Lokal VS Impor


Lokal VS Import
Budaya memang susah dibendung, pengaruhnya begitu mudah menginvilterasi budaya lain, dari gaya hidup, konsumtif, agama, kelompok sampai opini tulisan pun bisa dipengaruhi budaya lain. Jika budaya itu mempengaruhi menuju hal yang positif tentu tidak ada salahnya untuk diadopsi, tapi tak jarang budaya yang masuk cenderung negatif dan bertentangan dengan budaya, hukum adat dan agama yang berlaku di suatu wilayah atau negara.
Mungkin ide yang dibiasakan bisa jadi layaknya budaya lokal, misal gaya berjoged biduan (baca biduanita) dangdut dan semacamnya di panggung hiburan rakyat. Mungkin mereka yang terlibat bisa mengklaim bahwa gaya itu adalah murni ide si biduan dan produser. Tidak merasa bahwa gaya itu muncul karena gaya orang lain, memang beda tapi yakin dari saya kecil tidak ada gaya dan pakaian biduan panggung yang nyleneh seperti sekarang, berarti gaya joged dan pakaian sampai warna rambut itu muncul seiring berkembangnya budaya non lokal yang masuk ke Indonesia, dan belakangan hal tersebut menjadi tren bagi sebagian kalangan biduan panggung. Apakah hal tersebut dibiarkan karena mengatasnamakan HAK ASASI MANUSIA.
Yah HAM sebuah “hukum” yang belakangan selalu dijunjung tinggi dan menjadi tameng, benteng bagi mereka yang ingin berekspresi tanpa batasan kultur budaya, adat, agama bahkan hukum negara. Menembus dan melawan apapun yang menghalangi ekspresi, ide dan opininya itu.
Kasus terakhir yang ramai dipergunjingkan adalah gagalnya Lady Gaga konser/manggung di Indonesia, karena dianggap fulgar dalam berpakaian/bergaya di panggung, juga syair-syair lagunya yang seolah melwan hukum keagamaan dan dianggap pemuja iblis. Saya tidak paham siapa Lady Gaga dan lagunya seperti apa. Tapi jika FPI menolakdan polisi melarang si Gaga ke Indonesia, berarti ada hal yang menyerempet keagamaan khususnya Islam, yaitu kelayakan dalam berlenggok dipanggung dan busana yang bertentangan dan menimbulkan syahwat kelelakian. Meski katanya syair gaga lebih ke arah menyinggung umat kristen dan katolik… Entahlah..
Kembali kepada gaya manggung dan busana Lady Gaga yang di tolak karena dianggap melanggar hukum religi/agama, lantas mengapa ada pembiaran biduan lokal yang bergaya lebih parah dari Gaga ? Apakah karena biduan lokal itu tidak tenar dan hanya manggung dari kampung ke kampung, baru lintas Kabupaten belum negara? Apakah hal tabu yang tidak tenar menjadi lumrah untuk dibiarkan dan dianggap tidak berpengaruh pada syahwat yang akhirnya berujung maksiat?

Stop pemikiran sampai di sini..

pemikiran saya adalah… Jika si gaga dan semacamnya dilegalkan masuk ke Indonesia, maka akan ada kesan negara melegalkan budaya yang sebenarnya sudah diadopsi meski belum terang terangan. Dan kenapa harus impor dari luar negeri kalo di negara ini yang lokal juga seabrek, tinggal pilih biduan model si Gaga. Apakah bangsa ini makin goblosehingga tidak mampu menghargai karya lokal ? Yo mosok untuk sebuah moral seperti itu harus import ? Lha wong di pedalaman kampung Indonesia juga berlimpah, manggung dari hajat kecil ke hajat kecil lainnya, kenapa tidak di angkut aja si biduan panggung kampung itu dan dipamerkan di Senayan…
Saya makin bingung dengan penduduk negeri ini, selalu silau dengan tampang barat, budaya yang ditanamkan VOC masih begitu kental, takut dan segan pada muka asing berkulit putih pucat, pantas saja usaha kelokalan susah berkembang karena selalu mengunggulkan si pebisnis hidung mancung dan bule-bule. Padahal penduduk lokal bayak yang mampu menjadi enterpreneur di berbagai bidang usaha.. Produk luar lebih diminati dan dianggap lebih berkelas. Lantas sampai kapan negri ini mampu menjadi pilot di segala bidang jika untuk moral bejat saja mesti impor ? Untuk perempuan setenga telanjang saja mesti mendatangkan dari belahan benua lain ? Padahal di negri ini moral bejat bertebaran dari pejabat kelas kakap sampai lonthe kelas kolong jembatan. Dan jangankan perempuan setengah telanjang, perempuan tanpa busana berlenggok di berbagai club night yang dipiara oleh oknum bejat.
Jadi moral siapa yang perlu dipertanyakan ? Dan “salah siapa” akhirnya jadi pertanyaan, melegalkan yang lokal atau impor yang berimabas luas ? Terserah pemerintahnya, secerdas apa mengurus dan menjawab protes dan dukungan yang semua bermuara pada “MORAL”… Mau jadi Indonesia Merdeka atau Indonesia PraSejarah yang tak kenal tulisan dan baju dari dedaunan.. Just imho. wassalamu’alaikum

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Ngeblog dan tag , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Lokal VS Impor

  1. Aa Ikhwan berkata:

    Penjajahan melalui budaya, moral, panggung hiburan dll..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s