Pemudik dihimbau batal Mudik, karena bikin Macet dan Rawan Kecelakaan


Pemudik dihimbau membatalkan mudik, karena rawan macet dan kecelakaan lalu lintas 


Pernyataan di atas hanya statement palsu, hanya berandai-andai, bukan pernyataan pejabat manapun. Saya baca di Timeline Facebook kawan saya. Mungkin pikiran ini tercetus karena sekarang ini banyak pernyataan yang membunuh masalah, bukan menyelesaikan masalah. 
Misal, karena harga Tarif Dasar Listrik (TDL) dan BBM naik. Seiring dicabutnya subsidi listrik dan BBM. Ada pernyataan (mungkin gurauan), 

bagi yang keberatan dengan tarif Listrik, silahkan pakai genset atau lampu teplok saja

Bagi yang keberatan dengan harga BBM, silahkan nggowes sepeda onthel 

Bagi yang tidak suka dengan pemerintahan yang ada, silahkan pindah kewarganegaraan.

Dst

Bahkan terkait plagiarisme, bisa dimaafkan karena semua orang juga pernah melakukan plagiarisme. Atau dikembalikan ke penanya, “tulisanmu juga banyak yang ambil gambar tanpa ijin kang!”. Apakah, nantinya korupsi akan dimaafkan begitu saja, karena yang lain juga melakukannya. Serta kejahatan lain

Jadi bukan jawaban solutif yang diberikan, tapi penghakiman dan cacian. Dan seolah, era sosial media saat ini, menjadi ajang saling menyalahkan dan caci maki. Menutupi kesalahan pihak tertentu dengan mengorek kesalahan pihak lain. Mengobati luka diri sendiri dengan melukai pihak lain, sehingga sama-sama terluka dianggap obat dan menyelesaikan masalah. Borok ditutup borok. Dan seterusnya. 
Sampai di sini saya berpikir, lebih baik saya diam. Bukan netral. Tapi lebih sebagai penonton. Bisa dianalogikan kalo dalam pemilu adalah golongan putih atau golput. Seolah golput adalah pilihan terbaik. Karena “Politics ini your head”

Apakah ini (golput) suatu sikap yang baik dan benar?

Ada sebuah kisah yang menyadarkan dan menginspirasi saya menulis artikel ini. Kisah imaginasi yang saya tonton barusan dibawakan pembawa acara Syair dan Syiar TVRI. Saya tidak tahu nama pembawa acaranya. Kisah itu kurang lebih sebagai berikut.

Pada suatu kerajaan, Sang Raja akan mengadakan pesta, dan mengundang seluruh rakyatnya. Seluruh rakyat yang hadir diwajibkan membawa sekendi madu. Nantinya, madu itu dituang ke kuali besar. Semua rakyat hadir dihimbau menuang madu bawaannya langsung ke kuali yang disediakan.

Salah seorang rakyat yang miskin dan tidak memiliki madu, sebut saja si Fulan, berpikir, “semua masyarakat bawa madu, kalo saya membawa air, tentu tidak akan ketahuan”. Maka iapun membawa sekendi air, dan dengan hati-hati menuangnya sesampai tempat pesta raja, agar tidak ketahuan.

Setelah dirasa semua masyarakat berkumpul, serta menuang madunya. Sang raja menyuruh pengawal membuka kuali berisi madu dan segera memulai pesta. Tapi apa yang terjadi? Ternyata, kuali tersebut hanya berisi air semata. Tidak ada madu sedikitpun.

Dari sini disimpulkan, bahwa semua masyarakat berpikir sama dengan si Fulan. Sehingga semua membawa air, bukan madu seperti yang diperintahkan. Hal ini karena semua beranggapan, bahwa, masyarakat lain sudah membawa madu, jadi tidak mengapa, jika satu orang membawa air. Yang penting tidak ketahuan saat menuang ke kuali pengumpul.

Apatis, golput, seolah bisa dianalogikan seperti si Fulan dan masyarakat yang berpikiran sama. Saat semua melakukan hal tersebut, karena beranggapan bahwa apa yang dilakukan tidak berimbas apapun, toh yang lain sudah banyak melakukan pro atau kontra dengan suatu aturan. 

Layaknya dakwah, bukan hanya milik kyai, ustad dan guru semata. Tapi dakwah adalah milik semua umat. Maka sampaikanlah walau satu ayat. Mengkritisi kebijakan atasan, seseorang, pemerintah bukan tugas segelintir orang, anggota DPr misalnya, tapi segenap warga negara juag berkewajiban mengingatkan dengan mengkritisi. Jika kebijakan tersebut memang dianggap menyimpang dan pengingkaran janji. Bukan sekedar menyelamatkan diri sendiri, tapi juga si pembuat kebijakan.

Lantas sampai kapan kondisi pro kontra, menyalahkan, saling caci dan “bullying” berlangsung, jika semua terus pro kontra dengan suatu kebijakan (pemerintah), kejadian menyimpang dan semacamnya? Sampai putih itu nyata di atas hitam.

——————————————-


وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ اللهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ أُو۟لٰٓئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللهُ ۗ إِنَّ اللهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ﴿التوبة:٧١

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (

Pengampunan (At-Tawbah:71)


لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَىٰهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلٰحٍۭ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا :١١٤

Wanita (An-Nisā’):114 – Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.

 Hadits Abu Sa’id Al Khudriy radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلَسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ»

“Barangsiapa di antara kalian yang melihatkemungkaran maka hendaknya ia merubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika ia tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim) dikutip dari hisbah.net

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Sekitar Kita dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s