter, dalam hal ini scooter matic.

Pirelli Diablo scooter awalnya merupakan produk import dengan harga yang tidak murah.

Lanjutkan membaca Pirelli Diablo Scooter, untuk Vario 125

13 Ribu KM, Oli Vario 125 Menyusut Drastis


Kapan anda cek oli mesim kendaraan anda? Apakah pembaca membuat catatan yang terjadwal tentang perawatan kendaraan. Apakah ganti oli sendiri atau di bengkel?

Gambar pemanis semata , pict : AHM

Saya sebenarnya membuat catatan untuk tiap penggantian oli mesin, termasuk buat Honda Vario 125.

Lanjutkan membaca 13 Ribu KM, Oli Vario 125 Menyusut Drastis

Memperbaiki Speedometer Vario 125 


Bagaimana cara memperbaiki Speedometer Honda Vario 125? Itulah yang saya search di google saat jarum speedometer Pasir Putih si Vario 125 milik saya, mulai kejang dan akhirnya diam tanpa pesan. Sekira 3 hari saya berkendara tanpa tahu kecepatan sepeda motor, pokonya gas saja.

Lanjutkan membaca Memperbaiki Speedometer Vario 125 

Dimas Ekky Start dari Grid 28, Moto2 GP Sepang 2017


Dimas Ekky Pratama #20, terpuruk di atas juru kunci. Sebelumnya saya sudah mengulas kans Dimas Ekky di Moto2 Grand Prix Sepang 2017, mengacu dari berbagai hasil balap, termasuk membandingkan dengan pembalap tuan rumah, Hafizh Syahrin #55

Lanjutkan membaca Dimas Ekky Start dari Grid 28, Moto2 GP Sepang 2017