Banjir – Motor


Hujan sore hingga malam tadi begitu sempurna, bisa dikatakan beraroma wangi semerbak bahasa pujangganya. Deras dan lama. Beberapa areal taman terendam berubah menjadi rawa, bahkan mirip danau. Pompa banjir disiagakan, agar genangan bisa dikurangi.

Lepas Isya hujan tak kunjung reda, jelang larut malam hujan menyisakan rintik kecilnya, kupacu motor menembus pekat malam dengan penuh waspada karena jalanan penuh genangan juga.

Mendekati kawasan rumahku yang padat penduduk, jalan tersendat, ada apa nih ? Setelah bisa mendekati awal titik tersendat, terlihat ratusan motor dijejer di sebagian badan jalan, hampir di tiap mulut gang parkiran dadakan ini dijumpai, hanya digandeng dengan tali rafia dari motor satu ke motor yang lain, beberapa orang mengatur lalu lintas, yang lain duduk-duduk santai di atas motor-motor tersebut. Beberapa mengalungkan sarung di pundaknya…. hmmm…. pasti banjir melanda nih… batinku.

Saat kutengok ke arah dalam gangan tampak air menggenang, layahnya sungai ciliwung… pasti beberapa rumah warga terendam, apalagi yang berdomisili di kawasan lebih rendah. Memang kawasan rumah penduduk di sini lebih rendah dari jalan yang terbentang sepanjang pinggir kali. Dan tiap banjir lima tahunan, pasti berefek lumayan. Beruntung rumahku menempati posisi gang yang agak tinggi dibanding gang lain,  sehingga masih relatif aman.

Tapi saat aku memasuki gang rumahku, tampak sebuah perahu karet sudah disiagakan, beberapa pemuda berjaga sambil memantau berita ketinggian air Katulampa lewat handy Talky. Saat dinyatakan ketinggian 60, mereka merasa lega, aku ikut mendengarkan percakapan mereka sambil mencuci si Jalitheng motorku yang kumuh karena 2 malam berkendara menembus genangan.

Yah Banjir dan motor, sebagian pengguna motor antipati dengan banjir, tapi banyak juga yang nekat menembus genangan di jalan saat berkendara, resiko belakangan, bahkan saat aku pulang tadi ada sebuah motor bebek mogok karena air genangan di jalan.

Banjir dan motor saling berkaitan, Jakarta sudah akrab dengan banjir dan makin tahun banjir bertambah, Banjir air dan banjir motor. Macet karena jalanan banjir di mana-mana, dan macet karena banjir motor di jalanannya. Aku salah satu biang banjir itu.

Jumlah penduduk makin bertambah, sampah makin menumpuk mendangkalkan aliran air, produksi sepeda motor di genjot, mengejar target penjualan, dan dianggap sebagai solusi transportasi, mungkin perlu dicanangkan berulang, BUANG LAH SAMPAH PADA TEMPATNYA, BELILAH MOTOR SEPERLUNYA. Apakah pembaca ada yang mau menambah volume banjir ? Wassalamu’alaikum

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Jalan jakarta, motorcycle, sosial dan tag , , , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Banjir – Motor

  1. mas wahyu berkata:

    semoga lekas surut

  2. Si Jack berkata:

    Sipp…. 2tahun yg lalu saia berangkat kerja jam 5;30.. Jalan santai sampai jam 7;00…. Msih bsa ngupi2…
    Skrg berangkat jam 5;15 sampai di tenpat kerja jam 7;40…. Sudah telat gag sempet ngupi…. Salah spa coba????

  3. kong firman berkata:

    Kapuk??
    Jangan ditanya.. 😀

    daan mogot tepatnya sahabat smpai pabrik gelas trgenang banjir,masbro.. 😀
    bnyk motor yang mogok..
    (jeh kaya liputan berita) 😀

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s