Jokowi, diantara Pujian dan Cacian


Politik itu kejam. Kata-kata yang kerap digunakan untuk mendiskreditkan PPP dan PDI pada era orde baru. Karena Golkar bukan partai tapi golongan. Itu dulu, lain sekarang. Semua partisan pemilu adalah partai.

Apatis. Kejenuhan dengan apa yang terjadi dengan pemerintahan. Berita memojokan dan mengunggulkan menjadi sajian wajib layar kaca. Persaingan dalam tubuh suatu partai. PPP pecah, Golkar Hancur dan berita heboh lain yang mampu menaikan rating.

Awalnya, dipuji. Endingnya dicaci. “Saya menyesal memilih Jokowi”. Ungkap seseorang dalam berita. Kekecewaan masyarakat awam yang merasa tertipu dengan kesederhanaan Pak Joko Widodo pasca naiknya harga BBM bersubsidi.

Pengalihan subsidi BBM ini sebenarnya masuk akal. Keberanian Pak Presiden weton Solo ini pantas dapat acungan jempol. Konsekwensi Sanjungan berganti cacian telah menanti, tapi keputusan tetap dijalankan. Demi menyelamatkan APBN. Katanya seperti itu.

Pengalihan subsidi salah satunya dengan membagi dana Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS). Sayang, hal ini merupakan pengulangan era SBY dengan sebutan Bantuan Langsung Tunai (BLT), yang kerap tidak tepat sasaran. Penerima PSKS kerap jadi sorotan media.
Nampak dalam sebuah berita setasiun televisi nasional, seorang ibu dengan mengenakan perhiasan emas sedang mencairkan dana bantuan dari pemerintah tersebut. Hal ini juga terjadi pada era BLT.

Ini juga yang saya khawatirkan, pengalihan subsidi tidak tepat guna. Susah memang. Karena manusianya dan pengawalan pembagian sampai daerah kurang memadai.

Sekali lagi berita tersebut menjadi incaran media dari lawan politik. Termasuk pingsannya para penerima dana saat antri. Puluhan Warga di Demak Pingsan Antre Dana Bantuan PSKS

Lantas sikap apa yang harus kita ambil melihat fenomena ini. Akankah kita akan terus mencaci dan berandai-andai. Pemimpin tetaplah pemimpin. Meski kita tidak ikut memilih. Tapi kita hidup dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka tidak selayaknya kita menghancurkan pemimpin negeri dengan mencibirnya. Kita doakan saja agar para pemimpin kita memahami yang haq dan menjalankan yang haq itu, memahami yang batil dan meninggalkan kebatilan. Amin

anjuran taat kepada pemimpin

anjuran taat kepada pemimpin

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar mengimani Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-nisa [4]: 59)

Selama pemimpin tidak mengajak kepada kezaliman dan kebatilan, maka wajib disuport, minimal doa. Yaqinlah, skenario Allah swt atas segala sesuatu. ‘ala kullihaal. Semoga Pemimpin kita amanah. Amin.(tri)

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di nUSANTARAKU dan tag , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Jokowi, diantara Pujian dan Cacian

  1. Njemur sik ah..

    Mengapa anda ditilang Pak Polisi?Ini dia jawabannya.. http://wp.me/p14X5N-tc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s