Dalam keseharian kita kerap mendengar atau membaca mengenai isu suatu hal, baik produk, publik figur, politik dan sebagainya. Di dunia blogsphere, khususnya otomotif akrab istilah “bocoran info” mengenai suatu produk yang akan diproduksi, dipasarkan oleh pabrikan atau APM. Berita yang menyenangkan, meski sekedar berita yang belum diketahui kebenarannya, kadang membuat pendengar atau pembaca berharap bahwa berita atau info itu benar adanya, minimal terealisasi suatu waktu nanti. Manfaat tiang monorail yang mangkrak
Monorail Jakarta misalnya, meski tiangnya mangkrak beberapa tahun pasca dihentikannya kontrak kerja PT Jakarta Monorail karena tidak mendapatkan investor, setahun terakhir beredar kabar bahwa projek akan diteruskan dan saya merasa bahagia dengan harapan mampu mengurai kemacetan ibukota meski tidak signifikan. Lanjutkan membaca Harapan Pada Bocoran Info
Isen Mulang, 2001. Jarum jam dinding menunjuk 07 pagi, kenapa masih gelap? Batinku. Kubuka pintu pondokan sambil memperhatikan cuaca, berkabut? Palangkaraya berkabut? Aneh sekali, tak ada gunung di sini. Saya makin penasaran. Saat saya hirup agak dalam udara pagi itu, saya tersedak, kabut ini serasa mencekik di leher membuat batuk, tidak segar seperti yang kubayangkan layaknya di kampungku di seberang lautan sana.
“ini bukan kabut, ini asap!” teriak rekanku yang sudah lama tinggal di Bumi Borneo ini. Dia tinggal di Barito Selatan. Sayang saya tidak sempat berkunjung ke wilayah tersebut. Saya hanya kuli yang tak mungkin melakukan petualangan. Apalagi untuk menapaki aspal jalanan Kalimantan Tengah mengendarai roda dua. Cukuplah saya mengenal Kalimantan lewat hembusan asap bumi Tambun Bungai ini. Eh tapi beberapa kali saya meminjam sepeda motor bos buat sekedar ke kantor pos atau pasar.
Kerap saya membayangkan memacu sepeda motor menyusuri jalan Trans Kalimantan, seperti jalan Tjilik Riwut dari Bumi Habaring Hurung, Lanjutkan membaca Jelajah Borneo, Menembus Hutan Klakeh
“Jam segini belum dateng, nggak masuk ni bocah kayaknya” kata kawanku di pagi awal jam kerja. “Nabrak bajey kali” seloroh yang lain. “Kemarin gw liat kerikan dia, sakit masuk angin kali” tambah kawan pertama.
Praduga atau prasangka kadang identik dengan hal negatif. Tindakan seseorang juga kadang menimbulkan praduga. Si fulan yang sering berulah buruk akan dianggap tingkah baiknya sebagai hal buruk yang ditutupi. Sebaiknya tabayyun, benar tidaknya suatu hal yang samar. Aisya
Dari gambar di atas bisa muncul praduga, lagi ngapain nih bocah? Mau menangkap atau mau nyebur ke air? Lanjutkan membaca Praduga
“Bukan sulap bukan sihirr…! Simsalabim… Abrakadabra…!”
Itulah kata-kata tukang sulap saat saya masih SD, trik-trik sulap sederhana diperagakan oleh sang mentalis. Dulu saya tidak kenal dan bahkan tidak pernah dengar kata “mentalist”, tahunya hanya “tukang sulap”. Kata mentalist melekat pada tukang sulap baru saya pahami era milenium. Walau trik sederhana semisal makan jarum dan jarumnya dikeluarkan kembali dengan diuntai benang dari dalam mulut, karena saya tidak tahu triknya dan masih duduk di bangku sekolah dasar, nalar saya tidak mampu mencerna secara logika. Saya anggap itu luar biasa. Sakti ni orang, pikir saya. Twitt @ndorokakung
Era milenium, dengan makin berkembangnya dunia hiburan, entertainerpun makin berkembang dalam meramu tontonan, termasuk trik sulap. Lanjutkan membaca Sulap Bukan Sihir
Si Bocah membereskan hasil repek (repek : mencari dan mengumpulkan kayu bakar) nya, dirasa cukup kayu bakar diikat menggunakan ba-as (ba-as : lapisan kulit pelepah kelapa bagian atas, dikletek sebagai tali), mendung menggantung di langit makin pekat. Butiran kristal bening mulai berjatuhan, beberapa butir mendarat di muka si Bocah, reflek dielapnya dengan punggung tangan yang penuh peluh berdebu. Dia tidak perduli dengan mukanya yang sekarang cemong, kotor oleh tangannya sendiri.
Diangkatnya kayu bakar ke pundak kiri dengan sedikit sempoyongan, pundak kirinya lebih kuat dari yang kanan meskipun dia tidak kidal. Bergegas ia melangkah meninggalkan alas (alas : Lanjutkan membaca Tarik dikala Hujan
Rodrek termenung di kursi dekat pintu utama sebuah kantor. Hari itu Kamis, jelang tengah malam ia masih menunggu seorang staf kantor menyelesaikan tugas. Lembur karena tuntutan waktu. “Laporan ini harus di setor besok” kata si staf menjelaskan, saat Rodrek menanyakan.
Harusnya dia sudah nongkrong di pos sambil menikmati kopi hitam diiringi musik kesukaan. Biasanya dia menunggu kantor maksimal jam 21.00. Ya Rodrek hanyalah seorang satpam, dan hari itu ia bertugas di kantor, menjaga dan mendata tamu yang datang. Membukakan pintu jika ada tamu atu staf yang keluar masuk kantor.
Setelah staf yang lembur selesai, berbenah dan meninggalkan kantor, Rodrekpun membenahi berkasnya, mendata ulang barang-barang yang trrcatat dalam daftar buku harian. Lanjutkan membaca Lewat Tengah Malam
“Bacain ayat kursi dong yah” bisik isteriku saat si orok Amira menangis seolah tak mau henti. Saya tidak serta merta mengiyakan bisikan isteri. Ada ganjalan dalam hati yang sulit diungkapkan. Entah mengapa jelang tengah malam si orok rewel, menangis histeris dalam tempo yang lama. Seolah kesakitan yang teramat sangat.
Bedong dibuka biasanya diam, ini masih menangis. Diberdiriin di atas perut saya biasanya langsung tertawa tapi kali ini gagal, diayun tetap menangis, bahkan air susu ibu pun ditolaknya. Akhirnya saya ayun, bopong dengan kedua tangan saya, masih histeris. Ayat Qursi
“Ayah, Caca punya terompet, dibeliin Embah”
Cerita anaku saat saya baru pulang nguli sambil menunjukan terompet berbentuk naga. Sebenarnya saya melarang anak dan keluarga saya meniup terompet pada saat apapun, termasuk saat pergantian tahun. Berisik dan mengganggu orang lain, apalagi sedang ada orok di rumah. Tapi namanya anak-anak sulit untuk dilarang, saat permintaan ke ayahnya tidak dituruti, mereka merajuk ke embahnya karena jarak rumah yang dekat, si embah akan kerepotan menghadapi cucunya, rasa sayang dan tak mau melihat menangis, akhirnya dibeliin deh.
Sejak kapan si budaya tiup terompet pada pergantian tahun masehi? Lanjutkan membaca Terompet Tahun Baru
“Teng…..trengteng.,teng..teng…!!”
Tiang jala-jala listrik yang berupa pipa besi berdiameter 8 inci, sekaligus penambat lampu PJU di jalur Kereng Bengkirai, yang menghubungkan Ibukota Kalimantan Tengah dengan Banjarmasin, Kalimantan Selatan, berdentang dipukul seseorang dengan irama yang menandakan kewaspadaan tinggi. Bersahut dari ujung Pelabuhan Kereng hingga mendekati jantung Ibukota Propinsi.
Saya terbangun, karena kaget yang teramat sangat Lanjutkan membaca Denting Tiang PJU dan Awan Merah di Tambun Bungai
Audio atau suara merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Dari erangan, dengkuran, dan berbagai suara makhluk hidup hingga desiran angin mrrupakan pertanda adanya kehidupan. Fana, menipu dan memabukkan para penikmatnya. Karena kehidupan adalah nikmat termasuk suara di dalamnya, maka syukurilah agar tidak terlupa bahwa kesemuanya fana.
Kembali ke bahasan audio, meski berhubungan dengan loud speaker, bukan bermaksud melanjutkan pelajaran “belajar audio” tapi lebih khusus kepada suara yang dihasilkan oleh loud speaker tersebut.
Bagi penikmat audio akan berbeda pandangan mengenai “kenikmatan” power speaker yang didengarkan. Jika kaitannya dengan musik misalnya, ada yang demen menggunakan earphone, ada yang lebih suka suara loud speaker sedang dan ada yang baru bisa menikmati musik jika suara speaker keras layaknya menonton panggung musik langsung.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.