Ditertawakan Layar Kaca


Layar kaca atau televisi dimiliki oleh hampir setiap rumah, bahkan satu rumah bisa ada di tiap kamar. Semakin menjamurnya siaran televisi swasta menyebabkan perlombaan rating siaran kian sengit. Berbagai acara demi menaikan rating disuguhkan, tanpa peduli kwalitas siaran, yang penting mampu menarik minat pemirsa. Saat satu acara digemari, maka televisi lain akan mengikuti dan membuat acara serupa.

Acara televisi belakangan didominasi oleh acara lawakan dan guyonan. Tertawa seolah sebagai simbol kebahagiaan, seolah tertawa semakin susah tanpa lawakan. Tindakan bodoh dipertontonkan untuk menghibur pemirsa. Rating sebagai tolak ukur keberhasilan suatu acara menjadikan acara televisi kian meninggalkan kwalitas. Mutu siaran diukur oleh hits yang naik. Wajar memang, televisi komersil melakukan hal tersebut, semakin baik rating siaran berarti iklan komersil membanjir dan harga juga tinggi. 

Yang tidak wajar adalah penyajian acara tanpa peduli efek negatif dan positifnya. Sinetron asal tayang. Cerita bersambung membuat penonton penasaran seolah ketergantungan, sayang melewatkan tiap episodenya. Alhasil pemirsa dicekoki pemikiran yang disuguhkan isi sinetron. Infotainment lebih digemari daripada berita perkembangan negara. Berita politik tumpang tindih tanpa jelas siapa yang benar dan salah.

Siaran televisi seolah menghalalkan segala cara demi rating. Akankah media kita terus dikuasai oleh acara-acara tak bermutu ? Media sangat berpengaruh pada kehidupan bangsa dan negara. Masyarakat awam Indonesia semakin dimanja. Otak semakin mahal karena jarang dipakai. Enggan berpikir keras yang menguras otak dan waktu.

Tontonan sewajarnya sekedar hiburan, bukan hal yang selalu ditunggu, karena lambat laun akan jadi tuntunan. Tengok saja acara joged-joged itu, anak TK bahkan hafal goyang sampai syair lagunya. Bahkan goyang gak jelas tersebut dilombakan. Prestasi ? Sekali lagi, apakah hal tersebut bisa disebut prestasi ? Semoga anak-anak kita diselamatkan dari pembodohan yang dibungkus kepintaran tersebut dan jangan sampai Dibuai Tawa (Tri)

…………………………………………………

bersambung

 

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di televisi dan tag , , , , . Tandai permalink.

17 Balasan ke Ditertawakan Layar Kaca

  1. Maskur berkata:

    mbuh
    mulane aku mniyen setu sekang tivi
    akeh sing ora cocog

  2. Yudakuzuma berkata:

    singkong tv, manuk tv dan lapindo tv adalah awal dari era catastrophe informasi ini 😦

  3. Sigit berkata:

    untung ra duwe tipi, ra mudeng goyang sing aneh2 👿

  4. ipanase berkata:

    rung duwe tipi lek

  5. blognyamitra berkata:

    untung wis langganan tv kabel, akeh tayangan bermutu, gak terkontaminasi karo tv lokal sing akeh acara ora mutu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s