Kisah mudik masih banyak lho meski cuma 4 hari, salah satunya nyambangi warung yang paling Jozzz sekabupaten Banyumas alias Mi IJO Jozz Cak Poer penunggu Pemancar Binangun xiixixi … Waktu tempuh dari umah Mboku yang nggunung sekitar 15 menit lebih dikit kali , tanpa konfirmasi aku datang sebagai customer murni, ketemu garwone ingkang kagungan Warung , Sang Abu lagi jihad di pemancar, langsung pesen 2 mangkok plus es teh manis…..
yang dilakukan Jmaes Bons hanyalaah nulis apa yang ada di benak, dan mengeluarkannya bak orang buang hajat, mak dledek dan setelah itu terserah mau dibaca, dikomentari dicaci, dipuji, monggo saja.
Banyumas adalah kabupaten yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari perbukitan, maka tak asing jika diwilayah Banyumas terdapat banyak potensi wisata yang perlu dieksplorasi. Salah satunya Curug atau air terjun. Salah satu air terjun yang masih dalam proses eksplorasi adalah Curug Gumawang, yang terletak di Desa Kemawi, Kecamatan Somagede. Dan pada kesempatan mudik kemarin saya penasaran dengan jalur yang katanya sudah diperbaiki, alias roda 2 bahkan mobil bisa masuk.
Tanjakan Ciregol : dulu mudik pakai Tiger sedang diperbaiki
Duduk di bangku barisan depan, dibelakang jok kondektur, begitu jelas mengawasi jalanan antar Purwokerto-Brebes, di beberapa ruas jalan harus saling gantian, alias saat busku melaju maka kendaraan dari lawan berhenti minggir, karena kerusakan jalan tidak memungkinkan dilalui oleh kendaraan 2 arah. Jalanan yang kecil juga jadi penyebab makin tersendatnya perjalanan malam itu. Kecil dan gelap.
TANJAKAN CIREGOL: Lapisan aspal jalur Tegal-Purwokerto tepat diatas gorong-gorong tanjakan Ciregol Desa Kutamendala Kecamatan Tonjong, Brebes, rusak dan bergelombang. (suaramerdeka.com/Teguh Inpras)
Pertama tersendat di daerah Notog jalan berlobang cukup parah, meski antri dan sabar bergantian lewat, bahkan roda 2 alias sepeda motorpun tidak bisa lewat, pinggiran jalan curam dan licin karena air hujan membuat lumpur jebakan yang berbahaya memlesetkan ban kendaraan. Juga di tanjakan Ciregol, lihat foto di atas, itu kondisi siang, sedang kemaren aku balik memakai bus malam, di sini harus gantian dengan kendaraan lawan arah, nampak juga truk terjerembab dan gak bisa bangun, berhubung sambil momong anak, (anaku tidur di pangkuan) jadi gak saya potret. Serem dan ngeri.
Sebentar bentar saya mengingatkan sopir dengan suara desis ala rem bus “esssssttttttt” agar sopir senantiasa waspada.
gambar : media.brbeskab.go.id
Jalan berlobang juga makin parah di jalur selanjutnya, Bayur, dan dimanfaatkan oleh Pak Ogah yang mengatur lajunya kendaraan tapi malah memperparah kondisi lalu lintas, kurang membantu. Disini sekali lagi kendaraan harus bergantian lewat, nampak di pinggir jalan ada avanza selip, karena separoh rodanya menapaki lumpur pinggir jalan, beberapa Pak Ogah membantu dorong tapi belum berhasil.
apakah jalur ini termasuk tanggung jawab pemerintah pusat atau daerah, saya kurang tahu, teteapi dari berulang kali lewat mudik dan balik, sepertinya jalur ini tidak pernah betul, mungkin cuma seminggu paling lama sebulan setelah tambal syulam benernya. imho. Wassalamu’alaikum
Kemaren Pulang naik Kereta Purwojaya, tapi balik aku sekeluarga naik bus, Lorena, tidak asing dengan nama tersebut, dari jasa kirim barang sampai jasa air bersih jligenan ada tulisan LORENA :D. Mengapa memilih bus ? Pengennya si naik kereta, tapi kereta tidak ada yang sampai Gambir pagi (pilihan Purwojaya yang harganya masih bersahabat dengan kantongku eksekutif 175.000, bisnis 115.000) alias kepagian, misal Purwojaya yang dijadwal keberangkatan jam 20.02 dari Stasiun Purwokerto, nyampai Stasiun Gambir jam 01.23. Tengah malam, memang pernah si, tapi Gambir cengkareng masih jauh gan.
Yah tambal sulam jalanan di Jakarta sudah dimulai, belum semua si, paling tidak sudah berkurang lobang maut di jalur pulang pergiku bekerja. Sudah semingguan yang lalu tambal sulam jalan raya ini dilakukan, yang aku temui adlah jalan Lodan Raya, kalo gak salah ini dilakukan oleh Pemda DKI karena bukan merupakan jalur nasional, karena jalan Martadinata depan Aston Marina masih ada lobang maut yang dibiarkan menganga, padahal kalo diurut kedua Lanjutkan membaca Tambal Sulam Jalan Dimulai
Beberapa waktu lalu aku dapat kabar yang cukup mengejutkan, seorang mekanik yang cukup diandalkan meski masih baru dan berstatus karyawan kontrak. Dimas Gatot namanya, memang dia berbeda generasi denganku, umur muda, ketrampilan mekanikal oke, sama bosnya jadi andalan, dan disiapkan sebagai penerus senior-seniornya nantinya, mewarisi pengetahuan yang memang harus bisa dikuasai agar ada regenerasi.
ilustrasi ban cacing vs kontainer
Kembali ke kabar yang mengagetkan yaitu Gatot sedang koma di salah satu rumah sakit, karena kecelakaan, kabrnya seorang satpam menemukannya tergeletak tak berdaya di jalan Cakung-Cilincing arah ke Priuk pada pagi buta, motornya lumayan ringsek, ya Gatot mengendarai speda motor matic Honda Beat yang dimodif mengaplikasi ban kecil, biasa disebut ban Cacing. Lanjutkan membaca Pagi Buta, Gatot meregang nyawa di Cacing
Oks melanjutkan kisah suka duka sopir truk kontainer, sebut saja K, dia adalah Kaka si A dalam kisah sebelumnya. Sebenarnya kisah inipun sudah lampau. Awalnya si K memarkirkan truknya di pinggir jalan untuk makan di warteg, jalanan cukup sepi sehingga K berani parkir di sini, buntut truk berdekatan dengan jalan atau gang yang merupakan pintu keluar suatu perkampungan. Perkampungan di kota tentu, yang padat dan beraneka macam warganya, ada yang alim ada juga yang begajulan, suka nyabu kaya Afriani supir Xenia maut Tugu Tani 😀
Pagi ini bangun awal waktu, prepare mudik nengok Mbokne di kampung, setengah enam hubungi ojeker deket rumah, perlu 2 unit untuk mbawa kami sekeluarga ke stasiun Gambir, taxi agak jauh pangkalannya, dan ojek lebih efisien waktu kalo ongkos sama saja sebenarnya, dan ojekers adalah tetangga sendiri. Nanya helm, ternyata mereka cuma punya satu buat mereka sendiri, akhirnya kami bawa helm sendiri dari rumah, gampang nanti tinggal titip saja sama mereka.
Jam 05.45 berangkat, jalanan dah mulai rame kolong grogol juga belum padat, biasanya smrawut selanjutnya meluncur arah Roxi, eee.. Ada metromini main serobot potong kiri mau ambil penumpang flyover Roxi yang biasanya padat merayap, pagi ini lancar jaya, bahkan selepas fly over pengendara ada yang berani serobot lampu merah, aku kaget juga karena ojeku ikut ikutan
Lanjut Harmoni dan belok ke arah Monasco circuit melibas (lebay) tikungan kesayangan dengan santai, pelanlah wong ini ojeker tua coba pakai Jalitheng…. Zwing… Miring miring pasti.
Eh sampai Gambir juga masuk lewat pintu selatan
Oks time to enjoy my train Purwojaya. Wassalamu’alaikum
Melanjutkan kisah si A, sang Sopir Truk Container, yang sudah 2 Kali Melindas Biker , dan tetap menjalankan pekerjaannya sebagai Supir kontener (truk petik kemas/container), tidak kapok demi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan tentunya, sekarang sudah punya isteri dan anak satu.
Setelah keluar dari penjara karena kejadian melindas yang terjadi di Jalan Martadinata, Jakarta, si A masih bisa dapat kerjaan sebagai supir truk kontener, setelah sekian lama tidak ketemu, bahkan saat menikah sampai punya anak aku juga belum ketemu lagi, tahu-tahu kabar datang dari kawanku sekampung yang lain menyampaikan kalo si A sedang di tahan di Polsek Tangerang, karena melindas biker polisi. Lanjutkan membaca Sopir Truk Container, 2 Kali Melindas Biker #2
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.