MotoGP 2017, Lorenzo dan Pasar Ducati


MotoGP Losail Qatar 2017. Sesekali bahas motoGP, biar dikira blogger otomotif, siapa  tahu dapat undangan nonton bareng, wayang lakon Petruk Munggah Bale 😂 . 

Ya, motoGP 2017, sebagai ajang balap sepeda motor paling bergengsi di kolong langit ini, seri pertama baru di gelar kemarin di Losail Qatar. Saya tidak menonton langsung, tapi hanya sekilas siaran tunda di saluran tv berbayar. Sekilas, karena tidak disiarkan fullrace sama fox sport.

Saya sebenarnya penasaran sama kemampuan Jorge Lorenzo menundukkan kebinalan mesin bigbang Desmodromicnya Ducati. Si merah dari Italia itu. Maklum, sang Maestro (bagi yang mengganggapnya begitu) The Doctor Valentino Rossi juga memble, tidak semoncer saat menyemplak mesin Jepang. 

Bagaiman dengan Maverick Vinales yang baru saja pindah ke Yamaha Factory? Biasa saja. Karena sepeda motor Jepang, M1 pula. Sepeda motor yang memang siap saji, dan familiar dengan semua pembalap. 

Atau Zarco dengan Yamaha satelit? Masih mesin Jepang. Dan ternyata rocky of The year ini akhirnya nyungsep, crash.

Entah, saya lebih penasaran dengan kemampuan Lorenzo bersama Ducati, meski seri pertama bukanlah penentu, tapi hasil di seri ini bisa menjadi gambaran kemampuan Lorenzo pada akhirnya, layaknya VR46 dulu. Saya termasuk yang menyayangkan ‘kesembronoan’ Ducati mengontrak Lorenzo, dengan nilai yang fantastis. Paling mahal diantara pembalap lainnya. Apalagi, ajang balap MotoGP tidak sekedar pemenangan di podium, tapi merupakan ladang pabrikan meraih simpati penonton sebagai calon konsumen.

Memang MotoGP sebagai persaingan Sepeda motor prototip, lebih menarik perhatian daripada balap World Superbike (WSBK) yang merupakan balap produk masal. Menarik perhatian pemerhati balap roda dua pada umumnya. Dan tujuan ‘korban’ magnet motoGP bukan hanya menyasar penggemar motor cc besar, tapi seluruh kelas kubikasi mesin. Termasuk motor kelas wekwek dan itik mungil.

Kembali ke Lorenzo dan Ducati. Tentu bukan tanpa pertimbangan, Ducati mengusung Lorenzo sebagai tandem Dovisiozo yang belum mampu bicara banyak dalam mengangkat nama Ducati layaknya Nicki Heiden ataupun Casey Stoner. Heiden sebagai brand ambasador ‘Flamboyan’ yang mampu menaikkan pamor produk Ducati. Heiden yang kerap didatangkan oleh Ducati ke negara-negara yang diincar pasarnya sebagai duta Ducati, termasuk Indonesia. Sedang Casey adalah maestro, bagaikan sang komodor menundukkan banteng ngamuk dan mendudukkan Ducati sebagai sang nomor Wahid di balap bergengsi tersebut. Dan era kedigdayaan Stoner di Ducati, pangsa pasar Ducati, termasuk di tanah air, nampak naik signifikan. Indikasinya, bermunculan dealer sepeda motor prestise tersebut di beberapa kota besar Indonesia. Mulai dari Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Makasar dan beberapa kota lainnya.

Dalam situs resminya, Garansindo yang berdiri pada 2001 ini bergerak di sektor otomotif. Di kalangan pelaku industri otomotif, perusahaan ini dikenal sebagai importir dan agen pemegang merek (APM) mobil dan motor kelas atas asal Eropa dan Amerika Serikat. Beberapa di antaranya, yaitu Fiat, Alfa Romeo, Chrysler, Jeep, dan Dodge. Selain itu, kendaraan roda dua Ducati, Italjet, dan Peugeot Scooters. (Sumber: Bank Permata Terbebani Kredit Macet Garansindo Rp 1,2 Triliun)

Tapi saat Casey pindah ke Honda dan Rossi ke Ducati, seiring ambruknya prestasi podium Ducati di MotoGP, kelihatan market share Ducati menurun, sehingga ada marketingnya yang masif promosi di blogsphere roda dua beralih ke produk lain. Dan memilih memajang gambar sayap sebelah hingga kini, meskipun itu gambar bebek dan itik, karena sayap sebelah belum punya entok yang layak dipajang gambarnya sebagai penarik minat konsumen. Maklum, satu-satunya entok dianggap overprice.

Back to topik. Kegagalan VR46 yang digadang menaikan magnet Ducati terhadap penikmat roda dua kelas atas, diharapkan bisa diobati dengan hadirnya Lorenzo pada tahun ini. Apalagi diketahui, di Yamaha, duo pembalap itu juga bersaing meski satu tim pabrikan. Maka akan semakin menarik jika keduanya dipisahkan oleh tim pabrikan yang berbeda. Dan Ducati mengambil resiko ini, karena karakter balap Lorenzo yang mungkin dianggap sedikit mirip Stoner dan akan mampu lebih sering memposisikan Ducati di podium atau gaya ‘selebrasi gaul’nya mampu menggantikan Heiden sebagai brand ambasador.

Lorenzo finish urutan 11 pada MotoGP Losail, Qatar. Mengecewakan. Sekali lagi ini permulaan, jadi bukan tidak mungkin pada seri-seri berikutnya, prestasi Lorenzo membaik. Meski lebih buruk dibanding Valentino Rossi. VR46 waktu seri pertama Qatar, bersama Ducati finish urutan 7 dan tidak memberikan perubahan prestasi yang berarti sampai akhir musim, belum tentu nasib serupa menimpa Lorenzo. Kalo akhirnya tidak ada peningkatan prestasi, Ducati harus menelan pil pahit dan mungkin dealer-dealer di Indonesia akan pindah ke India mengikuti Bajaj Auto. Lho kok ke India? Balik kampung ke Italia maksudnya.

Tapi Ducati tetaplah Ducati, namanya tetap harum meski minim prestasi. Dan penggemar militan masih banyak, meski mereka hanya penggemar, tidak beli.😂 Oh iya maaf, ini hanya tulisan ngawur dari blogger yang pengin diakui jadi blogger otomotif 😁

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Moto GP, motorcycle dan tag , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke MotoGP 2017, Lorenzo dan Pasar Ducati

  1. Proleevo berkata:

    “Memajang foto itik & bebek sayap mengepak” wkwkwk… Opo iki?

  2. Aa Ikhwan berkata:

    Pasar ducati itu sebelah mananya pasar baru?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s