Keparat Bikers Dan Klakson Serak


Pekan lebaran 2016, H+7, lalu lintas Karawang – Bekasi nampak kembali normal. Angkutan umum dan aneka kendaraan pribadi beroperasi seperti sedia kala. Perjalanan kembali tersendat. Sedang lalin Bekasi – Jakarta masih lancar.

Logo begini, tapi ada tulisan Keparat sangat jelas

Logo begini, tapi ada tulisan Keparat sangat jelas

Pebalik (pemudik yang kembali ke kota) roda dua masih menghiasi jalanan Karawang – Bekasi , meski tidak dominan tapi cukup mencolok dengan ciri khas pemudik, muatan banyak ditambah kayu atau bambu penambah dudukan barang di rear hugger (belakang boncenger).

Di kemacetan jalan depan SGC (Sentra Grosir Cikarang) saya membaca sebuah tulisan di kaos/sweater, yang cukup mencolok. “KEPARAT”.

Setelah dekat, baru terbaca lengkap, “KEPARAT BIKERS”.

Header Keparat on Blogspot

Header Keparat on Blogspot

Wih serem, batin saya. Setelah saya amati, ada tulisan kecil setengah putaran mengelilingi logo utama, “Kebumen Punya Anak Rantau”. Jebul, eh ternyata Keparat itu singkatan dari kalimat tersebut. Karena penasaran saya Googling dan Nemu jawabannya. Keparat adalah wadah atau komunitas orang-orang Kebumen yang merantau di Ibukota dan sekitarnya. Sedang Keparat Bikers adalah salah satu bagian kegiatan dari banyak kegiatan yang dimiliki komunitas ini. Bisa cek di Keparatku on Blogspot.

Ditengah kemacetan jalan SGC itu, juga terdengar suara parau klakson sepeda motor.

“Perrreettt preetft “, dan seterusnya. Parau atau serak? Beda tipis si. Setalah melewati saya, ternyata bebek Honda Revo dengan rider berseragam loreng khas militer, membonceng pasangannya berbaju bebas.

Cara berkendaranya ‘ndusel-ndusel’ dengan terus membunyikan klakson Parau itu. Padahal macet tidak bisa terurai oleh klakson kapal Pelni sekalipun. Tapi entah mengapa rider loreng ini terus-menerus membunyikan klakson nya, mengganggu pengguna jalan lain, seolah memaksa masuk meski tidak muat di lajur jalan yang ada.

Saya coba iseng membunyikan klakson saat rider loreng ini di depanku, menyalipnya karena dia terhalang angkutan umum, tapi selanjutnya dia kembali menyalip dengan zig-zag, boncenger nampak menepuk-nepuk punggungnya, seolah mengingatkan untuk pelan dan tidak ugal-ugalan.

Hingga gerbang terminal Bekasi suara klakson itu terus menjadi bumbu hiruk pikuk lalu lintas kota Bekasi, saya ambil jalan masuk terminal, rider loreng lurus menuju Kalimalang.

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Sekitar Kita dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s