Psl 284 jo Psl 106 ayat 2 UU LL, Berkendara tidak mengutamakan keselamatan Pejalan Kaki / pesepeda dipidana kurungan 2 bln / denda Rp500.000 — TMC Polda Metro Jaya (@TMCPoldaMetro) __________________________________<<< Utamakan pejalan kaki. Jangan serobot haknya dengan "ngalay" lewat trotoar. Bersabarlah berkendara saat ada pejalan kaki menyeberang jalan. Tapi bukan berarti pejalan kaki itu raja di jalan raya. karena kendaraan bayar pajak sedang pejalan kaki tidak. Jadi jangan melintas atau menyeberang jalan dengan seenaknya. Kadang bahkan seringkali seolah si pejalan kaki sengaja nyantai saat melintas, karena beranggapan "tidak mungkin kendaraan berani menabraknya" Hargailah sesama pengguna jalan dan hati-hati serta waspada selalu. Wassalamu'alaikum
Belok Kiri Tidak Langsung
Belok kiri TIDAK BOLEH langsung,kecuali ada rambu yg mengatur ( Pasal 112 UU. No. 22/2009) — NTMC POLRI (@NTMCLantasPolri) ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Yah belok kiri kadang bikin serba salah, aturan yang tegas kadang merepotkan, misal seperti peraturan belok kiri ini. Jika jalanan sepi dari arah lain maunya nyelonong aja, tapi kalo berhenti bisa jadi dari arah belakang kita diklakson oleh pengendara lain. Nah sebaiknya gimana ya… Taat di satu tempat belun tentu taat di twmpat lain kecuali selali ada petugas yang berjaga. Wassalamu’alaikum
Memanfaatkan Yang Seharusnya Lebih Bermanfaat
Melintas di sepanjang jalanan Jakarta arah Kuningan maka akan disuguhi dengan banyak patok rangka besi besar tinggi. rangka-rangka yang seharusnya menjadi tiang monorail ini mengganggu pandanganku. maklum aku jarang melintas jalur selatan lebih sering barat dan utara Jakarta.


Dipersimpangan masuk jalur lambat tampak berbahaya rangka ini, kalo tidak waspada bisa menabrak dan celaka. Sepertinya sudah pernah terjadi.

Apakah hal ini akan dibiarkan atau tidak, aku belum dapat berita selanjutnya setelah adanya pembatalan rencana pembangunan monorail dan lebih memfokuskan pembangunan jalan layang non tol.
Tentu sudah banyak yang mengulas mangkraknya tiang monorail ini… yahhh tulisan ini hanya sebagai pelengkap saja dan pernyataan keprihatinan akan mubahnya duit yang terbuang untuk pembangunan transportasi masal yang mandek ga jelas..
Tapi ternyata tiang mangkrak ini masih ada manfaatnya,

dipakai sebagai tempat menempel papan reklame dan iklan … wassalamu’alaikum
Lokal VS Impor
Lokal VS Import
Budaya memang susah dibendung, pengaruhnya begitu mudah menginvilterasi budaya lain, dari gaya hidup, konsumtif, agama, kelompok sampai opini tulisan pun bisa dipengaruhi budaya lain. Jika budaya itu mempengaruhi menuju hal yang positif tentu tidak ada salahnya untuk diadopsi, tapi tak jarang budaya yang masuk cenderung negatif dan bertentangan dengan budaya, hukum adat dan agama yang berlaku di suatu wilayah atau negara.
Mungkin ide yang dibiasakan bisa jadi layaknya budaya lokal, misal gaya berjoged biduan (baca biduanita) dangdut dan semacamnya di panggung hiburan rakyat. Mungkin mereka yang terlibat bisa mengklaim bahwa gaya itu adalah murni ide si biduan dan produser. Tidak merasa bahwa gaya itu muncul karena gaya orang lain, memang beda tapi yakin dari saya kecil tidak ada gaya dan pakaian biduan panggung yang nyleneh seperti sekarang, berarti gaya joged dan pakaian sampai warna rambut itu muncul seiring berkembangnya budaya non lokal yang masuk ke Indonesia, dan belakangan hal tersebut menjadi tren bagi sebagian kalangan biduan panggung. Apakah hal tersebut dibiarkan karena mengatasnamakan HAK ASASI MANUSIA.
Yah HAM sebuah “hukum” yang belakangan selalu dijunjung tinggi dan menjadi tameng, benteng bagi mereka yang ingin berekspresi tanpa batasan kultur budaya, adat, agama bahkan hukum negara. Menembus dan melawan apapun yang menghalangi ekspresi, ide dan opininya itu.
Kasus terakhir yang ramai dipergunjingkan adalah gagalnya Lady Gaga konser/manggung di Indonesia, karena dianggap fulgar dalam berpakaian/bergaya di panggung, juga syair-syair lagunya yang seolah melwan hukum keagamaan dan dianggap pemuja iblis. Saya tidak paham siapa Lady Gaga dan lagunya seperti apa. Tapi jika FPI menolakdan polisi melarang si Gaga ke Indonesia, berarti ada hal yang menyerempet keagamaan khususnya Islam, yaitu kelayakan dalam berlenggok dipanggung dan busana yang bertentangan dan menimbulkan syahwat kelelakian. Meski katanya syair gaga lebih ke arah menyinggung umat kristen dan katolik… Entahlah..
Kembali kepada gaya manggung dan busana Lady Gaga yang di tolak karena dianggap melanggar hukum religi/agama, lantas mengapa ada pembiaran biduan lokal yang bergaya lebih parah dari Gaga ? Apakah karena biduan lokal itu tidak tenar dan hanya manggung dari kampung ke kampung, baru lintas Kabupaten belum negara? Apakah hal tabu yang tidak tenar menjadi lumrah untuk dibiarkan dan dianggap tidak berpengaruh pada syahwat yang akhirnya berujung maksiat?
Stop pemikiran sampai di sini..
pemikiran saya adalah… Jika si gaga dan semacamnya dilegalkan masuk ke Indonesia, maka akan ada kesan negara melegalkan budaya yang sebenarnya sudah diadopsi meski belum terang terangan. Dan kenapa harus impor dari luar negeri kalo di negara ini yang lokal juga seabrek, tinggal pilih biduan model si Gaga. Apakah bangsa ini makin goblosehingga tidak mampu menghargai karya lokal ? Yo mosok untuk sebuah moral seperti itu harus import ? Lha wong di pedalaman kampung Indonesia juga berlimpah, manggung dari hajat kecil ke hajat kecil lainnya, kenapa tidak di angkut aja si biduan panggung kampung itu dan dipamerkan di Senayan…
Saya makin bingung dengan penduduk negeri ini, selalu silau dengan tampang barat, budaya yang ditanamkan VOC masih begitu kental, takut dan segan pada muka asing berkulit putih pucat, pantas saja usaha kelokalan susah berkembang karena selalu mengunggulkan si pebisnis hidung mancung dan bule-bule. Padahal penduduk lokal bayak yang mampu menjadi enterpreneur di berbagai bidang usaha.. Produk luar lebih diminati dan dianggap lebih berkelas. Lantas sampai kapan negri ini mampu menjadi pilot di segala bidang jika untuk moral bejat saja mesti impor ? Untuk perempuan setenga telanjang saja mesti mendatangkan dari belahan benua lain ? Padahal di negri ini moral bejat bertebaran dari pejabat kelas kakap sampai lonthe kelas kolong jembatan. Dan jangankan perempuan setengah telanjang, perempuan tanpa busana berlenggok di berbagai club night yang dipiara oleh oknum bejat.
Jadi moral siapa yang perlu dipertanyakan ? Dan “salah siapa” akhirnya jadi pertanyaan, melegalkan yang lokal atau impor yang berimabas luas ? Terserah pemerintahnya, secerdas apa mengurus dan menjawab protes dan dukungan yang semua bermuara pada “MORAL”… Mau jadi Indonesia Merdeka atau Indonesia PraSejarah yang tak kenal tulisan dan baju dari dedaunan.. Just imho. wassalamu’alaikum
Jangan Asal
Acara televisi digemari di Indonesia sampai melupakan kewajiban agama (aku berlindung kepada Allah dari dipalingkan dari agama-Nya)
“segarkan Iman kalian, dengan banyak mengucapkan dan memahami kalimah tauhid” (fa’lam annahu Laailaahaillalloh) bukan sekedar diucapkan tapi dipahami bahwa “tiada Illah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah swt”. aktifitas kita harus merasa dipantau Allah, “Allah melihat kita” adalah keyakinan sebagai roh tauhid.
Saat waktu jumat hampir semua pejabat melaksanakan shalat Jumat, dari polisi, jaksa, hakim, anggota DPR MPR dan berbagai aparat lainnya, tapi apakah sikap mereka sebagian besar sesuai dengan roh shalat Jumat ? Karena tauhidnya lemah, maka shalat hanya sekedarnya, tdak dijiwai dan nilainya tidak meresap ke hati sehingga tidak mampu mewarnai kehidupannya sehari-hari.
wassalamu’alaikum
Zpetikan Khutbah Jumat pekan lalu Baiturrahman Ancol)
Kuliner Sumedang
Melanjutkan kisah mbolang ke Temanggung di mana pulangnya mampir Sumedang…
Tersadar dari tidur….saat mobil menginjak lobang yang membuat mobil terguncang, jam 4 pagi…sudah di mana nih.. Tanyaku, Sumedang .. Wahh..lumayan juga 1,5 jam terlelap, segera mencari hotel terdekat, rencananya esok pagi atau paginya bosku mau ketemuan sama rekannya. Mendekati adzan Subuh masuk pelataran hotel yang bersebrangan dengan Masjid, hotel murah tapi lumayan tidak murahan
“Hegarmanah” papan nama terpancang di halamannya, pesan kamar dan kopi hitam sembari menunggu adzan subuh, menunaikan shalat di masjid, lumayan dapet jamaah, selesai sholat buru-buru menuju hotel dan masuk kamar, tanpa AC tapi udara Sumedang cukup menyejukan… Serasa sebulan tidak rebahan.. Jarak yang tiada terkira, Alhamdulillah nikmat sekali kasur ini… Lesss…
Jam 9 pagi terbangun, badan lengket, segera cari perlengkapan mandi, ke minimarket terdekat berburu daleman.. Balik hotel menikmati sejuknya air Sumedang
selanjutnya ke depan halaman hotel, banyak kios tahu di bebrapa titik pinggiran jalan, jadi penasaran mencicipi tahu lontong hangat khas Sumedang, Tahu Taqwa, slogan nama kios tahu di depan hotel Hegarmanah, seorang bapak tua sedang asyik menggoreng tahu berwarna putih hingga coklat khas tahu Sumedang,
duduk memesan, 3 batang lontong beserta 6 potong tahu seharga 5 ribu, pas buat sarapan pagi itu… Selanjutnya bungkus satu porsi untuk kawanku yang masih enjoy di bawah selimut…
Jam 10 lewat bosku datang dari berjumpa temannya, ternyata nih orang dah dari jam 8 pagi jalan..

Selanjutnya mampir rumah makan eco yang memiliki beberapa cabang di beberapa kota besar jawa, maskannya begitu menggoda, mak nyoss.. Rumah Makan Ampera
Di depan rumah makan nampak Tampo Mas berdiri gagah menantang langit.. Sayang susah mendapatkan view yang enak buat ambil gambar Tampo Mas.. Aku juga baru pernah melihat gunung Tampo Mas yang selama ini kukenal sebagai nama kapal laut yang tenggelam di lagu Iwan Fals…
Memasuki interior rumah makan, tampak lukisan besar menempel di dinding, berbagai menu terhidang, tinggal tunjuk masakan akan di masak (dihangatkan, kemungkinan masakan yang tersaji sudah setengah matang tinggal dihangatkan saja)
. 
Aku memesan nasi putih, cumi bakar, bakwan jagung dan jeruk anget. Tak berapa lama masakan diantar, rasanya mantab.. Pokoknya tidak mengecewakan.
Setelah kenyang kita balik kanan menuju kota Sumedang untuk hunting tahu sebagai oleh-oleh.
Yang terkenal adalah tahu Citra Rasa yang bersebrangan dengan ramayana mall (cmiiw).
Benar juga mereka sampai kewalahan melayani pesanan, baru mateng tahu langsung ludes dibeli pelanggan, tersedia keranjang dengan harga 25 ribu isi 50 butir, dan juga paket kecil.. Dengan hitungan harga satuan 500 perak.
Rasanya mantab, berbeda dengan sarapanku tadi pagi, di toko Citra Rasa ini juga disiapkan lontong dan aneka jajanan bagi yang ingin makan ditempat sebagai lauk tahu, aneka jajanan bisa sebagai pelengkap oleh-oleh..
Setelah selesai pesanan, selanjutnya meluncur ke Masjid Agung Sumedang untuk melaksanakan shalat Dzuhur sekaligus jamak qashar Asar.
Berikutnya pulang ke jakarta lewat Cadas Pangeran, sebuah jalan yang menempel pada dinding cadas yang kuat, meski nampak mengerikan jika di lihat dari samping karena tebing yang amat curam, sayang gambar yang kujepret kurang mampu menggambarkan kondisi Cadas Pangeran, barangkali tulisan Maskur bisa menggambarkan, lanjut tol Purbalenyi disambung Cipularang dan akhirnya sampai Ancol kurang lebih jam 18.00… Bagiku ini adalah perjalanan yang terasa terpanjang dari awal berangkat ke Temanggung… Wassalamu’alaikum
Memang perlu kesabaran ekstra dalam berkendara di jalan umum, beberapa kali saya yang juga pengguna roda dua mengalami di serempet atau di tubruk mobil, baik kendaraan pribadi maupun kendaraan umum, pernah di kemacetan di tubruk kijang kena knalpot, saya diamkan saja, cuma kasih tahu untuk bersabar. terakhir di sruduk kopami jaya warna biru Kota-Muara Karang, saya berbalik dan Tenadang meski tidak berefek apapun. Hal terakhir terjadi karena saya berhenti di belakang garis putih saat lampu lalin berwarna merah dan kebiasaan angkutan umum Jakarta yang demen berhenti di depan garis putih menedekati persimpangan jalan. Kadang Sabar lebih baik memang, tapi sampai kapan..
JALAN raya punya segudang cerita. Lewat jalan raya pula, para penggila gadget dan kalangan jetset bisa menikmati kecanggihan teknologi informasi. Mau lewat mana mengangkut gadget android canggih yang mereka pakai? Pasti lewat jalan raya kan?
Namun, kisah Ade dan Veronika bukan soal kecanggihan gadget yang bisa memodifikasi foto menjadi lebih apik. Kisah keduanya seputar pengendalian emosi saat terjebak insiden kecelakaan. Ironisnya, Ade mendekam di hotel prodeo selama dua minggu. Buat kebanyakan dari kita, jangankan dua minggu, satu hari saja barangkali rasanya dunia mau kiamat. Kebebasan hilang.
Cerita bermula ketika suatu siang, Minggu, 22 April 2012, Ade Abidin bersepeda motor di Jl Veteran, Sukabumi. Dia tak sendiri, ada sang isteri tercinta yang ikut membonceng. Beberapa saat kemudian muncul Veronika dari arah berlawanan. Wanita muda pengendara Honda Jazz itu pun berserempatan dengan pria berusia 56 tahun itu. Veronika yang sedang hamil lima bulan itu, tetap melaju karena tak merasa ada apa-apa. Terjadilah…
Lihat pos aslinya 286 kata lagi
Durian Batang Telor Asin Brebes
Melanjutkan kisah kurang penting yang lalu saat ke Temanggung untuk melayat.
Sekitar pukul 16 atau 4 sore sampai di rumah duka, Setelah beramah tamah menyampaikan bela sungkawa, menyambangi kubur yang tak jauh dari rumah duka sekedar mendoakan “Assalamu’alaika yaa ahladdiyar, assalamu’alaika ya ahlal kubur” dan mengingat suatu saat kan menyusul alias mati juga. Istirahat sejenak di rumah duka, mandi menikmati sejuknya air Temanggung..wuihhh.. Meski kota tapi airnya khas gunung..nyesss… Menusuk pori-pori menyadarkan diri dinginnya nanti dalam kubur atau malah sumuk digebukin malaikat penjaga kubur.. Astaghfirullohal’adzim.. Selanjutnya menunaikan Magrib sekaligus jamak qashar Isya, sekitar jam 19 atau 7 malam (berarti cuma 3 jam di rumah duka) beranjajk pamit kepada keluarga duka, bersama satu mobil keluarga duka dari Jakarta menembus malam menuruni kelokan Temanggung-Welery, di beberapa belokan mesti waspada, blindspot malam hari makin perlu meningkatkan kewaspadaan, juga saat masuk jalur alas roban, meski lengang. Sekitar jam 8 malam masuk Batang,

tertarik mencicipi durian pinggir jalan, sayang rasanya tak smenarik tampang dan aromanya, anyep..
Jelang tengah malam masuk brebes, sempat menikmati telor asin panggang, kulit berwarna hitam tapi rasanya emang jossss.. Ternyata satu mobil kelurga duka Jakarta tertinggal, saat di kontak ternyata mereka mampir istirahat di pom bensin yang masih masuk Pemalang…hadeh.. 2 kabupaten terlewat, akhirnya balik kanan karena 1 anggota keluarga ikut satu mobil dengan kami. Selanjutnya kembali melanjutkan perjalanan, sementara mobil keluarga tetap berhenti istirahat di pom bensin tersebut. Rencananya rombonganku akan mampir Sumedang, lewat Cirebon, Majalengka, Kuningan.. Sepanjang jalan sulit sekali menahan mata ini, kantuk begitu berat.. Apalagi batuk pilek menyerang karena lelah kurang tidur… Akhirnya dini hari masuk Cirebon, mencari jalan ke Sumedang aku dan sopir yang Bosku sendiri agak bimbang, sampai mataku tidak lagi bisa melek dan plung lap… Terlelap…. Maaf gambarnya ga ada..Wassalamu’alaikum
Alun-alun Temanggung
Setelah menikmati eloknya tanjakan Temanggung lewat Weleri, maka akan disuguhi panorama pertanian khas dataran tinggi dengan udara yang sejuk, berbagai sayuran nampak hijau segar, dari daun bawang, kol/kubis, slada/pakcoy dan sebagainya..

Selanjutnya memasuki Kota Temanggung dengan sentral Alun-alun, aku agak bimbang dengan arah mata angin, tapi saat melihat arah masjid, sepertinya Masjid Agung ini berada di sebelah barat daya dari alun-alun,

di sebelahnya nampak anggun gedung Lembaga pemasyarakatan, karena bentuk bangunanya dari depan tidak nampak sebagai penjara, beratap model joglo limasan khas jawa tengah.

Di timur laut nampak tugu jam seperti jam gadang di Padang dengan logo Bank Jateng,

gerbang kantor bupati nampak kokoh di bagian lain dari seputaran alun-alun, tak jauh dari alun-alun nampak Bank BNI cabang yang gagah menjulang.

Sepintas mirip alun-alun Wonosobo, juga alun-alun Purwokerto-Banyumas dengan balai Sipanji. Memang rata-rata alun-alun di Jawa menganut desain keraton Mataram Islam, di mana alun-alun menjadi sentral kota dan pemerintahan. Tapi dibanding Purwokerto sepertinya alun-alun Temanggung lebih rapi, sayang di beberapa titik, kendaraan masih di parkir di badan jalan, memakan hampir separo badan jalan, meski tidak menimbulkan kemacetan (bukan Jakarta Bung) tapi mengurangi keindahan kota.

Di salah satu sudut alun-alun berdiri kokoh pohon beringin, nampak di sekitarnya penjaja kuliner kaki lima mangkal mengais rizki, juga pedagang marchandise ikut menghiasi sudut teduh tersebut, sejenak memarkir mobil disini buat menikmati es campur yang segar. Selanjutnya meluncur menuju rumah duka di dusun Butuh.. Ayo wisata ke Temanggung. Wassalamu,alaikum
Nyoba Android
Penasaran dengan os yang lagi buming yaitu android. Maka iseng coba posting pakai gadget anak

Gambar di atas adalah my little girl Aisya saat masih berumur belum setahun. Sekarang sudah 4 tahun lebih dan lagi badung juga agak iseng sama kakanya/kembarannya.
Karena bandelnya, beberapa kali dia jatuh. Salah satunya sebulanan yang lalu

Saat naik turun tangga di rumah dia terpeleset dan sukses nyungsep, kepalanya sobek menabrak plat alumunium yang tergeletak di dekat tangga, alhasil IGD RSUD Cengkareng mengganjarnya dengan 6 jahitan. Kejer gak nahan melihatnya.. 3 suntik bius tak cukup menenangkan..
Alhamdulillah sekarang anaku dah ceria kembali. Lukanya sudah mengering. Sekian test wordpress for android. Jagalah dan waspadalah akan anak anda.
AWassalamu’alaikum

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.