Balada Angkot 6-4, Salahkah Gendut?


Badan gendut adalah anugerah bagi sebagian orang. Misal kawan saya seorang pria gemuk mengatakan, “Cowo tidak gendhut tidak seksi”. Sebuah ungkapan pembenaran atau kepercayaan diri. Maklum bagi saya pria gendut itu jarang, kalo pria buncit (perutnya) banyak. Jadi buncit, gemuk dan gendut beda.
Kalo perempuan gendut gimana? Yang saya tahu, Lanjutkan membaca Balada Angkot 6-4, Salahkah Gendut?

Manja, bukan karena Kolokan


Sikap manja identik dengan anak kecil, balita atau anak umur TK sampai SD. Anak kecil manja karena pada umur tersebut biasanya anak masih kolokan. Tapi banyak juga udah SMA bahkan kuliah masih kolokan. Bahkan pasangan suami isteri juga syah untuk bermanja-manja. Tentu sesuai situasi dan kondisi. Tidak sembarang tempat.
Nah kalo manja tapi bukan karena kolokan dan bukan manusia.
Manja dalam bahasa banyumas adalah Lanjutkan membaca Manja, bukan karena Kolokan

Tips, Tas Hilang di Masjid


Anda pernah numpang shalat di perjalanan? Mampir shalat di masjid di persinggahan, seperti rumah makan, SPBU, terminal bus, stasiun kereta dan sebagainya. Jika anda mampir shalat di persinggahan dalam perjalanan, lebih baik cari penitipan barang andai bawaan anda tidak memungkinkan dibawa serta saat ambil wudu dan shalat.
Kadang kita sebagai muslim menggampangkan menaruh barang di dalam masjid atau mushola. Beranggapan bahwa orang yang ke masjid itu bertaqwa dan tidak mungkin berbuat curang, seperti mencuri. Lanjutkan membaca Tips, Tas Hilang di Masjid

Ngajog, Ngungun dan Getun


3 kata dalam judul di atas, ngajog, ngungun dan  getun memiliki arti yang sama, yaitu menyesal. Hanya berbeda pada penggabungan dalam satu kalimat, meski tidak bersifat paten/mengikat.
Ngajog berarti menyesali apa yang telah dilakukan, tapi tingkat penyesalan rendah. Misal dalam kalimat, “Nyong mau tes nyolong krékél Lanjutkan membaca Ngajog, Ngungun dan Getun

Juging dan Teman-Temannya


Pembaca pernah membuat lubang di tanah? Untuk menanam pohon, tempat sampah organik atau mengubur binatang mati barangkali. Atau menggali umbi-umbian dan sebagainya. Alat apa yang anda gunakan? Cangkul, linggis atau sekop pasir?
Di Banyumas, lubang yang dibuat di tanah untuk tempat sampah  atau hal lain disebut jugangan. Kalo lubang kecil tidak perlu alat khusus, cukup menggunakan juging.
Juging adalah kayu/ranting/bambu yang ditajamkan salah satu  ujungnya dan berfungsi Lanjutkan membaca Juging dan Teman-Temannya

Jawal dan Remaja Masa Kini


Anak-anak remaja dari dulu suka berbuat sekehendaknya. Hanya saja dulu mungkin tidak separah sekarang. Badung, bandel dan membantah, melawan orang tua.
Meski tahu bahwa dia salah dan nasihat orang tua itu baik dan benar, tetapi ego anak muda kerap lebih menguasai, sehingga mengedepankan emosi daripada akal sehat.
Di Banyumas, anak yang suka membantah orang tua disebut jawal. Lanjutkan membaca Jawal dan Remaja Masa Kini

Sensasi ‘Ngangkot’ Samping Supir


image

Ngangkot alias naik angkot, adalah rutinitas pagi dan malam semenjak saya tinggal di Kota Patriot, Bekasi. Angkot menuju dan dari Stasiun Bekasi (Bulan-Bulan).
Sebenarnya saya jarang sekali naik angkot di depan alias samping supir, lebih memilih di belakang atau dalam. Sekali di depan dan saya tidak akan mengulangi. Jika di depan kerap deg-degan karena si supir serampangan dalam mengendarai armadanya. Memang tidak semua, tapi kebanyakan sama, kejar setoran, alasannya.
Lanjutkan membaca Sensasi ‘Ngangkot’ Samping Supir

Suluh dan Kisah Klasik bersamanya


Masa kecil, masa yang tidak mungkin terulang. Tinggal kenangan yang terkadang membuat tertawa kala merenunginya. Konyol menggemaskan.
Ada yang pernah main mobil-mobilan pakai kulit jeruk Bali? Kalo masa kecil saya tidak kenal jeruk bali, maka menggunakan kulit/sabut kelapa yang disebut tepes.
Roda pakai sendal bekas yang dipotong bundar. Sendal Daimatu atau swallow. Lanjutkan membaca Suluh dan Kisah Klasik bersamanya

Enyong bukan Inyong


Saya atau aku dalam bahasa #banyumasan adalah enyong. Walaupun kata aku juga berlaku dalam pergaulan sehari-hari tapi jarang dipakai karena kurang membumi, atau dipakai oleh mereka yang mulai bergeser dialeknya akibat pergaulan perantauan.
Enyong bukan inyong. Kadang orang di luar Banyumas akan meledek orang Banyumas dengan kata inyong, Lanjutkan membaca Enyong bukan Inyong

Mejujag dan Penjorangan


Ampun saru kalih tiang sepah nggih!

Ungkapan berupa nasehat dengan bahasa Jawa Krama (kromo), agar sopan terhadap orang tua, termasuk di dalamnya orang yang lebih tua. Siapapun mereka.
Berlaku tidak sopan terhadap orang yang selayaknya dihormati, dalam bahasa #banyumasan disebut mejujag.
Contoh kentut di depan orang tua atau lewat tanpa permisi. Orang yang melihat hal tersebut akan mengatakan “mejujag kowe cah!” Lanjutkan membaca Mejujag dan Penjorangan