Jauh


Jauh, ungkapan yang identik dengan jarak tempuh. Misal Jakarta ke Surabaya atau sebaliknya, jika dilihat jarak pandang pasti jauh. Ditempuh dengan kendaraan darat dan laut juga jauh, bisa seharian atau sekira 12 jam, bahkan lebih, tapi lebih dekat dibanding sekedar dipikir. Dan semakin dekat saat ditempuh menggunakan pesawat terbang, sekira 2 jam.  
Jauh juga kerap digunakan untuk menyebut tujuan yang sama sekali belum ada tanda-tanda akan tercapai. Misal seorang jejaka single saat ditanya kapan menikah akan menjawab, “masih jauh, pacar aja tidak punya” (maksudnya masih lama). Relatif, jauh atau lamanya tidak pasti.

Suatu tempat dan tujuan bisa dibilang jauh karena ada pembanding. Jika dari Jakarta, Surabaya tentu jauh dibanding Bekasi. Tapi jika dibanding Banda Aceh, Surabaya berarti lebih dekat dari Jakarta. Demikian juga jejaka tadi, lebih dekat ke jenjang pernikahan jika dibanding balita.
Jauh tidak selamanya jauh, dekatpun tidak selalu dekat. Relatif dari sudut pandang mana kita melihatnya.

Apakah tujuanku masih jauh? Bukan tujuan perjalanan, tapi tujuan hidup.
image

Salah satu tujuan jangka pendek yang mencakup jangka panjangku adalah mencoba tersenyum di saat seharusnya marah. Sederhana dan bagus buat ditulis, tapi sangat berat untuk terlaksana. Kerap lupa tujuan saat emosi menguasai. Amarah yang ditahan demi merealisasikan tujuan tersebut ternyata bisa menjadi bom waktu. Saat timer amarah error dan angkara meraja. Tujuan hidupku perlahan menjauh, senyum yang dipasakan tidak berhasil, muncul ledakan makian yang menyakitkan, bahkan bagi diri sendiri.

image

Ali-Imran : 133-134

Tapi yakinlah, jauh tak selalu jauh bukan? Jauh, untuk mendekat. Jika saya terus bertahan dengan senyum paksaan, barangkali saya tidak tahu bahwa tujuanku masih jauh. Besok atau lusa, tujun itu akan tercapai, selama kita bersikeras meraihnya.
Apakah tujuan pembaca sudah dekat?(tri)

————————————–
Posted from WordPress for Android P6200 retak

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Al-Quran, sosial dan tag , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Jauh

    • “Kegagalan kita untuk memaafkan,
      kesediaan kita untuk mengakui
      dendam, adalah penerimaan
      tentang batas. Setelah itu adalah
      doa. Pada akhirnya kita akan tahu
      bahwa kita bukan hakim yang
      terakhir, . . . . .di ujung sana,
      Tuhan lebih tahu.”
      Goenawan Muhamad quotes

  1. Maskur berkata:

    jakarta asli adoh kang tanggeran, nek kang tangerang nembe perek

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s