Banyumasan lagi. Kemarin ngenyis dan ndremissekarang kata gujih. Gujih bukan salah ketik kata gajih ataupun gujis (gujis kata yang sudah lupa sama sekali, saya ingat-ingat dulu buat dibukukan di postingan yang akan datang)
Lelah. Tidak bisa ditolak. Obatnya cuma satu. Istirahat. Jika dipaksa bisa berakibat fatal. Sakit, kinerja menurun, hasilpun kurang maksimal. Dan yang parah tertidur di kendaraan bahkan di tempat kerja. Lanjutkan membaca Tidur di Kereta
Kembali postingan tengah malam, ‘lingsir wengi’ tepatnya. Mengupas kosa kata Banyumasan yang saya khawatirkan akan hilang ditelan kehidupan ala metropilis dewasa ini.
Kalo kemarin mengupas kata Ngenyis, sekarang membahas kata ndremis Ndremis adalah sifat seseorang yang kekanak-kanakan berkaitan makanan. Lanjutkan membaca Ndremis
Pernah marah? Kata apa yang pertama terpikir di otak anda saat marah. Apa sederet kata kotor dan kasar? Atau cukup menghela nafas dalam lalu dihembuskan keras? Atau ada tindakan lain?
Ungkapan emosi
Manusiawi. Yah, marah itu manusiawi sekaligus ‘hewani’.
Karena hewan juga bisa marah. Jika tidak percaya, coba sesekali anak ayam yang sedang diasuh induknya ditangkap, Lanjutkan membaca NDHASMU SHOMPLAGK!
Kemarin saya sedikit mengulas tentang Seprih si beringin pencekik. Seprih versi banyumasan di lingkup masa kecil saya. Nama seprih bagi masa kecil saya lebih akrab di telingan daripada kata beringin. Kecuali jika berkaitan dengan ‘golongan kuning’ yang berkuasa kala itu.
Nama blog dengan embel-embel Banyumasan sepertinya kurang afdol kalo tidak diselipi dialek Banyumasan. Lanjutkan membaca Ngenyis
Masuk stasiun langsung saja saya menuju KRL yang tersedia. Nampak longgar untuk penumpang berdiri, tempat duduk tentu saja sudah penuh. Cari tempat nyaman untuk berdiri dan pegang gadget. Tumben Senin kok longgar, batinku.
“Ini, kereta yang berangkat jam berapa ya?” tanya seorang penumpang kepada penumpang lainnya.
Herannya sebagian penumpang tidak tahu jadwal jam keberangkatan kereta yang mereka naiki. Saya yang belum genap sebulan langganan KRL pun ikut bingung, asal naik ke rangkaian yang ada. Lanjutkan membaca Sensasi KRL di Jam Sibuk bagi Penumpang Awam
Sebenarnya sudah banyak yang membahas flora satu ini. Ara atau beringin pencekik (basa Sunda kiara koneng, nama latin Ficus annulata) dalam basa jawa (Banyumas) disebut Seprih. Karena jarangsekali yang menyebut pohon ara dengan sebutan Seprih maka saya ingin mengulas sedikit versi saya, versi Banyumasan.
Pohon Ara dikenal sebagai pencekik, karena kerap menumpang hidup pada pohon lain tapi lebih subur dari pohon inangnya hingga akar sulurnya menjulur ke tanah di sekitar si inang dan meyerap nutr
isi, bahan makanan mengalahkan inangnya.
Naik untuk turun, itulah pilihan yang berakhir keadaan
17 Agustus kemarin, kami sekeluarga mendapat undangan walimatul ‘Ursyi. Pernikahan kakak sepupu di Bandung. Sayang saya kuli yang berusaha taat aturan. Tugas kerja dan alasan lain menahan saya untuk ikut merayakan kebahagiaan keluarga besar.
Umur kakak tidak lagi muda untuk menikah, umur matang, mendekati 40 tahun. Kalo boleh dibilang, tua, tapi tidak juga, Lanjutkan membaca Akhirnya Kakaku Menikah
Dua rangkaian KRL Commuterline saya abaikan, meskipun masih lega untuk berdiri karena tempat duduk sudah penuh. Saya ingin duduk biar lebih nyaman sambil berselancar di dumay, becanda dengan rekan-rekan koboys-obi di grup Whasapp mesenger.
Dalam kehidupan sehari-hari, kawan itu teman kita, kenal dan paham, meski kadang tidak sepaham. Lawan adalah musuh atau saingan kita, kenal dan paham tapi kerap bahkan mungkin tidak pernah sepaham.
Ada kesamaan ciri antara kawan dan lawan, yaitu saling kenal, atau beranggapan mengenal mereka walau bisa jadi salah. Lanjutkan membaca Kawan & Lawan
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.