Obrolan Stasiun


“Stasiun Jatinegara!”
Terdengar pemberitahuan dari sealing speaker yang terinstal di gerbong Commuter Line yang kunaiki.

image

Saya turun, transit, menuju peron 1, menunggu Commuter Line arah Bekasi. Beberapa kursi tunggu kosong. Saya memilih tempat duduk yang benar-benar kosong sambil melihat pemandangan malam di stasiun yang cukup rapi itu.

Beberapa saat kemudian, sepasang suami isteri duduk di sampingku. Mereka tampak serius berdiskusi, masalah keluarga nampaknya. Mereka abai akan sekeliling, Lanjutkan membaca Obrolan Stasiun

Kopi Wantonan


Cangkir bekas kopi atau cangkir kopi bekas?
Tepatnya kopi sisa, tanpa menyebut cangkir, barangkali begitu.
Perdebatan sepele. Mungkin tanpa hal sepele yang diperdebatkan, hidup kurang berwarna.

Kopi habis.
“Kopi sisa diwantoni saja”, kata seorang teman.
Lanjutkan membaca Kopi Wantonan

Lirikan Tenong 1 Syuro


1 Muharram. 1 Syuro. Hari yang membawaku kembali ke sebuah kampung, penuh kearifan lokal. Hari adat yang akan menghadirkan lirik senyummu.

image
Tenong, photo : seruu.com

Siang itu, matahari bersinar cerah. Teriknya tak menggoyahkan langkahku, gontai menuju rumah nenek. Mewakili beliau menghadiri syukuran desa, sedekah bumi. Suran. Dusun sebelah, bukan dusunku. Lanjutkan membaca Lirikan Tenong 1 Syuro

8210 Second


“Thut thit thut thit!”. Si mungil 8210 berdering. Belum sempat kuangkat, dering itu berhenti. Berulang dan selalu mati. Iseng nih. Akhirnya kurelakan pulsaku karena penasaran.

“Halo”, sapaku.
“Halo, ini siapa?”, jawaban dari seberang yang membingungkan. Suaranya agak centil, perempuan.

“Lho kok, kan situ yang nelpon tadi, emang situ mau nelpon sapa tadi”, jawabku dongkol. Lanjutkan membaca 8210 Second

Waspada Cacing


Beberapa hari kemarin, seminggu lebih saya kembali menyemplak Jalitheng Pulsar 220 untuk transportasi pergi pulang kerja. Tuntutan jam kerja yang tidak tepat waktu, alias masuk lebih awal dan pulang lambat, membuat saya ragu menggunakan trasportasi publik. Maklum, waktu tempuh naik sepeda motor cenderung lebih cepat daripada naik angkutan umum. Lanjutkan membaca Waspada Cacing

Kelakar Purwojaya Malam


Bergegas kupacu sepeda motor bebek. Adik yang kubonceng berpegang erat. Stasiun kereta Purwokerto tujuan pasti. Jadwal keberangkatan Purwojaya malam makin dekat. Aku yang diantar.

Tak kupedulikan jari-jari roda yang patah 2 batang karena menahan benturan dengan aspal Banyumas yang bergelombang. Sebagian jalan di Jawa Tengan terkenal Buruk. Entahlah

Sampai stasiun, tergopoh kutebus selembar tiket bisnis dan masuk peron, Purwojaya Malam sudah menunggu.

Gerbong 3, kursi 12C. Tidak dekat dinding gerbong berarti.

Benar saja, nampak gadis berkerudung abu-abu di 12D. Lanjutkan membaca Kelakar Purwojaya Malam

Blazer Ungu dan Srigala Dahaga


Angkot orange itu berhenti. Sesosok perempuan berblazer ungu masuk. Yah pakaian terusan sampai dengkul berlengan cekak itu menjadi menarik untuk dilihat karena sang pemakai.

Dan saat si ungu duduk, munculah srigala-srigala lapar yang siap menerkam.
Naluri Srigala, yah tiap lelaki memiliki naluri itu. Memelihara srigala lapar yang hanya bisa dikekang oleh nurani dan kepantasan. Lanjutkan membaca Blazer Ungu dan Srigala Dahaga

Dering 3310


“Thing-thung-thing-thung-thing”

HP monochrome itu bergetar.
“Halo, De, Mba disuruh pulang sama simbok”
Suara serak kakak perempuanku diseberang sana terdengar pasrah.
“Oh, ya Mbak. Itu lebih baik, biar ada yang urus, Mba, bisa istirahat di kampung”
Jawabku, meyakinkan.

20 tahun lebih berjibaku di metropolitan. Lelah jiwa raga itu pasti. Tanpa teman hidup yang berarti, teman adalah sekedar teman. Sesejati apapun teman, mereka hanya teman. Bukan saudara, apalagi belahan jiwa.

Hari, bulan berlalu. Saya beranggapan, mba, betah di kampung. Bersama simbok dan handai tolan.

Sakitnya tak kunjung baik. Angin malam seolah berbisik,
“De, mba duluan ya”.
Tak ada tangis, bahkan isak sekalipun. Bahkan saya lupa kapan kabar itu beredar. Bahakan pemakamannya saya juga lupa.

Hanya si monochrome Nokia 3310 warisan yang masih kerap berdering, nomor 08151623661, juga kuwarisi.
“Halo, Maba Rus ada?”
Tanya akrab dari seberang, Saat saya menjawab akan segera disambung, innalilahi…
Berulang, dan akhirnya dering itu berhenti, seiring rusaknya kartu atas namamu. Ingin kuhidupkan, demi kenangan, tapi KTPmu…

“De, kalo naik motor lewat pinggir kiri aja”.
Nasihatmu saat aku antar kau ke bilangan Taman Anggrek.

“De, pakai kawat gigi ya, biar rapi itu gigimu”.
Tentu saja aku tertawa tanda menolak, apa kata orang kampung ngeliat cah ndeso ini pakai kawat gigi.

Seiring gesekan roda besi Commuter Line Jatinegara – Bekasi kuberdoa. Semoga kau bahagia di sana. Diapit bidadara-bidadara surga. Amin

Tahun demi tahun berlalu. Umurku saat ini adalah umurmu saat engkau pergi tanpa pamit. Apakah nanti aku sempat pamit?(tri)

**************
Posted from WordPress for Android Wonder Roti Jahe

Nylekamin dan Nylekamid


Dua kata yang hanya saya kenal di desa kelahiran saya. #banyumasan
Nylekamin adalah ucapan untuk mengungkapkan rasa makanan yang enak. Sedang nylekamid adalah plesetan dari kata nylekamin dan biasanya untuk mengungkapkan makanan yang lebih dari enak, nikmat, bisa karena memang nikmat, bisa juga karena lapar.
Makanan layak, apapun, kalo lapar akan terasa enak. Nylekamin pokoken.(tri) Lanjutkan membaca Nylekamin dan Nylekamid

Usman Harun, Saya yang tidak paham Sejarah


image

Saya tersentak, malu tepatnya. Menyadari betapa ceteknya saya mengenal sejarah bangsa ini. Sejarah yang kukenal tak lebih dari pelajaran Pendidikan Sejarah dan Perjuangan Bangsa (PSPB) saat sekolah dulu, selebihnya hanya sepintas lalu tanpa keseriusan memahami.
Isu manipulasi sejarah ikut andil menjadikan apatis untuk membaca sejarah pasca kemerdekaan. Bahkan saya baru tahu bahwa kata Irian Lanjutkan membaca Usman Harun, Saya yang tidak paham Sejarah