Suluh dan Kisah Klasik bersamanya



Masa kecil, masa yang tidak mungkin terulang. Tinggal kenangan yang terkadang membuat tertawa kala merenunginya. Konyol menggemaskan.
Ada yang pernah main mobil-mobilan pakai kulit jeruk Bali? Kalo masa kecil saya tidak kenal jeruk bali, maka menggunakan kulit/sabut kelapa yang disebut tepes.
Roda pakai sendal bekas yang dipotong bundar. Sendal Daimatu atau swallow. Dua sendal yang tenar di masa lalu. Kalo Swallow masih mudah ditemui sekarang tapi Daimatu entah kemana rimbanya.
Oh iya, sendal Swallow dulu sangat awet lho, berbeda dengan yang sekarang. Kalo dulu alas bisa sampai bolong karena menipis akibat pemakaian dan japitnya tidak putus, tapi sekarang, alas masih tebel, japit udah putus.
Oh iya, masa kecil orang dusun, nggunung liwang-liwung juga tidak mengenal kompor. Yang ada adalah pawon/tungku perapian produksi sendiri menggunakan tanah merah, abu sisa pembakaran dan serabut kelapa disiwir-siwir. Dijemur, setelah kering di angkat ke dapur alias pedangan. Lebih sering bikin langsung di pedangan, jadi tidak perlu memindahkan. Dibiarkan mengering, biar cepat, jadikan perapian tapi tidak buat masak.
Bahan bakar tungku dusun adalah kayu bakar alias suluh. Suluh diambil dari kebon, berupa ranting kering, tunggak/pokok kayu dan segala hal yang memungkinkan dijadikan perapian.
Untuk awal membuat api, daun kelapa kering alias klari adalah andalannya.
Nah pekerjaan mencari suluh/kayu bakar ini disebut repek. Jadi hasil repek ya kayu bakar. Apakah pembaca pernah membuat perapian, bersama rekan-rekan atau orang-orang tercinta, bersenandung menyanyikan lagu klasik?
Kalo masa kecil saya bisa tiap hari, tidak memerlukan tempat dan waktu khusus untuk menyalakan perapian, kerap sambil repek, mengpumpulkan suluh kecil dan pendek (suluh yang tidak akan dibawa pulang) dijadikan perapian, baik sekedar berdiang atau bakar singkong alias benem.
Masih banyak kisah klasik yang indah dan ngangenin. Apakah pembaca ingin kembali remaja?(tri)

**************
Posted from WordPress for Android Wonder Roti Jahe

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di banyumasan dan tag , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Suluh dan Kisah Klasik bersamanya

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s