Waspada Trotoar Tanah


trotoar_yos_sudarso[1]

salah satu Pedestrian Jalan Jakarta

Rutinitas, berangkat kerja mengendarai sepeda motor Jalitheng Pulsar 220. Jumlah kendaraan yang makin banyak membuat jalan raya di ibukota bisa dijadikan uji kesabaran bagi penggunanya. Yah, apalagi kalo bukan macet. mendekati persimpangan saya berjejal mengejar lampu hijau yang tak berapa lama berubah kuning, karena sebagian besar kendaraan melakukan hal sama, mengakibatkan kepadatan di tengah persimpangan, sementara lampu lalin sudah berubah ke merah, hal ini sering jadi biang kemacetan. Pertemuan di tengah perempatan dengan kendaraan dari arah lain yang pastinya sudah hijau.

Kesabaran masih barang langka di jalan ibukota, beberapa pengguna sepeda motor mengalihkan kendaraannya ke trotoar, termasuk angkutan kota atau angkot. Trotoar yang lebih rendah dari jalan raya memudahkan pengguna jalan mengalihkan lajur kendaraan. Ya trotoar yang masih orijinal alias berupa tanah. Trotoar tanah, yaitu trotoar atau pedestrian yang belum mengalami pengerasan. Pada umumnya trotoar di jalan Ibukota mengaplikasi konblok untuk pengerasan dan lebih tinggi dari jalan raya. Berbeda dengan trotoar tanah, biasanya lebih rendah dari jalan raya. Demikian juga sebagian trotoar di jalan Pantai Indah Kapuk yang kulalui. Di saat musim penghujan trotoar tanah yang lebih rendah dari jalan raya akan menjadi tandon air. Tanah menjadi lembek dan saat angkot yang sering memaksa sebagian badan kendaraan melaju melalui trotoar menyebabkan tanah bergelombang, saat musim panas seperti saat ini, trotoar tanah bergelombang dan tentu tak akan nyaman untuk dilalui kendaraan apalagi roda dua.

Seperti suatu pagi, sepeda motor yang melaju rapi berurutan di badan jalan paling pinggir terganggu oleh mobil yang tidak berurut dengan mobil lainnya, yaitu sebagian badan mobil menutup jalur pinggir yang seyogyanya buat sepeda motor. Beberapa sepeda motor di depanku memaksa menyalip mobil tersebut melalui trotoar tanah, sampai motor terakhir di depanku pesrsis, sebuah vartek gen dua terprovokasi dan ikut turun dari jalan masuk ke trotoar tanah, karena kurang sigap dengan perubahan kontur jalan yang berupa tanah gembur bergelombang membuat manufer ban depan kehilangan grip dan meleset ke arah got, reflek biker melompat melepaskan sepeda motornya. Vartek roboh mendekati got, tapi beruntung si biker tetap berdiri. Ku hentikan Jalitheng dan matikan mesin, waspada melangkah membantu mengangkat vartek, saat kutengok belakang, sebuah angkot sedang melaju di trotoar tanah tersebut. Berhenti dan supir senyum memperhatikan kami, entah apa arti senyumnya.

Sepertinya tidak ada kerusakan pada sepeda motor, saya melanjutkan perjalanan. Bersabar mengikuti kemacetan jalan ibukota yang tak berujung, Kecuali kita berhenti saat sampai tujuan. (Tri)

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Jalan jakarta dan tag , , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Waspada Trotoar Tanah

  1. Aa Ikhwan berkata:

    ngeriii..

  2. blognyamitra berkata:

    akeh ranjau darat cak, kudu hati2 lan waspada…

  3. kasamago berkata:

    kyk medan perang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s