Menonton dan Mendengar Lebih Mudah


Semenjak koneksi internet makin baik dan harganya terjangkau, media online menjadi laris dikunjungi pengguna generasi teknologi industri 4.0. Kecepatan akses internet dan makin terjangkau hampir oleh semua kalangan ini mengubah cara pandang pengguna dan pengakses informasi. Dari konvensional menuju digital.

Siaran TV konvensional pelan tapi pasti beralih ke digital, atau mereka siaran di kedua kanal. Tapi siaran tv kurang diminati, karena penonton mulai terpapar internet, soisal media menjadi labuhan, berita online yang super cepat tersebar sehingga berita tv kerap ketinggalan.

Youtube, Facebook, twitter, Instagram dan sosial media lainnya semakin digemari. Youtube dan Facebook sudah menjadi sarana siaran langsung menggantikan siaran langsung berita tv. Info kejadian, ceramah agama, launcing produk baru dan aneka kegiatan lain dapat disiarkan live lewat dua media favorit tersebut.

Media online berupa tulisan bahkan mulai ditinggalkan. Mendengar dan menonton lebih mudah memahami dibanding membaca. Memang tidak semua, tapi sebagian besar berpendapat demikian. Seperti anak saya kalo hafalan, dia lebih cepat hafal kalo saya tuntun menirukan saya daripada membaca sendiri hafalan tersebut. Mungkin karena mendengar dan melihat ada dua indera yang bekerja untuk menyampaikan pesan ke otak. Berbeda dengan hanya membaca, hanya satu indera bersamaan otak memikirkan bacaan sehingga kerja double dan kurang fokus mengingatnya.

Sayangnya, Mendengar dan melihat ini membuat otak kadang kurang peka, kurang mampu menautkan dengan hati, hanya dengan pikiran dan daya ingat, sehingga kerap pengguna internet membagikan apa yang dia lihat atau tonton tanpa kroscek kefalidan dari berita atau informasi yang didapat. Hal inilah yang membuat berita palsu, bohong atau hoax cepat menyebar, menimbulkan fitnah di tengah masyarakat.

Membaca memang lebih sulit paham, mungkin, dibanding menonton atau mendengar. Tapi jika membaca dengan teliti, maka akan lebih mudah membedakan mana benar dan salah. Mana baik dan buruk. Misal sebuah situasi genting, tidak cukup untuk dilihat, dengar. Tapi perlu membaca situasi tersebut dengan hati agar mampu mengambil tindakan yang tepat guna menentukan langkah yang harus diambil.(tri)

“Ah lebay kamu Kang”

 

 

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di sosial dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s