Manja, bukan karena Kolokan


Sikap manja identik dengan anak kecil, balita atau anak umur TK sampai SD. Anak kecil manja karena pada umur tersebut biasanya anak masih kolokan. Tapi banyak juga udah SMA bahkan kuliah masih kolokan. Bahkan pasangan suami isteri juga syah untuk bermanja-manja. Tentu sesuai situasi dan kondisi. Tidak sembarang tempat.
Nah kalo manja tapi bukan karena kolokan dan bukan manusia.
Manja dalam bahasa banyumas adalah Lanjutkan membaca Manja, bukan karena Kolokan

Keséd, Mblejud akhirnya Nunggak


Rajin belajar bagi siswa sekolah itu wajib. Jika malas belajar bisa jadi tidak naik kelas alias tinggal kelas. Atau tidak lulus sekolah, karena malu biasanya ya pindah sekolah.
Malas belajar dalam bahasa Banyumas disebut mblejud alias keséd sinau. Keséd memiliki arti sama dengan mblejud cuma berbeda pada tingkatan bahasa. Lanjutkan membaca Keséd, Mblejud akhirnya Nunggak

Pacitan dan Jaburan


image

Pacitan , adalah sebuah kecamatan yang menjadi ibukota Kabupaten Pacitan , provinsi Jawa Timur , Indonesia . Kecamatan Pacitan adalah denyut nadi pemerintahan dan perekonomian kabupaten Pacitan secara keseluruhan. Lansekap kota Pacitan terletak di Lembah, di tepi Teluk Pacitan, hilir Sungai Grindulu. (wikipedia indonesia)
———–
Pacitan juga makin terkenal semenjak Pak SBY jadi presiden RI, karena Pacitan adalah tanah kelahiran presiden ke-6 RI ini. Lantas apa hubungan Pacitan dengan jaburan?
Lanjutkan membaca Pacitan dan Jaburan

Lebuh dan ISO 14001


Anda pernah buang sampah rumah tangga di sekitar rumah. Adakah tempat sampah di sekitar rumah anda? Di Banyumas, dusun saya khususnya, tempat pembuangan sampah disebut lebuh.
Lebuh adalah tempat pembuangan sampah rumah tangga yang posisinya di luar belakang rumah atau belakang dapur, atau samping rumah yang biasanya tidak terlihat dari halaman rumah. Jadi posisinya tersamar.
Lebuh tidak dibuat khusus, hanya tanah/kebon yang ada. Kumuh, itulah kesan lebuh.
Lanjutkan membaca Lebuh dan ISO 14001

Wadéh dan Sengit


Wadéh berarti benci yang berlebihan. Berarti ada benci yang biasa saja? Ada. Di Banyumas benci yang biasa-biasa saja memakai kata sengit.
Ungkapan wadéh berarti melewati ambang batas normal. Bisa karena pelaku yang sensitif, atau orang/sesuatu yang dibenci memang sudah keterlaluan. Lanjutkan membaca Wadéh dan Sengit

Clamit


Hampir saja kehabisan kosa kata #banyumasan, saya coba ingat ingat sambil melihat postingan rekan-rekan blogger di koran koboys. Koran dumay tentunya, postingan baru akan selalu di posisi atas RSS ini.

image
koboys.blogspot.com

Berita kemenangan Marques di GP Silverstone Inggris menjadi trending topic,
Lanjutkan membaca Clamit

Ngenyis


image

Kemarin saya sedikit mengulas tentang Seprih si beringin pencekik. Seprih versi banyumasan di lingkup masa kecil saya. Nama seprih bagi masa kecil saya lebih akrab di telingan daripada kata beringin. Kecuali jika berkaitan dengan ‘golongan kuning’ yang berkuasa kala itu.
Nama blog dengan embel-embel Banyumasan sepertinya kurang afdol kalo tidak diselipi dialek Banyumasan.
Lanjutkan membaca Ngenyis

Kemlakaren


Kemlakaren adalah perut sebah, berasa penuh sampai susah nafas karena makan yang berlebihan. Dikala kecil ungkapan ini sering saya dengar “madang aja akeh-akeh mbok kemlakaren!” (makan jangan banyak-banyak ntar kemlakren). Nafsu makan yang tidak seimbang, tidak terkontrol, tidak sadar diri bahwa kapasitas perut tidak cukup untuk memenuhi nafsu makannya.

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

31. Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Lanjutkan membaca Kemlakaren