Berbagi Jalan


Di jakarta, Lampu lalin hijau belum tentu kendaraan bisa melaju

Di jakarta, Lampu lalin hijau belum tentu kendaraan bisa melaju

Bagi saya yang keseharian bekerja lebih sering menggunakan transportasi pribadi berupa sepeda motor, sering kali menjumpai atau bahkan mengalami kejadian menjengkelkan di jalan. Misal saat macet dan ingin mendahului melalui bagian paling kiri dari jalan raya, ternyata ada Bajaj roda tiga (saudara tua kalo kata kawan meledekku, maklum saya pemakai sepeda motor Bajaj Pulsar si Jalitheng) yang menghalangi, kerap si abang bajaj (akrab di telinga, Abang Bajay) memaksakan diri padahal tidak muat, dan bertahan di kiri jalan sehingga menghalangi sepeda motor yang semestinya bisa masuk sela antar trotoar dan mobil yang mengular. Asap dan bising knalpotnya semakin membuat muak, maklum saya lebih berpikir individualisme. Melihat dari sudut pandang saya yang sedang berburu waktu sampai tempat kerja.

Mungkin si Abang Bajay berpikiran sama, mendesak masuk jalur, menunggu senggang agar lekas mengantar penumpang dan segera dapat penumpang lagi sehingga setoran tertutupi juga kebutuhan keluarga. Maka mulailah saya berpikir untuk menikmati suara dan asap si Bajay, tentu Helm dan Masker Dalam Bersepeda Motor cukup meredam asap dan cemprengnya knalpot si Bajay. Selanjutnya mencoba menikmati macet yang memang tak terhindarkan, biarlah sabar sejenak daripada berseteru dengan Abang Bajay atau pengguna jalan lainnya.

Mengalah dan berbagi jalan bukan tanpa resiko, pernah suatu ketika saya menunggu truk agar lewat duluan, karena sela jalan yang ada saya anggap tidak muat jika si jalitheng kupaksa melaju. Ternyata dari belakang, seorang pengendara sepeda motor berteriak memaksa saya jalan. Hal lain pernah juga saya alami. Mendekati sebuah perempatan jalan saya berhenti memberi jalan kepada mobil yang hendak menyeberang dari jalan yang berpotongan, saat si mobil sudah hampir memotong jalan di depanku, sekonyong-konyong dari belakang melaju kencang sepeda motor lain, tidak berhenti seperti yang saya lakukan tapi tetap melaju (menyerobot lebih tepatnya) memotong jalan si mobil, hampir saja menabrak/tertabrak mobil tersebut. Uniknya, si pengendara sepeda motor marah dan memaki supir mobil. Saya sempet heran, apa yang ada dalam pikiran penyerobot tersebut, saya yang duluan sampai saja berhenti menunggu mobil lewat, tetapi yang belakangan memaksa duluan.

Itulah jalanan, kita mengalah bisa jadi benar-benar kalah, tapi sabar itu lebih baik. Kita patuh, belum tentu yang lain patuh. Patuh peraturan bukan berarti tanpa resiko. Tapi berbagi dengan orang lain adalah lebih baik. Sabar dan patuh masih beresiko, apalagi sebaliknya.

Mudah-mudahan ungkapan para biker “SALAM SATU ASPAL” tidak hanya berlaku kepada sesama pengendara sepeda motor, tapi kepada semua pengguna jalan. Sayapun masih mencoba berbagi, karena kerap emosi hadir lebih dini. Jagalah hati dan keep safety

————————————————————————————-

“ Sesungguhnya hanya orang bersabarlah, dicukupkan pahalanya tanpa batas ”.(QS. Al- Zumar 1O).

“ Dan gembirakanlah orang-orang yang mampu bersabar. ( QS.2: 155 ).

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Al-Quran, Jalan jakarta dan tag , , , , , . Tandai permalink.

14 Balasan ke Berbagi Jalan

  1. purwo berkata:

    apik tenan…ngarepe urusan dunia mburine dipupus nganggo urusan akherat.
    Joss tenan mas tri.

  2. orong-orong berkata:

    kesadaran berlalu lintas yang baik berawal dari diri kita sendiri

  3. kmphlynx berkata:

    Salah satu bukti, shaum ramadhan mereka tidak membekas di diri.
    Rasulullah pernah bersabda: sungguh islam itu asing/sedikit (pada mulanya) dan akan kembali asing/sedikit (pada akhirnya). Maka berbahagialah orang2 yg asing itu.
    Sepertinya gambaran tentang orang2 yang masih taat peraturan mirip dengan gambaran tsb.
    Dan memang, dengan resikonya… Dirusuhi orang2 yang (mayoritas) sembrono

  4. Maskur berkata:

    hmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm, wis suwe ra nganah

  5. giewahyudi berkata:

    Ya gitu’ Mas. Saya juga lagi belajar sabar soalnya jalanan Jakarta bukan punya mbah saya. 🙂

  6. hapuskan saja bajaj dari jakarta…sudah tidak layak lagi ada kendaraan seperti bajaj roda tiga di kota sepadat jakarta

    http://extraordinaryperson.wordpress.com/

  7. Paling enak jalanan banyumas 😀 :mrgreen: masih seger

  8. touringrider berkata:

    berbagi ruas jalan : masih ingat kata eyang Edo dulu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s