Digigit Nyamuk


Paska Shalat Jamaah di masjid ada kultum, saat itu penceramah (Usatad Mihat) membahas Kitab Riyadhusshalihin, bab 3 tentang sabar masuk hadits 29 kalo tidak salah, mungkin masih banyak darah mengalir di tubuh ini yang berasal dari barang syubhat jadi kurang perhatian pada penyampaian hal baik. Mata juga sulit dikompromi, maunya merem mengabaikan nasehat baik yang semestinya di dengar.

Antara sadar dan tidak, kuping ini masih samar mendengar nasehat yang mengalun bak angin sepoy yang menina bobokan. Tiba-tiba pergelangan kakiku gatal sekali, reflek mata mencari sumber masalah. Seekor nyamuk berperut merah tergopoh menghindari sambaran telapak tanganku. Karena kekenyangan, membuat si nyamuk mudah ditangkap dan dieksekusi mati. Selanjutnya mata ini mulai melanjutkan merem melek dan kembali beberapa ekor nyamuk menyerang, akhirnya tanganku sibuk menyambar si biang gatal itu. Lanjutkan membaca Digigit Nyamuk

Ditertawakan Layar Kaca


Layar kaca atau televisi dimiliki oleh hampir setiap rumah, bahkan satu rumah bisa ada di tiap kamar. Semakin menjamurnya siaran televisi swasta menyebabkan perlombaan rating siaran kian sengit. Berbagai acara demi menaikan rating disuguhkan, tanpa peduli kwalitas siaran, yang penting mampu menarik minat pemirsa. Saat satu acara digemari, maka televisi lain akan mengikuti dan membuat acara serupa.

Acara televisi belakangan didominasi oleh acara lawakan dan guyonan. Tertawa seolah sebagai simbol kebahagiaan, seolah tertawa semakin susah tanpa lawakan. Tindakan bodoh dipertontonkan untuk menghibur pemirsa. Rating sebagai tolak ukur keberhasilan suatu acara menjadikan acara televisi kian meninggalkan kwalitas. Mutu siaran diukur oleh hits yang naik. Wajar memang, televisi komersil melakukan hal tersebut, semakin baik rating siaran berarti iklan komersil membanjir dan harga juga tinggi.  Lanjutkan membaca Ditertawakan Layar Kaca