Pagi itu matahari bersinar cukup cerah, kontras dengan beberapa wilayah DKI yang dilanda banjir kiriman. Santai saya kendarai Jalitheng Pulsar220 motorku menuju tempat kerja. Pagi hari yang sibuk, terlihat membludaknya pengguna jalan yang berdesakan memadati jalanan ibukota. Sabar itu wajib dalam kondisi jalan dengan kendaraan yang berjubel.
Untuk menghilangkan jenuh saya coba perhatiin pengguna jalan lain. Nampak seorang ABG pengguna skutik ikut andil memenuhi aspal pagi ini. Tanpa pelindung kepala, nampak kupingnya dijejali earphone yang kemungkinan menyajikan lagu kesayangan. Bisa jadi hal itu juga sebagai upaya mengatasi kejenuhan akan macet. Tiba-tiba skutik yang dikendarainya menyenggol sepeda motor bebek di depannya. Meskipun pelan tapi kondisi jalanan yang macet kadang membuat emosi pengguna jalan lebih mendominasi jika mengalami sedikit gangguan dari sekitarnya. Si bapak pengguna bebek tadi menengok, sedikit melotot menatap si ABG, tanpa dosa si ABG mencoba menghindar, menyalip dan berlalu. Jika bukan karena Ramadan barangkali akan ada caci maki meluncur. Panas, macet dan lapar, paduan pas untuk melampiaskan emosi. Sabar adalah jawaban pasti. Tapi sabar tidak hanya pada kondisi semacam ini.
Shell V-Power Top Up

Beberapa waktu yang lalu saya menulis pengisian full tank si Jalitheng Pulsar 220 dengan Shell V-Power (klik shell V-Power), meski ada sisa peemium di tangki, saya coba hitung pada penambahan full tank kedua ini.
Purwojaya Dengan Fitur Gemlondhang

Kembali ke Jakarta, seperti yang kutulis pada kisah mudik postingan sebelumnya, kereta adalah pilihan alat transportasi paling baik saat ini dan Purwojaya jadi pilihan warga Purwokerto, Banyumas, Cilacap dan sekitarnya untuk pulang kampung ataupun balik ke Metropolitan.
Kalo pada pulang kampung kemarin harga tiket Rp245.000 dengan fasilitas yang sudah saya ceritakan, sedang harga tiket balik lebih murah Rp15.000 alias Rp230.000 perseat. Usut punya usut ternyata tidak tersedia stop kontak listrik seperti pada gerbong bisnis Purwojaya perjalanan pulang.
Lanjutkan membaca Purwojaya Dengan Fitur Gemlondhang
Ngakalin Sensor Pulsar
Bajaj Pulsar memang mengaplikasi berbagai sensor, karena umur penakaian sensor bisa error bahkan rusak. Seperti yang dialami Jalitheng Pulsar 220, di mana sensor autochoke pernah error (klik gas pulsar mbandhang), selanjutnya sensor suhu patah. Sebenarnya sudah coba saya perbaiki sebdiri tapi tidak berhasil.

Sensor suhu dan autochoke saling berkaitan, jika sensor suhu tidak berfungsi maka sensor autochoke akan selalu menganggap membaca suhu mesin motor dingin,
Lanjutkan membaca Ngakalin Sensor Pulsar
1 Ramadan Bareng Purwojaya
Purwojaya, merupakan kereta dengan gerbong kelas bisnis dan eksekutif. Kereta yang rute operasinya Gambir(Jakarta)-Cilacap dan sebaliknya ini sudah menjadi langganan saya sejak beberapa tahun belakangan (karena alasan tertentu beberapa kali naik Taksaka). Konsekuensi naik kereta harus menyesuaikan jadwal perjalanan, dan Purwojaya jika dari stasiun Gambir setahu saya hanya diberangkatkan pagi hari yaitu 06.30 WIB. Beberapa tahun silam malah lebih pagi sekira 05.45 WIB. Sedang keberangkatan dari Cilacap hanya berlaku malam hari, sekira jam 19 lewat, soalnya berhenti di Purwokerto dan berangkat jam 19.43 WIB.
Lanjutkan membaca 1 Ramadan Bareng Purwojaya
United Oil dan Solusi Oli Rembes

Hari Selasa, 02 Juli 2013 kemarin, saya membawa Jalitheng Pulsar 220 ke Bengkel Resmi Bajaj Fotana Gunung Sahari untuk servis. Keluhan utama saya adalah adanya rembesan oli seperti yang kutulis pada artikel sebelumnya.
Selain servis ringan, saya juga ingin mengganti oli Jalitheng, meski oli Shell AX-5 baru 2000km lewat dikit. Biasanya saya mengganti oli sampai jarak tempuh di atas 2500km. Hal ini karena ax5 yang terlalu encer sepertinya menjadi biang keladi rembesnya oli Jalitheng.
Lanjutkan membaca United Oil dan Solusi Oli Rembes
Time Is Money. Ciyuss ?
Jelang waktu Ashar, Fulan bersegera menuju masjid terdekat. Masih ada waktu sekira 15 menit sampai azan berkumandang. Baginya lebih baik datang di awal waktu. Tiba di jalan depan masjid, ada satu keluarga yang terdiri dari Bapa, Ibu dan 2 anaknya. Sepertinya keluarga ini hendak pulang dan bingung mencari angkutan umum. Begitu Fulan lewat di depan mereka, sang bapak bertanya kepada Fulan :
Bapak : “Permisi Mas, Mau nanya, pool taxi di sini ada gak yah ?”
Fulan : “Oh.. Biasanya ada di sana, tapi mungkin sedang ramai jadi tidak ada yang ngetem”
Bapak : “ Iya.. Biasanya memang ada.”
Fulan : “Kalo Bapak mau menunggu sebentar, biasanya ada taxi yang merapat kemari, supirnya biasanya shalat.”
Bapak : “Oh gitu ya”
Selanjutnya, Fulan memasuki serambi masjid, kebetulan terlihat seorang supir taxi, terlihat dari seragam yang dikenakan. Langsung saja Fulan menyampaikan bahwa ada penumpang yang sedang mencari taxi. Tapi supir taxi menjawab dengan ringan. “Kalo mau silahkan tunggu sampai selesai shalat nanti”, meskipun waktu shalat belum masuk.
Kisah di atas adalah petikan kisah nyata, Lanjutkan membaca Time Is Money. Ciyuss ?
Aqikah VS Ulang Tahun (Perayaan)
Wacana ini tentu tercetus dari dalam masyarakat muslim, di mana muslim sekarang lebih akrab dengan budaya non muslim diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Contoh paling marak adalah perayaan ulang tahun anak-anak. Mereka lebih akrab, mengkhususkan untuk hal yang mereka tidak paham ilmunya, ujung pangkalnya tidak jelas. Padahal Aqikah bagi anak lebih utama adan cukup sekali seumur hidup. (petikan kuliah Duhur masjid Baiturrahman oleh Ust. Sutono).
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi
menjadi pelindung dan penolong bagimu. QS. al-Baqarah (2) : 120
