Antrian SPBU Shell dan Jiwa Sosial di Jalan


image

Saya kerap pulang kerja waktu jelang Magrib dengan menghitung waktu tempuh sampai sebuah SPBU favorit kaum urban adalah waktu Magrib, sekedar numpang shalat. Termasuk pada hari Senin yang lalu.
SPBU Shell Cakung di Bekasi Raya tepatnya. SPBU ini selalu ramai tiap waktu Magrib, antrian shalat dan juga antrian pengisian BBM. Antri shalat, maklum ruangnya kecil hanya cukup untuk 2 shaf, dengan 1 shaf maksimal 6 orang, shaf kedua buat wanita. Alhasil kerap dipaksa tambahan 1 shaf lagi hampir sejajar imam.

Selesai shalat, lanjut antri BBM. Saya juga baru ‘engeh’ ternyata harga BBM turun lagi, harga Shell Super sekarang (Senin, 25 Januari 2016) dibanderol Rp8.350. Saat sedang antri ini, tiba-tiba terdengar suara yang mengagetkan dari arah jalan raya.

“SROAAAKKKK BRUAGKKK!!!”

Di kejauhan nampak sebuah sepeda motor bebek tergelincir dan telentang di jalan raya yang selalu padat tiap saat itu. Memang jalanan berair dan berpasir. Yang saya heran, sepeda motor di belakangnya hanya mengerem berhenti, tidak ada yang turun membantu korban laka.

Saya bingung dengan jiwa sosial pengendara lain yang banyak hanya menatap dan berlalu. Ini Jawa? Indonesia? Apakah jiwa soisal itu makin pudar tergerus globalisasi dan hedonisme? Entahlah, mungkin mereka lelah.

Alhamdulillah,  tak lama berselang si bebek kembali berdiri dan nampaknya tidak parah karena terlihat melanjutkan perjalanan.

Capai otak dan fisik sepulang kerja seharian mempengaruhi kontrol kendaraan. Termasuk melunturkan jiwa sosial dan penolong yang selalu didengungkan dari pendidilan ENOL besar di pertiwi ini.
Tidak semua, masih banyak juga pengendara yang memiliki jiwa “BROTHERHOOD SATU ASPAL” kata anak club motor. Saya beberapa kali mengalami dan menerima pertolongan di jalan, termasuk di jalan Bekasi Raya ini.
Tepatnya Rabu 27 Januari 2016. Kebiasaan saya mengendarai Suzuki Hayate mengisi BBM 2 hari sekali dengan premium. Ternyata tidak berlaku jika diisi Shell Super. Entah mengapa baik di Hayate maupun Skydrive, Shell lebih boros. Saya masih penasaran, makanya pengisian full tank pada hari senin saya anggap bisa isi lagi di Rabu pada waktu dan SPBU yang sama. Jarak tempuh selama 2 hari pergi pulang sekira 120km. Memperhitungkan macet, 1 liter menempuh 30km saya pikir masuk akal.
Ternyata Shell Super bagi Skydrive mungkin kurang cocok, performa mesin enak, tapi borosnya menyiksa. Belum sampai SPBU Shell, Skydrive sudah mbrebet dan sekarat, alhasil saya dorong di kemacetan remang-remang jakarta yang sumuk.
Disinilah drama jiwa sosial itu menghampiri. Seorang pengendara sepeda motor (saya lupa jenis dan merknya, maklum, lelah ndorong) mengklakson, melambatkan kendaraan dan bertanya?
“Knapa Bang? Habis bensin?” Tanya malaikat penolong ini.
“Iya, mau ke Shell aja tuh dah deket” jawab saya.
“Ayo distut”. Lanjutnya
“Ayolah” jawab saya melompat kegirangan nemplok di atas jok BlueSky.
“Terimakasih banyak” kata saya sesampai di depan SPBU sambil mengacungkan jempol.(tri)

Posted from Android The Doctor

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Sekitar Kita, sosial dan tag , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Antrian SPBU Shell dan Jiwa Sosial di Jalan

  1. kasamago.com berkata:

    Ditengah marakny ketidakpedulian jalanan, ttp masih ada yg peduli..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s