Hasil UB-150 ARRC 2017 Thailand, Race 1, Podium dikuasai Malaysia


Hasil lengkap balap ARRC 2017 Thailand kelas UB-150 Race 1.

Tikungan terakhir jelang finish, dilarang nafsu

Kelas bebek alias Underbon 150cc atau UB 150 pada ARRC gelaran kedua di Chang Circuit Thailand, Race 1, Jumat 14 April 2017, podium 1 sampai 3 diisi oleh rider Malaysia. 

Terlalu semangat berujung gagal podium

Pada lastlap, dimana garis finish mirip sirkuit Aragon, Argentina, yaitu dekat sekali dengan tikungan. Sehingga, mungkin karena nafsu, malah membuat 3 pebalap terdepan melebar hampir keluar lintasan. Hal ini menguntungkan barisan pebalap di range kedua, dan semuanya adalah rider Malaysia.
Berikut hasil lengkp Race 1 ARRC 2017 Thailand kelas UB150

Podium Race 1 UB150 dikuasai rider Malaysia, dengan urutan:

  1. Azroy Hakeem Anuar dengan Honda Supra GTR-150
  2. Moh Izzat Zaidi dengan Yamaha Jupiter MX-King
  3. Moh Helmi Azman dengan Yamaha Jupiter MX-King

Sementara rider Indonesia, Anggi Setiawan yang juga mengendarai Yamaha MX-KING finish ke-4. 

Cara Ganti Mika Headlamp Vario 125 Yang Pecah


Cara Ganti Mika Lampu depan Vario 125.

Honda Vario 125 lansiran 2013 Second, si Pasir Putih yang saya dapat, memang dengan kondisi yang kurang terawat. Salah satunya, kaca atau mika lampu utama pecah sebelah kiri, di bawah mika lampu sign.

Mika lawas pecah – hancurkan dan bersihkan – mika baru

Sementara, waktu itu ditutup isolasi. Karena melihat tiap hari makin kurang nyaman, akhirnya saya meminang muka headlamp Vario 125. Dan saya eksekusi pada 20 Februari 2017.

Sebenarnya, untuk mengganti mika lampu depan Vario 125, lebih mudah dengan mengganti keseluruhan. Satu set headlamp Honda Vario 125 fi, dihargai 195 ribu untuk original dan 170 ribu untuk yang KW. Sedang saya hanya meminang mika saja, dengan harga 95 ribu, merk VRj. 

2, bulan masih kinclong

Cara ganti mika atau kaca lampu depan Vario 125, Pemasangannya gampang-gampang susah. Awalnya saya berniat mencopot utuh mika lawas, ternyata sulit, meski lem mika dan body headlamp, sudah saya panaskan dengan hair dryer. Akhirnya, mika aseli saya pecahkan dan bersihkan dari bodi reflektor. Selanjutnya tinggal tempel mika baru, tidak perlu menambah lem, cukup memanfaatkan lem lama yang masih menempel. 

Awalnya saya takut mika kw ini pudar dan kusam, dan sorot lampu pecah. Alhamdulillah setelah pemakaian hampir 2 bulan, masih kinclong.

Gerry Salim Turun Tahta Demi Pasar CBR250RR ?


Gerry Salim kembali menjuarai race hari ke-2 di Asia Road Racing Championship (ARRC) kelas Asia Production 250 (AP250) pada gelaran di sirkuit Johor Malaysia, Minggu 02 April 2017.

Gerry Salim, AHRT

Gerry Salim merupakan pebalap dari tim Astra Honda Racing  Team (AHRT), yang meniti karir bukan pertama kali ini. Membaca berita sepak terjang Gerry Salim di dunia balap roda dua, bukanlah hal asing. Pebalap muda ini merupakan anak keturunan mantan pebalap nasional, Gunawan Salim. Dan Gerry juga sudah langganan menjuarai kelas regional di Supersport 600cc bersama AHRT. Gerry merupakan juara umum IRS 2016 di kelas Supersport 600cc.
AHRT seolah menurunkan kelas balap Gerry Salim untu menaikan pamor Honda CBR250RR yang belum lama dilaunching oleh Astra Honda Motor Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, AHRT menurunkan 3 pebalap sekaligus, degradasi dari Supersport ke AP250.

2 pebalap lain rekan Gerry adalah Rheza Danica Ahrens dan Awfin Sanjaya. Rheza yang juga pebalap binaan Astra Honda Racing Team, merupakan  peraih podium tertinggi kejuaraan balap ketahanan Suzuk 4 Hours Endurance Race, tahun lalu dengan menunggangi Honda CBR600. Jadi, AHRT hanya menyisakan 1 pebalap di kelas Supersport 600cc, yaitu Irfan Ardiansyah.

Mengapa AHRT nampak begitu getol untuk mendapatkan juara di Ap250? Dengan 3 pebalap, mirip keroyokan Honda Repsol dalam MotoGP sebelum Stoner pensiun, di mana saat itu, tim pabrikan Honda menurunkan 3 pebalap di kelas MotoGP, Stoner, Dovisiozo dan Dani Pedrosa. Keroyokan demi poin penuh dan harga diri tentunya.

Nah, di ARRC seri AP250, AHRT punya misi besar, mengharumkan nama CBR250RR agar makin jaya dan mudah dalam penetrasi pasar. Maklum, seperti nasib gen CBR 250 single silinder, Honda hanya menang penjualan di awal perkenalan produk, selanjutnya kembali kalah oleh Ninja250. Demikian juga dengan si ganteng CBR250RR ini, menang  telak di Januari 2017, tapi kalah oleh Ninja 250fi di bulan berikutnya.

Tentu kita berharap, para pebalap berprestasi seperti Gerry Salim dan kawan-kawan tidak hanya dijadikan senjata marketing belaka, mereka harus kembali ke kelas lebih tinggi, agar harapan Indonesia memiliki pebalap yang dikenal dunia internasional tercapai. Smoga penjenjangan pebalap tidak mandek, tapi berlanjut hingga layak ikut World Superbike, karena motoGP terlalu mentereng.

Supersport 600cc, ARRC, Pembalap Indonesia Jadi Sorotan


Asia Road Racing Championship (ARRC) 2017, masuk hari atau Race-2 di Sirkuit Johor, Malaysia. Minggu 02 April 2017.

Azlan Shah K, Taiga Hada dan Irgan Ardiansyah (ki-ka)

Menonton aksi para pebalap Supersport di ajang SS600 cukup mengangkan dan bagi saya lebih menarik dibanding menonton MotoGP ataupun World Superbike sekalipun. Mengapa? Karena ada pembalap Indonesia di ajang Balap Asia ini. Dan pada hari ke-2 ini, pebalap Supersport Indonesia, Irfan Ardiansyah dan Ahmad Ydhistira sering jadi sorotan. Balapan diawali accident Zaqwan Zaidi yang merupakan juara pada hari pertama.

Mulai Lap 8 balapan makin menarik, perebutan posisi pertama antara Taiga Hada dan Azlan Shah Kamaruzaman juga perebutan posisi ke-3 antara Yudhistira (Manual Tech Kawasaki Team) dan Yuki Ito makin seru. 

Menjadi agak lucu, saat Yuki Ito overtake Yudhistira di lap 7 (kalo tidak salah) saat tikungan dari sisi luar, ternyata Ito terlalu minggir dan kehilangan Control sepeda motor hingga masuk gravel, meski Yuki selamat, tidak nyungsep.

Yudhistira sempat menengok ke belakang dan komentator berkelakar, “Yudhistira said, where Yuki Ito going” 😂. Selanjutnya, Yudhistira melenggang aman tanpa ancaman. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena rekan senegaranya beda tim, yaitu Irfan Ardiansyah dari Astra Honda Racing Team membuntuti sangat ketat. Hingga di lap 5, Yudhistira diovertake Irfan. Hingga finish, posisi tidak berubah.

Nampaknya gaya balap Yudhistira membuat cepat aus grup ban sepeda motornya, nampak semakin lama semakin ketinggalan oleh Irfan. But not badah, daripada turun tahta.

Indonesia Bertabur Pebalap Roda Dua


Untuk kelas Asean, Indonesia miliki banyak stok pebalap roda dua. 

Kemenangan Gerry Salim di atas Honda CBR250RR dalam ajang Asia RoadRacing Championship (ARRC) kelas Asia Production 250 (AP250), pada series pertama, Sabtu 01 April 2017, cukup menggembirakan. Lagu Indonesia Raya berkumandang di sirkuit Malaysia.
Pebalap Indonesia dalam ajang ARRC kelas AP250 series perdana, tidak hanya Gerry Salim, ada 4 pebalap lain di 10 besar, dan 4 pebalap di 20 besar, yaitu: 

  1. Rheza Denica Ahrens dengan Honda CBR250RR finish ke-4
  2. Awhin Sanjaya juga dengan Honda CBR250RR finish ke-5
  3. Andy Muhammad Fadli, satu-satunya pebalap yang finish dengan Kawasaki Ninja 250Fi di AP250, finish ke 8
  4. Galank Hendra Pratama dengan Yamaha R25, finish ke-9
  5. Reynaldo C Ratukore dengan Yamaha R25, finish ke-12
  6. Om Putra Pratna dengan Yamaha R25, finish ke-13
  7. Herman Baharuddin dengan Honda CBR250RR finish ke-14
  8. Rusman Fadhil dengan Yamaha R25, finish ke-16

Jadi total pebalap Indonesia yang finish di AP250 ada 9 pebalap termasuk Gerry Salim sang number one.

Di kelas Super sport 600cc, Indonesia memiliki 2 pebalap. Ahmad Yudhistira dengan tim Manual Tech Kawasaki Racing dan Irfan Ardiansyah dengan tim Astra Honda Racing Team. Dalam seri pertama kemarin, Sabtu 01 April 2017 di Johor Malaysia, keduanya finish berurutan 7 dan 8.

Indonesia juga mengirimkan perwakilan di Suzuki Asean Chalenge (SAC). Ada Ahmad Saugi Muchtar dan Nur Al Fatih Sam Ahmad. Pada ajang SAC ini semua pebalap mengendarai Suzuki GSX-R 150. Di ajang ini Wakil Indonesia, Muchtar dan Nur, finish berurutan 2 dan 3. Serta ada Chepy Armansyah yang gagal finish.
Sementara di ajang underbone alias bebek 150cc, 2 wakil Indonesia, Anggi Setiawan dan Wahyu Aji Trilaksana, yang mengendarai Yamaha MX-King, keduanya DNF, crash tidak berhasil finish.

Besar harapan kita bahwa balap ini bisa berjenjang sampai kelas internasional. Maklum, Gerry Salim yang sebelumnya bertarung di SuperSports 600cc turun tahta, memilih atau ditugaskan AHRT untuk menyempatkan CBR250RR. Karena kemenangannya ini adalah promosi produk dari masing-masing pabrikan. Sedang kelas 600cc mungkin hanya penggembira bagi AHM. Imho

Swing Arm Xabre Dan R15, Serupa Beda Kwalitas


Swing Arm Xabre tidak sama dengan swing arm R15.

Swing arm atau lengan ayun, di Banyumas disebut capit urang atau sapit udang. Eh, itu untuk menyebut shock depan atau  d swing arm ya. Saya lupa. Okelah, anggap saja begitulah, kembali ke Swing arm semplak milik Xabre, saya pikir sama dengan yang diadopsi Yamaha R15, sekilas lihat di jalan mirip. Apalagi masih satu almamater, alias sesama produk Yamaha Indonesia Motorcycle Manufakturing (YIMM).

Ternyata, berdasar informasi yang saya dapat dari blog jusaspal, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Beda kwalitas pastinya. Karena R15 yang lahir duluan tidak kedengaran kabar semplak swing arm, tapi Xabre atau M-SLAZ yang lahir belakangan, ternyata sudah banyak kasus arm patah.

Seperti pada penampakan di atas, Swing arm Xabre lebih tipis dibanding R15, jika diteliti, arm Xabre tidak padat, ada garis atau cekungan kotak di bagian dalam arm, berbeda dengan milik R15 yang padat berisi.

Kabarnya, harga keduanya juga terpaut jauh, Arm R15 dihargai 2,5juta, sedang arm Xabre hanya 1,3juta sampai 1,7juta saja. Selisih hampir 1juta, tentu kwalitas beda jauh. Yang jadi pikiran saya, apakah keduanya bisa ditukar plug n play layaknya arm R15 ke new V-IXION? Kalo bisa, maka masalah arm Xabre yang gampang coklek mudah diatasi tanpa mengurangi kegantengan.

Swing arm Xabre / r15

Maklum kasus terakhir, si Xabre yang semplak, arm nya diganti milik V-Ixion, tentu ini suatu kemunduran model, dari banana arm beralih ke arm konvensional. Jika Arm R15 bisa PNP ke Xabre, si Xabre tetap ganteng dan tahan banting. Tidak takut diajak ajrut-ajrutan pula, karena disinyalir lebih kuat. 

Dari foto OLX di atas, kedua swing arm sebenarnya Plug n play, karena nama jualannya pakai “/” (Xabre/R15) berati keduanya sama. Kwalitaslah yang berbeda. Jadi, gantilah arm Xabre anda dengan arm R15. Untuk perjalanan yang lebih tenang, apalagi sekarang banyak muncul wisata Jeglongan Sewu yang siap menguji kelenturan dan ketangguhan swing arm sepeda motor anda.

Benarkah “Yamaha Semakin Baperan”?


Swing arm Xabre atau M-slaz patah karena menghajar lobang jalanan Pantura.

Setelah beberapa waktu silam ada aksi ‘blocker’ oleh petinggi Yamaha kepada akun-akun blogger otomotif di Facebook. Diiringi cabutnya iklan banner Yamaha di blog otomotif papan atas. Kini beredar kabar semplaknya swing arm Yamaha Xabre yang memaksa petinggi YIMM turun gunung membenahi berita yang berkembang di blogsphere. Khusunya di sosial media Facebook dan blog.

Ini gambar di Thailand (gambar dari Amama)

Blunder. Owner Xabre yang mengalami semplak swing arm, disambagi petinggi YIMM, berlanjut sang owner melakukan klarifikasi berita tersebut. Meminta maaf tertulis bermaterai. Apa ini?

Mungkin harapannya, meredam pemberitaan yang memojokkan produknya, karena dari tulisan berita yang beredar, ada poin penghapusan berita swing arm Xabre patah. Gimana mau menghapus, yang ada makin ramai dan runyam. Karena banyak kejanggalan. Mengapa si owner yang minta maaf atas kecelakaan yang dia alami. Mustinya pemerintah penanggung jawab jalan raya yang tidak mampu merawat jalan agar minim lobang, yang mengakibatkan kendaraan rusak karena menghajar lobang di Indramayu. Pantura memang kejam.

Velg vario (foto: brigade15)

Sebenarnya, kendaraan rusak karena menghajar lobang tidak hanya sekali itu terjadi, banyak pemilik kendaraan, khusunya roda dua yang mengalami, ban bocor, comb steer oblak, velg peang sampai pecah ban. Bahkan rekan pemilk Honda Vario 150 ada yang mengalami pecah velg karena menghajar lobang. 
Semua produk memiliki kelemahan. Apalagi semakin kemari, kwalitas bahan baku produk memang menurun. Menurut sumber yang valid, velg Vario 125 keluaran lama, lebih tebal dan kuat dibanding Honda Vario baru, baik 125 maupun 150. Pun demikian, kawan yang menggunakan Vario 125 lama pernah mengalami velg peang menghajar lobang jalanan antara Cikampek – Bekasi. 

Jadi, jika kerusakan produk terjadi karena jalanan yang buruk, mengapa produsen repot turun gunung untuk ngurusin klarifikasi dari pemilik? Sama saja merendahkan diri dan mengumbar boroknya.

MotoGP 2017, Lorenzo dan Pasar Ducati


MotoGP Losail Qatar 2017. Sesekali bahas motoGP, biar dikira blogger otomotif, siapa  tahu dapat undangan nonton bareng, wayang lakon Petruk Munggah Bale 😂 . 

Ya, motoGP 2017, sebagai ajang balap sepeda motor paling bergengsi di kolong langit ini, seri pertama baru di gelar kemarin di Losail Qatar. Saya tidak menonton langsung, tapi hanya sekilas siaran tunda di saluran tv berbayar. Sekilas, karena tidak disiarkan fullrace sama fox sport.

Saya sebenarnya penasaran sama kemampuan Jorge Lorenzo menundukkan kebinalan mesin bigbang Desmodromicnya Ducati. Si merah dari Italia itu. Maklum, sang Maestro (bagi yang mengganggapnya begitu) The Doctor Valentino Rossi juga memble, tidak semoncer saat menyemplak mesin Jepang. 

Bagaiman dengan Maverick Vinales yang baru saja pindah ke Yamaha Factory? Biasa saja. Karena sepeda motor Jepang, M1 pula. Sepeda motor yang memang siap saji, dan familiar dengan semua pembalap. 

Atau Zarco dengan Yamaha satelit? Masih mesin Jepang. Dan ternyata rocky of The year ini akhirnya nyungsep, crash.

Entah, saya lebih penasaran dengan kemampuan Lorenzo bersama Ducati, meski seri pertama bukanlah penentu, tapi hasil di seri ini bisa menjadi gambaran kemampuan Lorenzo pada akhirnya, layaknya VR46 dulu. Saya termasuk yang menyayangkan ‘kesembronoan’ Ducati mengontrak Lorenzo, dengan nilai yang fantastis. Paling mahal diantara pembalap lainnya. Apalagi, ajang balap MotoGP tidak sekedar pemenangan di podium, tapi merupakan ladang pabrikan meraih simpati penonton sebagai calon konsumen.

Memang MotoGP sebagai persaingan Sepeda motor prototip, lebih menarik perhatian daripada balap World Superbike (WSBK) yang merupakan balap produk masal. Menarik perhatian pemerhati balap roda dua pada umumnya. Dan tujuan ‘korban’ magnet motoGP bukan hanya menyasar penggemar motor cc besar, tapi seluruh kelas kubikasi mesin. Termasuk motor kelas wekwek dan itik mungil.

Kembali ke Lorenzo dan Ducati. Tentu bukan tanpa pertimbangan, Ducati mengusung Lorenzo sebagai tandem Dovisiozo yang belum mampu bicara banyak dalam mengangkat nama Ducati layaknya Nicki Heiden ataupun Casey Stoner. Heiden sebagai brand ambasador ‘Flamboyan’ yang mampu menaikkan pamor produk Ducati. Heiden yang kerap didatangkan oleh Ducati ke negara-negara yang diincar pasarnya sebagai duta Ducati, termasuk Indonesia. Sedang Casey adalah maestro, bagaikan sang komodor menundukkan banteng ngamuk dan mendudukkan Ducati sebagai sang nomor Wahid di balap bergengsi tersebut. Dan era kedigdayaan Stoner di Ducati, pangsa pasar Ducati, termasuk di tanah air, nampak naik signifikan. Indikasinya, bermunculan dealer sepeda motor prestise tersebut di beberapa kota besar Indonesia. Mulai dari Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Makasar dan beberapa kota lainnya.

Dalam situs resminya, Garansindo yang berdiri pada 2001 ini bergerak di sektor otomotif. Di kalangan pelaku industri otomotif, perusahaan ini dikenal sebagai importir dan agen pemegang merek (APM) mobil dan motor kelas atas asal Eropa dan Amerika Serikat. Beberapa di antaranya, yaitu Fiat, Alfa Romeo, Chrysler, Jeep, dan Dodge. Selain itu, kendaraan roda dua Ducati, Italjet, dan Peugeot Scooters. (Sumber: Bank Permata Terbebani Kredit Macet Garansindo Rp 1,2 Triliun)

Tapi saat Casey pindah ke Honda dan Rossi ke Ducati, seiring ambruknya prestasi podium Ducati di MotoGP, kelihatan market share Ducati menurun, sehingga ada marketingnya yang masif promosi di blogsphere roda dua beralih ke produk lain. Dan memilih memajang gambar sayap sebelah hingga kini, meskipun itu gambar bebek dan itik, karena sayap sebelah belum punya entok yang layak dipajang gambarnya sebagai penarik minat konsumen. Maklum, satu-satunya entok dianggap overprice.

Back to topik. Kegagalan VR46 yang digadang menaikan magnet Ducati terhadap penikmat roda dua kelas atas, diharapkan bisa diobati dengan hadirnya Lorenzo pada tahun ini. Apalagi diketahui, di Yamaha, duo pembalap itu juga bersaing meski satu tim pabrikan. Maka akan semakin menarik jika keduanya dipisahkan oleh tim pabrikan yang berbeda. Dan Ducati mengambil resiko ini, karena karakter balap Lorenzo yang mungkin dianggap sedikit mirip Stoner dan akan mampu lebih sering memposisikan Ducati di podium atau gaya ‘selebrasi gaul’nya mampu menggantikan Heiden sebagai brand ambasador.

Lorenzo finish urutan 11 pada MotoGP Losail, Qatar. Mengecewakan. Sekali lagi ini permulaan, jadi bukan tidak mungkin pada seri-seri berikutnya, prestasi Lorenzo membaik. Meski lebih buruk dibanding Valentino Rossi. VR46 waktu seri pertama Qatar, bersama Ducati finish urutan 7 dan tidak memberikan perubahan prestasi yang berarti sampai akhir musim, belum tentu nasib serupa menimpa Lorenzo. Kalo akhirnya tidak ada peningkatan prestasi, Ducati harus menelan pil pahit dan mungkin dealer-dealer di Indonesia akan pindah ke India mengikuti Bajaj Auto. Lho kok ke India? Balik kampung ke Italia maksudnya.

Tapi Ducati tetaplah Ducati, namanya tetap harum meski minim prestasi. Dan penggemar militan masih banyak, meski mereka hanya penggemar, tidak beli.😂 Oh iya maaf, ini hanya tulisan ngawur dari blogger yang pengin diakui jadi blogger otomotif 😁

Vario, Hayate dan Jatiluhur


Jatiluhur Lake atau Waduk Jatiluhur

Pemandangan Indah Waduk Jatiluhur, perpaduan air dan pegunungan di seberang sana

Waduk Jatiluhur terletak di Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat (±9 km dari pusat Kota Purwakarta). Bendungan Jatiluhur adalah bendungan terbesar di Indonesia. Bendungan itu dinamakan oleh pemerintah, Waduk Ir. H. Juanda, dengan panorama danau yang luasnya 8.300 ha. Bendungan ini mulai dibangun sejak tahun 1957 oleh kontraktor asal Perancis Compagnie française d’entreprise, dengan potensi air yang tersedia sebesar 12,9 miliar m3 / tahun dan merupakan waduk serbaguna pertama di Indonesia.

Lanjutkan membaca Vario, Hayate dan Jatiluhur

Pasang Bracket Box Monorack di Suzuki Hayate


Memasang bracket box di Suzuki Hayate. 

Awalnya fitting saya las biar mudah dibengkokan, mengikuti lekuk menyesuaikan lobang baut rear hugger Hayate

Sebenarnya niatan untuk memasang bracket box di Hayate sudah lama. Awalnya ingin memasang HR4 kaya di Pulsarstrada 220, tapi urung, karena bagasi Hayate masih mampu mengadopsi barang bawaan. Sampai akhirnya isteri ngeluh untuk membawa tas sekolah si kembar cukup repot. Ya, Hayate memang diperuntukkan mobilitas isteri buat antar jemput sekolah. Dek Suzuki Hayate memang sempit dibanding Honda Vario 125fi, apalagi kalo si Bontot ikut antar jemput sekolah, riweh deh.

Nah kebetulan ada bracket box bekas pasang di SkyDrive yang nganggur, sama pemilik barunya tidak dipakai. Akhirnya bracket model monorack ini coba dipermak agar bisa dipasang di Hayate. Karena bentuk rear hugger Hayate dan Skydive memang beda banget, kalo SkyDrive, lobang baut kanan dan kiri rear hugger rata dengan bibir body, sedang pada Hayate, lobang bautnya lebih ke dalam, mirip pada Vario 125, sayangnya, Hayate cuma punya 2 lobang baut, kanan dan kiri, sedang Vario ada 3 lobang, sehingga lebih kuat.

Hasil akal-akalan seadanya, terpasang Kappa K-42

Akhirnya plat fitting monorack Skydrive yang lurus, saya potong dan dibengkokkan semampunya. Karena memakai alat seadanya, lekukan fitting ini tidak siku, sehingga fitting tidak ‘napak’ pada rangka pinggir lobang baut rear hugger.
Karena cuma 2 lobang kanan kiri, rasanya kurang kuat, akhirnya saya tambah besi dengan fitting sebgai penyangga, penopang bracket bagian belakang yang mengambil baut plat nomor belakang sebagai pengikat fitting.

Tadinya untuk sementara saja dan berniat memindahkan bracket HR4 Pulsar yang mangkrak, khawatir spakbor belakang copot menahan beban, tapi karena malas dan ternyata sampai saat ini bracket monorack akal-akalan itu masih kuat, jadi saya biarkan saja. Entah sampai kapan.

___________________

Posted from Mi Prime Cungkuwo