Akhirnya Kakaku Menikah


image

Naik untuk turun, itulah pilihan yang berakhir keadaan

17 Agustus kemarin, kami sekeluarga mendapat undangan walimatul ‘Ursyi. Pernikahan kakak sepupu di Bandung. Sayang saya kuli yang berusaha taat aturan. Tugas kerja dan alasan lain menahan saya untuk ikut merayakan kebahagiaan keluarga besar.
Umur kakak tidak lagi muda untuk menikah, umur matang, mendekati 40 tahun. Kalo boleh dibilang, tua, tapi tidak juga, karena banyak pria umur di atas 40 tahun masih melajang. Perempuan cantik yang dipinangnya terpaut 2 tahun lebih muda.
Banyak yang bilang telat menikah. Maklum umur menikah yang wajar bagi masyarakat Indonesia  adalah antara 20 sampai 30 tahun. Berarti di bawah 20 menikah muda sedang di atas 30 menikah tua.
Jadi jangan heran jika kakaku itu di sebut telat nikah, karena saya yang menikah di umur 27 saja sudah merasa telat. Andai lebih awal secara logika saya akan lebih panjang hidup bersama anak isteri.
Kemanakah mereka selama ini? Tanya si bontot. Umur tidak lagi muda, tapi baru berpikiran untuk menikah, padahal mereka berdomisili di tempat yang sama. Sepertinya, merek melajang selama ini bukan karena keadaan, tapi pilihan. Dan melajang sampai mendekati umur 40 pilihan yang akhirnya pupus.
Lantas bagaiman dengan rekan-rekan kita yang lain, melajang sampai melewati umur 40 tahun. Apakah karena keadaan atau pilihan?
Ada yang beralasan, hidup melajang lebih nikmat. Mau berbuat apapun tidak ada yang melarang, tidak ada batasan. Mungkin terbiasa sendiri dan menyendiri.
Tentu aneh bagi kita yang sudah berkeluarga dan memiliki anak melihat rekan yang ‘memilih’ melajang. Mereka tidak merasakan kebahagiaan memiliki isteri dan merawat anak.
Ya ‘memilih’ bukan karena ‘keadaan’. Dari perawakan dan syarat normal terpenuhi. Finansial mencukupi, bahkan banyak yang lebih dari kita. Calon pasangan bertebaran. Mereka ‘keukeuh’ melajang.
Beberapa alasan melajang karena ‘pilihan’ :
1. Calon yang tersedia tidak memenuhi kriteria yang diinginkan
2. Kelamaan menetukan pilihan karena banyaknya calon pasangan
3. Terlalu sayang dengan kekayaan/harta pribadi, sehingga takut berkurang jika menikah
4. Melajang demi karir, jika menikah takut karirnya terhambat
5. Berkeyakinan bahwa banyak yang minat dengan dirinya, akhirnya kembali ke poin 2
Nah, dari alasan di atas yang akan kembali ke poin 2, melajang yang tadinya berupa ‘pilihan’ akan berubah menjadi ‘keadaan’.
Yah, keadaan di mana :
1. Umur sudah tua, calon pasangan yang tadinya melimpah mulai enggan menunggu dan beralih ke lain hati yang siap menikahi
2. Tersedia calon baru yang tentu saja enggan dengan pasangan yang jauh lebih tua.
Nah, bersegeralah menikah sebelum pilihan lajangmu menjadi keadaan. Pilihan itu laksana menapaki trap tangga, saat menapak pada trap teratas, pilihan terakhir adalah kembali turun, menapaki trap ke bawah.
Tanpa bermaksud menjudge orang yang sudah berusaha keras mengakhiri masa lajangnya tapi belum berhasil, semoga Allah swt memudahkan jalan kalian. Amin. Apakah ada pembaca yang masih melajang?(tri)

**************
Posted from WordPress for Android Wonder Roti Jahe

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Sekitar Kita, sosial dan tag , , , , . Tandai permalink.

8 Balasan ke Akhirnya Kakaku Menikah

  1. adhyg13 berkata:

    aku ya pengin nikah muda 😀

  2. Bjl berkata:

    yang penting nakal sek. pas kawin wes ayem.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s