Beban Menulis


Setelah lebih setahun menulis di ranah blog, hampir menulis tiap hari, ada hal yang mengganjal mulai terasa. Yah karena kebiasaan update, kalo gak posting tulisan baru kok berasa ada yang kurang ? Hmmm… membebani pikiran. Dan saat beban itu berhasil kukorek dan kubuang, menulispun di blog tak harus tiap hari. Pernah kumengeluh…. aku bosan ngeblog Bro…. tapi rekan-rekan selalu menguatkan,

tetaplah menulis sebagai senjata melawan lupa, merangsang daya kerja otak, ada juga yang menyarankan, jangan terpusat pada satu model tulisan atau satu tema.

Selama bergaul di blogsphere, memang blog ini dari awal lebih dekat ke tema otomotif, setelah semakin banyak muncul blog otomotif, aku kewalahan sendiri untuk mengimbangi betapa agresifnya para otoblogger dengan pemberitaan dari berbagai sudut pandang dan opini masing-masing penulis atau narablog. Satu produk otomotif bisa dikupas menjadi berbagai postingan. Sebuah produk semakin digali semakin banyak yang bisa ditulis.

Beberapa kali tulisankupun hampir mirip dengan tulisan dari beberapa blogger, baik prediksi produk maupun kupasan dari beberapa sisi, bahkan cenderung seragam, jadi jika blogwalking musti merhatiin header blog atau bannernya agar tahu blog milik siapa. Saking banyaknya blog malah kerepotan buat blogwalking. Mungkin lebih enak jadi pemerhati saja, itupun jika sempat, maklum pekerjaan lapangan tidak memungkinkan buat melototi monitor laptop ataupun sekedar selancar maya lewat ponsel.

Nah berkaitan dengan beban menulis di blog yang sudah hampir pupus bukan berarti menyurutkan semangat nulis atau sekedar upload gambar. Yah beban itulah salah satu penyemangatku menulis dulu,

kuyakin saat beban menjadi penyemangat suatu tindakan (menulis), maka akan sulit untuk bertindak (menulis) lebih bijak.

Jadi menulislah meski sekedar di mikroblog macam twitter maupun facebook, dan jangan lupa pesan moral pada pembaca, opini akan timbul dari satu tulisan, meski sekedar beberapa kata . Pendiri WordPress, Matt Mullenweg, pernah mengatakan, “Blog itu bukan untuk mencari uang. Tapi bagus juga bila kita bisa mendapatkan uang berkat ngeblog.” Ada usul lain ?  Wassalamu’alaikum

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Ngeblog dan tag , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Beban Menulis

  1. Si Jack berkata:

    Sipp….

    Emang beda baca artikel2 blog skrng vs artikel2 blog 2th yg alu….
    Kalo dulu bikin artikelnya apa adanya…
    Kalo skrg bikin artikelnya ada apanya???

  2. nadi berkata:

    Matt Mullenweg mengatakan itu saat datang ke Indonesia tiga tahun lalu. Dia saat itu ditanya oleh sejumlah blogger, soal bagaimana mendapatkan uang dengan ngeblog. Nah, yang dimaksud mendapatkan uang dengan ngeblog bukan dengan blognya langsung – walau saat ini oleh penyedia layanan blog semakin dimudahkan. Namun, bagaimana kita membangun personal branding dan public trust. Misal, Kang Jamin dalam blognya begitu ahli mengupas soal kancut buto ijo. Lama-lama publik akan tahu kalau ingin tahu kancut buto ijo ya diblognya Kang Jamin. Kemudian diundang oleh pemerhati kancut buto sedunia. Begitu seterusnya. Jeneng dulu, baru jenang. 🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s