Pisang & Keselamatan di Jalan


Sore jelang berbuka, sekira jam 17.30 waktu Karawang. Ya, saya sedang berada di Karawang, sekitar 4 km utara jalan utama Telaga Sari, jalan yang merupakan jalur mudik alternatif (khususnya pemotor) dari Karawang (Pasar Johar, Lamaran, Teluk Jambe) hingga Cikalong (timur Cikampek). Semalam atau tepatnya tadi pagi sekira jam 01.00 saya melewati jalur alternatif ini, naik mobil dijemput kakak saya, nampak pemudik dengan sepeda motor masih melaju, padahal hujan mendera Karawang pagi buta itu. Tak lepas mata saya melihat sepasang suami isteri dengan balita di tengahnya, tanpa jas hujan, mengendarai sepeda motor sport 150cc. Miris, beberapa kali saya berkata lirih, “bro minggir dulu lah, berteduh, kasihan anakmu” meski si pemudik tidak mendengar, beberapa detik kemudian mereka ternyata minggir, berhenti mencari tempat berteduh.
Kembali ke aktifitas saya sore tadi, jelang berbuka, saya teringat makanan pokok anak saya si bontot sudah habis. Pisang. Ya si bontot baru berumur 9 bulan, saya awalnya iseng menyuapi pisang yang sedang saya makan, ternyata dia doyan, akhirnya semenjak Ramadan ini, saya selalu menstok pisang, khususnya buat anak saya. Efek pisang pada si bontot amat nampak, badan makin berisi, berat badan naik signifikan dalam kurun setengah bulan. Pisang yang saya pilih adalah yang memiliki daging buah lembut dan mudah dikunyah meski anaku belum punya gigi. Sebut saja merk SOMPRETD ūüėÄ Manfaat yang terkandung dalam buah pisang sebenarnya saya masih samar. Tapi saya yakin pisang memiliki kandungan gisi banyak yang baik bagi tubuh. Setelah googling benar adanya manfaat pisang luar biasa, memiliki vitamin dan serat tinggi, cocok bagi ibu hamil, mengurangi rasa sakit bagi perempuan yang sedang haid, menghaluskan kulit wajah, melancarkan buang air besar, sebagai masker wajah, mengatasi jerawat, mengurangi tekanan darah tinggi dan masih bayak lagi manfaat yang terkandung dalam buah pisang.
Back to topik, menyadari stok pisang habis, segera saya mengeluarkan sepeda motor matik adik ipar, berniat membeli pisang sompret di wilayah dekat rumah saja. Ternyata anak saya sulung yang kembar dampit memergoki, si kembar berusia 6,4 tahun, dasar bocah sulit untuk dilarang, mereka memaksa turut serta.
NGENTENGIN, mungkin kata yang cocok buat saya sore tadi, ga papalah deket ini, pikirku. Tanpa helm, bertiga kami menapaki aspal kampung yang berlobang mencari penjual buah-buahan yang saya pikir ada di dekat sekitar rumah, ternyata saya salah terka, sepanjang jalan kampung Pasir Kamuning tidak saya temukan penjual buah yang saya harapkan. 
Tak terasa sampai Telaga Sari, di pinggir jalan alternatif mudik pemotor baru saya temukan penjual buah yang cukup komplit.
Segera saya beli 2 sisir pisang Sompret, rata-rata penjual buah mematok harga 18.000 perkilogramnya.
Lanjut saya pulang ke rumah melewati jalur lain, meniti jalan coran pinggir kali irigasi Telaga Sari-Wadas. Jalan mulus tapi kecil dan sepi. Kanan sawah dan di kiri kali irigasi, tanpa pembatas pengaman. Jika kurang waspada dan terlena oleh mulusnya jalanan bisa-bisa nyebur ke kali. Mobil di depanku melaju cukup kencang, tak mampu saya salip. Beberapa sepeda motor melewati kami dengan kecepatan yang cukup mengagetkan. Ngeri, baru sadar keteldoran saya yang mengabaikan keselamatan diri dan anak-anaku. Sadar bahwa kecelakaan kendaraan bisa terjadi kapan dan di manapun. Tidak pandang jarak tempuh dan waktu.
Seperti kisah Kang Nugroho ‘@alonrider’ Adi, kecelakaan terjadi di jalan yang kecil kemungkinan pengendara bisa memacu kendaraan dengan kencang. Berikut kisahnya :
———————————
KELAPA DUA WETAN. Pagi menjelang siang, tidak biasanya jalan yang hanya cukup untuk dua sedan berpapasan itu lalulintasnya tersendat. Dua puluh lima meter menjelang pertigaan Jalan Raya PKP – Kiwi menuju Jalan Raya Bogor, terlihat begitu banyak orang berkumpul. Sebagian besar bergerombol di pinggir jalan, beberapa diantaranya sibuk menyeberang jalan. Saya mengira sedang ada pasar tumpah. Maklum, lebaran empat hari lagi menjelang, dan orang-orang begitu aktif berdagang dadakan dan membeli barang kebutuhan hari raya. Saya juga sempat mengira sedang ada tawuran antar warga melawan geng motor, atau rusuh pendukung capres A melawan capres B. Tapi jika pasar atau tawuran kenapa banyak orang bergeming di pinggir jalan? Duduk-duduk di emperan atau teras rumah dan toko, atau berdiri bersender di tiang-tiang gapura masuk kampung? Pandangan saya terhalang beberapa angkot merah T03 jurusan Cililitan – Munjul yang bergerak laiknya keong sejak dari Arundina. Bubaran Sekolah Dasar Negeri Kelapa Dua Wetan pagi saja macetnya tak segini panjang? Saya bertanya dalam hati.
Sampai pandangan saya tertuju di tengah jalan: guyuran pasir beberapa bidang dan lembaran-lembaran kertas koran menyerap warna merah: darah! Reflek saya mengalihkan pandangan ke depan. Sudut mata kiri saya menangkap sesosok tubuh terbaring di pinggir jalan, dua meter dari tempat saya berkendara motor. Tampaknya baru saja dipindahkan, Terbujur lurus dengan seluruh tubuh tertutup kain batik yang memudar warnanya. Astagfirullah! Berulang kali saya mengucap ampun kepada Gusti Allah.
Dari bentuk badannya saya menduga sosok itu seorang perempuan dewasa. Seluruh tubuh saya seakan dilolosi urat-uratnya. Sambil terus berdzikir saya tepikan motor oplok-oplok. Saya hampiri seorang petugas kepolisian yang mengatur lalulintas. “Kecelakaan apa pak?” “Itu sama truk,” kata Pak Polisi sambil menunjuk dump truk besar warna hijau. 10 ban di tubuh truk itu begitu besar, nyaris setinggi motor bebek jika berada di sampingnya. Truk yang demikian besar itu, yang terparkir di tepi jalan, sambil menyalakan lampu hazard, terlewatkan dari pandangan saya. Maklum, saya cukup shock melihat korban lakalantas itu. Baru kali ini melihat dari jarak dekat. Biasanya sih, melihat dari balik kaca mobil atau bus umum.
Saya tercenung.
Jalanan Kelapa Dua Wetan itu tak seberapa lebar, mungkin sekitar 10 meter, mobil yang lewat jalan tersebut biasanya tak bisa berkecepatan tinggi karena relatif sempit. Apalagi dump truk yang sebesar dan setinggi itu bisa diduga melaju relatif lambat. Saya juga tak sempat melihat jenis motor yang dipakai si korban.
Saya sudah lemas. Andai tidak puasa ramadan, saya tentu sudah membeli air dalam kemasan, minum seteguk untuk menenangkan diri. 
Visor helm pun saya katupkan lagi. Dalam hati kembali terucap doa ‚ÄúBismillah majreha wa mursahaa inna rabbi laghafuurur rahiim‚ÄĚ (Surah Hud¬†11:41 ) ‚ÄúDengan nama Allah (semoga) menyertai perjalanan dan mendaratnya (pesawat ini). Sungguh, Tuhanku, benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang‚ÄĚ (Surah Hud¬†11:41 ) * tak tega saya menulisnya di blog atau FB saya ** jika ada yang mau posting tulisan ini silakan *** masih lunglai ingat kejadian tadi siang.
——————————
Sekira 10 menit saya sampai kediaman mertua saya, saya masih memikirkan perjalan sesaat tadi. Tidak lama, tidak seberapa jauh. Abai, kecelakaan kerap berawal dari pelanggaran dan abai akan hal yang dianggap sepele.
Malamnya saya baca email Kang Nadi di milis OBI, semakin membuatku tercenung. Semoga saya dan kita semua tidak abai akan hal sepele yang sejatinya bisa berakibat fatal.(tri)

Posted from WordPress for Android Wonder Roti Jahe

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di safety ride dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s